
Semuanya bergotong royong ada juga yang membuat minuman dan makanan dengan menyumbangkan apa yang mereka punya.
"Bagaimana? Ada sesuatu?" Tanya salah satu penghuni menatap 6 orang yang sedang menggali di bawah.
"Belum ada," kata yang menggali di dalam menyeka keringat.
"Masih kurang. Ayo para kakak terus semangat," kata Sheila.
"AYO!!" Jawab mereka termasuk Anoko yang wajahnya mulai kotor.
"Guys, kita akan memasuki lantai bawah dari kamar ini. Hati-hati," Kata Tere memberikan peringatan pada mereka semua, tugasnya adalah mengukur kedalaman.
"Pasti ada. Pasti ada. Eh? HUWAAAA!!" Teriak Sheila yang ternyata tiba-tiba saja meluncur dan jatuh ke bawah lantai dasar.
"Ya ampun, Sheila kamu tidak apa-apa? Itu dimana? Tere masukkan dronenya!" Teriak Anoko panik.
"Oke oke," kata Tere yang menyalakan drone lalu memasuki ruangan dimana Sheila jatuh. "Wah, ini lumayan dalam," katanya.
Saat itu Sheila berada tepat di tengah ruangan dan ternyata tanah yang dipijaknya merupakan atap dari sebuah rumah.
"Apakah itu lantai dasar?" Tanya penghuni lain yang mengerubungi sebuah laptop.
"Hei, kalau begitu saat ini Sheila berada di lantai dasar yang bersebelahan dengan kamar ibu kos dong?" Tanya A tercengang.
Mereka semua terdiam. Ya, ada kemungkinan begitu dan pastinya ibu kos mendengar suara gebrakan yang keras karena Sheila jatuh.
"Sheila!!" Teriak Anoko dan penghuni lain sangat cemas karena di dalam sangat gelap.
Di dalam ruangan bawah, Sheila mengelus pantatnya yang ternyata mendarat pertama. "Aduuuh... Aku tidak apa-apa. Di sini gelap sekali bisa tolong lemparkan senter? Sepertinya aku menemukan sesuatu," kata Sheila agak berteriak.
Mereka semua bernafas lega terduduk lemas dan senang lalu menurunkan tangga tali yang kokoh, yang selalu mereka gunakan untuk memanjat gunung.
"Kami akan turunkan tangga tali!" Teriak Tere.
"Hei, hei, kalian safar tidak pecahan ini? Ini kan genteng atap yang sudah lapuk," kata B memperlihatkan benda yang tersisa.
Tere terdiam, semuanya. "Ya ampun jadi benar kalau bangunan ini berada di atas rumah orang jaman dulu!?" Tanyanya.
"Rumah mewah bergaya Eropa," tunjuk A memperlihatkan gambaran rumah yang bagusnya.
Mereka semua bersorak ada kemungkinan banyak barang mewah yang masih tersisa yang tidak bisa dibawa oleh perampok saat itu.
"Sheila, kami berenam akan turun juga ke bawah," kata Anoko.
"Oke," jawab Sheila dari bawah.
Sheila lalu menerima senter dan menyoroti semuanya ternyata dia mendarat di lantai rumah yang luasnya tidak terkira. Eris tersenyum kini Sheila beserta kawan-kawannya telah memasuki portal yang dibuat datar di sekitar atap rumah tersebut.
"Teman-teman, kalian sedang memasuki rumah di lantai atas. Rumah yang kamu ceritakan itu memang ada, Anoko! Hei kamu dengar tidak?!" Teriak Tere ke dalam.
Yang di dalam jelas mendengar dan saling berpandangan lalu mereka berteriak kegirangan.
"Kita akan berpencar, menurutku saat ini rumah terkubur karena dari waktu ke waktu. tapi jangan terlalu jatuh kita akan sisir lantai disini dahulu," kata Anoko memberikan perintah.
"Oke!" Jawab mereka semua.
Eris sedang menggunakan kekuatannya membuka portal istimewa tempat dimana Sheila dan para penghuni berada dengan dimensi lain. Membuat waktu berhenti di abad itu. Kekuatan energi berbentuk bulat berwarna biru kekuningan berpendar dalam telunjuknya.
Eris melafalkan sebuah mantra agar dirinya tidak terlihat oleh mata batin Sheila. Dibawah tersebut mereka bertujuh menemukan sebuah jalan menuju sebuah ruangan yang mewah. Berbagai pecahan kaca, vas bunga, dan serpihan kertas berhamburan.
"Anak itu berada di mana ya?" Tanya Sheila.
"Tenanglah. Oke kalian berpencar cari benda yang masih utuh dan kita akan angkut ke atas," kata Anoko.
"Siap, Bos!" Kata sebagian mereka menyinari benda yang masih utuh.
Salah satu dari mereka menemukan kotak yang sangat cantik dan membawanya. Di sana sudah menunggu beberapa orang untuk mengangkuti benda-benda.
"Apa ini? Seperti sebuah ruangan atau bagian rumah yang sudah rusak," kata salah satu mereka menyinari bagian yang sudah lapuk.
"Semuanya hampir hancur. Kita harus hati-hati," kata Sheila yang juga berhati-hati melangkah.
"Hei, perabot rumahnya masih bagus lho," kata B memperlihatkan panci perak yang masih berkilauan.
"Bawa ke atas," kata yang lain.
__ADS_1
"Kak, apa itu?" Tanya Sheila yang berhenti melangkah memeluk tangan Anoko.
Anoko lalu menyorotkan senternya terdapat sebuah boneka berdiri dalam jarak mereka yang berukuran sepinggang mereka.
"KYAAAAA!!!" Semuanya berteriak dan mundur. Anoko bertahan meskipun gemetaran.
"Tunggu tunggu. Ya ampun itu boneka," kata Anoko lega.
Sheila dan lainnya duduk lemas.
"Hei, ada apa? Teriakan kalian keras sekali di dalam," kata Tere khawatir dari Drone yang juga menggunakan mic kecil.
"Ada boneka yang berdiri di tengah jalan," jelas salah seorang penghuni.
"Ada barang lagi?" Tanya yang lain.
"Nanti kami bawakan," kara Anoko.
Salah satu teman menghampiri boneka yang ternyata terduduk di sebuah kursi anyaman. "Wah! Aku kira gadis kecil yang masih hidup selama 40 tahun. Hei, ada peti di sampingnya! Wow! Baju, tas, topi, perhiasan pasti untuk boneka ini," katanya semangat.
"Ada apa Sheila?" Tanya Anoko memandangi Sheila yang membeku.
Sheila menghampiri boneka itu dan terduduk lemas, entah kecewa dan gembira ternyata hantu yang mendatanginya adalah jiwa dari sebuah boneka.
"Anak ini," kata Sheila.
"Apa?" Tanya Anoko dan semuanya menatap.
"Anak ini yang muncul di depan mataku, yang mendatangiku wakti di sekolah! Yang datang meminta tolong lalu menarik ku ke dalam lubang hitam. Ya, anak ini!" Kata Sheila tidak percaya.
Mereka semua terdiam, boneka itu masih sangat mulus dan terawat, tidak ada debu ataupun kotoran yang lainnya. Ternyata, anak kecil yang menghampirinya adalah sebuah boneka yang di dalamnya terperangkap jiwa seorang anak kecil.
Setelah itu semuanya mengangkut barang yang masih bagus, yang bisa dibawa oleh mereka termasuk boneka yang Sheila gendong. Mereka semua bergantian turun dan membuat lubang yang lumayan besar.
Akhirnya pukul 4 sore terkumpullah banyak barang berharga dari rumah tersebut. Beberapa penghuni mem bor dinding lantai dan tembok dan mereka bisa memeriksa lebih jauh lagi.
Di atas, Sheila memandangi boneka itu dan menangis. Dia lalu teringat dengan selembaran yang memperlihatkan toko Eris.
Setelah itu ibu kos datang dengan wajah yang sangat panik lalu terdiam memandangi pemandangan berkilau dari bawah tanah. Ibu kos terisak menangis saat Sheila menunjukkan boneka antik padanya.
"Yang meminta tolong beberapa penghuni lain adalah boneka ini," kata Sheila.
"Akan kita apakan barang-barang ini? Tidak mungkin kita pakai juga," kata Tere yang memakai kalung bermata berlian besar.
"Aku mendapatkan selembaran. ini, dia menerima penjualan mungkin ada yang berharga yang bisa kita jual kepadanya," kata Sheila menyerahkan selembaran kertas iklan.
"Ibu terserah kalian saja," kata ibu kos menyerahkan boneka itu pada Sheila dan kembali ke kantornya.
"Tampaknya ibu kos sangat syok ya. Bagaimana kalau kita fotokan saja dulu? Aku takut kalau ini semua perhiasan mainan," kata Anoko.
Mereka semua mem fotokan semua barang yang tidak bisa disimpan dalam asrama kecuali kursi bergaya antik dan lemari.
"Kamu besok pergi sendiri? Kami akan berjaga disini," kata Tere dengan topi berwarna oren bertengger di kepalanya sekarang.
Sheila mengangguk dan Anoko akan ikut dengannya. "Sementara waktu kita tidur di ruang revisi saja ya. Saling bergantian besok kan kita libur," kata Anoko.
"Beres," jawab lainnya semangat.
Sheila tidur dengan penghuni lainnya yang juga lelah bekerja. Sang boneka disandarkan di sofa, tampak senyuman bibirnya memandang Sheila dan penghuni lain yang tertidur.
Keesokannya Sheila dan Anoko pergi menuju toko Eris sambil menggendong boneka tersebut yang digantikan bajunya. Portal lagi-lagi terpasang dan mereka masuk tanpa curiga lalu sampailah di toko Eris.
"Selamat datang," sambut Ella dengan senyuman.
Mereka berdua menundukkan kepala dan terpesona dengan suasana mewah toko Eris.
Eris tentu sudah menunggu kedatangan mereka dan mempersilahkan duduk.
"Ah, saya ingat toko ini bisa menjual barang antik kan," kata Sheila.
"Iya," jawab Eris sambil menyeduh kan teh pekat dengan kue pada mereka berdua.
"Wah, toko ini terkenal banyak dibicarakan di sekolah ku juga," kata Anoko memandangi semuanya.
"Anu, apakah Anda tahu kisah boneka ini?" Tanya Sheila memberikan boneka pada Eris.
Eris menatap dan membelai boneka itu seperti anaknya dan mendudukkannya sebelah Sheila. Mereka kehetanan melihat Eris yang begitu memperlakukannya dengan hati-hati.
__ADS_1
"Aku hanya pernah dengar tentang boneka ini," kata Eris memandangi mereka.
"Saat kita bertemu kamu mengira saya memiliki boneka antik. Apa karena ini?" Tanya Sheila.
"Ya. Aku merasakan ada aura boneka dalam dirimu, jadi aku pikir boneka ini sudah kamu dapatkan. Boneka ini pernah masuk ke Jepang sebelum perang lalu kabarnya dicuri oleh pemerintahan entah dari negara mana dan menghilang begitu saja," kata Eris.
"Tidak ada yang berusaha mencarinya?" Tanya Anoko.
Eris menggelengkan kepala. "Pelakunya seperti hantu sangat rapi sekali pekerjaannya. Kemudian di abad berikutnya terdapat ahli boneka yang aneh namun dia memiliki otak yang tidak normal, ternyata dialah pelaku yang mencuri boneka tersebut," kata Eris.
"Apa dia yang disewa pemerintahan?" Tanya Sheila tidak percaya.
"Ya tapi dia sendiri jatuh cinta pada boneka tersebut dan membawanya sendiri. Pemerintah negara tersebut sendiri kehilangan jejak dan ahli boneka itu membuat boneka ini lebih sempurna dengan anaknya sebagai model," kata Eris memperlihatkan anaknya yang lumpuh.
"Kok bisa punya anak?" Tanya Anoko memandang iba pada anak tersebut.
"Dia dapatkan dari keluarga bangsawan saat itu dan dia rawat dengan sepenuh hati. Karena keadaan anak itu begini lalu meninggal karena sakitnya sudah parah. Ahli boneka itu menjadi gila," jelas Eris menghela nafas.
Mereka berdua menundukkan kepala dan terlihat sedih.
"Kenapa Anda tidak menolong Sheila sedari awal bertemu?" Tanya Anoko pada Eris.
"Tidak bisa karena anak ini memulai kontak dengan mu dan sejak itu dia membatasi kekuatannya. Bagaimana menemukan tempat ini? Sulitkah?" Tanya Eris.
Anoko meminum teh tersebut dan bernafas lega.
"Tidak, ternyata toko mu tidak begitu jauh. Kami sempat bingung soal ini semua lalu saya teringat pada selembaran itu," kata Sheila.
Eris memandangi jari Sheila yang memperlihatkan seutas benang emas dengan boneka. "Kamu yang berinteraksi dengannya dan menemukannya. Sekarang kamulah sang pemilik. Hati kamu berhasil menangkap perasaan boneka ini juga, itulah harapan boneka ini," kata Eris.
"Jadi Sheila bisa memilikinya?" Tanya Anoko.
"Ya," jawab Eris.
"Tapi..." kata Sheila menatap rak penuh boneka yang cantik dan lucu milik Eris. "Letakkan saja disini. Dia bisa memiliki banyak teman dan tidak akan kesepian lagi. Lalu, ini foto barang-barang miliknya," kata Sheila menyerahkan foto.
"Hmmm banyak sekali. Baiklah kalau begitu, saya akan membeli semua ini," kata Eris memberikan foto itu kembali.
Mereka berdua sangat kaget. "Semua!?" Tanya mereka bersamaan.
Eris menjentikkan jarinya dan Raven mengerti dan pergi ke belakang kamar.
"Tidak perlu dibeli cukup ambil saja," kata Sheila agak panik.
"Tidak bisa. Bila tidak dilakukan serah terima dengan resmi, perasaan boneka ini akan tertinggal kepadamu. Kalau ada serah terima hubungan boneka ini akan berakhir dengan mu," kata Eris dengan serius.
"Lalu kira-kira berapa harganya ya?" Tanya Anoko dengan mata bergambar dolar.
"Kakak," kata Sheila memijat keningnya dan tertawa.
Raven kembali dengan 10 koper besar membuat mereka berdua sangat terkejut. "Apa sudah semua?" Tanya Raven.
"Hmmm tunggu membangun kembali gedung itu ah tentu saja masih ada sisa yaitu peti-peti permata. Saya akan ambil semua yang kalian fotokan. Pegawai saya yang akan menuju kesana dengan mobil besar kami," kata Eris memberikan kunci mobil kepada Raven, Yuri dan Arae.
"SEMUA!?" Teriak mereka.
Kemudian mereka akhirnya kembali dengan menaiki mobil besar dan menurunkan beberapa koper uang yang sangat besar, ibu kos melihatnya dan pingsan.
Yang lainnya bersorak kegirangan, hari itu asrama sekolah dipenuhi banyak orang dan guru. Hiruk pikuk membantu para pegawai Eris mengangkat semua barang yang mereka jual.
Sore harinya, Sheila berkunjung datang ke rumah Erin dan Karin sudah berada disana. Sheila menceritakan kisah boneka tersebut.
"Hah!? Jadi itu adalah hantu dari sebuah boneka!?" Tanya mereka bersamaan dengan mulut menganga.
"Iya," kata Sheila tertawa.
"Lalu maksud kakak itu dengan sisanya, apa?" Tanya Karin.
"Itu barang-barang yang kami dapatkan kecuali sofa, lemari, alat perabotan dapur dan ruangan," jelas Sheila.
"APA!? Gila ya aku tidak menyangka kalau boneka itu ternyata sangat mahal sampai mencapai 500 M!?" Kata Karin dengan mata yang berputar-putar.
Sheila tertawa melihat keterkejutan kedua temannya dan memperlihatkan tas penuh uang. Sheila juga bisa mengirimkan banyak uang kepada ibu dan adiknya yang ada di negara lain.
Ayahnya bergegas pulang dan menangis mendengar kabar tersebut. Sheila menjelaskan bahwa Ayahnya tidak perlu lagi bekerja ke luar negeri, mereka bisa membuat toko Kue.
Angkasa lalu menghampiri Sheila di sekolah menanyakan kabarnya dan mengajaknya keluar untuk kencan. Roh anak itu tersenyum lalu menghilang.
__ADS_1
Eris menerima 1 bila kehidupan yang terdapat dalam tubuh boneka. Dia meletakkannya di rak kini semuanya lengkap. Rak itu kemudian membalikkan dirinya berganti dengan barang yang berbeda. Eris berjalan menuju pintu toko dan toko menghilang, berganti dimensi.