
"Aku kira kamu berani. Ya sudah deh tidak apa-apa, kita juga perlu orang untuk mendokumentasikan kegiatan kita. Lebih bagus bisa tertangkap penampakan," kata Poi membayangkan. Tentu nilai mereka akan lebih besar dati kelompok lainnya.
"Kenapa sih kalian ambil judul supernatural?" Tanya Teran agak aneh.
"Ya supaya berbeda saja semua kelompok hampir mengambil judul yang agak mirip. Ya kita harus berbeda dong. Oke sepulang sekolah nanti kita coba ajak beberapa orang. Berapa nih kira-kira?" Tanya Poi menatap Ares.
"10 cukup lah ya Hyaku seharusnya 100 orang berarti 100 lilin kan. Kalau harus begitu, musti undang 2 klub saja," kata Ares yang sudah memikirkan.
Akhirnya mereka semua setuju, berbagai rencana mereka tuliskan. Kalau bisa hari ini kelar jadi selanjutnya mereka hanya tinggal mengerjakan laporan.
Hal seperti ini biasanya tidak akan berjalan lancar pada akhirnya, seperti pengalaman Utub yang lainnya sampai ada yang masih kena teror.
"Pokoknya kamu tetap harus ikut, Teran tugas kamu cukup merekam saja. Kalau kamu tidak ikut berarti bukan anggota kelompok kami," kata Ares menatap gadis berambut pendek di depannya.
Selintas dia merasa aneh, merasa kalau Teran adalah siswa yang belum pernah dia kenali tapi melihat anak-anak lain yang juga menyapanya, mungkin itu hanya perasaannya saja.
"Aih... ya ya ya tapi aku lewat ya bagian bercerita nya. Kalian tetap harus mencari 8 orang lagi yang kira-kira punya cerita seram," kata Teran cekikikan.
"Huh, payah! Perempuan biasanya kan lebih tertarik dengan kegiatan seram ya," kata Poi menggelengkan kepalanya.
"Iya," kata Area setuju.
"Biarin!" Kata Teran menjulurkan lidahnya.
Sekolah akhirnya berakhir di pukul 3 sore. Sebelum pulang, mereka melupakan satu hal yaitu tempat ceritanya.
Mereka bertiga berpikir. "Bagaimana kalau tempatnya kita cari yang agak lebih seram?" Cetus Teran.
"Jangan deh kalau nanti ada kejadian kan berabe," tolak Ares.
"Lho? Kan lebih bagus kalau sampai terjadi sesuatu kan? Bukannya kalian mau sampai ada penampakan?" Tanya Teran.
"Iya juga sih," jawab Ares.
"Bagaimana kalau kuil Saotome saja? Bagus tuh tempatnya mana luas, bisa disewa untuk menginap juga. Siapa tahu kan kita bercerita nya lama," kata Teran.
"Kalau untuk kegiatan sekolah akan diijinkan?" Tanya Ares yang baru dengar kuil tersebut.
"Pasti!" Jawab Teran yakin.
"Tugas kamu ya yang meminta ijinnya karena kamu tidak ikut cerita," kata Poi.
"Iya iya boleh deh," jawab Teran menghela nafas.
Lalu setelah jelas rencananya mereka bertiga berbagi tugas. Poi dan Ares tentu bertugas bersama.
__ADS_1
"Kamu tidak apa kesana sendirian?" Tanya Ares agak tidak yakin.
"Tenang aku sudah biasa ko. Oke, kita pisah ya untuk menghemat waktu," kata Teran yang berjalan duluan.
Ares masih terus menatap punggung Teran, dia tampak tidak yakin.
"Kamu merasakannya?" Tanya Poi.
"Soal dia?" Tanya Ares.
"Semuanya. Kenapa tiba-tiba ada gadis lain masuk lalu semua teman dan guru tampak biasa. Kamu yakin dia murid sekolah kita?" Tanya Poi.
Ares berbalik mengajak Poi, dia enggan berpikir macam-macam. Takutnya memang salah satu siswa namun tidak menonjol.
Ares dan Poi sedang berjalan menuju perkotaan saat tidak sengaja melihat Anemoi yang berada di suatu toko.
"Bro!" Kata Ares memberikan kode.
"Ayo," kata Poi ikut masuk.
Anemoi sedang memainkan game RPG dalam ponselnya. Lalu berhenti karena ada bayangan yang mendekatinya.
"Maaf, kami sedang mengerjakan tugas sekolah untuk membuat laporan. Apa Anda sedang sibuk?" Tanya Poi dengan suara sopan.
Anemoi menaruh ponselnya dan berdiri. "Oh! Tidak, kebetulan saya sedang santai. Lalu apa ada yang bisa saya bantu? Tugas seperti apa? Kalau kalian mendatangi saya, berarti..." kata Anemoi.
"Saya Anemoi. Kelihatannya kita pernah bertemu ya agak tidak asing," kata Anemoi berpikir.
"Di cafe," jawab Ares yang memiliki ingatan yang baik.
"AAH!" Kata Anemoi kembali ingat lalu tertawa.
"Jadi begini, kami akan mengadakan Hyakumonogatari," kata Ares memberikan selebaran kepadanya.
"Eh? Pemanggilan arwah? Bercerita sambil menggunakan lilin ya," kata Anemoi membaca keterangan.
"Apa kakak bisa membantu menjadi peserta?" Tanya Ares penuh harap.
"Hmmm tidak masalah aku punya cerita seram," kata Anemoi mantap.
"Bagus!" Seru mereka berdua bersorak.
"Kita bertemu di kuil Saotome pukul 9 malam ya," kata Ares membungkukkan badannya.
"Baiklah, kita bertemu di sana," Anemoi tersenyum menatap mereka berdua.
__ADS_1
Sekilas saat mereka berdua hendak pergi, Poi tidak sengaja melihat foto Teran. Dan Poi berpikir memang gadis itu ada dan Anemoi lah saudara yang dikatakannya.
Empat orang menolak dan lima orang kabur saat tahu nama kegiatannya. Akhirnya sampai pukul 6 sore mereka mendapatkan yang lainnya secara kebut dengan waktu.
Apollo yang sedang bermain bola dengan anak kecil kemudian menunggu bis pulang. Nyx yang sedang membaca komik pun turut ikut, karena akan menyenangkan.
Aiolos yang sedang membersihkan taman toko roti dan terakhir Artemis yang sedang membeli agar-agar susu juga turut bergabung.
"Akhirnyaaa," kata Ares senang sekali melihat delapan nama yang terisi.
"Tapi masih kurang kan. Sisa 2 lagi," kata Poi agak lemas padahal hari sudah berganti menuju malam.
Ares berpikir. "Siapa ya? Jalanan juga sudah mulai sepi apalagi sudah masuk Maghrib,"
"Hei, aku tidak sengaja melihat foto Teran dalam ponsel Kak Anemoi," kata Poi.
"Benarkah? Jadi dia memang nyata ya. Haaahhh aku pikir dia jelmaan," kata Ares lega.
"Aku juga sama untung aku tidak keburu bilang dia hantu," kata Poi.
Sambil berjalan pulang, mereka berdua memikirkan mengenai 2 peserta lagi lalu Ares berhenti.
"AHA! Aku tahu! Sudah, sekarang kamu pulang dan siapkan semuanya yang dua itu lagi biar aku yang urus," kata Ares bersemangat lalu berlari berbalik arah.
"Siapa!? Hei, ARES!" Teriak Poi tapi Ares sudah berlari jauh darinya.
Dan itulah bagaimana akhirnya ide Ares adalah mengajak Eris dan tentunya Arae pasti ikut. Entah dari mana Ares merasa bahwa ada makhluk manis satu lagi yang selalu menemani Eris.
Eris yang tidak tahu menahu bahwa ketujuh orang tersebut dengan jalan takdir kembali dipertemukan lagi.
"Cerita hantu ya," kata Arae.
"Di kuil Saotome. Tempat itu sangat cocok untuk kegiatan seperti ini sih," kata Yuri.
"Kamu tahu kuil itu?" Tanya Arae menatapnya.
"Tahu dooong. Tapi aneh saja kalau kuil itu yang dipilih untuk dijadikan tempat bercerita. Apa tidak akan apa-apa ya?" Kata Yuri yang agak meragu.
"Kenapa?" Tanya Eris agak curiga.
Yuri lalu menjelaskan sambil duduk. "Kabarnya hari ini ada jenazah di kuil itu yang menunggu untuk dikuburkan. Bukankah akan sangat mengerikan kalau mereka berencana menceritakan 100 kisah seram? Aku sih mana mau," katanya merinding.
Eris dan Arae sama sekali tidak tahu mengenai keberadaan kuil tersebut. Eris menduga bahwa ada seseorang yang sengaja membuat mereka menuju ke sana.
"Ya ya, sepertinya kita harus memasang Kekkai ( Pelindung )," kata Arae kembali setelah mengeluarkan bulatan bening dan menyelidiki tempat tersebut.
__ADS_1
Eris terdiam menatapnya disana banyak sekali roh yang berkeliaran, nampaknya biksu memilih waktu untuk mensucikan mereka.
Bersambung ...