Girl Of Darkness

Girl Of Darkness
123


__ADS_3

Ternyata toko Eris terletak beberapa kamar dari nenek tersebut. Dia sekilas mendengar banyak suara orang yang tertawa, mengobrol dan kuga dentingan peralatan makan dari dalam toko Eris.


Nenek itu terdiam di tempat berdirinya lalu memutuskan untuk masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintu. Dia kemudian duduk di kasur dan tiduran memikirkan mengenai anak misterius yang ditemuinya.


Kedua matanya menutup tapi rasa kantuk sama sekali tidak datang kemudian dia buka lagi matanya dan berusaha duduk.


"Apa tokonya masih buka ya?" Tanyanya lalu mengganti baju dan menatap ke arah jam. Masih pukul 10 malam.


Nenek itu keluar kamar dan menguncinya lalu dengan langkah perlahan menuju kamar yang dikatakan oleh Eris.


Dia berdiri lalu memantapkan hati, terburuknya akan banyak orang di dalam membuatnya tidak bisa bergerak. Saat hendak memegang kenop pintu, pintu itu terbuka secara otomatis.


Nenek itu kaget lalu melangkah masuk. "Wah," ucapnya melihat toko itu ternyata sangat luas dan pintu tertutup pelan di belakangnya.


"Selamat datang," sapa Ella dengan suara ramah.


"Terima kasih, Nak. Wah, ternyata ada ruangan seluas ini," katanya berjalan sambil melihat orang yang duduk menikmati berbagai macam makanan.


"Anda datang," kata Eris berdiri di tengah. Kemudian mempersilakan nenek tersebut duduk dan menuangkan teh untuknya.


"Ah, ini toko mu? Saya tidak bisa tidur, aneh sekali. Dalamnya... wah," katanya tidak henti-hentinya mengagumi.


"Silakan nyaman kan diri Anda di sini," kata Eris untuk pamit ke kasir.


"Ah, Nak. Anggaplah cerita saya tadi sekedar celotehan tua renta ya. Saya senang sekali menerima undangan ke toko yang luar biasa ini," kata nenek itu dengan mata yang masih mengagumi.


"Tenang saja," kata Eris lalu pamit.


Eris lalu menuju kasir dan duduk di belakang Arae yang sibuk mengurus keuangan, Raven mengantarkan makanan lalu Yuri memasak.


Raven tiba di meja nenek itu. "Anda mau memesan apa?" Tanyanya dengan ramah.


"Nanti saja toko ini seperti negeri dongeng. Saya ingin menikmatinya dulu saya yakin makanannya juga lezat bukan," kata Nenek itu tertawa.


"Sangat. Pokoknya Anda harus memesan juga, saya yakin Anda akan ketagihan," kata Raven lalu memberikan menu, kertas dan pulpen.

__ADS_1


"Baiklah," kata nenek itu tertawa.


"Kalau begitu, saya taruh kue ini untuk menemani Anda. Permisi," kata Raven setelah membungkuk lalu pergi.


Saat sedang melihat-lihat sambil memakan kue buatan Yuri, dia melihat sebuah jam waktu yang ada di sebelahnya. Bentuknya unik, tampak tua tapi menawan dengan warna biru safir yang terang. Tampak pula hiasan awan yang seakan bergerak dan bintang di sisinya yang seakan turun.


Terdapat rantai emas dengan hiasan garis yang indah. Nenek itu memegangnya karena sangat aneh baginya, Eris tersenyum dari kejauhan. Nenek itu membuka penutupnya dan tampaklah jarum jam yang bergerak dan mengeluarkan suara.


Saat melihat Raven datang lagi, nenek itu ingin menghentikannya. "Anu, Nak. Jam ini..." kata nenek itu tapi terhenti saat dia melihat ada anak kecil melewatinya.


Dia terdiam. Nenek itu mencoba melihat lebih jelas lagi lalu anak kecil itu berdiri tidak jauh darinya. Anak kecil dengan celana pendek juga topi anyaman sama persis yang dia bawa.


"Lho? Sepertinya anak tadi..." kata nenek itu kebingungan. Dia lalu berdiri hendak mendekati tiba-tiba merasakan desiran angin.


Dia berpaling dan melihat bahwa dia berada di geladak kapal. Semakin kebingungan saja nenek itu, lalu dia berjalan mencari Eris. Dan melihat nama kapal tersebut tidak sama dengan waktu dia naik.


Nenek itu merabanya dan terkejut. Kapal yang dinaikinya ternyata kapal pesiar biasa. "Ini.. bagaimana bisa?" Tanyanya dengan bingung.


Eris datang berjalan menembus ruang waktu. "Anda pasti ingin tahu kejadian di saat Anda bertemu dengan pemuda misterius itu bukan. Jam ini bisa menunjukkannya. Lihat saja," jelas Eris.


Eris lalu menghilang dalam kabut. Nenek itu mengejarnya. "Nak!" Panggilnya. Karena tidak ada Eris entah dimana, nenek itu melihat sekitarnya dan terdiam lagi. Dia melihat jam tersebut yang bergerak mundur.


"Itu ibuku. Aku merindukannya," kata nenek itu bercerita sendiri.


Eris mendengarkan kisahnya dari balik cermin.


Lalu tampaklah anak kecil perempuan yang berlarian gembira.


"Itu aku. Hari itu aku menaiki kapal pesiar ini karena Ayah akhirnya bisa pulang. Aku dan ibu bermaksud menjemputnya lalu..." cerita nenek itu.


"**Sebentar lagi kita sampai!" Kata Miu dengan senang sekali.


"Miu, jangan berdiri terlalu pinggir nanti kamu jatuh," kata Ibunya yang menggelengkan kepala menatap anak perempuannya.


"Tidak apa-apa. Aku kan berpegangan. Tidak akan jatuh, bu," kata Miu yang tidak menggubris peringatan ibunya.

__ADS_1


Ketika Miu tengah menikmati desiran angin, tanpa sepengetahuannya tali topi itu terlepas dan menerbangkan topinya. Terbang menuju permukaan lautan.


"TOPI! ibu, topiku jatuh," kata Miu sambil menangis.


"Kan ibu sudah bilang jangan terlalu pinggir," kata Ibunya berlari menghampiri anaknya.


"Tolong ambilkan, Bu! Itu topi kesayanganku. Ibuuuu," rengek Miu menangis.


Ibunya menatap topi itu memang tidak jauh tapi... "Ibu tidak bisa berenang. Sudah relakan saja ya nanti Ayah pasti akan belikan lagi," bujuk ibunya.


"Tidak mauuuu Ayah membelikannya sebelum pergi dinas. IBUUUUU," Teriaknya menangis lebih keras.


"Biar aku saja yang ambilkan," kata seorang anak laki-laki berambut pirang lalu menceburkan dirinya ke laut.


"Nekat sekali anak itu," kata Ibu Miu.


Miu berhenti menangis lalu berteriak pada anak itu. "Jangan! Nanti kamu tenggelam," kata Miu.


"HEI! ADA ANAK KECIL SEDANG BERENANG! Cepat turunkan perahu! Udara sedingin ini dia berani berenang ke lautan. Dasar anak gila," kata seorang pengunjung.


Panji berusaha meraih topi milik Miu dan berhasil, dia sempat dibanting oleh ombak tapi kemudian selamat karena dipegang oleh beberapa pengunjung memakai perahu.


Miu menangis karena terharu, anak laki-laki itu berhasil mengambil topinya meskipun setengah terkoyak karena air laut.


Sesampainya di geladak, dia dibungkus oleh selimut handuk dan kena marah.


"Kamu gila ya? Untuk apa menceburkan diri?" Tanya yang lainnya.


Panji kecil itu tertawa senang dan meminta maaf. "Ini. Saya hendak mengambilkan topi anak ini," kata Panji.


"APA!? Hanya demi topi? Nak, ini kan cuacanya dingin untung kamu bisa kami selamatkan," kata bapak yang lain memijat kepalanya.


Panji mengangguk dan memberikan topi itu kepada Miu. "Ini topinya lain kali hati-hati ya. Jangan berdiri terlalu pinggir bahaya," katanya.


"Terima kasih, Kak," kata Miu yang malu.

__ADS_1


"Aduh, maaf ya gara-gara anak ini kamu jadi basah kuyup. Ayo ke kamar mandi, kebetulan kami punya baju anak laki-laki untuk usia kamu," jelas ibunya Miu.


Bersambung** ...


__ADS_2