
Raven nampak berpikir dengan menggunakan sayapnya. "Hmmm boleh. Kapan?" Tanyanya memandangi wajah Yuri.
"Besok ya. Arae kemungkinan sibuk menjaga Eris dan tokonya jadi kita yang harus mencari," kata Yuri.
Raven mengangguk tanda setuju. Raven sangat dimanja oleh Ayahnya Yuri yang sangat menyukai burung gagak yang sopan itu. Ayahnya tidak masalah bila rumah mereka menjadi rumah bagi Raven sepulang dari toko.
Dari kejauhan Arae memandangi Yuri dan Raven dari atas langit. "Syukurlah, setidaknya mereka berdua baik-baik saja. Maaf Yuri, Raven aku tidak bisa banyak membantu. Tidak tahu sampai kapan Eris bisa bertahan," katanya lalu menghilang dengan cambukan api.
Dalam toko, Eris terduduk dalam singgasananya. Dia bernafas dengan pelan memperhatikan tangan dan tubuhnya yang mulai memudar. Kekuatannya entah kenapa menguap meninggalkannya.
"Kekuatanku sedikit demi sedikit menghilang. Benarkah di Bumi terdapat diriku yang lain? Kalau memang ada, aku..." kata Eris menutup kedua matanya untuk meditasi dalam tidur agar energinya bisa terjaga.
Arae tiba dan berlari ke kamarnya Eris, menatap dengan mata yang sedih. Arae membawanya ke sebuah peristirahatan di kedalaman toko. Dan menempatkan dengan kristal-kristal.
"Dengan begini, kekuatanmu tidak akan menghilang begitu saja," kata Arae lalu duduk menunggu Eris sadar.
Toko kembali dalam keadaan semula tapi tidak sama lagi. Ella pun muncul namun hanya menundukkan kepalanya, menunggu Eris sadar.
Tertampak lah sebuah rumah mewah namun sederhana. Sebuah kamar yang mirip dengan Eris menampilkan tidak banyak barang atau perlengkapan kamar. Hanya ada meja rias dan kasur beserta selimut dan satu buah bantal.
Seorang anak berambut panjang dengan lurus menjuntai sampai pinggangnya, sedang asyik menyisir rambutnya dan memakai bandu yang agak kotor satu-satunya.
Tidak ada lemari baju, atau meja apapun. Dia hanya memiliki perhiasan bandu sejak usia 5 tahun. Dia menyadari bandu itu sudah terlalu kecil, agak rusak, kainnya pun robek tapi dia tidak masalah.
Keadaan kamarnya tidak begitu menyenangkan, dindingnya hanya berlapiskan cat putih yang membosankan. Dia harus mengambil baju di kamar sebelah yang berantakannya bukan main.
Dia setrika sendiri, dia memilih pakaian terusan yang agak mengembang meskipun sebagian kainnya sudah sobek. Bajunya berwarna hitam, yang sobek dia jahit sendiri lalu memakainya. Tampak selaras dengan bandu putih berbulu miliknya.
"Selesai," katanya sambil tersenyum lalu membuka pintu kamarnya dan menuju lantai bawah.
Dia berjalan melewati kamar milik ibunya yang berantakan penuh dengan tas mahal, perhiasan, sepatu lalu lemarinya yang penuh dengan uang. Tanpa ekspresi, anak itu kembali berjalan sambil senyum seolah tidak ada apa-apa.
Ada sayatan sesuatu di lehernya yang kecil lalu dia membuka kulkas yang isinya hampir kosong. Hanya ada susu, brownis dan juga 4 buah apel. Dia ambil satu apel lalu dimasukkan ke dalam saku bajunya lalu memakai sepatu yang sudah usang.
"KAMU MAU KEMANA?" Tanya hardikan ibunya yang keras.
Anak itu lalu berbalik memandangi ibunya yang berkacak pinggang.
"Aku mau sedikit jalan-jalan, Bu," katanya sambil senyum.
__ADS_1
"Sore nanti akan ada syuting jangan sampai kamu memegang hal-hal yang Ibu larang ya," katanya dengan nada marah.
"Baik, Bu," jawab anak itu lalu menutup pintu. Dia berdiam diri sebentar, kedua matanya sangat sedih dan menarik nafas lalu jalan sendiri.
Apel yang dia taruh, dia makan sambil berjalan. Luka di lehernya dia sentuh dan terasa perih, lalu dia tutup dengan kerah bajunya.
Saat itu Aiolos tengah berbelanja untuk kebutuhannya dan tidak lupa memberi sekotak hansuplas. Sejak dari kejadian kemarin tentang cerita 10 seram, kemampuannya melihat hal aneh sudah tidak begitu sering terjadi.
Dia membeli kotak bekal yang akan diisinya makanan buatan dia serta roti untuk Eris. Sebagai terima kasihnya karena otomatis membuatnya tidak terganggu dengan hal mistis lagi.
"Aku tidak mau lagi kalau sampai harus diajak melakukan hal menyeramkan seperti kemarin," gumamnya agak menghela nafas.
Dia berjalan keluar dari market dan tiba-tiba terlewati oleh anak tadi. Aiolos tersentak, masa iya dia langsung bertemu Eris?
"Eris?" Tanya Aiolos berbalik mengejar yang tadi melintasinya.
Dia memandangi dan... AH! Berbeda ternyata. Eris berambut putih dan anak itu berambut hitam. Aiolos menertawakan dirinya bagaimana bisa sampai salah orang. Tapi anehnya dia merasa anak tadi sangat mirip dari belakang pun terkesan seperti Eris.
Gadis yang melewatinya pun merasakan hal yang sama. Dia berhenti lalu dengan cepat berbalik namun Aiolos sudah tidak ada, dia sudah berjalan menjauh sangat jauh darinya. Anak itu lalu kembali meneruskan jalannya.
Aiolos bertemu dengan Nyx dan menyapanya.
"Oh ya, aku tadi terkejut," kata Aiolos tertawa keras.
"Aku sampai salah menyangka Eris sedang jalan-jalan ternyata orang lain. Payah aku ini," kata Aiolos.
"Hahaha dasar bodoh! Lalu kamu beli apa? Untuk apa bekal ini?" Tanya Nyx memperlihatkan kotak bekal yang manis.
"Aku mau membuatkan bekal untuk Eris. Berkat dia aku jarang diganggu hantu," kata Aiolos.
Nyx memasukkan kembali, dia setuju biasanya Aiolos selalu cerita aneh-aneh. "Lalu? Apa kamu menanyakannya pada anak itu? Siapa tahu Eris sedang menyamar dalam misi,"
"Aku rasa tidak. Wajahnya berbeda tapi, entah kenapa perawakannya mirip sekali. Hanya yah, dia berambut hitam. Hei, masa aku harus menjambak rambut anak itu?" Tanya Aiolos memukul bahunya.
"OUCH! Benar juga mungkin memang hanya mirip saja. Baiklah, aku harus ke suatu tempat nih sampai nanti," kata Nyx membalas memukul punggung Aiolos lalu kabur.
Aiolos tertawa lalu kembali berjalan lagi memasuki kawasan taman berbunga dan ber pohon rindang. Dia mengagumi keindahan pepohonan dan bunga disana.
Eria, ya nama anak yang sekarang sedang berdiri di depan pohon besar yang berbunga lebat dan berdaun banyak. Dia menyentuhnya dan terdengarlah suara lirih perempuan.
__ADS_1
'Tolonglah jangan tebang pohon ini,'
Eria membuka kedua matanya dan melihat sosok perempuan bermata sipit yang menatapnya. Pakaiannya memakai kimono pendek dan tampak sedih.
"Pindah lah. Nanti sore akan ada banyak orang yang mendatangi tempat ini dan kamu akan aku musnahkan," kata Eria bergumam.
Hantu perempuan itu menangis mendengarnya. Aiolos menatapnya dan melihat ke atas, memang ada hantu. Dia agak merinding lalu melihat anak yang tadi melewatinya.
"Kamu Eris kan?" Tanya Aiolos yang mendatanginya.
Gadis itu menatap Aiolos, agak kaget. "Eris? Namaku Eria bukan Eris. Sepertinya kakak salah orang,"
"Eria?" Tanya Aiolos kebingungan. Aiolos mengingat-ingat lagi. "AH! Aku baru ingat! Kamu kan yang gadis exorcist dan Medium Spirit kan," kata Aiolos sekarang sudah mulai terkoneksi.
Mirip Eris karena mungkin dari kemampuan yang dimiliki Eria tapi selebihnya memang sangat berbeda. Meskipun cara berpakaiannya sangat mirip. Tapi wajah dan warna rambut tentu jauh.
"Iya," jawab Eria. Dia dikenal dari julukannya itu dan tidak membuatnya nyaman.
"Ahhh benar juga. Maaf ya kamu sangat mirip dengannya karena dia juga senang memakai baju hitam. Apa kamu punya saudara kembar? Hebat sekali kalau kalian sampai bisa bertemu," kata Aiolos dengan semangat.
"Aku anak tunggal setidaknya begitu yang aku tahu. Oppa?" Tanya Eria.
Aiolos yang disebut Oppa wajahnya menjadi merah padam karena sangat malu. Terbayang Eris yang mengucapkannya.
"Hahahaha jangan, jangan panggil aku begitu meski aku mirip dengan Park Jimin kan?" Tanya Aiolos.
"Sama saja kan dengan aku yang mirip dengan teman kakak. Oppa itu sedang mem booming sekarang, jadi aku pikir kakak adalah dia. Lalu apa yang kakak lakukan disini?" Tanya Eria senyum menatap Aiolos.
Aiolos membalas senyuman Eria yang menurutnya manis. "Ah, kalau pulang dari mana-mana pasti melewati taman ini. Kamu?" Tanya Aiolos.
Tanpa disadari kerah baju Eria menurun dan memperlihatkan luka di lehernya. Aiolos kaget lalu menaruh belanjaannya di bawah dan mencari hansuplas.
"Kenapa?" Tanya Eria agak bingung.
"Leher kamu kenapa? Ini. Pakai jangan cemas warnanya sama dengan kulit kok," kata Aiolos memberikan hansuplas padanya.
Eria kaget dan menutup lehernya. Dia malu, takut dan sedih tapi saat hendak mengambilnya...
"MENYINGKIR DARINYA!!" Teriak Ibunya tiba-tiba.
__ADS_1
Aiolos menatap ibunya yang datang dengan terburu-buru dan dia didorong keras oleh ibunya. Sebelum sempat terdorong, Eria dengan cepat mengambil hansuplas darinya dan menyembunyikannya.
Bersambung ...