Girl Of Darkness

Girl Of Darkness
8


__ADS_3

"Begini ya kenapa aku mengatakan itu, kamu pasti tidak tahu kan kalau bisa saja sebagian perempuan disini menyukai Tana. Bagaimana kalau di antara mereka memang ada perempuan yang Tana sukai juga," kata Nana menjelaskan sambil menatap Almira.


"Kalau soal itu... mungkin saja," kata Almira dengan pelan sama sekali tidak menduganya.


"Kamu bisa tidak lebih tegas?" Tanya Nana.


"Tapi tapi, mereka begitu serius membutuhkan bantuan ku jadi mana bisa aku tolak," kata Almira menunduk.


Nana menghela nafas susah deh! "Kamu ini ya! Tidak wajib deh mengasihani mereka, apa pernah mereka memikirkan perasaan kamu juga? Selama ini aku pikir mungkin lingkaran geng kita agak salah," kata Nana berpikir.


"Nana," kata Almira memandanginya dengan sedih.


"Masalah asmara kamu itu patut diperjuangkan bukan kisah mereka. Usahakan ya kamu bisa bicara dengan Tana. Daripada sibuk mengurusi orang lain, lebih baik urus perasaan kamu dulu," kata Nana merangkul bahu Almira.


"Hmmm iya," jawab Almira tersenyum kemudian sorenya mereka pulang dan berpisah dengan Nana karena dia hendak ke toko buku.


Saat tengah berjalan sambil bersiul kebetulan dia bertemu dengan Apollo yang sedang mendengarkan lagu.


"Kak Apollo!" Seru Almira senang.


Apollo lalu melepaskan earphone nya dan menatap ke arah suara perempuan itu. "Hmm? Oh! Kamu sudah pulang, Almira?" Tanyanya senyum.


Almira agak malu tapi dia beranikan diri untuk bicara lagi. "I-iya. Anu kak kemarin itu aku minta maaf ya sudah memanggil kakak untuk urusan yang tidak penting," kata Almira mengatupkan kedua tangannya di depan wajahnya.


"Hah? Aku? Kapan?" Tanya Apollo keheranan. Dia berpikir lagi kemarin kan dia ada pekerjaan.


Almira tidak menangkap wajah kebingungan Apollo. "Sekarang aku akan berusaha jujur pada orang yang menyukaiku. Terima kasih atas sarannya!" Kata Almira senang.


Apollo yang bengong akhirnya tersenyum meskipun agak aneh menatap Almira. "Iya sama-sama kalau kamu memiliki masalah, cerita saja,"


Almira merasa aneh. "Aaah... euh iya kak," jawabnya.


"Aku dengar dari Tana kalau kamu memiliki kelebihan. Benarkah?" Tanya Apollo membuat Almira kini terkejut.


"Oh, Oh yaa.. ada sih," kata Almira merasa aneh.


"Apa itu?" Tanya Apollo.


Almira berdiri membeku, dia tampak heran dan bingung. "Kakak bukannya sudah tahu?"


Apollo diam. "Hmm? Soal?"


"Kak, Kakak kan kemarin datang ke taman janjian dengan aku. Apa kakak lupa?" Tanya Almira agak canggung.


"Kemarin?" Tanya Apollo berpikir dan menatap wajah Almira yang kebingungan. "AHHH!! Maaf, aku lupa karena banyak pekerjaan," katanya mengerti harus mulai akting.

__ADS_1


Almira bernafas lega, "Kakak ini aku sudah khawatir saja,"


Apollo tertawa garing lalu berpikir apa yang pernah dikatakan oleh Tana di bulan lalu. "OHH!! Tana pernah mengatakan kalau aku bersalaman dengan kamu, masalah asmara akan lancar. Benarkah?" Tanya Apollo mencoba menebak.


Almira mengangguk, langsung meraih tangan kiri Apollo dan bersalaman, Apollo hanya kebingungan. "Dengan ini siapapun yang menjadi kecengan kakak pasti akan lancar. Aku jamin!" Kata Almira tersenyum.


"Wahaha apa benar tuh? Baiklah nanti Kakak akan coba. Mau pulang?" Tanya Apollo.


"Iya, mau pulang," kata Almira setelah menundukkan badannya pada Apollo dan berjalan kembali.


Apollo melihat tangan kirinya dan menepuk kannya ke tembok rumah dan menggelengkan kepala. Almira masih teringat wajah kebingungan Apollo dan menangis. Saat itu dia mendatangi kedai Korea di dekat persimpangan jalan menuju rumahnya.


Tanpa sadar kemana dia berjalan, sebuah portal muncul di hadapannya secara acak. Dan memasukinya dia masih menangis dan Eris berada di depannya.


"Kamu tidak apa?" Tanya Eris membuat Almira menatap kaget.


Portal itu tidak mengantarkannya kemana-mana, dia melangkah dan portal mengantarkannya kembali ke masanya.


"Kakak yang waktu itu!" Seru Almira mengusap air matanya karena malu.


Eris tidak menduga kalau Almira akan bertemu dengan Apollo yang asli saat perjalanan pulang. Apa yang harus terjadi pasti akan terjadi meski Eris memiliki kekuatan sihir pun, kalau Almira harus bertemu Apollo, dia tidak bisa apapun.


Eris mengeluarkan saputangan bermotif kupu-kupu hitam emas kepada Almira. "Silakan," kata Eris dengan nada datar.


Almira mengambilnya setelah mengucapkan terima kasih dan menangis lagi. Almira menceritakan segalanya mengenai kemampuan dari tangan kanannya.


"Jadi kamu cemas kalau masalah asmara kamu tidak akan selesai? Dan berujung laki-laki itu menyukai perempuan yang lain?" Tanya Eris menatap Almira.


"Iya. Setiap berjabat tangan dengan siapapun, aku selalu berakhir bertepuk sebelah tangan. Kali ini juga sepertinya begitu," kata Almira sambil menatap tangan kanannya.


Eris melihat aura kuning dan pink itu memang masih ada, pancaran mereka sangat indah. Tentu Eris tidak bisa mengambilnya begitu saja karena aura tersebut berasal dari Langit.


Eris menyapukan tangannya di atas Almira, Almira keheranan apa yang dilakukan olehnya. "Tidak ada yang salah dengan tanganmu. Itu ada karena kamu sering berdoa lalu mengerjakan ibadah dengan baik. Kamu juga sering menolong siapapun tanpa memandang status atau tingkatan. Kamu tidak suka?"


"Begitu kah? Tapi kalau sampai menghambat masalah asmaraku..." kata Almira memeluk tangan kirinya.


Eris kemudian melepaskan pita berwarna pink dan dikaitkan ke tangan kanan Almira.


"Pita apa ini?" Tanya Almira. Dia baru mengenal Eris dan takut dengan barang yang diberikan, meskipun Almira tidak beranggapan apapun mengenai cara berpakaian Eris.


"Tenang saja pita ajaib ini yang akan membuat kekuatan pada tangan kananmu menghilang dan mampu menambahkan tingkat percaya diri kamu," kata Eris membentuk pita.


"Apa.. kalau aku percaya akan musyrik?" Tanya Almira tidak bermaksud menolak.


Eris tersenyum pelan. "Jangan cemas aku memberikan kamu sesuatu yang tidak perlu kamu yakini, dan melanggar syariat agamamu," kata Eris membuat Almira lega.

__ADS_1


"Baiklah, apa ini benar pita ajaib?" Tanya Almira lagi. Pita itu disilangkan di telapak tangannya.


"Pita ini akan menyerap kekuatan tangan kiri kamu dan mengubahnya menjadi rasa percaya diri. Tenang saja produk ini aman," kata Eris setelah dia memesan 10 porsi besar makanan yang ada disana.


Almira memandanginya dengan takjub dan Eris undur diri dan pergi. Almira menatap pita tersebut dan memantapkan hati.


Di luar tentu ada Yuri dan Raven, mereka berdua bersembunyi dalam semak-semak. Yuri agak cemberut karena portal itu tidak membawa Almira ke toko Eris.


"Eris, kenapa kamu tidak membiarkannya datang ke toko kita?" Tanya Yuri membantu membawakan bawaan Eris.


Eris membawa semuanya seakan sama sekali tidak berat dan Raven ikut membawakan juga.


"Karena harapannya bukan pada toko. Masalah dirinya juga bukan persoalan yang gawat. Ayo pulang," kata Eris memasuki portal yang menebas jalannya.


Yuri dan Raven mengikuti, portal menghilang saat mereka bertiga masuk dan menuju depan toko.


"Lalu apa pita itu memang ada dalam toko? Aku baru lihat sekarang tampak seperti pita biasa," kata Yuri yang ternyata Eris memiliki 1 gulungan.


Eris tertawa mendengarnya membuat mereka berdua berpandangan dan keheranan.


""Kamu isi dengan ramuan?" Tanya Yuri lagi.


"Itu hanya pita biasa kok," kata Arae yang muncul dan ikut membantu.


Mereka berdua kaget. Eris berhenti dan berbalik. "Kalian harus ingat kata-kata bisa menjadi alat untuk melukai atau untuk membuat semangat. Yang gadis itu perlukan hanyalah kata untuk membuatnya percaya diri," Eris kemudian memasuki tokonya.


"Lalu soal kemampuan tangan kirinya bagaimana?" Tanya Raven.


"Itu adalah hadiah karena dia rajin menunaikan ibadahnya. Untuk apa iblis seperti aku mencampuri urusannya?" Tanya Eris kemudian menaruh topi dan segalanya.


"Bukannya sudah tugas iblis menyesatkan manusia ya?" Tanya Yuri.


"Itu iblis tingkat lain dan kelas lain. Iblis seperti kami tentu saja berbeda meskipun tujuannya mendapatkan bola roh manusia," kata Arae menjilat jarinya.


Malam harinya di rumah Almira pita pink itu masih ada terlilit di tangan kanannya. Orang tuanya mengira berkaitan dengan kegiatan di sekolah jadi mereka tidak banyak bertanya.


Besoknya di sekolah semua teman-temannya pun menatap Almira dengan aneh. Pita itu masih tetap ada, Almira datang dengan perasaan senang.


"Kenapa kamu memakai pita ke sekolah?" Tanya A.


Almira tidak menjawab, banyak sekali teman-temannya yang bertanya termasuk Nana.


"Nanti akan aku ceritakan kalau urusanku sudah selesai," kata Almira.


"Urusan kamu? Kelihatannya kamu sedang dalam mood yang ceria. Ada apaa hayooo," kata Nana.

__ADS_1


Almira tidak mau menjawab. Dia sudah memantapkan hati untuk mengatakan pada Tana nanti.


Bersambung ...


__ADS_2