Girl Of Darkness

Girl Of Darkness
ME


__ADS_3

Piano Cover - Joel Adams - Please Don't Go


...This is my darkness...


...Nothing anyone says can console me ......


...Despair & Hope ......


...Light & Dark ......


...Happy & Sad ......


...Hard & Easy ......


...Kind & Evil ......


...Fall & Rise ......


...Near & Far ......


...Group & Individual ......


...The absence faith that nakes people afraid to face challenges and I believe in myself ...


...~ Muhammad Ali ~...


Baju episode ini :



"Eris demam!?" Tanya Yuri agak aneh tumben ternyata iblis bisa demam juga.


"Ya, karena kemarin dia melepaskan kekuatannya yang tersegel," kata Arae menghela nafas.


Yuri langsung tertarik sekali dan mendekati Arae. "Ceritakan padaku bagaimana penampilan Eris dalam wujud aslinya," katanya.


"Kamu tidak akan sanggup menatapnya," kata Arae menatap Yuri.


"Sangat menakutkan?" Tanya Yuri.


"Sosoknya sangat besar bila dia berubah dunia ini akan kehilangan cahaya utama. Makhluk yang mengetahuinya akan lebih memilih lari," kata Arae.


"Beritahukan saja seperti apa. Hmmm apa dia punya sayap?" Tanya Yuri menebak.


"Tidak," jawab Arae.


"Bentuknya bulat?" Tanya Yuri.


"Panjaaaang. Kamu tahu ular?" Tanya Arae sedikit memberikan bocoran.


"Tahu dong. ERIS ULAR!?" Teriak Yuri.


"Tentu saja bukan tapi kelasnya masuk ke jenis itu," kata Arae sambil mengambil handuk kecil dan air es.


"Bukan ular tapi masuk ke jenisnya? Apa Raven tahu ya?" Tanya Yuri mencarinya.


Arae menghela nafas. "Lebih baik jangan mencari tahu, Yuri. Kamu akan ketakutan mungkin... tidak akan mau bertemu lagi dengannya," kata Arae.

__ADS_1


Yuri menggelengkan kepalanya. "Aku tidak akan begitu walau Eris menakutkan wujudnya, aku tetap mau bekerja disini dan jadi temannya juga,"


Arae tersenyum. "Tampaknya Raven tidak akan datang," menatap jendela sama sekali tidak ada kehadirannya.


"Lalu bagaimana membuat Eris sembuh dari demamnya?" Tanya Yuri.


"Itu..." kata Arae yang tiba-tiba melihat toko Eris seperti layar Televisi yang rusak.


Bulatan hitam muncul dengan ukuran agak sedang beterbangan dengan pelan. Di depan wajah Yuri juga ada.


"Apa ini?" Tanya Yuri yang hendak menyentuhnya.


"JANGAN DISENTUH!!" Teriak Arae histeris.


Yuri kaget lalu menurunkan tangannya. "Apa yang terjadi? Bulatan hitam apa ini?" Tanyanya agak takut.


Arae terkejut penurunan kekuatan mistis Eris sudah pasti memiliki efek pada toko dan lainnya. Arae memandangi langit, kemungkinan Raven juga tidak akan bisa berubah.


"Toko ini ada karena menopang kekuatan dari Eris. Bila kekuatan Eris menurun atau hilang, maka... Yuri, sampai ada berita soal kesembuhan Eris, kamu harus keluar dari toko," kata Arae dengan serius.


"Apa sangat berbahaya?" Tanya Yuri agak kaget.


Bola hitam bertambah muncul membuat Arae ketakutan. "Kamu adalah satu-satunya manusia di toko ini, berbahaya bila kamu sampai terjepit dalam dimensi. Untunglah Raven belum datang," kata Arae membuka jendela.


Toko memasuki keadaan ruang waktu milik Eris, keadaannya pun agak sedikit tidak baik.


"Ada apa ini? Arae," kata Yuri ketakutan.


Angin hitam seakan mendorong toko untuk terbang entah kemana.


"Dimensi ruang waktu terlihat kacau, kondisi Eris juga belum bisa dikatakan baik-baik saja," kata Arae menggigit kuku jarinya.


"Kecuali..." kata Arae memandangi Yuri.


"Aku juga ingin membantu," kata Yuri.


"Dalam dunia ini carilah bila ada Eris yang lain," kata Arae mulai panik.


Ella berubah menjadi kertas dan terpelanting keluar jendela.


"Eh? Memangnya sewaktu kalian turun ke Bumi tidak diselidiki dulu?" Tanya Yuri. Angin kegelapan mulai memasuki toko.


"Mana sempat karena kami pikir, kami adalah makhluk yang tidak berdampingan dengan dunia ini. Aku pikir tidak akan ada masalah dan mana mungkin di Bumi ini terdapat reinkarnasi Eris," jelas Arae.


"Kalau... kalau memang ada. Eris bagaimana?" Tanya Yuri.


"Eris yang ini akan menghilang," kata Arae.


"APA!?" Teriak Yuri.


"Yuri, ini keadaan darurat. Kamu tidak boleh berada dalam dimensi kami. Kalau mau membantu, tolonglah cari apakah memang ada orang yang mirip dengannya. Dia pasti memiliki kekuatan juga meskipun berbeda," jelas Arae yang waktunya sempit.


"Bagaimana bisa?" Tanya Yuri memegang bahu Arae.


"Keadaan Eris sekarang, kekuatannya tiba-tiba keluar dari badannya. Aku tidak bisa mengikuti kemana kekuatannya pergi. Satu-satunya cara, bantu aku mencari dirinya yang lain di Bumi!" Kata Arae lalu mengirimkannya turun ke Bumi.


Tersadar Yuri telah berada di taman kota, toko Eris tidak ada lalu menatap ke atas. Toko melesat masuk ke dalam portal merah. Yuri cemas pada Eris.

__ADS_1


"Eris yang ada di dunia ini?" Tanya Yuri lalu dia pulang.


Orang tuanya keheranan siang hari anak mereka sudah pulang. "Tumben jam segini sudah selesai," kata ibunya.


"Sementara waktu aku mau cuti dulu, Ma," kata Yuri lalu menuju lantai atas.


Raven tidak muncul, kemana dia? Malam harinya Yuri membantu kedua orang tuanya masak. Pikirannya masih mengenai Eris yang ada di dunianya.


Yuri memandangi langit setelah selesai makan malam. Dia sangat cemas mendengar kondisi Eris memang sih ini bukan yang pertama kalinya Eris sakit.


"Apa memang ada? Tapi kata Arae kekuatannya keluar dari tubuhnya," pikir Yuri agak curiga. Akhirnya dia bertekad untuk mencoba mencarinya besok hari.


Pagi hari tiba, Yuri bangun dan mengusap wajahnya. "Raven kemana ya?" Tanyanya lalu mandi dan sarapan.


"Yuri, kami kan cuti bantu Mama belanja ya," kata Mamanya memberikan daftar belanja.


"Ya Ma," kata Yuri lalu bersiap dan keluar untuk belanja. Yuri berusaha mencari dan melihat orang yang berlalu lalang. Tanpa diduga Ares yang sedang belanja juga secara tidak sengaja bertemu.


"Kamu kan pegawainya Eris ya," kata Ares.


Yuri kaget dan menatap wajahnya lalu menunduk malu. Ares memang sangat tampan dengan badannya yang tinggi dan atletis.


"Iya. Tidak terduga bisa bertemu," kata Yuri.


"Kamu belanja di sini?" Tanya Ares tersenyum.


Yuri mengangguk. Setelah itu mereka pun berbelanja bersama dan mengobrol.


"Kamu tidak bekerja?" Tanya Ares sambil membeli sayuran.


"Eris sedang sakit," kata Yuri.


"Sakit!? Oh, dia bisa sakit juga ya," kata Ares agak aneh.


"Betul kan kamu juga merasa aneh. Aku juga baru tahu keadaannya sedang kritis dan toko pun..." kata Yuri agak sedih.


"Kenapa? Hei, cerita saja. Ayo, kita duduk dulu," ajak Ares.


Yuri seakan ingin menangis karena tidak tahu keadaan Eris hari ini. Apalagi setelah dia diusir tiba-tiba karena tokonya agak rumit.


"Tokonya... tokonya akan menghilang bila Eris tidak juga pulih," kata Yuri dengan suara sedih sekali.


"Apa!? Sungguh? Tapi bagaimana..." kata Ares, dadanya tampak sakit sekali mendengar hal itu.


"Aku saja dipaksa keluar oleh Arae. Tokonya seperti televisi yang rusak tidak ada sinyal. Arae bilang karena aku manusia, takut terjebak dalam dimensi mereka," kata Yuri agak menangis.


"Tenanglah. Eris akan baik-baik saja, dia kan memiliki kekuatan yang hebat bukan? Jangan sedih, aku jamin Eris punya rencana lain," kata Ares mengusap air mata Yuri.


"Maaf ya. Aku jadi malu," kata Yuri sekaligus senang.


"Tidak apa. Lalu kamu tahu cara pemulihannya bagaimana?" Tanya Ares.


Diceritakan lah semuanya, Ares juga terkejut mendengar perihal reinkarnasi Eris di dunia mereka.


"Apa itu mungkin?" Tanya Ares berpikir.


"Aku tidak tahu karena kata Arae kekuatan Eris seakan tersedot sesuatu dan menghilang. Kalau memang ada, aku harus membawanya menghadap Eris!" Kata Yuri.

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2