Girl Of Darkness

Girl Of Darkness
4


__ADS_3

Reony datang berpura-pura tidak tahu apa yang dikatakan Venus tadi itu dan menaruh roti bakar isi keju di sampingnya.


"Siapa juga yang mau memakan roti bakar di cuaca sepanas ini? Buatkan limun," kata Venus sambil menyeka keringat yang bercucuran.


"Baik, Nyonya," kata Reony kembali ke dalam dapur mobil dengan kelelahan. Lalu kembali setelah dia mengambilkan limun yang sudah dibuatnya dari kediaman Venus. "Silakan," katanya.


Venus lalu mengambil sebelum meminumnya dia tertahan. Mencurigai limun buatannya, "Kamu tidak memakai racun kan?" Tanyanya curiga sambil melihat isi limun tersebut.


"Saya bukan Anda," dalam hati Reony. "Untuk apa saya berbuat seperti itu. Haruskah saya yang meminumnya lebih dulu, kebetulan tenggorokan saya kering," kata Reony agak menantang.


"Siapa tahu supaya suara saya serak seperti kamu saat latihan kasting," kata Venus meneguk habis limunnya dan merasa baik-baik saja.


Reony tahu kalau memang Venuslah pelakunya agar peran Ophelia itu menjadi miliknya lagi. Dia menahan rasa dendam dan mengambil gelas kosong itu kembali untuk kembali ke mobil van.


"Bagaimana Anda tahu kalau suara serak saya bukanlah karena gugup?" Tanya Reony membuat Venus tertawa jahat.


"Bagaimana ya..." katanya cekikikan. Lalu Venus berdiri dari kursinya dan berjalan mendekati Reony lalu berbisik agar tidak ada seorang pun yang mendengar.


"Apa maksudnya Nyonya yang meracuni saya?" Tanya Reony menggenggam gelas dengan gemetaran.


"Kamu ini memang bodoh apa sampai sekarang kamu tidak sadar? Akulah yang membubuhkan bubuk penghilang suara ke dalam limun yang kamu minum," kata Venus tertawa terbahak-bahak.


Reony pucat dan pura-pura terkejut dengan info itu. "Tidak mungkin. Kenapa Anda jahat melakukan itu? Apa salah saya terhadap Anda? Seperti itukah cara Anda memberi semangat pada penggemar?" Tanya Reony dengan marah.


"Hahaha aku tidak memerlukan penggemar. Justru kamulah yang menyebabkan saya melakukan itu. Salahmu? Ya kehadiranmu," kata Venus lalu memegang dagunya dengan kasar.


"Apa?" Tanya Reony menahan wajahnya dan berusaha melepaskan tangan Venus.


Venus melepaskannya. "Suruh siapa kamu berparas cantik? Sekarang aku puas menjadikanmu sebagai pelayan aku. Sampai kapanpun kamulah yang akan menggantikan ayah tuamu sebagai budak ku sampai tua!" Katanya dengan suara sinis.


"Anda jahat!" Kata Reony marah. Air matanya keluar mengingat bagaimana ayahnya pulang dengan keadaan baju yang kotor dan membawa uang 3 gepok.


"Lalu? Kamu mau apa? Sudah miskin, kemampuan akting kamu aku yang atur lho. Sampai kapan pun kamu tidak akan pernah aku ijinkan mengasah kemampuan. Nah, sekarang ambilkan aku peralatan kosmetik. CEPAT! HAHAHAHA," kata Venus mendorong Reony dengan kasar sampai jatuh.


Perlakuannya itu tentu saja terlihat oleh direktur dan produser. Mereka tidak bisa berbuat apa-apa sudah menjadi pemandangan biasa bagi mereka. Pernah mereka menasehatinya agar memperlakukan dengan baik asisten tapi yang didapat, mereka semua dilempar barang oleh Venus.


Reony kemudian berjalan menuju mobil besar miliknya lalu keluar lagi dengan air mata yang keluar deras dari kedua matanya.


"Meskipun sudah tahu, tapi tidak menduga Venus ternyata aktris yang jahat. Lalu ayah..." kata Reony masih teringat wajah kesedihannya.


Saat Reony menutup pintu mobil itu, dia kaget sekali saat tahu Eris berdiri di samping mobil pintu. Lalu semua kosmetiknya jatuh dan dia terduduk


"Ya ampun, nak! Kamu mengagetkan aku. Cari siapa? Kenapa bisa ada anak kecil disini ya? Gawat aku harus membetulkan ini," katanya sambil memungut dan membersihkan kosmetik yang jatuh.


"Yang cocok memerankan Venus hanya kamu," kata Eris dengan dingin.


Reony yang sedang memungut kosmetik mendengarnya dan bersyukur. "Terima kasih nak, tapi sepertinya tidak mungkin kesempatan untuk menjadi Venus sudah tidak ada lagi," kata Reony yang senang mendengar pujian Eris.


"Sayang sekali," kata Eris yang menatap Venus dengan congkaknya menyuruh figuran minggir.


"Oh iya, mau aku antar sampai depan? Mungkin saja orang tuamu sedang mencari kamu disana," tunjuk Reony.


"Orang tuaku tidak ada disini," kata Eris menatap Reony dengan kedua matanya yang datar.


"Hm? Aneh sekali apa kamu penggemar Venus atau artis yang lain? Saya harus kesana dulu ya," kata Reony membelai kepala Eris lalu pergi.


Eris hanya diam memperhatikan Reony yang susah payah membawa semua kosmetik. Venus kesal sekali menurutnya dia sangat lama datang.


"Kamu lama sekali! Sedang apa saja di sana?" Tanya Venus membuka kotak make upnya dan mulai berdandan.


"Maaf, tadi aku mengobrol sebentar dengan anak kecil, kelihatannya dia tersesat meski tidak terlihat seperti itu," kata Reony yang berdiri di samping Venus untuk memegang cermin.


"Anak kecil?" Tanya Venus dia teringat pada sosok anak dingin yang memiliki gelang itu. Dengan panik dan gugup dia melihat ke sekeliling.

__ADS_1


"Iya, dia berdiri di samping mobil Anda, saya juga kaget," tunjuk Reony membuat Venus terkejut.


"Mana? Pantai ini tidak banyak dikunjungi orang mana mungkin ada anak kecil yang bisa datang kemari apalagi ada syuting," kata Venus yang lega mungkin Reony salah melihat.


"Tidak ada? Aneh dia tadi masih berdiri disana dengan rambut panjang putih dan kedua matanya yang sedingin es," kata Reony membuat Venus ketakutan.


"Anak itu apa dia datang untuk menagih gelang ini?" Tanya Venus dalam hatinya. Dia menggenggam erat gelang itu tidak ingin melepaskannya.


"Dia terus menatap Anda. Apa Anda mengenalnya?" Tanya Reony melihat wajah Venus memucat.


"Saya tidak kenal. Sudahlah lupakan saja toh kamu disini bukan untuk menjadi teman mengobrol nya tapi kerja! Jangan sampai kamu bolos!" Teriak Venus meninggalkannya ke suatu tempat.


Lalu kembali dan duduk membuka sekotak rokok.


"Venus, bersiap untuk pemotretan ya," kata salah satu kru.


"Cih! Reo, gantikan aku dulu untuk pengambilan foto ya aku tidak mau lagi! Terkena sinar matahari terus nanti timbul bintik-bintik hitam," kata Venus mengepulkan asap rokok.


"Baik," katanya yang datang.


"Lho, kenapa kamu?" Tanya kru.


"Bu Venus tidak ingin terkena radiasi matahari jadi menyuruh aku yang gantikan," kata Reony agak malu.


"Haaa ya ampun makanya saya keberatan dia yang jadi Venus. Pekerjaan saya yang mengharuskan memfoto nenek tua sebenarnya membuat saya malas. Ya sudah, kamu saja yang masuk," katanya menyiapkan kamera dan lainnya.


Kru lain berdatangan membantu pekerjaannya. "Wow! Kulit Reony yang segar dengan Venus yang sudah longgar mana mungkin bisa disandingkan? Boleh juga nih anak kalau tidak salah, dia asistennya Venus yang gagal menjadi Ophelia ya?" Tanya B menatap wajah cantik Reony.


"Iya, kita bisa memakainya terus tapi jangan kita bilang pada Venus. Lihat wajahnya, memiliki banyak keberanian. Nih, lumayan kamera face juga. Bagaimana?" Tanya A memperlihatkan hasilnya.


Pak produser datang dan melihat Reony. "Kenapa anak itu yang kalian potret?" Tanya sambil memukul buku naskah.


"Aduh! Biasa... Venus tidak mau terpapar matahari lagi jadi menyuruh dia. Pak, bagaimana kalau kita diam-diam memakai anak ini? Lihat untuk foto saja sudah lebih bagus daripada nenek lampir itu," bisik B memperlihatkan.


Meskipun kejadian dulu itu membuatnya sangat malu, sekarang sudah lewat 2 tahun dan bagaikan sekuntum bunga yang sedang mekar, Reony terlihat lebih berkilauan dan menyegarkan.


Sore harinya, Reony mulai membereskan semua peralatan dan menuju mobil dan terkejut Eris sedang duduk menunggu seseorang.


"Kamu masih di sini? Sudah sore ini minuman kamu pasti lelah kan menunggu," kata Reony memberikan kaleng minuman.


Eris terdiam terus meskipun Reony menaruh kaleng itu di sisinya. Reony yang memandangnya hanya menghela nafas lalu membereskan yang lainnya. Dengan keringat bercucuran, kemudian reony duduk di tanah dengan mengibaskan kipas.


"Fiuh! Akhirnya selesai juga. Besok syuting di dalam gedung. Syukurlah. Kamu tidak meminumnya? Tidak haus? Mau aku bukakan?" Tanya Reony lalu membuka dan menyimpannya lagi.


"Kamu punya cermin saku," kata Eris menunjuk ke dalam kantung celananya.


"Bagaimana kamu bisa tahu? Ah ya, karena tadi aku mengelap wajahku dengan handuk basah kan," kata Reony mengambil cermin sakur berukuran burung beo.


"Sebaiknya mulai sekarang kamu buang cermin itu jauh-jauh darimu," kata Eris masih tidak menyentuh kalengnya.


"Aku tidak bisa membuangnya ini hadiah pertama dari ayahku dan ibu. Jadi mana mungkin aku membuangnya begitu saja? Memangnya ada apa dengan ini?" Tanya Reony penasaran.


"Sebagai peringatan saja kuberi kamu sedikit nasehat cermin saku itu mengundang nasibmu jadi terbalik sebaiknya kamu melepaskan cermin itu," kata Eris lagi.


"Hahaha kamu ini senang bercanda ya bagaimana bisa cermin saku ini bisa membuat nasibku terbalik? Toh sekarang saja nasibku sudah buruk dan bahkan diinjak-injak oleh artis yang aku idolakan. Kamu ingin cermin ini?" Tanya Reony memberikan padanya.


"Aku tidak berminat tapi kalau kamu tidak mau mendengarkan nasehatku, apa boleh buat dan satu hal lagi, aku rasa kamu sudah mengetahui apa yang terjadi padamu tahun lalu," kata Eris memandang pundak belakang Reony.


"Ya, tidak aku duga hanya karena takut tersaingi oleh kecantikan paras ku, Venus melakukan itu," kata Reony tertawa sedih.


"Bukan. Bukan soal bubuk serak itu tapi hal lain, kalau kami tidak tahu tanyakan saja pada ayahmu. Bila kamu ingin meraih menjadi bintang utama, lepaskan gelang dari yang dia pakai dan cermin saku itu akan aman. Hanya saja pembayarannya adalah buang cermin saku itu," kata Eris kemudian turun dari bangku.


Reony masih kebingungan. "Kenapa kamu ingin aku melepaskan gelangnya?" Tanya Reony berdiri.

__ADS_1


"Karena sudah melebihi batas peminjamannya dan saatnya berganti pemilik," kata Eris lalu berjalan menjauhi Reony.


Reony masih keheranan lalu melihat kaleng minumannya. "Hei, kamu belum..." kata Reony terpotong Eris tidak ada dimanapun dan ternyata isinya sudah habis. Reony tertawa tapi aneh kapan anak itu minum? Lalu Reony membuang kan kaleng itu ke tempat sampah.


Saat mereka mengobrol, turun burung gagak yang pernah Eris ubah menjadi makanan, dia meminum air kaleng itu sampai habis. Eris hanya terdiam memandanginya lalu gagak itu terbang mengucapkan terima kasih.


Setelah merasa tidak lelah, Reony kembali ke tempat Venus berada yang ternyata sedang rapat dengan Produser di sebuah taman. Venus berjalan bermaksud akan memasuki tapi dia bisa mendengarkan percakapan mereka dengan jelas. Dengan cepat Reony bersembunyi di dalan semak belukar.


"Hah!? Kamu mau memakai Reony sebagai figuran untuk episode berikutnya?" Tanya Venus kaget.


"Ya, besok rencananya akan diuji untuk foto dulu. Untuk selanjutnya, dia akan diurus oleh orang-orang sana, aku sudah bilang pada Direktur," kata produser sambil memeriksa naskah episode selanjutnya.


Venus yang masih merokok geram dan mengepulkan asapnya dengan kasar. "Tidak bisa! Besok anak itu harus memijat wajahku juga masih banyak pekerjaan rumah lainnya," kata Venus.


"Yang benar saja dia itu bukan pembantu kamu! Pantas tidak ada satupun orang yang mau menjadi asisten kamu!"Kata direktur lain menunjuk padanya.


"Lagipula bukankah kamu punya banyak pembantu? Memijat dan menyetrika kan bisa diurus oleh mereka. Bukannya kalau Reony dimasukkan, saham mu pasti akan meningkat naik. Memangnya Reony punya kemampuan memijat?" Tanya orang yang memang tidak menyukai Venus.


"Semua pembantu sudah aku pecat dan Reony yang mengurus semuanya," kata Venus dengan tenang


"Wanita gila!" Kata yang lain membuat Reony tertawa keras.


"Dengar ya, Reony itu anak dari supirku yang sudah tua. Aku juga terkejut putri dari supir yang sudah aku tendang yang dia memohon untuk tidak dipecat. Aku begitu karena ibunya bekerjasama untuk membuat suamiku kabur dengan kekasihnya! Jadi aku buat mereka berdua membayarnya," kata Venus dengan senang.


Kisah itu membuat mereka semua sangat membencinya. "Kamu lebih iblis daripada iblis yang sebenarnya," kata Direktur menyesal sudah membelanya.


"Aku tidak peduli bukankah karena aku juga saham kalian meningkat naik?" Tanya Venus membuat mereka semua terdiam.


"Kamu melakukan sesuatu kan dengan wajah dan tubuhmu? Setiap mulai melakukan adegan, entah kenapa kulit dan wajahmu terlihat segar," kata produser mencurigainya.


"Itu rahasia yang penting aku sudah cukup baik menawari Reony pekerjaan denganku yah, karena aku bisa menyiksanya menggantikan ayahnya yang sudah tua. Dan ya, aku tidak pernah mendengar lagi kabar ayahnya itu mungkin dia sudah mati bersatu dengan tanah rumahnya HAHAHA!" Kata Venus dengan gembira.


Mereka yang mendengarnya hanya bisa menahan amarah, semua berharap Venus jatuh dari karirnya namun apa bisa dikata. Venus adalah artis yang paling banyak kekayaannya, mudah baginya menyewa pembunuh.


"Kamu ini kenapa jadi sadis seperti itu? Dulu kamu sama seperti Reony itulah kenapa kami kagum. Apa yang membuatmu berubah? Karena artis seniormu yang dulu menyiksa kamu juga? Itu kan sudah lama, dan kabarnya dia juga dimasukkan penjara kan," kata Direkturnya bersimpati.


Venus terdiam, ya dia juga mengalami hal yang sama seperti Reony. Diracuni, ditendang sampai kakinya patah, di celakai ditabrak mobil sampai dituduh mencuri perhiasannya. Dengan status yang sama dengan Reony sebagai penggemar artis itu, Venus gembira bisa bekerja dengannya. Ternyata...


"Oh, ternyata Bu Venus juga pernah memiliki kejadian yang sama denganku. Tapi kalau sampai sama perlakuannya, apa bedanya?" Pikir Reony sebal.


"Hanya untuk sandiwara saja bisa kan? Yang penting dia bisa menajamkan kemampuannya. Parasnya yang cantik mirip denganmu di masa muda dulu. Itulah kenapa... saya masih ingin memasukkannya," kata produser.


"TIDAK BOLEH! Jangan membawa soal aku yang dulu, itu membuatku mual pada diriku yang duku sangat bodoh! Sudah aku cukup hentikan pembicaraan konyol ini. Pokoknya anak itu tidak akan pernah aku biarkan berhasil," kata Venus yang berjalan menuju arah semak belukar Reony.


Reony bergegas keluar dan merapihkan pakaiannya lalu berpura berjalan menujunya. Venus yakin Reony mendengarkan perkataannya namun tidak menemukan hal yang mencurigakan.


"Wah wah Reony, kalau mau cerdas singkirkan daun kecil di rambutmu dong. Aku pikir kelihatannya kamu sudah rajin bekerja ya, suatu saat nanti aku pasti akan mencarikan mu kesempatan yang lebih bagus untuk berakting," kata Venus lalu tertawa mengejek.


"Tidak perlu! Sampai kapan pun, Anda tidak akan pernah mengijinkan. Tapi anda tidak tahu saya sudah mendaftarkan diri untuk masuk tes kasting," dalam hati Reony dengan tegar.


"Hahhh sayang sekali ya aku yakin kamu mendengarkan semua perkataannya kan. Pernah ada orang baru seperti kamu yang bekerja dengannya waktu itu dia adalah bibit baru yang baik. Dia melawan Venus lalu bergantung pada sutradara kenalannya dan akhirnya bisa muncul di TV. Lalu Venus campur tangan akhirnya..." kata Direkturnya.


"Orang itu hancur?" Tanya Reony agak pucat.


"Yah begitulah dia menjadi tukang karedok di pinggir jalan. Padahal bakatnya bisa membuat dirinya sangat tenar kalau saja Venus bisa sedikitnya legowo. Kamu juga sayang kalau dipelihara hanya untuk di jadikan tua, tapi mau bagaimana lagi," katanya menepuk bahu Reony lalu pergi bersama kru lainnya.


"Pak Produser, maukah Anda menungguku? Aku akan terus berjuang agar bisa ikut kasting lagi meski bukan untuk Venus," kata Reony dengan tegas.


Pak produser tersenyum dan mengacungkan jempolnya lalu pergi dengan hati yang riang.


"Apa ayah juga sama seperti itu?" Pikir Reony setelah mendengar perkataan Venus dan Pak produser.


Bersambung ..

__ADS_1


__ADS_2