Girl Of Darkness

Girl Of Darkness
128


__ADS_3

Nenek Miu menatap dirinya yang kini beranjak kelas 1 SMA. Sosoknya sangat cantik, berambut panjang karena Panji menyukainya serta menjadi primadona di sekolahnya. Semua lelaki yang baru melihatnya pun langsung menyukainya.


Hari ini dirinya bersekolah di Jakarta, mereka memutuskan untuk pindah dari Jepang karena Ayahnya harus dinas di Indonesia. Miu yang tidak bisa lepas dari Ayahnya, akhirnya ikut dan diputuskan pindah sekolah juga.


Karena Ayahnya lah dirinya bisa lancar menggunakan bahasa Indonesia.


"Ah benar itu adalah hari dimana aku pindah sekolah dan satu kelas dengan Sato," katanya menatap dirinya yang masih muda.


Sato menguap di pagi hari itu, dia bermimpi indah bertemu dengan perempuan pujaannya. Tentu Miu tidak disadarinya, mereka akan benar-benar dipertemukan hari ini.


"Hei, Sato hari ini ada pindahan baru lho dari Jepang," kata temannya bergantung di pundaknya.


"Halah, paling sama saja orangnya seperti kita SMP. Wajahnya biasa," kata Sato berjalan santai tidak peduli.


"Tidak dia kabarnya sangat cantik. Rambutnya panjang dan sedikit pirang, lihat saja nanti. Ayo, balapan ke kelas," ajak temannya itu yang mengambil tas Sato.


Tentu saja hal itu membuat Sato harus mengejarnya sampai kelas. Saat masuk, 5 menit kemudian guru kelas datang dengan ditemani Miu!


"Anak-anak di semester ini, akan ada penambahan murid baru. Silakan perkenalkan dirimu," kata guru kelas.


Miu menundukkan kepalanya kepada mereka. "Hai, nama saya Miu Matsuragi. Salam kenal ya, meskipun saya dari Jepang tapi Ayah saya dinas di Indonesia," katanya tersenyum.


Sekelas menjadi heboh mendengar bahasa Miu sangat lancar. Anak lelaki semakin heboh karena Miu memang cantik sekali.


Sato yang melihatnya, juga terpana. "Miu Matsuragi?" Tanyanya tidak percaya. Tapi kemudian dia berpikir lagi nama boleh sama, tapi orangnya pasti berbeda dengan yang diceritakan Panji.


Semenjak itu Sato terus mengamatinya secara diam-diam selain menyukainya, dia juga menyelidiki.


Suatu pagi saat hendak masuk kelas, Sato melihat Miu berjalan sendirian. Lantas Sato menepuknya dengan santai dan menyapanya.


"Miu," kata Sato cengengesan.


"Oh, Sato. Aku kira siapa," kata Miu sambil tersenyum. Saat Miu berbicara, Sato berpikir dalam hati.


"Ya, dia pasti bukan Miu yang diceritakan oleh Panji. Miu yang ada dalam mimpinya pasti berbeda dengan yang ini," pikir Sato.


"Sato begitu baik, dia sangat jenaka dan membuatku tertawa tapi tetap saja hanya Panji yang ada dalam hatiku. Tanpa kutahu ternyata Sato adalah sahabat baiknya," kata nenek dengan lega.


**Saat klub tiba, Sato bergegas menuju tempat klubnya dan secara tidak sengaja Miu masuk klub Kebun. Ruangannya berada tepat bersebelahan dengan klub Basket. Dan kebetulan juga Sato tengah bersiap, Miu berada bersama anggota klub lain sedang menanam tanaman.


Sato jadi teringat dengan kejadian hari lalu yang membuatnya banyak terdiam saat mendatangi rumah Panji.


"Ada apa? Hari ini kami diam terus deh," kata Panji membuyarkan lamunannya.


"Eh? Ah, aku punya banyak urusan yang harus aku pikirkan," kata Sato dengan wajah serius.


"Oh ya? Kamu mirip bapak-bapak yang harus lembur kerja ya," kata Panji tertawa.


"Heh! Umur segini itu wajar ya pasti waktunya masalah berdatangan tahu!" Kata Sato agak galak.

__ADS_1


"Hahaha iya iya maaf ternyata kamu bisa juga punya masalah. Oh ya selamat ya sekarang kamu masuk ke SMA favorit," kata Panji bertepuk tangan.


Sato cemberut. "Huh, daripada favorit ini kan keinginan ibuku. Tentu saja keadaan perempuan di sana tidak jauh berbeda sewaktu aku SMP," kata Sato menghela nafas.


Lalu Panji menceritakan sesuatu yang membuat Sato kaget. Mengenai Miu yang katanya akan pindah sekolah dan rumah ke negara lain. Sato hanya terdiam, tidak mungkin itu Miu sebagai anak baru bukan?


Kembali ke sekolah masa ini, saat Sato yang keluar dari ruang ganti menuju tempat latihan, secara kebetulan dia mendengar pembicaraan para anggota klub kebun di sebelahnya.


Tempat mereka hanya dibatasi oleh kawat yang dipenuhi tanaman merambat.


"Wah, Miu romantis ya," kata A dengan antusias.


"Apa kamu tidak merasa seram? Laki-laki itu muncul dan hilang begitu saja?" Tanya B.


Sato yang sedang berjongkok memasang sepatu Basketnya, otomatis berhenti bergerak, dan mengangkat kepalanya melirik ke sebelah.


"Tapi itu sungguhan kok awalnya aku juga takut, tapi dia meyakinkan kalau manusia," jelas Miu dengan serius.


"Tapi... tiba-tiba muncul dan lenyap begitu saja?" Tanya A tidak percaya.


"Iya," kata Miu mengangguk.


Sato semakin membeku otaknya seakan berhenti berjalan. Dengan penuh penasaran dia mendengarkan lagi.


"Ceritakan dong bagaimana kisahnya kalian bisa bertemu," kata yang lainnya menggoda.


"Huwaaaa romantiiiis," teriak mereka semua.


Miu tertawa lagi. "Waktu itu dia dan aku sama-sama berusia 10 tahun sepertinya ya dan sekarang, sama seperti aku juga dia sudah jadi pemuda berusia 16 tahun," kata Miu.


Sato membeli di tempatnya. Memang Panji berusia 16 tahun sekarang. "**Cerita itu... tidak! Tidak mungkin. Miu adalah..." **pikir Sato yang tengah berdiri.


Dia lalu menutup mulutnya, ini terlalu kebetulan dan mengerikan tapi Sato bergembira. Dia bisa mempertemukan mereka meski perasaannya harus dia korbankan.


"Aku yakin suatu hari nanti aku akan benar-benar bertemu dengannya, jika saat itu tiba dia pasti berada di depan mataku," kata Miu tersipu malu.


Semua temannya mendukung dan terus memberikan semangat sebagian ada yang percaya dan sebagian hanya cerita belaka. Tapi siapa yang tahu mungkin memang ada dan nyata.


"Romantis sih tapi menakutkan ya," kata yang lainnya.


"Sulit dipercaya kalau kamu sampai bisa tahu namanya," kata B tertawa.


Miu menatap mereka.


"EH?! SERIUS!?" Tanya mereka semua.


Miu tertawa.


"Lalu siapa namanya?" Tanya mereka semua.

__ADS_1


Sato semakin mendekatkan dirinya ke semak belukar itu ikut menunggu. Dirinya masih saja tidak yakin kalau Miu itu adalah...


"Panji. Panji Hermawan," jawab Miu**.


"TIDAK MUNGKIN!" **pikir Sato menjerit. Setelah itu Sato meminta ijin untuk pulang beralasan sakit perut. Ketuanya keheranan karena saat istirahat Sato semangat menghabiskan 2 bekal kotak makan.


Sore harinya Sato seperti biasanya ke rumah Panji dengan penuh kesiapan. Hal ini harus dia beritahukan dan mungkin saja Panji bisa lebih ceria setelah bertemu dengan Miu.


Sato berjalan menuju kamar Panji dan Panji menyambutnya yang sedang minum obat. "Kamu kenapa sih? Ada masalah lagi?" Tanya Panji.


"Ng? Ah, iya begitulah," jawab Sato agak pelan.


"Oh iya, Sato. Kamu tahu bunga Sakura?" Tanya Panji mungkin saja Sato yang telah naik ke SMA tahu.


"Aku tidak begitu tahu soal bunga," jawab Sato.


"Oh iya ya," kata Panji menggaruk kepalanya.


"Memangnya kenapa dengan Sakura?" Tanya Sato menatap ragu kepada Panji.


"Oh... itu. Miu bilang dia suka bunga Sakura. Dia bilang ingin sekali aku membawakan bunga Sakura untuknya. Aku ingin tahu seperti apa bentuknya," kata Panji tertawa malu.


Sato tersenyum tipis mendengarnya. Panji memandangi kawannya itu tidak seperti biasanya.


"Kamu kenapa? Masalahnya ribet ya?" Tanya Panji agak cemas.


"Hei, Panji," kata Sato yang membulatkan tekad. Tanpa tahu akibat yang akan diterima oleh temannya itu.


"HM?" Tanya Panji.


"Kalau aku bilang bukan mimpi," kata Sato terputus.


"Hah? Tentang apa?" Tanya Panji agak merasa aneh.


"Kalau sebenarnya Miu itu bukan sekedar gadis khayalan dalam mimpi kamu. Kalau aku bilang dia benar-benar ada. Bagaimana? Kamu senang kan?" Tanya Sato langsung.


Panji melongo sesaat lalu mencemaskan kesehatan Sato. "Kamu ini sejak kemarin aneh deh. Haaa aku pikir kamu mau bilang apa hahaha," kata Panji menertawai.


"Aku serius," kata Sato.


Panji terdiam, melihat wajah serius Sato tapi menggelengkan kepalanya. "Kenapa kamu bicara seperti itu? Ada masalah dengan penggemar kamu di sana? Itu hanya mimpi ya. Nyatanya, aku hanya bisa menemuinya sewaktu tidur," kata Panji menjelaskan.


"Menurutku itu bukan mimpi biasa. Apa kamu tahu **Astral Projection?" **Tanya Sato.


"As... apa?" Tanya Panji tidak mengerti.


"Roh kamu keluar saat setelah mengalami kontraksi jantung yang menyebabkan kamu tertidur tetapi jantung terhenti beberapa detik. Lalu roh kamiu melakukan perjalanan ke tempat atau dimensi yang berbeda," jelas Sato.


Bersambung** ...

__ADS_1


__ADS_2