
"Inilah firasat jeleknya," kata Nyx menghadang di antara Eria dan Aiolos.
"Ibu kan sudah bilang kalau ada rapat sebentar. Ibu bilang kamu pergi pulang ke rumah duluan ternyata kamu kelayapan! Lalu ada apa sih kamu keluar ke tempat orang ini?" Tanya ibu Eria dengan marah.
"Ah, maaf itu bukan salah Eria. Justru aku yang..." kata Aiolos berusaha menjelaskan.
Eria memegang tangan Aiolos dan menggelengkan kepalanya. Dimana dia enggan Aiolos terluka.
"KALIAN INI SIAPA SIH SEBENARNYA!? APA YANG KAMU MAU DARI ANAK INI!?" Teriak sang ibu menunjuk kepada Eria.
"Aih, tidak sopan sekali," gumam Nyx memandangi ibu anak itu menunjuk ke arah dahi anaknya.
"Makanya kami ini..." kata Aiolos berusaha lagi meski Eria memberitahukan dengan kode.
"APA!? KAMU MAU APA!? Bagaimana kalau kemampuan anak ini hilang, kami tidak bisa lahi membuat rekaman film. Dan aku tidak akan bisa menerima banyak bayaran uang lagi!!" Seru ibunya sambil berusaha mendorong Aiolos namun Nyx menghadang.
"Bayaran? Jadi Anda menjual anak sendiri pada orang-orang?" Tanya Nyx mencemooh.
Aiolos menatap tajam ke arah ibunya, membuat sang ibu agak gentar. "Bagaimana bisa Anda menganggap anak sendiri sebagai mesin uang?" Tanyanya dengan nada marah.
"Begitu. Akhirnya aku mengerti dengan jelas semua yang Ibu maksudkan selama ini," kata Eria menundukkan kepalanya menatap jalan.
"B-bukan maksudnya bukan seperti itu. Ayolah, kita pulang saja ya disini udara mulai dingin. Para kru sebagian menunggu kedatangan kita di rumah," kata ibunya dengan ketakutan menatap kedua mata Eria yang sangat dingin.
Merasa seperti bukan anaknya yang dia kenal. Aiolos dan Nyx tentu saja merasakan aura yang berbeda, mereka berdua memandangi Eria yang sorot mata itu tentu mereka kenal. Eris.
Tapi bagaimana bisa? Siapakah Eria sebenarnya? Lalu bagaimana dengan Eris? Apakah jangan-jangan Eris menyamar Eria? Pertanyaan itu jelas berada dalam pikiran Aiolos dan Nyx dan terbaca oleh Eria.
"Eris? Siapa? Sepertinya nama itu tak asing untukku," pikir Eria. Dia menggelengkan kepala dan melepaskan genggaman tangan Aiolos. "Sampai nanti," katanya.
Eria berjalan melewati ibunya yang masih terkejut. "Tu-tunggu!" Ibunya menyusul.
Mereka berdua hanya bisa menatap Eria yang berjalan sendiri sedangkan ibunya terus mengoceh sambil tangannya enggan menyentuh pundak anaknya.
__ADS_1
"Jadi itu ibunya yang kamu bilang sama sekali enggan memanggil nama bahkan menyentuhnya?" Tanya Nyx memandangi temannya.
"Ya," jawab Aiolos dengan sedih masih menatap punggung Eria. "Besok aku akan membuatkan sarapan untuknya. Ah ya cake juga,"
"Hei, jangan cari penyakit deh. Selanjutnya bila bertemu lagi mungkin kamu akan dibanting. Lalu bagaimana kalau tulang mu patah?" Tanya Nyx tidak setuju.
Aiolos tertawa sedih dan menepuk bahu temannya. "Eria berkata sampai nanti kan berarti akan ada pertemuan lahi. Jadi kami akan terus bertemu," katanya tersenyum.
Nyx menghela nafas setidaknya dia juga akan ikut mengawasi. Lalu Nyx mengantarkan Aiolos pulang dan berjanji akan membuatkan sup jamur yang enak untuk Eria.
Dalam kamarnya dia rebahan dan teringat saat sorot mata Eria marah. Sangat mirip dengan Eris meskipun sehari-hari memang kedua matanya datar.
Entah kenapa, Nyx tiba-tiba mencemaskan Eris yang tidak ada kabarnya yah, meskipun memang mereka tidak pernah sering bertemu. Apalagi kali ini dia tidak merasakan kehadiran anak dingin itu dimanapun.
Nyx dan Aiolos berpikiran sama kalau Eria bukan kembaran Eris, lalu apakah Eria adalah Doppelganger*?
Doppelganger adalah penampakan dari wajah seseorang yang masih hidup, biasanya merupakan suatu pantulan. Atau diartikan sebagai Muka Ganda.
Di tempat lain, Yuri yang baru selesai mandi malam memandangi gumpalan kain yang terdapat Raven tengah tertidur. Yuri gemas sekali dan membelainya membuat Raven semakin nyenyak.
"Ayah, Ibu sedang menonton apa?" Tanyanya penasaran lalu duduk.
"Ini lho acara pemurnian roh atau semacam medium. Seru sekali, ada anak kecil yang bisa memusnahkan atau memurnikan sesuatu bahkan bisa melihat hal ghaib," jelas ibunya.
"Anak kecil?" Tanya Yuri yang masih belum melihat tokoh utamanya.
Beberapa saat Yuri juga ikut menonton kemudian kamera menyoroti Eria yang sedang berdoa lalu menatap bangunan kosong. Yuri berdiri dan kaget. "ITU ERIS!" Teriaknya.
"Tuh kan memang benar mirip kan. Ibu juga bilang begitu pada Ayah tapi namanya berbeda lho," kata ibunya tertawa.
"Berbeda? Benarkah? Tapi penampakannya," kata Yuri tidak percaya dan duduk kembali.
"Iya. Namanya Eria bukan Eris jadi yah kebetulan saja agak mirip kan," kata ibunya sambil minum teh.
__ADS_1
"Tapi..." kata Yuri masih tidak percaya kemudian memutuskan pergi ke kamarnya membangunkan Raven.
"Apa? Apa? Sudah pagi ya?" Tanya Raven mengusapkan wajahnya dengan sayap hitamnya.
"Bukan itu! Ayo," kata Yuri menggendong Raven.
"Te-tenang. Ada apa sih?" Tanya Raven yang panik dan takut.
Yuri memperlihatkan layar televisi padanya. "Lihat! Ada yang mirip dengan Eris. Menurutmu doa kembaran yang kita cari?" Tanya Yuri.
Raven melihat dan tersentak terbang ke dekat televisi. Saat itu ibu dan ayah Yuri berada di tempat yang berbeda.
"Nona!" Teriak Raven dengan wajah yang sedih.
"Namanya berbeda," kata Arae yang muncul tiba-tiba entah dari mana.
"Arae wajahnya, sorot matanya lalu nada bicaranya juga mirip kan," kata Yuri.
Arae mengamati wajah Eria, dia tampak tidak yakin namun ada keinginan untuk membawanya pada Eris tapi terasa ada bahaya. Apalagi mereka juga melihat Nyx dan Aiolos berada dekat dengan anak itu.
Arae enggan membawa masalah dengan mereka terutama Aiolos yang bisa melihat kehadirannya. "Kita lihat saja nanti soal ini. Jangan sampai kalian ceritakan pada pemuda ini soal Eris,"
Mereka berdua mengangguk. "Arae, bagaimana keadaan Eris?" Tanya Yuri cemas.
Arae menatap Yuri yang memang sedih, wajah Arae meblembut. "Aku akan pikirkan cara agar bisa membawa Eria ke dalam toko tanpa sepengetahuan mereka," tunjuk Arae lalu menghilang dengan embusan api.
Yuri menatap Raven, tentu Raven terus melihat acara itu meski di hadapannya bukanlah majikannya.
"Anak itu dirundung banyak orang," ucap Raven dengan nada sedih. Tentu dia pernah melihatnya perlakuan orang-orang sangat jahat kepadanya.
"Aku dengar gosip katanya kemampuan dia rekayasa. Benarkah?" Tanya Yuri merapihkan rambutnya.
Raven menggelengkan kepala. "Tidak, dia memang bisa melihat sesuatu yang lain sama dengan Nona hanya saja orang biasa pasti sulit menerimanya kan," kata Raven menatap Yuri.
__ADS_1
Bersambung ...