
Sani datang mendekati dan menyuruhnya menjauh daripada kelamaan. "Sudah biar aku saja. Begini, kami dari kelompok Horror, kebetulan kami memenangkan undian untuk berkunjung ke Red House atau Rumah Merah," kata Sani memberikan selembaran.
Eris menarik lembaran itu, rumah besar dengan halaman luas namun dalam kedua matanya, terlihat rumah itu dipenuhi dengan darah segar.
"Penantang maut ya," gumam Eris.
Arae tentu akan suka tapi tidak akan diajak bila lepas kendali, semua orang bisa dia bantai.
"Jadi kami kekurangan tiga orang dan yah, teman aku yang playboy ini melihat kalian. Mungkin kalian mau membantu kami," kata Sani agak mengiba.
Eris menatap Yuri yang semangat dan Aiolos yang agak ketakutan. Kedua mata Eria berubah segaris melihat Aiolos menolak dengan kode tatapannya.
Dia menghela nafas, unik sekali orang yang memiliki kekuatan mistis besar namun takut mendatangi rumah horor.
"Baiklah, aku akan ikut. Yuri dan Raven yang akan aku ajak," kata Eris menatap mereka berdua.
Raven mendatangi Eris agak ragu. "Anu, Nona aku ada pertemuan para gagak muda," bisik Raven.
Kedua mata Eria berubah segaris lagi, "Kalau begitu tugasmu adalah menemukan pengganti sampai besok pagi. Bila tidak ada, kamu yang harus ikut!" Kata Eris dengan penekanan dan Raven dengan kilat kabur keluar toko mencari penggantinya.
"Kemana pemuda tadi?" Tanya Dani.
"Dia ada keperluan," jawab Eris memberikan selembaran itu pada Sani.
"Jadi hanya berdua?" Tanya Sani menghela nafas.
"Tenang saja pengganti pemuda tadi akan datang besok. Ada keperluan lain lagi?" Tanya Eris.
"Anu... apa ada hadiahnya?" Tanya Yuri dengan semangat.
Eris menatap Yuri yang polos tidak memiliki kemampuan tapi semangat mendatangi rumah berhantu.
Aiolos kabur enggan mendengar cerita seram ke dapur dan memutuskan membuat pesanan. Eris menghela nafas keadaan Yuri dan Aiolos nampak tertukar.
"Ya! Disini dijelaskan bila kita bisa tahan di rumah ini selama seminggu, kita akan dihadiahi uang 10 juta per orang! Bagaimana? Menggiurkan bukan? Tugas kita hanya tidak keluar rumah, makam dan minum, apapun dilakukan di dalam," kata Fuji yang datang ikut berbicara.
"Kalian tidak curiga? Hanya karena hadiah uang, kalian akan menawarkan nyawa pada hal yang mencurigakan," kata Eris menatap mereka semua.
Yuri tahu ada sesuatu dalam perkataannya tapi toh mereka akan selamat karena Eris adalah iblis perempuan. Yah, Yuri menganggapnya sebagai Penyihir.
"Yah, bagaimana ya diantara kami semua dan kelompok lain ada seorang Otuber juga jadi memang bukan karena uang juga sih," kata Sani tampak malu, menganggap mereka semua matre.
"Tapi Eris kapan lagi. 10 juta per orang lho!" Kata Yuri.
"Itulah yang anehnya," kata Eris membuat Yuri juga merenung.
"Menurut aku tidak akan ada kejadian apapun hanya diam disana saja dan setelahnya uang besar masuk saku," kata Fuji berbinar-binar.
Eris hanya terdiam, mana mungkin kecurigaannya akan didengarkan, toh mereka semua hanya memikirkan keuntungan.
__ADS_1
Yuri agak meragu jadinya tapi dia penasaran juga, lalu terdengar deringan telepon klasik berwarna hitam dan Eris mengangkatnya.
"Halo," katanya dengan dingin.
"Eris? Ini aku Ares. Aku menerima undangan untuk menginap di rumah berhantu. Kelihatannya menyenangkan," kata Ares di seberang sana.
Eris tahu ini pasti kerjaan Raven. "Tahu dari mana?"
"Pegawai kamu yang bernama Raven datang ke rumah dan memberitahukan, jadi aku akan terima!" Kata Ares dengan semangat.
"Datanglah ke toko," kata Eris hendak menutup telepon.
"Sekarang?" Tanya Ares.
"Menurutmu?" Tanya Eris lalu menutup teleponnya.
Raven, pintar juga dia membuat undangan ke rumah Ares demi dirinya yang tidak harus datang. Eris agak berpikir, apa Ares akan berani? Tapi sudahlah dengan begini mereka akan pas 8 orang dan memang Ares datang dengan senyuman mengembang.
Kemudian mereka tengah rapat bersama dan mendaftarkan diri. Aiolos bertepuk tangan dengan Ares sambil tertawa karena kejadian yang lalu.
"Halo, panitia penyelenggara Red House?" Tanya Kay.
"Benar. Kalian sudah ada 8 orang?" Tanya panitia disana.
"Sudah," jawab Kay memandangi semuanya.
"Lalu siapa ketua timnya?" Tanya panitia tersebut.
"Kan sudah kubilang, bukan hanya soal berapa dan kelompok. Sebenarnya ini tuh rumit," kata Dani memijat kepalanya.
"Ah, kalau begitu akan kami diskusikan lagi," kata Kay yang akan mematikan ponselnya.
"Baik, setelah selesai mohon segera menelepon. Kami tunggu," kata orang tersebut lalu ponsel mati.
"Lalu bagaimana? Kita berlima tidak ada yang memiliki jiwa pemimpin," kata Fuji bingung.
"Eris saja, aku setuju," kata Yuri dan Ares bersamaan.
Mereka berlima menatap Eris ada keraguan dan ketidaksetujuan pada wajah perempuan.
"Aku menolak. Ares, aku menunjuk mu sebagai ketua," kata Eris.
"Aku?" Tanya Ares menunjuk dirinya.
"Aku setuju!" kata Sani dan Fuji bersamaan yah, memang itu yang mereka mau.
Yuri menepuk bahu Ares, "Jangan katakan pada mereka kalau kamu masih bersekolah," bisik Yuri.
"Apa? Kenapa?" Tanya Ares.
__ADS_1
Eris menepuk bahu sebelahnya, "Katakan kamu sudah kuliah karena bentuk badanmu yang besar dan tinggi, itu lebih masuk akal. Setidaknya jangan terlalu jujur,"
Meski kaget dan agak... keberatan, Ares memilih menurut saja kalau ada yang bertanya.
"Aku rasa ini bukan sekedar kita hanya berdiam diri dalam rumah saja," kata Kay yang memutuskan untuk bicara.
"Apa maksudmu? Sudah tentu kan hanya bertahan di sana selama seminggu. Kita sudah sepakat akan mengikutinya bukan?" Tanya Fuji.
"Iya, iya tapi... entahlah. Kita putuskan saja anak muda ini menjadi ketua hanya formalitas ya. Aku tidak akan menuruti perintah apapun termasuk pada anak yang usianya di bawah," kata Dio memandang sebal pada Ares.
"Nama kamu siapa?" Tanya Fuji dan Sani yang mendekati Ares.
"Namaku Ares. Sebelum kalian bertanya lebih jauh, aku kuliah semester 2 di Universitas G," jawab Ares sambil menatap Yuri dan Eris yang mengangguk bersamaan.
"Sudah punya kekasih?" Tanya mereka bersamaan lagi.
Area yang gugup, merasa terganggu. "Ah.. aku sedang menyukai seseorang, Maaf," kata Ares membuat mereka berdua kesal.
Para laki-laki tertawa meskipun begitu Fuji tidak menyerah, toh janur kuning belum melengkung.
"Kamu bukannya menyukai Dio, Fuji?" Tanya Dani menggoda.
Fuji berhenti dan menghentak kesal langsung duduk di kursinya. "Kamu tuh ya tidak mendukung sekali sih!" Kata Fuji.
"Dio ganjen sih lebih baik yang muda sedikit seperti dia," kata Sani menunjuk Ares.
Karena obrolan semakin tidak menentu, Eris mengambil alih berhadapan dengan mereka.
"Jadi kalian ikut acara ini demi popularitas dan uang? Biasanya tidak akan berjalan dengan baik," kata Eris.
"Yah, semacam mencari pengalaman mencekam juga," kata Dio mengedipkan matanya.
"Oh iya aku mendengar kabar bahwa ada kelompok lain yang mendatangkan Exorsist lho," kata Kay yang baru menerima info.
Sontak Aiolos dan Eris agak was-was, mereka saling berpandangan. Kalau sampai ada Exorsist sih... ini bukan acara biasa. Apakah Eria?
"Siapa Exorsist itu?" Tanya Aiolos penasaran.
"Apa anak yang gosipnya dulu bisa melihat hantu itu? Itu lho dia kan di tahun lalu sempat viral," kata Fuji.
"Eria ya. Aku sih berharap dia tapi ternyata bukan. Nih namanya Sisna, kata temanku dia Exorsist terkenal entah dari mana," kata Kay memperlihatkan fotonya.
Eris melihatnya juga memang anak itu sangat berbeda. Aiolos bernafas lega mendengarnya hampir saja dia pingsan kalau memang Eria.
Aiolos kemudian dibantu Yuri menyajikan pesanan mereka.
"Yahhh, padahal aku ingin lihat lho kemampuan anak itu," kata Sani kecewa.
"Sekarang dia berhenti dari saluran manapun dan memilih menjalani hidup normal," kata Fuji memperlihatkan Eria yang sudah besar jalan-jalan dengan beberapa temannya.
__ADS_1
Bersambung ...