Girl Of Darkness

Girl Of Darkness
11


__ADS_3

"Kakakmu masih di luar negeri, Saka," kata Pamannya kebingungan.


"Ya memang. Paman, aku berangkat sekolah dulu ya," kata Saka berjalan menuju pintu depan.


Pamannya mengikuti. "Paman dan kakakmu tidak suka kalau kamu masih mengikuti grup aneh itu. Paman minta kamu keluar, gabung saja dengan grup yang lebih bermanfaat," katanya.


Saka terdiam, dia juga menyadari setelah peristiwa kemarin malam tubuhnya seperti selalu kehadiran tenaga lalu pundaknya mulai berat.


"Iya, aku juga mulai merasakan hal yang aneh. Tadi malam suaraku kering sekali lalu bahuku berat," kata Saka memijat bahunya.


"Mau istirahat di rumah saja? Nanti Paman beri kabar ke wali kelas kamu," kata Pamannya memperhatikan Saka dari belakang.


"Tidak usah, mungkin saja karena terlalu banyak kegiatan di luar rumah. Pergi dulu," kata Saka membuka pintu.


"Hati-hati di jalan,"


"Iya, Paman." Jawab Saka lalu menuju tempat angkot.


Dalam angkot Saka menghubungi teman-temannya tentang perasaannya sesudah mereka melakukan pemanggilan arwah.


"Teman-teman, pundakku terasa berat," ketik Saka.


"Itu perasaan kamu saja," kata Anta.


"Kami baik-baik saja kok jangan terlalu dipikirkan," kata Ringu.


"Kamu belum makan kali coba deh sarapan sebelum berangkat," kata Linda.


"Masalahnya tenggorokanku juga tiba-tiba kering padahal aku selalu minum sebelum tidur," jawab Saka semua komentar teman-temannya tidak ada yang bersimpati.


"Kok sama ya," kata Arika.


"Aku pikir ini ada hubungannya dengan yang kita lakukan kemarin malam," kata Saka lagi. Ternyata Arika juga mengalami yang sama.


Nemesis membaca keluhan dari Saka dan Arika. "Sudah! Jangan menyangkut pautkan kegiatan kita dengan yang kamu alami. Arika juga kan kamu sendiri semangat. Kamu kurang olahraga pokoknya jangan banyak mengeluh deh, yang lain saja tidak apa-apa kan," kata Nemesis agak sebal.


Sebenarnya yang lain juga mulai ketakutan apalagi dengan Ringu yang seringkali melihat barang-barangnya mendadak jatuh.


Mereka lalu berangkat ke sekolah dan bertemu di depan gerbang. Mereka saling bertemu Saka terlihat tidak semangat.


"Kamu tidak apa-apa? Tadi malam kamu batuk-batuk kan," sapa Arika yang menghampirinya.


"Iya aneh sekali biasanya tidak seperti itu," Saka tersenyum pada Arika.


"Ayo dong semangat kak Artemis dan Apollo mau datang ke sekolah," kata Linda senang.


Saka memperhatikan semua temannya yang semangat dan senang, dia hanya menunduk lalu menuju kelasnya tanpa menyapa mereka semua. Entah kenapa menurutnya mereka menjadi berubah saat kedua kakak ganteng itu masuk ditambah lagi Saka merasa Nemesis semakin membanggakan diri.


Hanya karena Artemis memperhatikannya terus, toh dia juga menyukai Artemis. Termasuk Arika yang menurutnya alim dan bisa diandalkan sebagai teman ternyata sama saja.


Dalam kelas, Saka bergabung dengan grup lain dan dia lebih nyaman disana. Grup Nemesis datang dan memperhatikan Saka tapi mereka tidak memperdulikannya.


Kelas berlangsung dengan khidmat 2 pelajaran berselang seling keluar masuk tiba-tiba Arika merasa pusing yang amat sangat.


"Arika, kamu tidak apa-apa? Hidungmu mimisan," kata Guru yang mendekatinya lalu menyeka hidungnya yang berdarah.

__ADS_1


Semua murid memandangi Arika termasuk Nemesis cs, mereka kaget sekali. Teman sebelahnya berdiri dan menyeka hidungnya.


"Darahnya keluar banyak," kata teman sebelahnya.


"Ya ampun! Maaf, Bu," kata Arika lalu memegang saputangan milik temannya itu.


"Kamu mau ke ruang perawat?" Tanya Guru.


"Aku antar," kata teman sebelahnya. Arika berdiri sempoyongan.


"Iya. Permisi, Bu," kata Arika lalu pergi dengan ditemani temannya.


Nemesis terdiam, yang lainnya juga. "Ini kan kejadian biasa tidak ada hubungannya dengan kejadian kemarin malam," katanya.


Saka juga melihat kejadian itu dan terkejut. Dia memandang Nemesis yang sekarang agak berkeringat, keadaan Saka pun tidak terlihat sehat. Dia merasa perutnya ingin muntah tapi dia tahan.


Suasana kelas menjadi riuh, guru menenangkan para murid. Semenit kwmudian mereka berdua masuk kelas lagi kali ini Arika menggunakan masker yang sudah dipakaikan kain.


Mereka belajar dengan tenang sampai lima belas menit. Lalu Saka terbatuk-batuk, lama kelamaan semakin keras dan suaranya seperti berdahak.


"Saka, tidak apa-apa?" Tanya teman yang lainnya.


"Ada apa?" Tanya guru tadi yang sedang merapihkan bukunya.


"Saka dari tadi batuk terus lalu lama kelamaan batuknya berdahak," lapor temannya yang lain.


"Kamu kenapa? Tidak enak badan?" Tanya Guru itu khawatir.


Saka berhenti batuk dan memandangi gurunya lalu darah segar keluar dari mulutnya. Teman yang lain ngeri melihatnya mereka membantu Saka.


"Kalian tenang semuanya. Saka, pakai saputangan Bu Guru. Kamu..." kata Guru yang tidak sempat meneruskan kalimatnya.


"To...long," kata Saka yang kehabisan nafas. Lalu tidak sadarkan diri.


Nemesis dan yang lainnya hanya berdiri mematung menatap Saka yang di bopong banyak murid lain.


"SAKA!! BERTAHANLAH! KAMU KENAPA?!" Tanya Guru itu sambil menepuk pelan pipi Saka supaya sadar.


Beberapa guru datang dan menghubungi ambulans. Arika menatap Saka tampaknya dia seperti tidak menganggap itu sesuatu yang aneh.


"Itu akibatnya bila meremehkan kami," kata Arika dengan suara bukan dirinya.


Anta mendengar apa yang Arika katakan. "Arika, kamu tadi bilang apa?" Tanya Anta tapi Arika tidak memperdulikannya.


"Satu per satu kalian akan kami habisi," kata Arika lagi. Ringu dan Anta mendengarnya karena tempat duduk mereka tidak jauh dari Arika.


Mereka berdua tegang dan ketakutan. Kemudian Arika sadar kembali dan mimisan. "Uhuk uhuk," kata Arika.


"Arika?" Tanya Ringu tangannya gemetaran.


"Ya? Kemana semua orang? Saka kena... KYAAAA!!" Teriak Arika mihat bangku Saka berlumuran darah.


Anta dan Ringu terdiam melihat Arika yang biasanya, mereka saling berpandangan. Lalu siapa tadi yang berbicara dingin menggunakan Arika?


"Ini semua aku yakin karena kemarin malam," kata Linda merinding.

__ADS_1


"Aku juga berpikiran sama apalagi tadi Arika bicara dengan suara yang serak," kata Ringu setengah berbisik.


"Arika, kamu batuk? Berdarah?" Tanya Anta cemas dan takut.


"Tidak setelah batuk mimisan. Saka kenapa?" Tanya Arika dengan suara yang biasanya.


"HENTIKAN! INI SEMUA HANYA KEBETULAN!" Kata Nemesis memecah keheningan mereka. "Arika saja mimisan karena tidur terlalu malam, hanya itu," katanya sambil duduk dengan kesal.


Oelajaran kembali berlangsung, beberapa guru membawa meja Saka yang berlumuran darah ke luar sekolah. Murid lain membersihkan lantai kelas ketika itu juga Artemis dan Apollo datang dengan mobil milik Artemis.


Mereka sempat melihat ada ambulans yang keluar dari sekolah Nemesis. Artemis memandang Apollo lalu mereka memasuki gedung ruangan Informasi.


"Assalamualaikum, Bu permisi saya mau bertanya," kata Artemis dengan sopan.


"Walaikumsalam. Ada apa ya Pak?" Tanya guru itu tersenyum.


"Saudara saya bersekolah di sini. Kemarin dia mengenalkan saya dengan beberapa temannya dan kami bermain sanpai tengah malam. Bermain di Mall, saya mau bertanya apa mereka berenam ini sekolah biasa?" Tanya Artemis memberikan foto bersama mereka.


"Ah iya mereka semua masuk kok meski ada satu orang yang kelihatannya sedang sakit," kata guru BP.


"Kalau boleh tahu yang mana?" Tanya Apollo.


"Yang ini. Saka, baru saja dia dibawa oleh mobil Ambulans," katanya.


"Kenapa Bu?" Tanya Artemis agak curiga.


"Bagaimana ya mungkin dia sakit atau bagaimana, dia tiba-tiba batuk darah dan menyemburkan ke sekitarnya. Saya juga kaget dari observasi sebelum dia masuk sekolah, kesshatannya baik kok. Sejak kelas 1 juga tidak ada kejadian apapun," kata guru itu menatap informasi medis.


"Boleh kami tahu dimana dia akan di rawat? Kalau tidak keberatan," kata Aetemis senyum.


"Tentu saja karena kalian teman mereka juga," kata guru itu lalu memberitahukan dimana Rumah Sakit yang ambulans tuju.


Dengan waotu yang agak sempit, mereka bergegas lari menuju mobil dan melaju dengan cepat. "Ini ada hubungannya dengan yang kemarin. Aku yakin!" Kata Artemis.


"Berdoalah kita masih sempat mendatanginya," kata Apollo.


Sesampainya di Rumah Sakit mereka mendnegar suara teriakan dari Saka ya g ditenangkan oleh Paman dan Bibinya serta orang tua mereka yang kembali dari luar kota.


Artemis dan Apollo melihat ada banyak suster dan dokter yang berlarian menuju suatu kamar. Mereka mengikuti dan melihat penampakan Saka yang menyeramkan.


Rambutnya berantakan, wajahnya penuh darah dan baju seragamnya sudah penuh warna merah.


"AKAN SAYA BUNUH SEMUANYA! BERANI MEMANGGIL TAPI TIDAK BERANI MENGHADAPI KAMI, SEENAKNYA MENGUSIR TIDAK SEPERTI MEREKA MEMAKSA KAMI DATANG!!"


Adalah perkataan Saka yang terakhir kalinya lalu ambruk.


"Dokter, anak saya bagaimana keadaannya?" Tanya Ibunya.


Dokter memeriksa dan menggelengkan kepala. "Maaf, sudah tidak ada apapun," kata Dokter.


Artemis dan Apollo lemas mengetahui Saka sudah tidak ada di dunia lagi. Bola kehidupan keluar dengan terpaksa lalu terbang menuju keluar Rumah Sakit.


Artemis tentu melihat itu dan berlari keluar. Apollo keheranan lalu mengikuti.


"Ada apa?" Tanya Apollo memgejar Artemis.

__ADS_1


Di luar, bola itu terbang jauh. Artemis ngos-ngosan, dia heran apa itu yang keluar dari tubuh Saka?


Bersambung ...


__ADS_2