
Yuri melihatnya dan terkejut. "Ini! Rumah ini yang aku lihat dalam mimpi!"
"Kalau begitu yang merasuki Yuri mungkin ibu atau ayahnya," kata Chris.
"Bohong sampai mereka pun menjadi korban putrinya?!" Tanya Yuri menangis.
"Sifat psikopatnya muncul saat dia membaca cerita itu. Pikirannya menjadi eror lagi dan dia mulai bertahap," kata Rio.
"Usia tujuh belas Yuna kembali berulah saat dirinya memiliki pacar. Yuna pulang dengan pandangan kosong sambil membawa jari kelingking sang pacar.
Orang tuanya mencari tahu karena Yuna tidak juga pulang selama dua hari. Setelah ditelusuri, Yuna sudah memutilasi pacarnya.
Ini adalah kejadian kedua dimana dia memutilasi seseorang tanpa bersalah.
Saat ditanya ayahnya, Yuna berkata bahwa pacarnya berjanji setia sampai mati.
Dan Yuna bertanya, 'Apa kamu bisa melakukannya sekarang?' Sang pacar bingung dan tertawa saat melihat Yuna membawa kapak.
Cinta yang melanggar membuat dirinya kembali menjadi psikopat saat remaja. Dia membunuh dan menyimpannya sampai usia dua puluh," kata Iran membaca.
"Tidaaak!!" Jerit semuanya.
"Jadi inilah kenapa alasan rumahnya terus melakukan renovasi secara diam-diam.
Yuna agak aneh dan orang tuanya menjawab agar dirinya tidak bosan. Dan dibuatlah berbagai macam hiasan aneh," kata Iran.
"Tapi itu juga yang membuat Yuna semakin depresi. Tidak bisa lagi dirinya bertemu banyak orang sehingga memutuskan membunuh orang tuanya kan?" Tanya Yuri.
"Ya benar, Yuri. Lalu dia akhirnya berjanji tidak akan membunuh lagi, mereka berdua takut apalagi bila Yuna kembali ke pusat perkotaan.
Akhirnya Yuna memberikan semua peralatan membunuhnya dan berjanji, akan sembuh," kata Iran membaca lagi.
"Lah, di keluarkan lagi!?" Tanya Rio.
Iran memperlihatkan foto Yuna saat itu yang mengubah penampilannya.
"Tapi dia memang menjadi artis terkenal kan karena kecantikannya.
Beberapa tahun memang penyakitnya tidak kumat sampai dia menjalin hubungan dengan lelaki.
Semuanya aman, semua memuji penampilannya bahkan banyak yang menyukainya.
Dia mulai tampil di berbagai acara dan masa lalu kelamnya tidak pernah terbuka.
Yoshi adalah pelayan setia keluarga mereka, dan kalian tahu dia adalah orang pertama yang tidak setuju dengan tindakan Yuna.
Bagian terpentingnya, Yoshi terbunuh dalam sebuah gudang dengan keadaan di tusuk oleh besi tajam dan termutilasi," tutup Iran membuat mereka semua lemas.
"Kalau begitu, Yoshi asli memang sudah lama tidak ada," kata Rio syok.
"Berita ini dari dua puluh tahun yang lalu memang seharusnya mereka sudah tidak ada kan. Di generasi kita sekarang," kata Iran dengan berduka.
"Enam tahun lamanya Yuna menjadi kebanggaan masyarakat hingga sekarang. Berarti pengetahuan soal vampir itu terbukti dong?" Tanya Key.
"Tidak. Yuna yang sekarang bukanlah Yuna yang dulu. Kalau normalnya dia pastilah sudah berusia 90 lebih," kata Chris menatap lantai.
"Di tahun inilah semuanya terbongkar kabar dirinya pernah membunuh teman satu sekolah saat kecil, kekasihnya. Karirnya langsung menghilang bagai asap.
Warga merasa tertipu bangga pada seorang psikopat.
Mereka masih memburunya dan membuat sayembara, barang siapa yang bisa menebas kepalanya akan dihadiahi dua puluh batang emas," kata Iran memperlihatkan selembaran.
"Pasti di antara semua korban ada yang terhubung sebagai saudara atau sahabat. Mereka pasti akan membalaskan dendam nya," kata Mila.
"Mereka bisa bertemu dengannya di sini," kata Yuri.
"Ada beberapa saksi yang ternyata tidak sengaja terekam dan melihat Yuna melakukan pembunuhan acak," kata Iran.
"Aksinya kini kembali lagi," kata Eris.
"Tapi kalian merasa aneh tidak?" Tanya Mila.
"Apa?" Tanya mereka.
"Itu adalah kabar dua puluh tahun silam seharusnya Yuna yang sekarang sudah tua kan," kata Iran.
"Kamu tidak dengar apa kata Chris? Kalau dia normal usianya 90 kan," kata Rio menghela nafas.
"Ya, Yuna memang salah satu orang yang mengikuti cara Elizabeth Bathory.
Dia memang menjadi abadi tapi jiwanya tetaplah seorang psikopat. Dan wajahnya aku yakin tidak begit cantik," kata Chris tertawa.
"Sekarang harus bagaimana? Kita sudah tahu kisahnya seperti apa," kata Sisna.
Chris bangkit. "Kita akan kembali mendobrak rumah itu dan mencari mereka berdua. Tidak, hanya Yuna. Kita akan selesaikan hari ini," katanya dengan mengambil seragam dan lainnya.
"Kalau misalkan benar kita bertemu mereka di sana bagaimana?" Tanya Yuri.
"Kita akan melakukan perlawanan. Yuri tetaplah bersama Iran, Rey dan Key. Sisna dan Mila menjaga mereka. Sisanya bersiap melakukan serang balik," kata Chris mengeluarkan energi kebiruan putih.
Eris mundur sejenak dan menyiapkan pedangnya. Mereka semua bergerak dengan posisi dan formasi.
Yoshi dicari kemanapun tidak ada. Sisna dan Mila dengan serius membuat lingkaran pelindung. Yuri dan Key berada dengan mereka.
Chris dan para laki-laki lain telah siap membawa sekop dan alat berat yang bisa mereka bawa. Meski Eris keberatan Yuri ikut, Yuri memaksa.
"Kita benar-benar akan menjebol rumah?" Tanya Yuri membawa kamera.
"Ya agar titik terangnya ketemu hari ini," kata Eris.
Mereka berjalan Rio dan Rey dibelakang sambil memastikan belakang mereka aman. Sisna Dan Mila membuat tali pelindung yang mengelilingi semuanya.
Mereka sampai, dan berbeda dari sebelumnya terdapat palang yang menghalangi. Dengan mudah Chris dan Iran menendang.
"Awalnya tidak ada," kata Yuri.
"Mereka sudah terpojok," kata Eris.
__ADS_1
"Ayo masuk," kata Chris.
Senter menyoroti masing-masing tempat. Mereka melihat sebuah tumpukan tanah yang awalnya tidak ada.
"Eris, apa itu?" Tanya Yuri ketakutan.
Eria berhenti berjalan, begitu juga mereka. Apakah karena semuanya kini terbongkar, lantas para mayat yang tersembunyi menampakan wujudnya. Dimana mereka terkubur sejak lama?
Para perempuan saling berdekatan, jantung mereka berdebar. Berdoa itu bukan berisikan mayat.
Rey, Key dan Rio yang mencoba menggali terkejut.
"Apa ini!?" Jerit Rey yang menutup hidungnya.
"Siapa?" Tanya Chris dengan sigap maju dan terdiam.
"Mayat," kata Rio memandangi semuanya.
"Jangan beritahu dia sudah..." kata Sisna ketakutan.
"Masih lengkap kok," kata Iran.
"Yoshi," kata Eris.
Mayat Yoshi sama sekali tidak membusuk terdapat beberapa bongkahan sesuatu yang menjaga tubuhnya tetap sama.
Iran dan lainnya muntah melihatnya karena ada bau menyengat lainnya yang muncul.
"Hanya sebagian yang membusuk," kata Rio menutup hidungnya.
"Tidak ada matahari kan. Nampaknya bagian ini seperti terkena api. Ada sesuatu yang membakarnya," periksa Chris.
Eris teringat dirinya dan Arae mengeluarkan api masing-masing dan agaknya mengenai sebagian tubuh Yoshi.
Bola roh berwarna ungu muncul, sang pelayan tertunduk sedih di hadapan Eris.
Tolong bakar rumah ini dan semua rekan saya yang terperangkap. Tolong kami!
Eris mengerti. "Chris dan semuanya apa kalian bisa melakukan pembersihan?"
Sisna menutup kedua matanya semua roh orang yang terbunuh mengelilingi mereka. Menatap sendu dan menangis memohon mereka dibersihkan.
Sisna sudah mulai melantunkan doa, Mila juga sama dan semuanya melakukan pembersihan.
Bola-bola berubah menjadi cerah dan melayang pergi. Eris melihat mereka semua bahagia dan mengucapkan terima kasih.
Akhirnya di setiap ruangan yang mereka masuki, bergantian melantunkan doa. Otomatis ruangan seakan memperlihatkan wujud mereka.
Eris mengeluarkan botol kecil kiriman dari Arae. Dan memberikan pada semuanya. Ramuan itu memberikan energi dan menyembuhkan luka.
Rio memandangi Eris, dia tahu Eris bukan sekedar manusia tapi dia butuh dukungannya.
Sisna tahu ramuan ini pasti memerlukan harga. Sisna tahu siapa Eris tapi menyembunyikannya dari semua.
"Berapa harganya?" Tanya Sisna.
"Tenang saja ini gratis karena apa yang kuinginkan sudah aku dapatkan sebagai bayaran," kata Eris memandangi Sisna.
Namun bayarannya apakah yang membuat semuanya gratis? Dapur, ruang tamu, ruang keluarga, ruang pembersihan yang lain.
Pintu yang tidak bisa terbuka tiba-tiba terbuka tanpa kekuatan Eris. Satu roh putih menghampiri Iran.
"Anak ini tidak bisa kamu rasuki," kata Mila yang sudah tahu.
Semuanya memandangi Mila dan terkejut, roh putih itu nampak menunggu. Kemudian memandangi Eris dan menyentuhnya.
"Roh ini adalah ayah Yuna. Dia meninggal dibunuh saat menyelesaikan bagian rumah yang tersisa.
Di detik-detik terakhir ayahnya dibawa dengan di bius dan dibuat lumpuh.
Dia menyaksikan semuanya saat sudah ditebas itu, lalu istrinya menyaksikan suaminya sendiri mati.
Ibunya sudah lama memiliki stroke," jelas Eris.
Sang ayah menghilang setelah Eris selesai menjelaskan membuat semuanya mengheningkan cipta.
Yuri menatap Eris, baru kali ini dia melihat Eris begitu terpukul dan menangis.
"Ini sudah sangat keterlaluan," geram Eris. Membuat aura iblis nya keluar dan hanya Chris yang bisa melihatnya.
"Jadi ya g merasuki Yuri memang ayahnya," kata Iran.
"Hei, aku menemukan kunci ruangan lain. Kita harus menemukan pintu apakah yang cocok," kata Key memperlihatkan.
Iran kaget dan menarik baju Key, "Kamu kemana saja? Hanya sendirian?"
"Tenang. Aku ke tempat yang sudah di ruqyah oleh Rio," kata Key.
"Ayo, kita ke tempat selanjutnya semoga kunci itu cocok," kata Chris yang kembali semangat.
Eris memandangi Iran yang selalu ada untuk Yuri. Yuri kembali ke formasinya dan Eris mendatangi.
"Dia kerasukan," kata Eris.
Chris kemudian mendatangi Iran dan menepuk bahunya beberapa kali dan membuat salib di keningnya. Iran jatuh terkulai, Yuri berlari.
"Siapa?" Tanya Yuri menunggu Chris atau Eris.
Roh itu keluar dan menampakan Ibunya Yuna memohon maaf sambil menangis lalu menghilang.
Chris memandanginya dan mengerti, ini adalah akhirnya. Semua ruangan sudah selesai dibersihkan. Tidak ada lagi roh yang tersisa, hanya Yuna sendiri yang entah berada di mana.
"Kita kembali. Bereskan semua barang kalian, kali ini kita bisa keluar," kata Chris.
"Aku akan berjaga di depan pintu keluar saat saat kalian berkemas," kata Eris.
Mereka semua berlari meninggalkan Eris yang masih berlari menuju pintu keluar.
__ADS_1
Untunglah mereka sudah siap dnegan perasaan senang, mereka semua saling membantu.
Mereka tiba di ujung pintu dengan senyuman lega. Saat itu terlihat sesuatu berwarna hitam melilit leher mereka semua.
"KYAAAAAAA!!" Teriak semuanya bersamaan termasuk Chris.
Mereka semua diseret masuk kembali kecuali Eris yang berhasil membakar sesuatu itu.
KALIAN SEMUA TIDAK AKAN KUBIARKAN KELUAR!!!
Yuna menampakkan diri dengan tubuhnya yang berubah seperti gurita besar. Kepalanya mengeluarkan aroma busuk serta darah hitam pekat.
Yoshi palsu menghilang bagaikan asap. Inilah saatnya bagi Eris bagiannya untuk keluar.
"ARAE!!" Teriak Eris kemudian melesat menuju monster bertangan banyak.
"Eris, serahkan makhluk ini padaku! Bala bantuan berada di luar menunggu," kata Arae dengan wujud aslinya menerobos masuk dan memotong semua tali hitam.
Yuna kesakitan, sadar Arae bukanlah manusia dia berlari ke dalam dan Arae melemparkan bom.
"HAHAHA Akhirnya aku menemukan kalian makhluk yang bisa mengabulkan permintaan. Kabulkan lah permintaanku," teriak Yuna tertawa senang.
"Bermimpilah!" Teriak Arae yang menebas tangannya. Yuna berteriak dan melawan.
Semua orang berjatuhan tidak sadarkan diri. Saat itulah Eris berubah menjadi naga hitam dan membawa mereka semua dalam kekuatannya.
Pintu hancur berkeping, Eris melesat secepatnya dan menaruh mereka semua di atas perbukitan.
Semua burung menunggu dan berjanji menjaga semuanya. Raven memerintahkan untuk membentuk formasi pertahanan.
Sang naga kembali ke dalam rumah dan mengeluarkan api yang membakar segalanya. Sebagian terbakar dengan hebat menyisakan beberapa bagian.
Eris kembali ke wujud manusianya dan berlari menyusul Arae dengan pedang yang berubah menjadi tongkat.
"Jadi kalian iblis, aku dengar sebuah toko yang bisa mengabulkan apapun. Aku kesulitan bagaimana caranya menghubungi kalian," kata Yuna dengan tubuh hitam dan mata yang memerah.
"Ya benar tapi kami memiliki kriteria," jawab Eris.
"Keabadian. Aku ingin abadi," kata Yuna.
"Kau sudah abadi, nenek. Dari usia beberapa tahun silam sampai sekarang. Membunuh dan meminum dengan campuran mantra," kata Eris.
"HAHAHAHA!!!" Suara Yuna bergema. Rumahnya roboh.
"Eris, aku pikir dia dirasuki roh jahat sejak dari masa kecil," kata Arae.
"Chris tidak akan mampu mencabutnya. Hentikan aksimu!" Kata Eris maju.
Dia menyerang dan memukul jantung Yuna, Yuna terlempar jauh menabrak lemari yang sudah menjadi hitam.
Yuna muntah darah hitam, tenaganya sudah terkuras habis. Kedua matanya kembali normal.
Chris dan lainnya sudah melakukan pembersihan, roh yang terperangkap terbebas.
Membuat Eris dan Arae melakukan sisanya dari mereka semua. Rumah kemudian runtuh menyisakan kayu-kayu habis terbakar.
Yuna memandangi sekelilingnya dan sulit berdiri. Eris datang dan berdiri di depannya.
Tongkatnya mengeluarkan cahaya hijau kebiruan mengungkapkan sosok Yuna yang asli. Kulitnya mengkerut, rambut sudah beruban dan tipis.
"Berhentilah. Akhir mu sudah melewati batas," kata Eris.
"Hah ternyata hanya butuh sekali tebas. Berkat pendeta, tugas kita jadi ringan," kata Arae.
Asap hitam keluar dari tubuhnya dan Arae menebasnya dan menghilang. Asap itu menjadi putih seperti kabut.
Yuna terbaring lemah namun wajahnya cerah melihat Eris. "Terima kasih, Nak. Maaf membuat kalian susah,"
"Istirahatlah. Semuanya sudah selesai, nenek meninggal di usia sepuluh tahun namun iblis menguasai tubuh dan membuatmu tertahan," jelas Eris mengerti.
"Seandainya dulu aku bertemu denganmu, Aku... ti...dak perlu... UHUK! Mem...bu...nu...h." Yuna meninggal dan tubuhnya terbakar begitu saja.
"Kasihan juga ya. Di masanya tentu kita belum lahir kan," kata Arae menginjak abu Yuna.
Rumah dahulu yang mengerikan terangkat dan menampakkan yang seharusnya.
Keadaan rumah yang megah dan mewah hanyalah bongkahan kayu dan semen yang menghitam karena api Eris.
"Sifat psikopat itu memang sudah ada sejak kecil tapi ternyata dia mampu mengendalikannya. Sayang roh jahat tertarik dengan aksinya dan merasuki. Dimulailah petualangannya," kata Eris menatap langit biru.
Hari mulai kembali normal burung kecil menyambut Eris memberikan bunga kepadanya.
"Yang sebenarnya mungkinkah dia mencari kita ingin meminta pertolongan?" Tanya Arae.
Eris berjalan memeriksa dan menemukan benda sebagai bayaran aksinya. Semua benda berharga terbang dan Eris kirim ke tokonya.
"Iya memang itu niatnya. Yang membunuh orang-orang termasuk Panca, Rika dan Sani bukan Yuna tapi iblis yang berwujud dirinya," kata Eris.
Tampaklah sebuah rumah kecil seperti yang tampak dalam lembaran dalam web. Eris dan Arae memasukinya terdapat nama keluarga Yuna.
Pedang yang dimiliki Eris keluar dan Eria memukulkan pedang itu, energi sihir kebiruan keluar dan meledak membersihkan segalanya.
Pekarangan ditumbuhi rerumputan dan pohon-pohon tumbuh disertai buah yang ranum.
"Tugasku selesai. Aku tinggu di toko," kata Arae.
Eris kembali dan sengaja berbaring kemudian tertidur. Kupu-kupu menghampiri semuanya, nyanyian burung terdengar oleh Mila.
"Kita!? Kita semua di luar!? Hei, bangun!" Teriak Sisna.
Semua bangun dan berteriak bahagia, mereka berhasil keluar. Yuri juga sadar oleh Iran dan Eris menatap semuanya.
"Lihat! Rumahnya!" Teriak Key.
Mereka turun meninggalkan barang-barang. Yuri pun ikut terlupakan akan kehadiran Eris.
kuburan tersembunyi muncul membuat semuanya berteriak. Rio menghubungi polisi dan mereka semua sekarang bisa melihat seberapa banyak korban.
__ADS_1
Eris membuka pintu dimensi kemudian menghilang. Yuri menatap arah belakang, dan tersenyum. Chris juga melihat mencari Eris, tidak ada dimanapun.
"Aku akan menemukanmu. Dan mencari siapa kamu sebenarnya," kata Chris berjanji.