Girl Of Darkness

Girl Of Darkness
29


__ADS_3

Eris kemudian menyelidikinya dan berjalan ke sebuah celah besar. Dia melihat kaki seseorang yang melayang dan mempercepat langkahnya.


Panca digantung terbalik dengan darah yang menetes deras lalu dikumpulkannya ke dalam wadah plastik.


Eris berteriak sambil menutup mulutnya dan melepaskan tali yang mengikat Panca. Dengan kesedihan dan kemarahan, Eris membawa Panca ke suatu tempat.


Ternyata Panca dijadikan korban untuk memancing monster itu tidak menyerang mereka. Tidak mungkin Dani dan Kei, lalu supir?


Eris mengeluarkan api dari balik tangannya dan membakar Panca, tentu hal itu membuat supit kaget dan bergegas.


"Tidak! Bagaimana bisa ada api?" Tanya supir berusaha meredakannya dengan tanah dan pasir.


Eris ke tempat Dani dan Kei, mereka kaget bagaimana Eris menemukan mereka. Eris menyapukan kedua mata mereka dan tertidur.


Eris menciptakan balon besar dan memasukkan mereka ke dalam pintu dimensi, yang disambut oleh Raven dalam wujud manusia.


"Nona, lekaslah pulang," kata Raven sangat cemas.


Eris mengerti dan menutup pintu itu. Supir beranjak menuju tempat Dani dan Kei, kaget! Eris sudah ada disana.


"Si-siapa kamu?! Kenapa bisa tahu persembunyian ku! Mereka kemana mereka berdua!?" Tanya supir itu kebingungan.


"Paman harus tahu, iblis yang sesungguhnya tidak memerlukan kostum untuk bisa membantai," kata Eris dengan aura super mencekam.


Seluruh gua menjadi terbungkus es membuat sang supir mundur ketakutan dan berlari menuju tempat Panca terbakar.


"Jangan mendekat! Aku hanya menuruti suruhan yang Nona katakan! Lihat, wajahku juga diserang olehnya!" Kata supir itu.


"Mereka tidak menyerang karena sibuk memutilasi yang sebelumnya. Paman lah yang berbuat ulah, paman salah satu pelaku bukan," kata Eris berdiri.


Supir itu tidak mengatakan apapun lalu tertawa keras dan kedua matanya berubah.


"Hahahaha dengan begini Nona akan membuat aku kaya!" Kata supir itu lalu mengambil pisau dan menghunuskan pada Eris.


"Paman mengorbankan orang agar selamat? Sia-sia. Pisau tidak akan mampu membuatku mati," kata Eris memperlihatkan wujud iblis nya.


"HUWAAAAAAAA!!!" Teriak supir yang meregang nyawa setelah Eris cekik. Kemudian Eris membakar supir itu dengan api birunya.


Eris kembali tersadar, Sisna dan lainnya menatap Eris.


"Panca dibunuh supir bis," kata Eris.


"Jadi bukan oleh monster?" Tanya Mila.


"Bukan," kata Eris.


"Dani dan Kei bagaimana?" Tanya Yuri.


"Aku sudah hubungi temanku untuk membantu Ares lewat telepati. Dia akan mengantarkan mereka bertiga pulang dengan selamat. Dani dan Kei dalam keadaan luka parah tapi tidak separah Yogi dan Fuji," kata Eris membuat yang lain lega.


Chris, Sisna dan Rio agak mencurigai Eris. Kemampuan apakah yang Eris miliki? Siapa Eris sebenarnya?


"Eris, apa kamu..." kata Chris ingin meyakinkan sesuatu.


Yuri agak tegang, jantungnya seakan berhenti berdetak. Apakah yang akan Chris katakan?


"Onmyouji juga?" Tanya Chris berlanjut.


Eris menatap pendeta muda itu dengan pandangan datar dan menghela nafas. "Kenapa?"


"Kemampuan seperti itu hanya dimiliki oleh Onmyouji seperti aku. Senangnya kalau memang benar, aku tidak sendiri. Semoga kita bisa bekerjasama ya mungkin ke depannya juga," kata Chris dengan senang.


Yuri tertawa lega dan Eris tidak menjawab pernyataan itu.


"Kamu akan menyesal bila bekerja denganku," kata Eris membuat Chris tertawa.


"Aku tahu kamu suka bercanda," kata Chris.


Rio juga tersenyum senang.


"Lebih baik pendeta urungkan niat untuk bekerjasama denganku ke depannya. Kalau untuk waktu ini, apa boleh buat," kata Eris.


"Wah, akan aku pikirkan," kata Chris kemudian menuju Mila.


Sisna sudah tentu semakin sebal ternyata Eris sama dengan Chris. Itu tandanya mereka bisa semakin dekat.


Tim tiga yang terakhir bergabung dengan tim dua dimana mereka menuju ruangan dan berjanji akan kembali.


Iran bergabung dengan tim Ares untuk menemani Yuri dan Eris karena Ares tidak ada. Rey juga memilih ke tim satu karena mana mungkin Iran bisa melindungi semuanya.


Mereka semua berkemas, Sisna masih cemberut dengan keputusan Chris. Mereka semua akan pulang bersama.

__ADS_1


"Kalau kamu keberatan, bilang langsung tapi untuk kondisi sekarang memang harus bergabung kan," kata Mila.


"Kenapa tidak anak itu saja yang jadi target mereka?" Tanya Sisna kesal.


"Ada Yuri pegawainya, kamu pikir bagaimana perasaannya. Setidaknya dengan bantuan Eris, kita jadi bisa memutuskan harus bagaimana," kata Rio ikut pembicaraan.


"Makanya utarakan secepatnya perasaan kamu pada Chris. Meski kita tahu pendeta Chris tidak boleh menikah kan," kata Mila.


Sisna tahu itu tapi pesona Chris siapa yang bisa menolaknya. Dan siapa tahu dengannya, Chris akan berubah pikiran.


"Sudah ayo bersiap-siap kita masih harus waspada. Kerja sama! Ayo," kata Rio.


Chris melihat Sisna yang cemberut ke arahnya, dia memang enggan memikirkan perasaan berkaitan dengan cinta.


"Apa kamu takut?" Tanya Yuri pada Iran yang berjaga di depan jendela yang sudah diberi penghalang.


"Ya. Semua pasti takut yang tersisa satu orang berarti aku, Yuri, dan Rey ya," kata Iran.


"Eris masih ada. Kalau Eris tidak ada, mungkin aku juga menyerah hidup," kata Yuri meneteskan air matanya.


"Ada aku! Aku akan menjaga kamu," kata Iran.


"Sisanya orang-orang hebat yang memiliki kemampuan. Orang biasa hanya kita bertiga, kalau mereka selamat ya wajar," kata Key agak murung.


"Jangan cemas kita semua pasti selamat," kata Yuri.


Eris menerima sepuluh bola arwah yang mendatanginya, dengan sedih dia mengirimkan mereka ke dalam toko.


Meski memang dia turun ke bumi untuk mengumpulkan seratus bola arwah manusia, namun dengan cara ini tentu dia sangat sedih.


Bukan ini yang dia harapkan tanpa ada perjanjian. Setidaknya bukan yang membuat mereka menderita dalam sekali tebas.


Dan kasus ini sudah keterlaluan sampai memanggil makhluk ghaib. Semua orang kembali bergabung di ruangan tim Ares.


Malam sudah semakin larut, semuanya terbagi ke dalam dua kelompok untuk tidur. Sisna, Mila dan Eris harus satu ruangan serta Yuri.


"Kenapa sih aku harus sama dia?" Tanya Sisna marah.


"Aku juga sama. Eris kan Onmyouji bila ada bahaya dia bisa diandalkan. Sama seperti sebelumnya," kata Mila merapihkan kasur.


"Untunglah Mila juga disini," kata Sisna.


"Kalau begitu Aku, Chris, Iran dan Rey ya," kata Rio.


Eris tahu Sisna merasa dirinya bersaing mendapatkan perhatian Chris. Eris mengajak Yuri memasuki ruangan untuk tidur.


Di bagian laki-laki, Rey memutuskan untuk kembali menyelidiki, begitu juga dengan ketiganya. Karena masih lumayan melek, Yuri mengajak Eris bermain monopoli.


Berkali-kali Eria gagal mencapai puncak dan dia sebal ternyata ada hal lain selain sihir yang tidak bisa dia ubah.


Sisna memperhatikan mereka berdua bermain ular tangga, Yuri juga berkali-kali harus turun gagal mendapatkan puncak.


"Kenapa sih dia selalu ada?" Tanya Sisna.


Mila menggelengkan kepala. "Kita tidak boleh hanya berdua saja kan. Kemampuannya juga cukup menakjubkan, Chris berkata dia bisa mengeluarkan api dari telapak tangannya," mata Mila membuat Sisna kaget.


"Kalau begitu dia..." kata Sisna yang Mila tatap dengan tajam.


"Sudah! Kamu harus ingat, Eris juga cukup banyak membantu kita disini.


Dia tidak hanya bisa bicara saja oh ya ini kertas mantra.


Tempel di baju atau dibawa kemana saja kanu pergi. Aku mau mandi dulu, bergabunglah dengan mereka daripada sendirian," kata Mila memasuki kamar mandi.


Lamaaa Sisna menghela nafas dan menghampiri Yuri dan Eris.


"Mau ikut bermain? Daripada hanya melihat," kata Yuri memberikan mainan lain.


"Tidak perlu. Permainan ini bukan tipeku, aku kemari disuruh Mila saja," kata Sisna dengan jutek.


Eris tidak memandangi Sisna, karena pasti akan lebih membuatnya marah. Meski begitu, Sisna terus memancing Eris.


"Senang ya bisa memiliki kemampuan seperti pendeta," kata Sisna.


Yuri hanya diam, dia tahu Sisna salah paham.


"Pasti kamu bangga dapat perhatian lebih darinya. Chris itu banyak sekali penggemarnya menurut aku, kamu sama sekali bukan tipe dia," kata Sisna.


Yuri dan Mila hanya tertawa mendengar Sisna yang terus bicara tanpa ada jawaban dari Eris.


"Kalau kamu tidak suka bersama kami kenapa tidak ikut dengan tim laki-laki? Chris juga ada di sana kalau kamu bisa lebih berguna dengan pemikiran," kata Eris.

__ADS_1


Sisna langsung agak marah mendengarnya.


"Iya mereka pasti tidak masalah kan," kata Yuri menahan tawa.


"Mereka tidak mengajak aku" kata Sisna.


"Karena kamu merepotkan mereka. Daripada memikirkan ego, lebih baik berusahalah untuk bisa berguna," kata Eris.


"AKU BENCI KAMU!" Teriak Sisna sambil masih duduk.


Para laki-laki sudah tentu mendengarnya dan Chris berkata "namanya juga perempuan".


"Kalau memang kamu cenayang tidak seharusnya bertingkah menyebalkan. Lindungi diri kamu sendiri daripada bergantung pada pendeta.


Jelas terlihat kamulah yang ingin diperhatikan olehnya," kata Eris menatap.


Sisna menggenggam tangannya mendengar dengan kesal.


"Tanyakan pada pendeta apa yang harus kamu lakukan, sudah pasti berharap kamu bisa lebih berwawasan untuk mencari jalan keluar. Daripada hanya bergantung dan manja pada Mila. Benar tidak?" Tanya Eris.


"KAMU!" Teriak Sisna membuat wajahnya memerah.


"Ada tiga orang yang hanya orang biasa disini kamu pikir bisa terus seenaknya bergantung?


Jangan hanya memikirkan ego sendiri saja! Rio dan Mila seorang miko dan biksu, bisa mengeluarkan kemampuan mereka.


Kamu? Bergantung pada penglihatanku?" Tanya Eris membuat Yuri agak setuju.


"Jadi kamu meremehkan aku!?" Tanya Sisna sebal.


Eris berhenti main dan menatap Sisna. "Kalau begitu bila aku yang menjadi umpan, apa kamu bisa melindungi Yuri menggantikan aku?"


Sisna ingin menjawab tapi tidak ada jawaban. Mila juga menunggu.


"Bila Mila atau Rio yang mendapat masalah dengan monster itu, kamu apa yang akan kamu lakukan?" Tanya Eris.


Sisna tidak bisa berkata apapun, dia memang cenayang tapi kemampuannya juga kurang bisa diasah. Hasilnya hanya bergantung dari penuturan orang lain.


Kenapa Chris tidak membantunya karena dia ingin Sisna belajar dari orang yang ada disini termasuk Eris.


"Kamu ingin mencolok hanya karena merasa aku ingin mengalahkan mu? Kamu tidak tahu dimana kita sekarang berada," kata Eris.


Sisna kemudian menutup wajahnya dan menangis. Yuri menghampiri.


"Anu.. Tampaknya kamu salah paham mengenai Eris. Eris sama sekali tidak ada minat bergabung dengan Chris.


Kelas mereka berbeda, aku tidak bisa jelaskan. Jadi tenang saja lebih baik kamu utarakan perasaan pada Chris kalau memang suka, bukan dengan jalan memarahi Eris," kata Yuri dengan ramah.


"Setidaknya buatlah dirimu semakin kuat," kata Eris lagi membereskan mainan.


Sisna berdiri dan berjalan ke arah kamar. Yuri menghela nafas.


"Kelihatannya omongan mu agak dingin," kata Yuri.


"Biarkan, kalau semakin lembut dia tidak bisa belajar. Ayo kita teruskan permainannya," kata Eris.


Sisna berpikir dalam kamar memang selama ini dia mengaku tidak sepenuhnya berguna.


Selalu salah dalam me jelaskan sesuatu akhirnya, kelompok mereka sering mengalami hal aneh.


Sisna keluar melihat Yuri dan Eris masih dengan permainan mereka. Sisna membuat teh hangat dan terkejut dengan kemunculan para laki-laki.


"Ada apa?" Tanya Sisna.


"Kami sedang berkeliling lalu Iran melihat bola api awalnya hanya ada dua. Tapi entah kenapa jadi bertambah sangat banyak dan bukan hanya itu saja," kata Rey yang duduk terlentang.


Eris menghentikan permainan dan mendatangi.


"Saat Chris dan Rio membacakan kitab dan mantra, tiba-tiba bola itu berubah menjadi sebilah pisau dan mulai beterbangan," kata Iran memperlihatkan luka.


Yuri dan Mila yang selesai mandi langsung mengambilkan peralatan obat.


"Kami menghindarinya dan Iran menyangka itu ilusi tapi..." kata Rey memperlihatkan sesuatu yang terbakar.


Chris dan Rio juga datang sambil terengah-engah. Sisna menawarkan bantuan untuk diobati namun mereka menolak.


"Luka kami tidak seberapa, Rawat saja mereka berdua," kata Chris.


Mereka berdua terduduk sambil bernafas pelan. Sisna mengerti secepatnya dia melihat luka.


"Aneh. Sekarang sasaran mereka adalah orang biasa," kata Eris memperhatikan luka sayat dan bakar.

__ADS_1


"Iya benar, bola api itu hanya menyerang mereka berdua," kata Rio menunjukkan mereka sama sekali tidak terluka.


Bersambung ...


__ADS_2