Girl Of Darkness

Girl Of Darkness
12


__ADS_3

"Hmmm, ada artis yang diundang kan untuk melakukan semacam cerita pribadi mengenai adiknya yang telah meninggal. Lalu dalam rumahnya sering terjadi sesuatu yang aneh," kata gadis seragam pertama mengingat-ingat.


"Iya, benar! Artis itu percaya hal supernatural ada kaitannya dengan hal lain bukan karena adiknya. Semua perabotan dapur berjatuhan, Televisi bergeser, Karpet juga tiba-tiba terbalik kan. Anehnya Eria terus mengatakan bahwa memang adiknya yang melakukannya," kata gadis kedua.


Mereka sama-sama merasakan keanehan.


"Kenapa ya anak itu selalu berkata kebalikannya bila para medium mengatakan yang bertentangan? Bila memang benar adiknya tidak ada disana, lalu bagaimana mungkin dia bisa menjadi hantu? Apa adiknya memang mengawasi kakaknya?" Tanya A.


"Aku ragu, aku merasa dia seakan-akan mengeluarkan kode pada orang-orang saat mengatakan, "Aku bisa melihatnya" . Dia nampak seperti mencari perhatian bukan?" Tanya B pada A. A setuju.


"Masalahnya kenapa dia terus lakukan itu? Bukankah sangat memalukan menyebut dirinya medium di depan kamera tapi ternyata tidak bisa melihat apapun?" Tanya A sambil tertawa.


"Yah wajar anak kecil kan memang suka berbohong. Yang dewasa saja bisa ribuan kali menipu orang," kata B menguap karena mengantuk.


Mendengar hal itu, Aiolos hendak turun. "Mereka!"


"Kalau tidak cepat menemukan rumahnya, bekal kita akan jadi dingin. Biarkan saja mereka bebas memberikan pendapat kan," kata Nyx menepuk tas temannya itu.


Aiolos menghentikan gerakannya dan kembali menatap Nyx dengan sedih. "Ya,"


Satu jam berlalu Aiolos mencari sambil berjalan kaki dan Nyx menenteng sepeda motornya. Perumahan itu terlihat sepi tentu tidak enak bila motornya terlalu mengeluarkan suara.


Mereka akhirnya tiba di sebuah rumah besar berlantai 2 bangunan.


"Inikah?" Tanya Aiolos melihat membeku. Keadaan rumah yang manis itu tampak tidak baik-baik saja.


Banyak coretan kasar, warna spidol atau pilox berwarna merah pekat. Aiolos menutup mulutnya terkejut membaca kata-kata kasar di dinding rumah tersebut.


Di halaman banyak pecahan kaca, kayu atau pun kertas-kertas. Nyx menyandarkan motornya ke sebelah samping tembok dan membuka kertas itu.


...'MATILAH KAMU ANAK SETAN!!'...


Tulisan kapital dengan warna merah darah, Nyx yakin itu memang darah karena bau amis. Nya melemparkan karena merinding lalu memandangi rumah Eria lagi.


"Mereka semua tidak tahu apa-apa soal Eria!" Teriak Aiolos berusaha menghapus tulisan.


"Aio, tenanglah! Urusan ini nanti saja yang penting kita harus memastikan keadaan Eria," kata Nyx menampar pelan pipi temannya.


Aiolos sedikit menangis lalu dia menyeka. Dia lalu memencet bel rumah tapi tidak ada nada apapun.


"Kelihatannya bel rumah dirusak orang," katanya melihat sudah tercabut keluar.


"Aku akan ketuk saja ya," kata Nyx kemudian membuka gerbang yang hampir roboh.


"Ya," jawab Aiolos mengikutinya dan menahan melihat halaman indah itu sudah hancur.


TEEET TEEEET


Beberapa menit keduanya menunggu, mereka mendengar suara langkah kaki dengan sesuatu yang diseret.


"Ya?" Tanya suara manis itu terdengar. Eria membukakan pintu dan terlihat dengan kepala yang diperban penuh menutupi wajahnya, tangan kiri juga bahunya. Kakinya yang kanan di gips menggunakan tongkat berjalan.


"Eria! Ada apa denganmu?!" Seru Aiolos memeluk Eria. Nyx memejamkan kedua matanya dan menyeka kedua matanya.


"Kakak-kakak bagaimana tahu rumahku? Aduh, aku sedang berantakan begini," kata Eria agak panik.


"Tidak apa-apa. Kamu terluka? Oleh siapa?" Tanya Nyx berjongkok depan Eria.


Aiolos melepaskan pelukan dan terduduk. Eria hanya diam menatap nanar ke arah mereka.


"Masuklah dulu kak. Maaf ya berantakan," kata Eria berusaha memegang tangan Nyx.


Aiolos berderai air mata dan Nyx menenangkan melihat Eria dengan tatapan datarnya, menutup pintu dan berjalan. Lalu dengan kaki yang terserok-serok Eria merapihkan kertas yang bertebaran.

__ADS_1


"Silakan, hanya ada ini saja," kata Eria menunjukkan beberapa bagian rumah yang masih terlihat bersih.


Mereka berjalan dan melihat isi keadaan rumah yang sangat kacau.


"Siapa yang berbuat begini kepadamu?" Tanya Nyx membantu Eria duduk.


Eria tidak menjawab hanya menundukkan wajahnya. Perban terlepas sebagian memperlihatkan luka memilukan pada wajahnya.


"Luka ini kenapa?" Tanya Aiolos dengan tegar membetulkannya.


"Tidak perlu Kak, lukanya sudah mengering. Aku didorong jatuh oleh Haters dari tangga lantai 3 menuju lantai 2 di stasiun TV," jelas Eria dengan tenang.


Aiolos otomatis memeluk Eria dengan hati-hati, Tinggi Eria sangat berbeda dengan Eris memang dia bukanlah Eris yang dikenal.


Eria yang kaget menenangkan Aiolos. "Kak Aiolos, aku tidak apa-apa. Sungguh," katanya menyeka kesedihan Aiolos.


"Oh iya kami berdua membuatkan ini untuk kamu," kata Nyx mengeluarkan kotak bekalnya yang besar.



Eria takjub menatap satu kotak bekal berisikan bermacam aneka roti. "Ini... Kak Nyx yang buat?" Tanya Eria.


"Aku. Dia hanya membawakan. Sepertinya kotak bekalnya tertukar. Kalau Nyx ahli membuat bekal nasi. Seperti ini," kata Aiolos mengeluarkan.



"Waaaah," seru Eria terpana melihat kotak makan siang buatan Nyx. "Hebat!" Katanya lagi.


"Sudah kuduga tertukar. Ini Kakak buatkan untuk kamu," kata Nyx memberikan.


"Untukku?" Tanya Eria, kedua matanya basah sudah lama dia tidak makan makanan buatan tangan. Dia memegangnya dan bersyukur mengenal mereka berdua.


"Kita makan bersama ya aku yakin kamu pasti belum makan kan," kata Aiolos mengeluarkan kotak lainnya.


Eria menelan ludahnya dan mengeringkan air mata yang jatuh ke tangannya. Perih terasa. Eria berdiri memgambilkan tisu lalu Aiolos mencari alas duduk.


"Parah sekali," kata Nyx yang membantu mengambilkan meja kecil.


"Bagaimana mungkin seorang ibu menghabiskan banyak uang untuk membeli barang mewah. Sedangkan Eria..." kata Aiolos yang menatap tubuh kecil itu berusaha mengambil piring.


Setelah itu, mereka sengaja menutup pintu semua kamar dan Eria memandangi sesuatu.


"Anu, kami hanya punya 2 kursi," kata Eria dengan malu.


Aiolos dan Nyx tersenyum.


"Tidak apa, kita bisa makan di lantai saja bagaimana? Aku menemukan alas karpetnya," kata Aiolos menunjukkan.


Eria kaget yang dibawa oleh Aiolos afalah karoet masa dia kecil bersama ibunya selalu membawa ke taman. Eria mengangguk.


"Aku juga menemukan meja ini kita bisa gunakan agar kelihatan besar," jata Nyx mengangkat.


"Yang tinggal di rumah ini hanya kalian berdua?" Tanya Nyx merapihkan.


"Iya, dulu ada Ayah tapi sudah pisah," kata Eria mengeluarkan sendok dan garpu.


Mereka berdua diam mendengarnya, jadi Eria diasuh oleh ibunya?


"Kamu tidak ke rumah sakit? Luka kamu banyak," kata Nyx menatapnya dengan iba.


"Tidak usah kak, lukanya sudah tidak separah kemarin. Aku bisa mengobatinya sendiri," kata Eria senyum sedih.


Kemudian mereka bertiga dikagetkan dengan suara nyaring dari telepon mesin di depan dapur, mengeluarkan banyak isi pesan yang mengancam dirinya serta sumpahan.

__ADS_1


"*Medium palsu!"


"Pergi dari kota ini! Sampah!"


"Anak pembohong gara-gara kamu, anak aku takut keluar rumah karena banyak hantu*!!"


Eria sudah terbiasa tampaknya, dia membereskan baju-baju ibunya yang berhamburan. Aiolos dan Nyx mencabut telepin itu dan membantu Eria.


Setelah itu mereka makan bersama, Aiolos sudah merapihkan perban. Aiolos menceritakan seperti apa Nyx saat mencoba membuat roti, mereka tertawa bersama.


"Kalian tampaknya sangat dekat ya," kata Eria sambil memakan gulungan nasi.


"Tentu saja," kata mereka berdua kompak.


"Senang sekali, kalian teman yang sejak dulu sangat akrab. Aku dan ibu sama sekali tidak pernah sedekat kalian semenjak ibu mengetahui kemampuanku," kata Eria mengunyah sandwich buatan Aiolos.


Nyx dan Aiolos berpandangan dan menghela nafas.


"Sekarang kamu kan bisa mengobrol dengan kami, kapanpun! Jadi kamu tidak perlu sedih lagi," kata Nyx membelai oelan kepala Eria.


"Bolehkah? Meskipun usia kita terpaut jauh?" Tanya Eria.


Mereka berdua tertawa. "Teman kan tidak melihat usia, Eria. Kamu, aku dan Nyx sekarang adalah teman. Oke?" Tanya Aiolos.


Eria senang sekali ini adalah pertama kali baginya memiliki teman usia SMA atau sederajat.


"Aio, aku minta teh dong," kata Nyx memberikan gelasnya.


"Biar aku saja," kata Eria meletakkan garpu. Eria mengangkat teko yang dibantu ileh Aiolos.


"Terima kasih ya," kata Nyx lalu meminumnya.


Tiba-tiba Eria merasakan desiran aura merah, dia tahu itu milik ibunya.


"Eria? Ada apa?" Tanya Aiolos heran.


Nyx jadi terjaga melihat sikap Eria, dia menatap dan mendengarkan sesuatu yang semacam gebrakan gerbang. Pintu rumah terbuka lalu berbunyi sangat keras. Aiolos waspada.


"Dasar Produser sialan! Tidak berguna semua! Mereka awal yang mengiba dan memohon agar kamu tampil. Tapi sekarang... Meninggalkan kita hanya karena mendepatakan banyak komentar negatif! Aku datang ke tempat mereka meminta hak gaji bulan kemarin tapi apa kata mereka. Kamu dikatakan anak pembohong! SIALAN!! MEREKA SEMUA MEMPERMAINKAN AKU! KAMU DIMANA!? KELUAR!!" Teriak sang ibu yang nampak frustasi setengah abad.


"Kakak lebih baik pulang," kata Eria cemas.


"Tidak apa-apa, aku akan menghadapi ibumu," kata Aiolos menenangkannya.


Nyx memandangi mereka berdua dan sedikit tertawa. "Entah kenapa seperti melihat sepasang kekasih yang akan menikah, dan berusaha mendapatkan hati mertua yang galak," pikirnya.


Ibu lalu berjalan menuju ruang tengah sambil masih terus mengomel. "Jangan bercanda ya mengenai kemampuanmu yang sudah menghilang katanya! Aku akan cuci diri kamu dengan air dingin dari sumur kuil Lyn! Setelah itu melakukan pemberkatan. Karena kamu akan hadir di bulan mendatang! HEI, KAMU ADA DI..."


Kalimat sang ibu terpotong melihat Eria tengah memakan roti goreng dengan isi telur dan daging. Juga melihat Aiolos dan Nyx, otomatis tatapan sang ibu sangat murka.


"Ibu mau?" Tanya Eria. "Makanan ibu buatan teman-teman aku. Coba ibu makan deh, enak sekali," kata Eria menawarkan.


"Kalian ini siapa? Apa yang kalian lakukan pada dia!?" Tanya ibu menahan rasa amarah.


"Tenang, Tante. Kami sebenarnya ingin menjenguk..." kata Aiolos.


Sebelum selesai, ibu melemparkan makanan tersebut ke lantai dan Eria menatapnya. "APA YANG KAMU MAKAN!? BUANG SEMUANYA, JADI ITULAH KENAPA KEKUATAN KAMU HILANG!?" Teriaknya.


Eria berjalan dan mengambil makanan yang terlempar dan membersihkan lantainya. "Roti goreng ini isinya telur, sangat enak. Ibu pernah membuatnya untuk bekal aku sewaktu sekolah TK. Apa ibu lupa?" Tanya Eria.


"Bukankah sudah ibu katakan jangan makan sesuatu yang bersifat hewani! Kamu tidak boleh memakan makanan yang harus dibunuh!" Kata ibunya melemparkan semangkuk berisi makanan lainnya.


"Hentikan! Jangan Tante arahkan kemarahan pada makanan. Itu kami buat sepenuh hati, apa Tante tahu kalau Eria kelaparan? Kenapa selalu memikirkan diri sendiri!?" Kata Aiolos yabg juga marah.

__ADS_1


"DIAM KAMU! KAMU ITU ORANG ASING! PERGI DARI RUMAH INI!!" Teriak sang ibu.


Bersambung ...


__ADS_2