Girl Of Darkness

Girl Of Darkness
135


__ADS_3

"Emi, aku juga jahat. Tapi me..re..ka.. lebih... jahat," kata Nana menangis menyesal.


"Kamu tahu? Kenyataannya kamu adalah benar kakak kandung Emi. Orang tua angkat yang kamu habisi adalah orang tua kamu yang asli," kata Eris dengan pandangan dingin.


Nana menatap Eris tidak percaya. "Ti-tidak.. i...tu bohong!" Kata Nana yang batuk darah lagi.


"Itu benar. Aku sudah tahu semuanya, kamu dititipkan karena keadaan Ibumu yang melemah lalu ternyata masih ada anak lagi yang akan keluar. Mereka lalu bertekad mencari mu tapi saat itu kamu diculik seseorang yang sekarang menjadi orang tua kamu," kata Eris.


Nana tidak percaya cerita itu, dia menangis.


"Kenapa kamu kabur dari mereka? Mereka orang yang baik hanya tidak memiliki anak saja. Hidupmu mulai hancur semenjak bertemu Taro dan keluarganya. Kamu harus membunuh mereka dan Emi. Malang," kata Eris.


"Tidaaaak," kata Nana menangis mengingat itu semua. "Aku... mohon... pa..damu. Aku ingin... balas.. den..dam," kata Nana menunjuk ke arah Taro yang melihatnya.


Nana batuk lagi dan keluar banyak darah, nafasnya mulai menipis akhirnya tangannya jatuh. Suara petir menyambar di belakang Eris.


"Baiklah, harga pembayarannya sudah aku terima. Kamu dan mereka akan menjadi mangsa aku sekarang," kata Eris memandang ke atas dengan jahat ke wajah Taro.


Di apartemen dimana Taro menatap ke arah bawah, dia sempat heran melihat tampaknya Nana mengatakan sesuatu lalu pergi.


"Sudah, dia sudah meninggal hentikan sandiwara mu, Taro," kata Neneknya tertawa.


"Haaa syukurlah susah juga ternyata akting itu. kita... KAYA!!!" Teriak Taro menghamburkan semua uang yang dia terima.


Eris menatap mereka semua dari luar jendela dimana dia kini sedang duduk dan tersenyum jahat. Giginya memperlihatkan taring, aura hitam menyelimuti dirinya.


"Manusia-manusia seperti kalian adalah makananku," kata Eris.


Permata yang disimpan di atas meja kini berubah dan mengeluarkan asap hitam kelam. Warna permata yang cerah berubah menjadi se kelam kegelapan.


Asap hitam yang dulu pernah dihisap oleh cincin antik pemberian Eris ke seorang wanita kini dibebaskan.


Dalam apartemen, asap itu menyalakan kompor, melepaskan gas dan mengunci semua pintu serta jendela tanpa mereka sadari.


Keberadaan Eris pun tidak bisa mereka sadari karena tidak terlihat. Ayah Taro yang duduk sambil menikmati minuman keras mencium sesuatu.


"Sebentar. Tampaknya ada bau gas. Mama, apa kamu sedang memasak sesuatu?" Tanya Ayah Taro menutup hidungnya.


"Tidak. Sebentar aku periksa dulu. Lho? Kok pintunya tidak bisa dibuka?" Tanya Ibu Taro berusaha membuka pintu dapur.


"Mungkin macet," kata suaminya mencoba mendobrak. Nihil.


Ibunya lalu membuka jendela kecil dapur dan melihat sesuatu. "Ayah! Ayah! Tabung gasnya terbuka! Siapa yang lupa mematikannya? Aduh, kenapa pintu ini tidak bisa dibuka?" Tanya Ibunya dengan panik.


"Apa!? Tapi tidak ada yang menyalakan kita semua kan ada disini. Apa ini?! HUWAAAA!!" Teriak Kakek terkejut. Melemparkan permata yang berubah menjadi cairan hitam yang lengket.

__ADS_1


Taro melihat juga dan sama terkejutnya semua permata dan perhiasan yang berkilauan kini berubah menjadi semacam cairan hitam yang bergerak ke semua ruangan.


Semua menjadi ribut dan berusaha membuka pintu atau jendela. Saudara dan keponakan histeris melihat cairan itu seperti memiliki mata dan mulut.


Kakek dan Nenek yang tidak bisa bergerak cepat, ditangkapnya kaki mereka yang hendak dilahap.


"Tolong!! Tolong!!" Teriak mereka berdua yang sudah sepinggang ditelan cairan hitam.


Eris tersenyum jahat, petir dan halilintar menyambar besar. Dia menikmati pemandangan mengerikan itu sambil menikmati sinar bulan yang akan tertutup awan hitam.


Dalam beberapa jam ruangan itu sudah penuh dengan cairan hitam, keluarga Taro akhirnya harus bermandikan tinta hitam. Mereka saling berteriak, meminta ampun dan menyebutkan nama Nana dan Emi.


Eris kemudian menghilang dan muncul di tengah kekacauan itu. Mereka menatapnya dengan air mata yang mengalir. Dengan kedua mata yang semerah darah, sayap Eris keluar dan mereka menjerit dalam hati.


Jeritan mereka tenggelam cepat saat Eris menarik bola kehidupan mereka.


"Kudapatkan 10 bola kehidupan dari manusia rakus seperti kalian," kata Eris lalu keluar dari ruangan itu sambil membawa bola.


Setelah itu 10 anggota keluarga tersebut mengeras dengan tinta hitam yang sudah memakan habis semua tubuh mereka.


Jendela apartemen Taro tiba-tiba terbuka dan lumpur mengeras itu perlahan pecah, memperlihatkan sisa dari kehidupan mereka.


Cairan hitam itu semakin membesar tampak sedang menyedot sesuatu lalu meledak keras membuat huru hara dalam ruangan.


Tidak ada api hanya tersisa bercak hitam di dinding, lantai dan semua ruangan. Beberapa penghuni apartemen yang lain langsung berhamburan keluar menuju kamar milik Taro.


Yuri sudah pulang, tersisa Arae dan Raven yang menunggu dirinya.


"Anu, Nona ada roh yang tiba-tiba datang. Tampaknya dia belum bisa pergi," kara Raven menunjuk.


Nana menangis menyesali perbuatannya terhadap adik kecilnya. Emi masih tertidur dengan wajah yang memucat.


"Tadi saat Emi sedang membantu Yuri, dia tiba-tiba jatuh dan pingsan. Sekarang keadaannya..." kata Arae menggelengkan kepalanya dengan sedih.


Eris memasuki kamarnya dan melihat energi kehidupan Emi mulai menipis. Eris mengirimkan Emi ke Rumah Sakit yang berbeda dan dapat dipercaya. Nana mengikutinya sambil menatap Emi.


Eris mempercayakan kepada dokter dengan 1 koper penuh dengan uang. Mengijinkan Nana untuk menjaganya.


Arae dan Raven juga berada disana. "Beritahu pada Yuri kalau Emi baik-baik saja meski nyawanya sudah di ujung tanduk," kata Eris menghilang.


Beberapa hari berselang, 10 bola kehidupan lalu ditambah bola sebelumnya mengubah Eris menjadi usia remaja kelas 1 SMA. Yuri kaget yang hendak bekerja bersorak dan memeluk Eris, tidak lama lagi akan menjadi remaja.


Yuri sendiri sekarang berumur 25 tahun waktunya terus berjalan tidak seperti Eris. Hanya saja badan Eris lebih mungil sedangkan Yuri besar tetap tampilannya seperti Yuri yang lebih tua.


Siang harinya Eris bekerja mengelap mejanya dan merasakan sentuhan lembut di rambutnya. Lalu dia melirik ke samping Dan...

__ADS_1


"KAK ERIS!" Teriak suara yang dia kenal.


Eris mencari begitu juga Yuri, dan Arae. Raven yang tiba menundukkan kepalanya tanda berduka cita.


"Suara itu... Emi?" Tanya Yuri dengan pikiran yang sudah melanglang buana. Kalau suaranya hadir tapi tidak ada wujud berarti... berarti...


Emi dan Nana lalu memasuki toko tersebut dengan tubuh transparan. Yuri kaget begitu juga dengan Arae. Eris sudah tahu dan hanya terdiam.


Emi menghampiri Yuri yang menahan tangisan. "Kak Yuri jangan bersedih. Lihat, kali ini aku bisa terbang tanpa bantuan siapapun. Dan aku tenang," kata Emi memegang wajah Yuri.


Yuri menyeka air matanya dan bersyukur. "Selamat ya keinginan kamu terkabul, Emi," Katanya tertawa.


"Iya," kata Emi terbang kemanapun dengan bebas.


"Akhirnya kamu terbang sendiri," kata Eris menghampiri.


Emi menghampiri dan membungkukkan badannya. "Saat sadar amu sudah seperti ini dan Kak Nana menungguku," kata Emi memeluk kakaknya.


Dengan wajah malu, Nana berterima kasih. "Kami benar-benar berterima kasih sekali kalian sudah menjaga Emi. Sekarang, kami pamit," kata Nana.


"Ayah dan Ibu sudah meaafkan Kakak. Terima kasih semuanya dan Kak Eris," kata Emi memeluk Eris.


Eris tidak menyangka akan dipeluk oleh roh dan membalas pelukannya. Lalu mereka pergi, terbang dengan gembira. Sebelum menjauh Emi memandang ke belakang dan melihat warna asli dari mata Eris.


Eris membuka satu lensanya sebagai hadiah untuk Emi. Warna cerah yang berbeda yang menyiratkan kesedihan begitu juga kegembiraan.


Emi melambaikan tangannya lalu menghilang di antara awan. Eris memasang kembali lensa kontaknya dan kembali.


"Emi anak laki-laki yang lucu ya," kata Yuri bersyukur.


Eris menatap Yuri dengan pandangan aneh.


"Ah, gemas sekali aku jadi ingin punya adik laki-laki," kata Arae memperlihatkan baju anak lelaki pada mereka.


Eris masih di posisi yang awal menatap mereka satu per satu.


"Sekarang anak itu pergi dan bahagia," kata Raven agak sedih.


"Kalian sama sekali belum sadar sampai kepergiannya?" Tanya Eris.


"Apa?" Tanya mereka bertiga bersamaan.


"Emi itu anak perempuan," kata Eris meninggalkan mereka semua.


"APA!?" Tanya mereka semua dengan kompak.

__ADS_1


Kunci yang ditemukan oleh Raven dari puing-puing kamar Emi dahulu, berubah menjadi kunci sebuah buku berwarna putih keunguan. Eris lalu menaruh buku dan kunci itu di rak toko, menanti pembeli yang akan menggunakannya.


__ADS_2