
Mereka semua terkejut melihatnya dan menangis, datanglah tiga bola lainnya, sontak Eris tidak mempercayainya.
Yogi, Fuji dan Sani menangis yang lain berteriak. Apakah mereka benar-benar tidak akan bisa keluar hidup-hidup?
"Tenanglah tampaknya yang dibunuh hanya dua sisanya mereka terluka cukup parah," kata Sisna yang enggan didahului Eris.
Eris setuju dan mereka semua menghela nafas, meski berduka untuk yang lainnya.
"Mereka terluka?" Tanya Yuri.
Eris mengangguk, kedua matanya sedih tidak seperti ini seharusnya yang terjadi.
"Ares, bila kalian nanti bisa selamat tolonglah sisanya," kata Kei memohon yang tadinya angkuh. Tersadar keadaan mereka semua berada di ujung jarum.
"Ya tenang saja," kata Ares menatap Eris.
"Siapa saja yang terluka?" Tanya Dani.
"Yogi dan Fuji," kata Eris.
"Fuji, benarkah?" Tanya Ares. Saat hendak menjawab tiba-tiba saja roh mereka lenyap.
"Ada apa? Mereka lenyap," kata Mila panik.
"Mereka tidak bisa terlalu lama menampakkan diri," kata Eris beralasan.
"Kalau begitu sekarang saja aku yakin mereka pasti sibuk mengurus yang duanya," kata Ares.
"Benar. Ada kemungkinan mereka berdua pasti tengah bekerja dan sisanya dan kita semua bisa beraksi," kata Chris merenung.
"Yang selanjutnya bersiap," kata Sisna agak tegang.
Yoshi tampak kaget ada empat orang lagi yang bermaksud mundur, wajahnya sangat berat hati tapi apa boleh buat.
Ares sempat melihat seringai Yoshi yang membuatnya merinding. Hal itu Ares utarakan pada ketiganya dan mereka bersiap.
Bis datang dan mereka semua masuk tampa berpaling. Ares terakhir memandangi vila itu dan masuk juga.
Entah apa yang terjadi selama beberapa jam itu. Lalu Arae datang dengan membisikkan pada Eris.
"Ada serangan. Aku tidak bisa langsung melapor ke sana," kata Arae yang tengah bertarung.
Eris meremang dia menatap langit yang berubah menjadi agak abu-abu. "Aku tahu. Apa kamu memeriksa dua orang yang mati itu?"
"Ya, Eris. Mereka sudah gila mereka memang monster! Mereka membantai dua yang telah mati dengan sadis. Yang mati mengorbankan diri agar yang lain bisa diselamatkan," kata Arae yang terlihat sedih dan geram.
Eris termenung, dia mengatupkan kedua tangannya mengucapkan sesuatu untuk mengantar bola arwah mereka.
Eris teringat menolong iblis kecil laki-laki yang menginginkan hidup seperti manusia. Entah bagaimana nasibnya kini.
"Manusia lebih mengerikan dibandingkan setan itu sendiri," gumam Eris.
Yang lain siaga dan terus menunggu kabar dari Ares dan ketiga yang lainnya.
"Jaga Ares. Hanya dia yang harus bisa diselamatkan, sisanya usahakan kamu bius dan bawa mereka kembali ke kota. Sisanya kamu boleh bertindak sesuka hati pada kedua monster," kata Eris dalam benaknya.
Arae mengerti setelah dari toko untuk membawa ramuan pengobatan, dia pergi ke tempat Ares berada.
Mereka melanjutkan menonton rekaman video yang memperlihatkan Yoshi keluar dari suatu tempat dalam rumah itu. Dalam rekaman itu jelas terbukti memang Yoshi pelaku yang lainnya.
"Apa yang harus kita lakukan sekarang?" Tanya Yuri hanya bisa mengandalkan Eris.
"Aku melihat kembali denah rumah yang pernah Yoshi beri. Ini, aku menyadari sesuatu," kata Rey menunjuk.
"Ini dimana?" Tanya Rio.
"Sepertinya belakang bangunan vila ini," kata Rey memperhatikan.
__ADS_1
"Ini kotak kosong apa ya? Kotak kosong ini juga ada di tempat yang lain," kata Mila menunjukkan.
Ada foto kotak kecil sekitar sepuluh buah, mereka semua merenung kira-kira apakah itu?
"Mau kita coba lihat? Tampaknya dekat," kata Mila memandangi Chris.
"Sejauh ini siasat kita berhasil Yoshi terlihat bingung," kata Sisna.
"Kalau memang benar Yoshi kaki tangannya, dia tidak akan bisa berbuat apapun karena kita akan keluar secara bertahap," kata Rio.
"Semoga," pikir Yuri berharap mereka semua selamat.
Mereka menemukan kotak kosong itu sambil melihat peta. Mereka memeriksa namun sayang kotak itu di kunci.
Eris bisa saja membakarnya tapi .asa iya di depan mereka? Apalagi Chris. Mereka bergerak ke tempat lain berharap ada yang bisa dibuka.
"Semuanya terkunci," kata Rio menggelengkan kepalanya.
Sesaat mereka pergi, Sisna mendapati bau amis yang pekat dari kotak yang terakhir. Merinding dia bergegas bergabung dengan kelompok.
Mereka kecewa dan kembali ke ruangan, hari semakin panas, matahari bersinar terik udara pun semakin membuat mereka kelelahan.
Sampai menjelang pukul dua tidak ada kejadian atau kabar apapun. Mereka menunggu sampai sebagian tertidur.
Malam tiba saat mereka tengah berkumpul di aula, berdiskusi semoga saja tidak ada kabarnya ini menandakan mereka selamat.
Tiba-tiba terdengar suara lemparan batu di jendela. Karena semakin lama semakin keras, Kay berdiri untuk melihatnya.
Iran juga berdiri menemani memeriksa batu apakah itu. Mereka kaget melihat Ares yang basah kuyup sambil membawa badan Fuji dan Yogi.
"ITU ARES! DIA KEMBALI!" Teriak Kay heboh.
Kay bermaksud membuka jendela teras namun Eris bergegas menghadangnya. "Jangan!"
Kay menghempaskan tangan Eris, "Apa-apaan kamu!? Itu anggota kamu sendiri! ARES! Kalian bertiga selamat syukurlah," teriak Kay masih berusaha membuka jendela.
"Sadarlah! Kita memang belum mendapatkan kabar apapun dari Ares. Tapi ingatlah bahwa Sani dan Fuji terluka parah!
Dan mana bisa Ares membawa mereka berdua kembali ke mari tanpa bala bantuan!" Kata Rio mengguncang Kay.
Kay yang menangis bahagia seketika terdiam. "Tapi itu Ares siapa tahu,"
"Ares masih hidup tapi yang di sini kemungkinan bukan dia," kata Sisna.
"Lalu mereka apa?" Tanya Kay kebingungan.
Eris melihat sesuatu, "MINGGIR!!" Teriaknya.
ZLEB!
Peringatan Eris terlambat, semuanya terkejut melihat besi tajam menusuk leher belakang Kay.
Yang lain berteriak dan Kay hanya bisa terdiam. Eris dan lain melihat Ares palsu tertawa lebar kemudian berlari dan menghilang.
"TARIK! Tenanglah, Kay," kata Chris membantu.
Kay hanya diam, dan menatap semuanya. Darah keluar dari mulut, nyawa Kay sudah mulai menipis. Eris sangat geram dan memegang tangan Kay.
"Mereka kejam," kata Mila dan Sisna menangis.
Semua yang bisa Eris lakukan terhalang oleh kehadiran Chris dan teman-temannya. Dia mengutuk, kesal sekali tidak bisa berbuat apapun!
Yuri menangis keras menatap Kay yang terus bertahan hingga akhirnya meninggal karena darahnya keluar banyak.
Lima belas menit mereka menangis bersama, Kay ditutup menggunakan baju mereka.
Ponsel Yuri berdering, sambil terus menangis Yuri mengangkatnya.
__ADS_1
"Halo," kata Yuri dengan serak.
"Yuri, ini aku Ares. Kamu kenapa?" Tanya Ares yang berada di suatu tempat.
Yuri langsung kaget dan memandangi semuanya. "Ini Ares. Kay, Ares menelepon. Dia menelepon," kata Yuri pada Kay yang sudah tidak ada.
Mereka semua menunduk lalu Yuri simpan dengan menekan pengeras suara.
"Kamu baik-baik saja? Sekarang di mana?" Tanya Rio yang juga sembab.
"Aku sedang di Rumah Sakit. Fuji dan Yogi sedang dalam perawatan," kata Ares.
"Kamu sendiri bagaimana keadaannya? Lalu apa yang terjadi? Lama sekali," kata Eris yang memang cemas.
"Maaf Eris, sesuai apa yang dikatakan kalian Fuji dan Yogi disembunyikan di sebuah gua sedangkan sisanya... mereka mengorbankan nyawa. Aku pun terluka parah tapi seseorang membantu pelarian kami," kata Ares.
Kode itu mengisyaratkan bahwa Arae lah yang membantu mereka kabur. Karena kondisi Fuji dan Yogi itulah, Arae membuka pintu dimensi.
"Bagaimana dengan tim kamu? Mereka selamat?" Tanya Sisna.
"Dani, Kei dan Panca menghilang. Aku tidak bisa menemukan mereka, aku sebisa mungkin mengikuti jejak tapi..." kata Ares kemudian menangis.
"Tidak mungkin bahkan mereka bertiga pun? Bagaimana bisa?" Tanya Chris frustasi.
"Chris, mereka tidak dibawa oleh monster tapi menghilang. Karena supir bis nya pun tidak bisa aku temukan," kata Ares.
"Memangnya kamu dimana?" Tanya Chris.
"Aku terlempar dari bis. Bis kami mengalami kecelakaan dan terpelanting. Hanya aku yang terlempar mereka, aku tidak tahu. Aku berusaha naik ke permukaan dan mereka sudah tidak ada," jelas Ares.
Mereka berucap syukur setidaknya bukan karena dikejar monster manusia. Eris berpikir ada yang aneh dengan supir bis mereka.
"Sekarang kita harus bagaimana?" Tanya Kay pusing.
"Eris, apa kamu melihat ada bola arwah yang datang?" Tanya Mila.
Eris menggelengkan kepala. "Kemungkinan mereka masih hidup, aku curiga dengan supir bis nya,"
Saat mereka tentang merenung dan berdoa, Eris menutup kedua matanya dengan mengatupkan kedua tangan.
Sisna melihatnya seperti seakan Eris tengah melakukan atau mengucapkan doa. Dia pun sama meski berbeda tujuan.
Chris hanya bisa menangis, keadaan ini begitu mencekam. Roh Eris keluar dan menuju tempat dimana Ares berada tadi siang.
Dia mencari jejak dari ketiganya melihat bis memang terjungkal dan sekarang masih sama. Di dalam tidak ada siapapun tapi terdapat jejak darah yang masih baru.
Tas bawaan tidak ada, tidak ada yang aneh. Eris terus mencari. Arae muncul dengan luka yang cukup parah.
"Eris," kata Arae menahan sakit.
"Kembali ke toko. Pulihkan dirimu bawa bala bantuan, suruh Raven dan Aiolos membuat banyak ramuan. Biar Ella yang membuat petunjuk," kata Eris.
Arae menurut dan menghilang menjadi asap menuju toko. Kemunculan Arae tentu membuat toko heboh dan dengan sedikit sihir, membuat pengunjung tidak melihatnya.
Aiolos sudah terbiasa dengan teliti dia membuat ramuan bersama Raven. Botol-botol di jajarkan dan diisi, Arae meminumnya dan semua luka pulih.
"Tapi Anda tetap harus rehat sejenak," kata Raven membuatkan sup.
Eris melihat jejak lain dan mengikutinya sampai ke sebuah gua yang besar dengan bebatuan besar.
eris lega melihat seorang supir tampaknya sedang membantu Dani dan Kei. Tapi kemana Panca? Eris jalan menuju sang supir. Betapa terkejutnya dia melihat luka lebar mirip dengan Rika.
Eris mendengarkan kisah sang supir menatap Dani dan Kei yang ternyata tengah terpaksa mendengarkan.
Melihat wajah keduanya yang meringis dan begitu ketakutan, Eris yakin supir tersebut melakukan sesuatu.
Bersambung ...
__ADS_1