Girl Of Darkness

Girl Of Darkness
17


__ADS_3

"Kita harus keluar dari rumah ini," kata Eris membuat mereka kaget.


"Kenapa?" Tanya Ares.


Eria memberitahukan mengenai firasat buruknya dan soal keadaan vila yang dia coba tes kemarin malam.


Chris tidak percaya, berpikir Eris hanya mengarang saja. Eris mempersilahkan Chris untuk mencobanya.


"Tidak ada apa-apa. Kelihatannya kamu lelah," kata Chris mengusap dinding itu lagi.


Dinding itu hanya berisikan semen biasa, membuat Eris merasa aneh. Di saat mereka berdebat, tiba-tiba Yuri dan Ares melihat sesuatu yang merambat.


"Kalian lihat!" Kata Yuri panik.


Chris dan Eris berbalik memandangi ke arah yang Yuri tunjuk dan semen itu berubah menjadi berwarna pucat dengan sejenis akar merah.


Ada bau keluar dan cairan kental merah dan hitam. Yuri berteriak dan Eris menariknya mundur.


"Blood?" Tanya Chris bingung.


Saat mereka bergerak memastikan terdengar suara langkah.Dan dinding itu ditutupi dengan tirai.


Yogi membuka pintu tim Ares dengan panik.


"Ada apa sih pagi begini?" Tanya Kay baru bangun.


"Ada... ada yang lihat Olive?" Tanya Yogi panik.


"Eh? Kita juga baru bangun. Dia di kamar kan," kata Yuri menahan kagetnya tadi.


Anita datang dengan kedua mata yang sembab. "Dia tidak ada dimanapun. Bahkan kamarnya,"


"Hei, jangan bercanda deh ini kan baru hari kedua," kata Dio berdiri.


"Apa tadi malam dia ada keluar?" Tanya Eris. Dia sempat melihat Olive masuk ruangan ini.


"Hmm katanya dia ingin bertemu dengan pendeta tapi aku bilang besok saja. Aku sedikit memarahinya," kata Anita.


"Sedikit? Kamu menjelekan dirinya dengan bertingkah sok hebat," kata Rika.


Semuanya memandangi Chris.


"Aku tidak ada di kamar karena meminta sesuatu pada Yoshi," katanya.


Kini semuanya menjadi cemas, Yoshi datang dan terkejut anggota dari tim Olive menghilang satu.


Hari sudah agak cerah dan mereka memutuskan untuk mencari secara berpasangan.


Chris termenung, memang benar dia ada dalam kamarnya setelah menemui Yoshi. Tapi setelahnya...


Olive memang mendatanginya dengan kedua mata yang sembab dan mengatakan sesuatu sebelum akhirnya menghilang.


"Olive mendatangiku setelah aku kembali ke kamar," kata Chris.


Anita memandangi Chris dengan tegang, "Apa yang dia katakan?"


"Dia hanya bilang maaf sudah membohongi banyak orang. Dia di paksa olehmu berpura-pura menjadi murid Profesor. Mengaku anak negara Inggris yang sebenarnya dari Solo," kata Chris.


Semua orang kaget dan menatap tim Anita.


"Memang kan dia palsu," kata Mila.


"Dia aku temukan di jalanan Solo tanpa tujuan yang jelas. Anehnya dia sangat mahir berbahasa asing jadi aku menjanjikan dia banyak uang," kata Anita mengaku.


"JAHAT! Semudah itu kamu menganggap nyawa seseorang murahan!" Kata yang lainnya termasuk Yuri.


Anita menangis sejadi-jadinya menyesal sekali apa yang dialami oleh Olive di sini.


"Tolong maafkan dia. Kami sendiri tidak tahu soal perjanjian itu," kata Tora.


"Apa kamu bilang!? Kalian sendiri menjanjikan dia rumah bila kita berhasil. Kita semua terlibat dengan Olive!" Kata Anita berteriak.


"Parah ya anggotanya saling menunjuk dan menyelamatkan diri masing-masing," kata Sani berbisik.


"Kita kesampingkan dulu masalah itu. Apakah saat itu Olive masih hidup, Chris?" Tanya Panca berharap.


Chris tidak menjawab, dia yakin itu... "Aku yakin itu adalah rohnya dan keinginan terakhir dia adalah mengakui semuanya,"


Kelompok Anita menangis menyesali semuanya kini mereka harus bersiap untuk yang terburuk. Para laki-laki pun tidak menyangka akan berakhir.


Eris tanpa sepengetahuan mereka menerima kedatangan bola roh Olive yang mengatakan mereka harus keluar.


Yoshi datang kembali bersama para pelayan dan mengatakan tidak menemukan apapun.

__ADS_1


Lagi-lagi para pelayan tidak ada yang mengatakan apapun, membuat beberapa orang curiga.


Sampai menjelang malam lagi, masih belum ada kabar kepastian mengenai Olive. Dan hari berganti ke hari ke tiga, semua orang diperiksa dan masih komplit.


Lalu kemanakah Olive pergi?


Yoshi datang dengan buru-buru. "Saya mendapatkan denahnya,"


Mereka menerima dan Yoshi pergi mengerjakan tugasnya.


"Gila! Lima puluh kamar?" Seru Dani menghitung kotak dalam denah.


"Tapi kenapa tidak terlihat sejumlah itu?" Tanya Ara aneh.


"Ingat, rumah ini agak aneh kan mungkin itu kamar tambahan yang dipasang sebagai hiasan," kata Rio.


"Benar juga," kata Ara lupa.


"Ini apa?" Tanya Rio.


Mereka melihatnya ada gambar segitiga di tengah.


"Jadi rumah itu memang ada dalam denah rumah ini," kata Chris pada Eris.


"Ini garis apa sih?" Tanya Panca menunjuk.


Mereka berpikir dengan serius sambil menatap ke luar.


"Sepertinya itu jarak luar bangunan deh," kata Yuri pernah melihat garis sebelum mereka memasuki vila.


"Benar, garis itu kan," kata Mila menunjuk ke luar.


"Eh kalian pernah tidak mengukur ruangan kalian? Dalam dan luar," Kata Iran.


"Untuk apa diukur segala?" Tanya Fuji.


"Kalian mencobanya? Lalu ada yang aneh?" Tanya Eris.


Iran memberikan lembaran dimana mereka tulis angka yang berbeda.


"Kami mencoba mengukur karena iseng dan hasilnya tidak ada kamar yang sama," kata Panca.


"Aku coba tanyakan pada Yoshi, katanya semua ruangan berbentuk segi panjang. Tapi ya begini semuanya aneh," kata Iran.


"Iya sih kalau tidak sama memang aneh," gumam Ares.


"Lalu kami juga iseng mengukur jarak kamar dan kamar lain. Ini hasilnya," kata Anita memberikan lembaran lain.


"Apa ini??" Tanya mereka.


"Aneh kan. Sekilas kita melihat pasti jaraknya sama tapi berbeda. Aku juga merasa aneh, apa kedua mata kita dihipnotis?" Tanya Rika.


"Lebih aneh lagi karena ukuran berbeda, aku menulis angkanya di bawah papan. Besok pagi tulisan itu tidak ada!" Kata Iran mengejutkan yang lain.


"Kalian bercanda kan?" Tanya Fuji.


"Untuk apa? Menakuti kalian? Vila ini saja sudah cukup membuat orang hilang," kata Tora.


"Soal kalian mengukur itu menggunakan alat apa?" Tanya Chris.


"Lima jari," kata Anita.


Semuanya menatap datar pada Anita.


"Memangnya salah? Aku tidak punya alat ukur!" Kata Anita.


"Mau kita coba ukur? Aku bawa meteran bangunan," kata Yuri memperlihatkan.


"Kita buktikan. Yuri, Dani dan..." kata Chris.


"Aku," kata Iran.


Mereka bertiga keluar dan mulai mengukur kamar Chris saja. Kemudian ruang makan, ruang kerja lalu kembali.


Mereka heran sama sskali tidak ada bangunan persegi panjang.


"Bagaimana?" Tanya Eris.


Semuanya berbeda, mereka juga bingung.


"Kalian ini bagaimana sih mengukurnya? Mana mungkin satu ruangan berbeda?" Tanya Mila.


"Ya memang begitu kenyataannya! Kamu pikir kami bertiga tidak aneh melihatnya?" Tanya Yuri sebal.

__ADS_1


"Sana kalau tidak percaya ukur sendiri!" Kata Dani.


Mila, Sisna dan Rio mencoba dan memang hasilnya sangat menyebalkan. Tidak ada nomor yang sama.


"Menurutku apa ada kemungkinan ada ruangan rahasia?" Tanya Yuri.


"Maksud kamu?" Tanya Panca.


"Berlipat jadi setiap kalian ukur di suatu tempat, sebenarnya ada kemungkinan isi pondasinya berlipat," kata Yuri bingung menjelaskannya.


"Mungkin maksud Yuri harusnya diberi semen satu kali, tapi mungkin ada yang menambahkan?" Tanya Rio.


"Mungkin. Karena aneh dari panjang dan tinggi sisinya," kata Yuri.


Masuk di akal sih. Makan siang tiba dan mereka semua memasuki aula untuk makan.


Vila yang mereka tempati itu sebenarnya apa? Perihal Olive juga masih belum selesai.


Anita tidak nafsu makan, dia berdiri dan berjalan keluar. Iran segera berlari diikuti oleh Key.


"Anita! Jangan sendirian. Kamu mau kembali ke kamar? Aku antar," kata Iran.


"Aku juga ikut," kata Key.


"Kalian tidak perlu mengantar, aku bisa sendiri," katanya dengan wajah yang sedih.


"Tapi berbahaya kan seperti apa kata Chris," kata Key.


"Ini kan masih siang. Tenang saja, Iblis macam apa yang bergerak di siang hari," kata Anita pergi sendiri.


"Kita ikuti saja dari belakang, Tetap kita tidak boleh berpencar," kata Iran.


Setelah sampai, mereka berdua kembali.


"Tidak apa-apa kita tinggal?" Tanya Iran.


"Sudahlah ini memang masih siang. Yuk, aku lapar," kata Key duluan.


"Lima menit lagi kita periksa ke sini," kata Iran.


Dalam kamar, Anita menangis meraung-raung menyesal seharusnya dia tidak menyudutkannya seperti itu.


Hanya Olive yang selalu ada untuknya dan kini dia malah membuatnya terbunuh.


Dengan mata sedih, Anita memutuskan untuk mandi lalu ganti baju. Lima menit kemudian Iran dan Key datang, mereka memeriksa.


Mereka mendengarkan suara hairdryer dari kamar. Mereka lega.


"Benar kan dia baik-baik saja. Ini siang bukan malam, ayo kembali," kata Key senang.


Sosok yang menyerupai Anita menyeringai dan menatap kamar mandi dimana Anita berada.


Anita menenangkan diri dengan air hangat yang membasahinya lalu keluar. Anita menatap pintu kamarnya, dia merasa ada suara Iran dan Key.


"Kemana mereka? Katanya mau datang lagi," kata Anita melihat lorong yang sepi.


Anita menghela nafas dan kembali sambil duduk di kasur Olive.


Anita


Suara Olive menghampirinya. Anita berdiri dan memandangi sekelilingnya.


"Olive? Itu kamu?" Tanyanya pada ruangan yang kosong. "Bodoh! Dia kan masih menghilang," kata Anita menggelengkan kepala.


Anita


Lagi-lagi memang suara Olive tapi dari mana? "Olive! Kamu masih selamat kan? Maafkan aku," kata Anita.


Tidak ada siapapun, dia menunduk dan menangis memeluk kakinya. Sepasang kaki berdiri di depannya, dan Anita kaget.


"Olive!" Teriak Anita berdiri dan memeluknya.


Olive hanya memandangi Anita tanpa ekspresi.


"Kapan kamu masuk? Dari mana saja, aku dan lain mencari kamu sepanjang hari!" Kata Anita bersyukur.


Olive masih diam, kedua matanya sembab, wajah pucat.


"Kamu kenapa? Dasar! Kamu sengaja ya menjahili aku," kata Anita marah tapi sudah agak tenang.


Kamu menyesal aku pergi?


"Menyesal? Untuk apa? Aku yakin kamu pasti akan kembali. Soal kami memaksa kamu jadi muridnya kan karena lamu penggemar dia. Kamu juga senang kan," kata Anita duduk kembali.

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2