Girl Of Darkness

Girl Of Darkness
6


__ADS_3

"Kenapa sih aku malah membeku saat dia mengatakan memiliki seseorang yang dia sukai? Kan itu wajar ya," kata Almira bicara sendiri. Sudah tentu Nana mendengarnya dan tersenyum.


"Kamu ini maunya apa sih? Kan kamu sendiri yang bilang kalau lebih suka Apollo. Lalu kamu merasa gelisah saat mendengar Tana bilang dia memiliki perempuan yang ditaksir. Kamu jadi tidak semangat?" Tanya Nana memandangi temannya.


"Yaaa..." jawab Almira menundukkan kepalanya. "Bukan begitu juga sih. Tapi pasti perempuannya stres tuh, dia kan usil sekali," kata Almira.


"Kamu kok jadi sok tahu? Usilnya laki-laki biasanya karena suka. Kamu tidak mau tahu kenapa dia selalu menggoda?" Tanya Nana menaham tawa.


Almira mendengus mana mau dia tahu. Sudah terlanjur menyukai orang lain juga.


"Terus, dia memberitahukan permintaannya sama kamu?" Tanya Nana.


Almira menatap Nana kosong. Nana menepuk dahinya. "Aku tidak tahu," kata Almira bengong.


"Ya ampun. Tidak tahu itu apa karena kamu tidak mau mendengar lebih lanjut atau..." kata Nana memberikan petunjuk.


Almira menggelengkan kepalanya. "Aku benar-benar tidak tahu!" Katanya enggan menatap Nana.


"Kamu sudah tanya bagaimana sosok perempuan yang dia taksir?" Tanya Nana menyelidiki, ada kemungkinan Almira tahu.


Almira diam, tidak membantah ataupun menjawab. Ada perasaan enggan mengetahui siapakah perempuan itu.


"Kamu itu ya harusnya kalau memang mau membantu..." kata Nana.


"Aku hanya tidak ingin mendengar hal itu keluar dari mulutnya. Dia juga membuat aku kecewa mengatakan dengan wajah yang yakin, bahwa aku adalah seorang perempuan yang memiliki kemampuan tali kasih di tangan ini," kata Almira menunjukkan tangannya pada Nana.


Nana menghela nafas, salahnya dan ketiga temannya membuat kabar itu sampai juga di telinga Tana. Sekarang, entah Tana menyukai temannya itu karena kemampuannya atau memang tulus.


"Itu bukan salah kamu," kata Nana agak menyesal. Gara-gara mereka membuat asmara Almira agak terganggu.


"Dan aku sudah menduganya perempuan seperti apa yang berhasil membuat Tana menyukainya. Karena itu tidak salah kan aku telah berpaling?" Tanya Almira.


Nana hanya terdiam, sulit membuat Almira mengetahui perasaan Tana yang sebenarnya. Karena ketidakpercayaan dirinya termasuk tangan kanannya.


"Tapi," kata Nana yang kemudian dipotong oleh Almira.


"Tana sedang mendekati perempuan itu selama aku juga anggota DKM. Aku tahu kabar soal tangan ini pasti sampai kesana, aku hanya... tidak mau mendengar namanya," kata Almira memandangi pemandangan lapangan dari jendela.


"Jadi intinya kamu sekarang sedang galau ya. Lalu bagaimana dengan Apollo?" Tanya Nana.


"Coba bagaimana?" Tanya Almira.


Nana mendekatinya. "Jabat tangannya,"


Almira menganga mendengarnya, dia membeku.


...Jabat tanganku mungkin untuk yang terakhir kali...


...Kita berbincang tentang memori di masa itu...


...Peluk tubuhku usapkan juga air mataku...


...Kita terharu seakan tidak bertemu lagi...


~ Terdengar lagu Sheila On 7 di belakang cerita ~

__ADS_1


"Haruskah?" Tanya Almira masih terkejut tapi kemungkinan tidak salah juga.


"Harus! Kamu pasti sudah jabat tangan dengan Tana kan?" Tanya Nana.


Almira mengangguk, dia tidak memberitahukan Nana bahwa niatnya tidak memakai hati karena terguncang dengan perkataan Tana.


"Kamu bisa kan menghubunginya, punya nomor dia karena pekerjaan ayahmu itu," kata Nana.


Eris berada di sebelah Nana mendengarnya, menutup kedua tangannya dan pergi menghilang.


"Ada sih. Aku simpan nomornya saat melihat nomornya bila Ayahku membutuhkan bantuan lagi," kata Almira memperlihatkan isi ponselnya.


"Bagus!" Seru Nana.


"Kalau dia berjabat tangan denganku dan aku memberikan pernyataan..." kata Almira agak takut.


"Kalau memang perasaannya sama pasti akan berbalas. Tapi kalau tidak, kamu jangan sedih. Yakinkan dan siapkan mental mu deh," kata Nana menepuk lembut bahu Almira.


Takut. Tapi harus dibuktikan. Kecewa? Almira menarik nafas dan siap!


Nana mengerti kegelisahan temannya meskipun dia juga menyukai Apollo. Tidak berharap Almira ditolak, tapi melihat Apollo yang cukup cuek mungkin.


"Baiklah, sepulang sekolah saja bagaimana?" Tanya Almira.


"Pulang sekolah? Kamu bisa memikirkannya dulu kok. Aku tidak memaksa," kata Nana kaget.


"Tidak, tidak aku ingin ini segera berakhir. Aku juga ingin tahu bagaimana perasaannya," kata Almira yakin.


Sepulang sekolah masih agak siang, dengan yakin Almira menghubungi Apollo. Nana bersembunyi enggan mengganggu dan menguping. Dia beli Crepes di seberang jalan.


"Ada apa? Kamu ingin bertemu," kata Apollo yang berdiri di depan Almira.


Almira serta merta memajukan tangan kirinya ke hadapan Apollo yang kebingungan, sambil menutup matanya.


"Maksudnya? Memangnya kita sedang marahan?" Tanya Apollo tertawa.


Almira malu sekali. Dia sebegitu gugupnya sampai langsung memberikan tangannya.


"Lagipula jabat tangan lebih sopan menggunakan yang kanan kan," kata Apollo senyum.


Lebih malu lagi, Almira menyembunyikan tangan kirinya. "O-oh ya aku lupa saking gugupnya," katanya.


"Gugup? Kenapa?" Tanya Apollo berpikir.


Almira tidak bisa mengatakannya, terlalu malu ternyata kalau berhadapan dengan orangnya meskipun sudah sering mengobrol. Karena kegiatan DKM.


"Aku ingin sekali saja bisa berjabat tangan dengan Kakak," kata Almira mengakui.


Apollo berjalan melewatinya dan duduk di beton yang berbentuk kursi. "Sini duduk," katanya.


Almira ikut duduk.


"Untuk apa berjabat tangan segala? Aku tidak mau melakukannya karena tidak jelas," kata Apollo.


"Kenapa, Kak? Tidak akan aku jahili kok," kata Almira tetap memaksa.

__ADS_1


Apollo garuk-garuk kepalanya. "Kamu kenapa sih?" Tanyanya dengan lembut menatap Almira yang memerah.


"Begini... Kalau Kakak... Memiliki... Wanita yang ditaksir... Itu akan... Berjalan lancar. Kalau berjabat tangan denganku," kata Almira menahan malu dan takut.


"Hah?" Tanya Apollo lalu berpikir. "Oh! Apa yang dikatakan Tana itu ya?" Tanyanya mengerti.


"Eh? Tana ada cerita? Soal..." kata Almira kaget dan sekaligus kecewa.


"Iya soal tangan kanan kamu tapi... aku tidak percaya dengan hal begituan jadi aku menolak bersalaman. Maaf ya," kata Apollo mengatupkan kedua tangannya.


Ada rasa sedih, kecewa tapi juga senang. Baru Apollo seorang yang tidak mempercayainya.


"Jadi Kakak tidak percaya?" Tanya Almira.


"Aku yakin dalam posisimu sangat sulit bukan. Pasti banyak teman-teman dan orang lain ingin membuktikan kabarnya. Kalau mau berhasil dengan seseorang ya harus berusaha sendiri kan bukan memakai hal curang," jelas Apollo.


Almira meneteskan air matanya dan Nana terdiam, dia menduga-duga Apollo membentak atau berkata sesuatu.


Apollo langsung mengeluarkan permen coklat yang sengaja dia beli sebelum menemui Almira. Apollo tidak mengejeknya, dia sangat mengerti perasaan itu pasti membebani Almira.


Almira membuka dan memakannya, perasaannya jadi tenang. Apollo tertawa melihatnya dan meminta bungkus permennya untuk dia buang.


"Lalu, Kakak punya seseorang yang disukai?" Tanya Almira.


Apollo menggelengkan kepalanya. "Untuk saat ini, aku tidak ingin memikirkan hal itu. Kalau sudah waktunya, pasti aku pikirkan," kedip Apollo pada Almira.


Kini Almira tahu tidak perlu bersalaman pun, mengerti apa maksud kata-kata Apollo. Bahwa dia menolak gadis manapun untuk dekat, pastinya ingin kumpulkan uang dulu.


Angin membuat rambutnya kembali berantakan dan Almira tertawa.


"Aduh, rambutku ini," kata Apollo sebal.


"Kakak butuh jepit rambut. Aku ada," kata Almira.


Mereka mengobrol bercanda dan Almira kembali ceria lagi. Nana bernafas lega.


"Lagipula..." kata Apollo kembali serius.


"Ya, Kak?" Tanya Almira memandanginya.


Apollo tahu bahwa Almira kemungkinan menyukainya sebagai seorang laki-laki bukan hanya fans biasa. Sayang sekali karena Apollo pun ada rasa sayang.


"Aku berbeda keyakinan denganmu dan tidak mungkin bisa bersama bukan?" Tanya Apollo menatap Almira dan tersenyum.


Almira membeku dan mengusap kedua matanya, ah ya dia lupa keyakinan mereka berbeda. Mungkin itulah kenapa Nana meyakinkan dirinya dengan Apollo. Almira lupa, Nana juga berbeda keyakinan dengannya.


Nana lebih banyak kesempatan dengan Apollo dibandingkan dengannya. Apollo lebih menganggap Almira sebagai adik karena dirinya anak tunggal.


"Ya Kak. Maaf ya aku lupa," kata Almira menyapu air matanya.


"Untuk apa minta maaf? Hayo! Jangan menangis, dong. Aku selaku melihat kamu sangat kuat menghadapi Tana yang selalu usil, karena dia menyukai kamu," kata Apollo memberikan tisu.


Almira menatap Apollo. "Apa? Suka aku?"


"Kamu juga kuat menghadapi ibu-ibu yang super kepo soal tangan kananmu. Aku menganggap kamu sebagai adik, tidak apa kan? Itu aku katakan juga pada Tana yang cemburu, kita sangat dekat," kata Apollo lagi.

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2