
"Yah, begitulah," kata Almira sambil mengangkat kedua bahunya.
"Kalau ada yang begitu lagi tolak saja," kata B mengayunkan kedua kakinya di lantai yang langsung dicubit Almira.
"Mudah bagimu untuk bicara, melakukannya susah tahu," kata Almira mengingat mereka bertiga teman yang selalu ada.
"Kamu sih jadi orang jangan tidak enakkan jadinya menyulitkan hidup," kata B.
Almira kemudian masuk ke dalam rumah dan membawakan makanan dan minuman. B tentu saja sangat gembira dan memakannya.
Kita sebut saja B ini bernama Nana, orangnya ceria meski kadang terlihat tidak peduli pada orang lain.
"Kalau tangan sendiri yang digunakan untuk diri sendiri mana mungkin kan bisa berjabat tangan," gumam Almira memandangi tangannya sendiri.
"Hmm? Jangan-jangan kamu punya gebetan ya? Hayooo," kata Nana menggoda.
Wajah Almira kaget dan mengusap. "Tidak ada kok," katanya menyanggah.
Nana tidak yakin dan terus memojokkan. "Mengakuuuu. Siapa? Siapa?" Tanyanya.
"Tidak ada!" Seru Almira mendorong Nana kembali.
Bersamaan dengan itu datanglah seorang pemuda yang berdiri di depan gerbang rumah Almira, dan mengetuknya.
"Almiraaaaa," teriak pemuda itu.
"Siapa tuh?" Tanya Nana berdiri dan melambaikan tangannya. "Tana!"
Almira lalu berdiri dan melihat nama pemuda itu dan di belakangnya ada seseorang. Apollo!
"Eh, Tana dan... Kak Apollo," kata Almira. Nana menatap Almira, suaranya menjadi pelan dan lembut berbeda saat dia menyapa Tana.
"Hah!? Jangan-jangan gebetan kamu... Apollo?" Tanya Nana. Almira langsung menutup mulut Nana menyuruhnya untuk merendahkan suaranya.
"Bukan," kata Almira tapi berbeda dengan wajahnya yang semu.
"Oh ada Nana. Ini pekerjaan Ayah kamu yang dititipkan. Aku dan dia yang kerjakan. Kamu sedang menyapu halaman? Rajin ya," kata Tana tertawa usil padanya.
Apollo hanya tersenyum sambil menyisir rambutnya yang bersilangan. Nana dan Almira sebenarnya sama-sama menyukai Apollo namun tidak berani mendekati, karena Apollo terkesan cuek sekali.
"Wah, terima kasih ya. Ayo masuk dulu," kata Almira mengambil beberapa kertas yang diberikan Tana.
"Tidak perlu, aku dan Apollo mau ke suatu tempat. Nanti lagi saja kapan-kapan. Ayo," kata Tana mengajak Apollo pergi.
Nana dan Almira hanya bisa melihat kepergian mereka dan sama-sama menghela nafas. "Yahhh,"
"Lalu kamu suka yang mana? Tana atau Apollo?" Tanya Nana setelah mereka berdua menghilang.
"Apa? Apa? Mau mencoba mencari tahu? Silakan!" Kata Almira berlalu.
"Aku kan hanya bertanya. Lalu kenapa Ayah kamu menitipkan pekerjaannya?" Tanya Nana ikut masuk.
__ADS_1
"Ayahku kan banyak pekerjaan tidak mungkin bisa menangani yang ini. Jadi... dia meminta bantuan Tana untuk mencarikan orang yang bisa mengerjakan desainnya," jelas Almira melihat hasilnya.
"Tidak kusangka Tana bisa mengenal orang seperti Apollo. Padahal alim begitu ya," kata Nana tertawa. Almira juga sama.
"Sebenarnya..." kata Almira akhirnya bicara. Nana mendekatkan dirinya pada Almira.
"Ayo ayo cerita. Aku sama sekali tidak pernah mendengar kamu yang anaknya alim, rajin ibadah, ternyata bisa juga memendam rasa cinta," kata Nana tertawa.
Almira mencubit pipi Nama. "Aku kan manusia juga. Intinya itu adalah cinta yang tidak berbalas," katanya.
"Kok bisa?" Tanya Nana tidak percaya.
"Dulu di awal semester, dia pernah berkunjung kemari dan aku terkejut rumahnya kan jauh dari tempatku ya. Ini soal Tana ya," jelas Almira.
Nana mengangguk lalu dia heran apa yang membuat Almira berpaling?
**Suatu hari Tana datang yang awalnya iseng sampai menyapaku.
"Jadi rumah kamu memang dekat mesjid utama di kota ya," kata Tana yang tiba-tiba bicara saat Almira sibuk merapihkan sepatu.
"Eh?" Tanya Almira menyadari ada seseorang yang bicara padanya. "Kamu siapa ya?"
"Ya ampun, kejam sekali! Aku Tana, sekolahku tepat di sebelah sekolah kamu," kata Tana syok tidak dikenali.
"Oh, dari sekolah sebelah? Soalnya kan aku memang tidak tahu nama dan... orangnya. Dan aku memang baru lihat sih," kata Almira.
"Iya sih ya sudah kita kenalan saja. Namaku Tana Suhardi tapi aku sering lihat kamu dengan teman-teman," kata Tana sedikit merah wajahnya.
"Anu..." kata Tana mencari topik bicara.
"Apa?" Tanya Almira.
"Aku kira awal melihat, kamu orangnya linglung," kata Tana.
Almira kesal. "Enak saja! Itu karena kamu kan hanya melihat, apalagi kita tidak kenal," kata Almira.
"Iya makanya aku minta maaf dan datang untuk berkenalan. Boleh?" Tanya Tana.
"Baiklah, karena kamu sudah menyadari kesalahanmu. Aku terima. Ya boleh saja," kata Almira senyum.
Sontak Tana merasa terbang melihat senyum Almira tersebut.
"Namamu siapa?" Tanya Tana.
"Almira Syakira," jawab Almira tanpa mengulurkan tangannya.
"Syakira? Bukannya itu nama penyanyi barat ya," kata Tana berpikir.
"Itu Shakira," kata Almira.
"Ohhh hahaha benar juga. Kamu anggota DKM mesjid?" Tanya Tana melihat tanda yang ada di seragam Almira.
__ADS_1
"Iya. Kamu berminat jadi anggota?" Tanya Almira.
"Sayangnya aku tidak berminat jadi anggota karena aku sudah disini sebelum kamu masuk," kata Tana menggaruk wajahnya.
"Apa!?" Tanya Almira kaget. "Jadi kamu..."
"Saya ketua DKM mesjid ini. Salam kenal ya," kata Tana ketawa lalu masuk dengan hati yang riang. Sedangkan Almira terdiam kemudian senyum.
Setelah itu kegiatan demi kegiatan, selalu mereka kerjakan bersama tentu dengan anggota yang lainnya. Tana adalah pemuda yang usil selalu menggoda Almira tapi juga yang selalu menemani Almira bila sedang kesusahan.
Semua itu berubah semenjak**...
"Dia membawa teman lain ya itu, Apollo. Dan semenjak itu juga aku selalu berusaha mencoba dekat," jelas Almira mengakhiri ceritanya.
Nana hanya bengong mendengarnya. "Jadi setelah itu kamu berpaling ke Apollo? Atau sebenarnya kamu sejak lama suka Tana?" Tanya Nana tidak menduga kalau ternyata Almira mudah plin plan.
"Yaa aku memang sudah sejak lama menyukai Tana tapi berpindah ke Apollo," kata Almira mengamati lantai rumahnya.
Nana masih bengong mendengarnya dan menepuk dahinya. Tana menyukai Almira sejak Almira pun menyukainya. Hanya memang Tana terlalu mengulur-ulur waktu dan kesempatan.
"Setelah itu dia mengenalkan Apollo termasuk aku. Dan aku jadi banyak mengobrol juga, Apollo itu orangnya pendiam tapi ramah dan aku semakin suka," kata Almira mengaku.
"Mir, apa kamu pernah berpikir atau merasakan Tana ada hati sama kamu juga? Sebelum kedatangan Apollo," kata Nana mencoba bertanya.
"Habis... semenjak kenal dia, selaluuuu menggoda. Aku sedang serius sampai kerjaan tidak selesai, dia terus mengganggu. Apollo selalu membantu tugasku saat aku menangis kesal. Dan Tana hanya diam melihatnya," kata Almira kesal.
"Pasti ada sesuatu yang lain yang membuat kamu lebih bahagia kan daripada hanya dibantu," kata Nana menebak. Memang Nana pun mulai menyukainya namun tapi karena bukan anggota DKM, dia hanya sekedar mengagumi.
"Aku senang dengan perempuan berhijab seperti kamu,"
"Itulah ucapannya yang selalu aku ingat, Na," kata Almira senang.
"Hmmm tapi kan yang berhijab bukan hanya kamu saja, Mir. Apollo kan memang senang melihat perempuan yang tertutup," kata Nana.
Almira menghela nafas, tentulah dia tahu soal itu juga. "Biarlah dibilang seperti itu juga terbang hatiku ini. Bagiku itu pertama kalinya," kata Almira senang.
Nana termenung bagaimana nasib Tana kalau tahu ya? Tapi kalau memang Almira menyukai Apollo apa boleh buat sih.
"Garing ya. Norak sekali kamu itu," kata Nana.
"Tuh kan kamu selalu begitu. Makanya aku malas menceritakannya padamu," kata Almira kesal.
"Habisnya... aku ingin ya kamu sekali lagi pikirkan soal Tana. Dia yang pertama kenal sama kamu, selalu ada sebelum Apollo. Meski dia sering usil tapi selalu ada bila kamu susah kan. Apollo hanya selingan belum tentu dia punya rasa yang sama," jelas Nana.
Almira diam.
"Bagaimana kalau kamu mencoba berjabatan tangan dengannya?" Tanya Nana memberi ide.
"Apollo? Atau Tana?" Tanya Almira. Entah kenapa hatinya agak meragu.
"Dua-duanya. Kita lihat saja apakah tangan titisan dewi Aphrodite kamu bisa membuatnya mereka mengungkapkan perasaannya?" Tanya Nana.
__ADS_1
Bersambung ...