Girl Of Darkness

Girl Of Darkness
125


__ADS_3

"Setelah itu dia memang datang mengajakku bermain. Aku pikir rumahnya tidak jauh dari rumah ku. Ia selalu datang dan menghilang tiba-tiba juga. Aku ketakutan pada awalnya tapi dia memastikan bahwa dia juga manusia," kata nenek Miu memandang wajah damai Panji yang sedang tidur dan menangis.


Sekitar nenek Miu berubah lagi kali ini dia berada dalam rumahnya terdahulu. Beberapa bulan berlalu dan Miu serta Panji kecil semakin lebih dekat kedua orang tuanya pun menyukai Panji yang terkesan sangat sayang putri mereka.


Hingga tidak sadar waktu kembali berjalan sampai saatnya tiba Miu bersekolah di sekolah SMP. Panji pun tumbuh menjadi pemuda yang disukai banyak teman perempuan Miu.


Dia tertawa teringat bagaimana dirinya dulu sangat posesif sampat tidak membiarkan teman-temannya datang ke rumahnya.


"**Janji ya hari Selasa dan Kamis jangan datang ke rumah," kata Miu menunjukkan jari kelingkingnya.


Panji hanya menghela nafas dan menggaruk kepalanya. "Memangnya kenapa sih?" Tanyanya.


"JANJI!" Kata Miu enggan menyebutkan alasannya.


"Ya, baiklah. Aku janji," kata Panji menyerah.


Lalu Miu disuruh Ayahnya untuk mengambilkan teh serta makanan untuk mereka berdua. Miu kemudian menuju dapur dimana ibunya sedang menyiapkan.


"Kenapa ya Miu tidak memperbolehkan aku datang di hari Selasa dan Kamis, Om?" Tanya Panji cari tahu pada ayahnya Miu**.


Mendengar itu, Ayahnya Miu tertawa keras. "**Anak saya suka sama kamu, semua teman perempuannya selalu dayang ke rumah untuk melihat kamu. Dia cemburu," kata Ayah Miu mengacak kepala Panji.


Panji memerah karena dia juga menyukai Miu. "Apa Anda memperbolehkan saya juga menyukainya? Ya aku tahu selalu muncul secara tidak terduga,"


"Tentu saja. Tolong jaga putri kami ya, oh ya apa rumahmu sekitar sini? Saya tidak pernah melihat kamu," kata Ayahnya Miu berpikir.


Panji tidak memikirkan hal itu karena baginya tujuan untuknya bermimpi adalah menemui Miu.

__ADS_1


"Ah, rumah saya ada di wilayah lain agak lumayan jauh sih tapi saya bersedia mengarungi tempat hanya untuk bertemu Miu," kata Panji dengan suara yang tegas.


Ayah Miu tertawa keras lagi. "Kalimat itu biasanya digunakan untuk melamar," katanya.


Wajah Panji memerah seperti tomat dan sama sekali tidak tahu**.


Nenek Miu tertawa mendengarnya. "Jadi itulah kenapa semenjak Ayah memberitahukannya, Panji selalu melindungi ku apalagi dia juga menolak semua pernyataan cinta teman-temanku. Lucu sekali aku waktu itu," katanya.


Tempat berganti di suatu malam dengan udara yang sangat dingin. Dalam kamarnya.


"**Haa benar kan kamu demam pada akhirnya. Kapan kamu bisa menurut sama Ibu sih? Ini di Jakarta mana sedang musim hujan juga. Berbeda dengan Inggris yang selalu hangat. Lalu kamu juga sering memakai baju yang tipis di musim begini. Ini! Minum obatnya," kata Ibunya menyerahkan 2 tablet.


Miu memandanginya agak cemberut. "Tapi kan pahit," katanya.


"Salahmu," kata Ibunya mendekatkan wajahnya ke Miu.


"Sesudah minum obat langsung tidur ya kalau demamnya tidak turun sampai besok, kamu tidak boleh sekolah dulu," kata Ibunya lalu pergi menutup pintu kamarnya.


Dengan kecewa, Miu memandang atap kamarnya. "Sial sekali. Kalau begini besok tidak akan bisa bertemu Panji dong uhuk! Uhuk! Padahal besok ada janji mau jalan-jalan dengannya," kata Miu memeriksa dahinya yang masih panas.


Saat itu dia mau tidur.


"Kamu kenapa? Flu ya?" Tanya Panji tiba-tiba sudah ada di sampingnya dengan sedih**.


Miu membuka matanya dan melihat ke samping


"Hah? EH!?"

__ADS_1


"**Sakit kan ya? Mau aku bacakan mantra supaya demamnya turun?" Tanya Panji senyum.


"WHOOOT!? Kamu masuk dari mana!?" Seru Miu super kaget.


"Jangan. Jangan bangun! Kamu itu sedang demam, sini berbaring saja. Tadi aku masuk pelan-pelan," kata Panji berbohong.


"Masa sih? Kok aku tidak mendengar suara pintu? Tadi kan Ibuku baru saja keluar," kata Miu agak takut.


"Sudah ketemu kok kamu sedang sakit jadi mana bisa fokus kan," kata Panji.


Panji lalu membantu merebahkan badan Miu ke kasur. Miu masih terkejut mengenal Panji secara ajaib lalu muncul dan menghilang begitu saja. Bahkan sekarang dia ada dalam kamarnya siapa sih yang tidak takut?


Karena kebiasaan inilah Miu selalu berdoa Panji tidak secara mendadak muncul saat dia tengah mandi. Wajah Panji polos sekali, Miu memerah saat itu.


"Kamu ini tidak tahu, kalau tidak diperbolehkan seorang laki-laki masuk ke kamar perempuan?" Tanya Miu menatap Panji.


"Memangnya kenapa? Aku anak tunggal dalam keluarga sih," kata Panji.


"Pantas," kata Miu mengeluh.


"Apa alasannya?" Tanya Panji penasaran.


"Kata Ibu, anak laki-laki bisa melakukan hal yang di luar instingnya. Kamu sungguh tidak tahu?" Tanya Miu yang masih demam.


Seketika itu Panji langsung sadar dan wajahnya memerah juga. "Bodoh! Hal itu masih jauh aku lakukan. Sudah jangan berpikir aneh-aneh," kata Panji menepuk tangan Miu.


Bersambung** ...

__ADS_1


__ADS_2