
Almira menatap kartu yang diberikan oleh Yuri lalu menyimpannya di meja. Yuri yakin pasti Almira akan datang berkenaan dengan masalah tangannya itu, tapi Eris hanya diam.
Menurut Eris, anak SMA itu tidak memiliki masalah yang kritis dan soal kemampuan tangannya hanya karena dira rajin mengerjakan kewajibannya saja.
"Tapi aku merasa tangan kamu memang aneh, Mir," kata A menyelidiki tangan temannya itu.
"Apa sih? Tangan aku baik-baik saja kok," kata Almira menatap tangannya sendiri yang dia lepaskan dari A.
"Habis setiap ada masalah percintaan kalau sudah memegang tangan kamu, entah kenapa pasti ada perasaan akan terselesaikan," kata B mengakuinya juga.
"Masa sih?" Tanya Almira tidak percaya. Dia pukul kan tangan kanannya itu ke wajahnya dan semuanya tertawa.
Mereka berempat adalah teman-teman dekat Almira yang juga menobatkan tangan kanannya sebagai dewi Aphrodite. Ujungnya dari semua kelas sekolah banyak siswa siswi yang berjabatan dengannya.
Sudah tentu membuat Almira kewalahan, termasuk dengan Yuri yang orang luar. Kadang hal itu membuatnya marah dan kesal tapi sementara karena mereka berempat yang paling dekat. Disebut-sebut tangannya mampu membuat percintaan seseorang pasti berhasil.
Kadang Almira cemberut soal tangannya sendiri, rasa-rasanya ingin sekali tangannya diganti tangan harimau. Yang mendekat pasti dia cakar.
"Gara-gara kalian kakak itu juga sampai ingin bersalaman denganku," kata Almira marah.
Mereka berempat langsung tidak enak, dan meminta maaf mereka tidak akan mengulanginya lagi.
"Maaf, Almira. Suara kami terlalu keras rupanya sampai terdengar," kata A agak menyesal.
"Iya kita hentikan saja. Toh kemampuan Almira juga mungkin karena dia suka mengerjakan keagamaan kan," kata B.
Almira kesal, ingin menangis tapi bagaimana. Toh dia juga mengakui kemampuan tangan kanannya di lain waktu, dia sendiri juga terkejut.
"Apa ada pengaruhnya karena rumah kamu dekat dengan mesjid besar?" Tanya C berpikir.
"Hah? Aneh sekali kalau hanya itu alasannya tanganku jadi keramat. Banyak pasti orang yang rumahnya dekat seperti aku seharusnya tangan mereka pun otomatis sama kan," kata Almira.
"Haha benar juga ya," kata C menepuk dahinya.
"Hei kalian, sudah deh jangan bahas soal tangan Almira lagi. Sampai kamu lihat garis tangan dia segala," kata B menyudahi.
Ketiga sisanya cekikikan mendengar apa kata B. Almira juga kesal, sampai mereka mencoba meramal.
"Untuk apa sih kamu lihat garis tangan Almira?" Tanya A pada D.
"Aku mau meramal soal asmaranya," kata D berusaha membaca.
"Bukannya kalau meramal garis tangan perempuan itu dilihat dari tangan kiri ya," kata B menatap D.
D terdiam, A dan C menatapnya dengan pandangan menyipit.
D tertawa keras sambil menyendok pesanannya ke dalam mulutnya. "Oh ya? HAHAHA sepertinya aku lupa,"
"Huh! Dasar! Aku tidak percaya ramalan kamu!" Seru Almira sambil mencubit pinggang D.
Setelah itu mereka pulang ke arah yang berbeda. Kegiatan mereka pun seperti biasanya, Yuri menunggu tapi Almira sama sekali tidak pernah terlihat datang.
__ADS_1
"Yuri menunggu siapa?" Tanya Arae.
"Tamu," jawab Eris kemudian masuk ke ruang kerjanya.
2 hari berlalu akhirnya Yuri menyerah meskipun dia agak cemberut.
Kemudian 4 harinya, C mengatakan bahwa dirinya kini sudah memiliki kekasih juga dari klub sepakbola di sekolah lain. Hal itu menjadikan Almira sekali lagi menjadi tempat pengikat kasih. Namun mereka enggan mengatakannya lagi karena terlihat Almira memilih menjauh.
Rumah Almira memang sangat dekat dengan sebuah mesjid besar yang ada di tengah kota. Setiap hari Kamis sampai Sabtu adalah kegiatan padatnya, karena mengikuti kegiatan di dalam mesjid tersebut.
Almira juga sering dimintai tolong bekerja sebagai penerjemah Al Qur'an dan membimbing para Jemaah untuk melaksanakan Sholat. Banyak sekali para ibu yang berkata, merasa masalahnya selesai setelah menyalami Almira. Dikatakan Almira memiliki aura yang besar.
Almira hanya tertawa kering mendengarnya toh sudah biasa dia dengar dari teman-teman sekolahnya.
Mereka mendoakan agar Almira juga bisa sukses dalam asmara karena tidak pernah melihatnya memiliki kekasih.
Eris muncul tiba-tiba menatap Almira yang bekerja menghitung uang infaq. Eris secara kaget melihat aura Almira semakin terang.
"Tampaknya anak itu tidak begitu memiliki masalah. Hanya..." kata Eris kemudian pergi menghilang.
Almira mengeluh kelelahan kegiatan hari ini sangat banyak. Lalu dia beristirahat dahulu di pondok belakang mesjid yang depannya terdapat kolam ikan. Dia tiduran disana apalagi cuaca lumayan panas.
Ibunya datang melihat anaknya tidak terlihat dalam mesjid. "Almira, kamu sudah selesai?" Tanyanya.
"Eh, iya Bu. Sudah," kata Almira bangun.
"Ayo makan siang dulu," ajak ibunya tersenyum.
Temannya B datang sambil berlarian menuju halaman rumah Almira. "Almiraaaa!! Dengarkan, dengarkan!" Katanya panik.
"Ada apa sih? Ke sini lari terus bicara panik begitu?" Tanya Almira yang santai menyapu.
"Aku diundang ke pesta Aska!" Kata B antusias.
Almira tersenyum. "Selamat ya," katanya menatap B.
"Iya iya hari Minggu nanti setelah dia pertandingan, dia mengundangku untuk ikut pesta penyambutan di rumahnya. Aduuuh aku senang sekali," kata B mencium foto Azka.
"Iya iya, kamu dan Azka kan teman masa kecil. Sebegitunya suka sama dia? Kenapa tidak langsung menyatakan?" Tanya Almira aneh.
"Iya nanti aku akan coba langsung katakan. Kamu tahu tidak ini semua berkat apa?" Tanya B memperhatikan Almira yang memungut dedaunan.
"Apa ya?" Tanya Almira tidak acuh.Tahu lah pasti yang dibahas tangannya lagi.
B menghampiri Almira dan memegang tangan temannya itu. "Ini!" Katanya.
Almira menghela nafas
"Memang sih aku hanya dengar dari mereka bertiga tapi sama sekali tidak menyangka sampai aku mencoba dan mengalaminya sendiri. Azka kamu juga tahu banyak yang mengejar dan menyukainya, aku bagi dia apalah. Sampai ternyata dia datang ke rumah dan memberitahukan aku harus datang," jelas B yang masih berbunga-bunga.
Almira senyum, dia enggan menanggapi mitos soal tangannya. Toh, dia melihat usaha B agar terlihat oleh Azka.
__ADS_1
"Tangan kanan kamu mungkinkah memang benar titisan tangan dewi Aphrodite?" Tanya B menatap.
"Hush! Kamu tidak boleh mempercayainya! Pamali!" Kata Almira menepuk kepala temannya itu.
Rumah mereka sebenarnya dekat hanya berbeda gang saja, tidak heran kalau B sering muncul mengagetkan.
"Seperti kamu tidak tahu saja," kata Almira melanjutkan bersih-bersihnya. B masuk dan duduk di depan.
"Ini," kata B menyerahkan buku.
"Apa nih?" Tanya Almira.
"Catatan kamu ketinggalan waktu tadi di sekolah. Kamu pulang begitu saja saat beberapa anak dari kelas lain ingin bersalaman. Jadi, aku bawa. Aku juga lupa mau beritahu, aku merasa kita sudah keterlaluan," kata B sedih.
"Berulang kali kalian meminta maaf dan berulang kali juga kalian lakukan itu lagi. Kamu pikir aku bisa diam saja? Aku ini manusia!" Kata Almira sebal.
B menundukkan kepalanya dan memeluk Almira. "Aku sudah beritahu yang lain kalau sudah keterlaluan. Mereka juga akan menghentikannya daripada kamu yang menjauh," kata B.
"Benar ya. Baiklah, aku sudah tidak marah kok," kata Almira mengajak B untuk duduk di teras.
"Hmmm lalu... apa kamu tidak penasaran?" Tanya B.
"Apa? Oh iya B, apa kamu tidak mau coba lagi?" Tanya Almira.
"Soal?" Tanya B bingung.
"Ini," kata Almira menunjukkan tangan kanannya dengan posisi bersalaman.
"Bersalaman dengan kamu? Almira, aku kemarin itu..." jelas B.
"Iya aku tahu. Siapa tahu kan kamu dengan Azka bisa seperti yang bertiganya. Aku tidak apa-apa kok," kata Almira mengulurkan tangannya.
B menolak. "Tidak ah, atau kamu sebenarnya senang kalau aku bermain-main sama seperti yang lain?" Tanyanya berkacak pinggang.
Almira tertawa. "Hahaha bukan begitu. Habisnya kan..."
"Memang sih mereka bilang hanya dengan berjabat tangan saja maka semua akan lancar," kata B meneliti tangan Almira lagi.
"Sudahlah banyak orang kan yang penasaran soal tanganku ini. Apa pula istimewanya?" Tanya Almira kemudian mereganggkan pinggangnya.
"Memang iya tidak ada istimewa justru aku juga ingin bertanya sama kamu. Apa kamu melakukan ritual atau semacamnya?" Tanya B yang langsung di jotos oleh Almira.
"Awas kamu ya. Buat apa aku melakukan ritual segala," kata Almira marah.
"Hihi dengan C sudah ada berapa orang yang berhasil?" Tanya B.
Almira menghitung sampai 10 jari, B hanya kaget. "Dengan dia ada 12 orang ya. Kalau dijumlahkan dengan kelas lain sekitar 25 orang," jawabnya menundukkan kepala.
"Waduh!! Banyak juga ya," kata B tertawa yah hasil dari kerjaan mereka berempat juga sih.
Bersambung ...
__ADS_1