Girl Of Darkness

Girl Of Darkness
7


__ADS_3

"Pak, benarkah kami di sini untuk bertahan dan selamat?" Tanya Yuri membuat Yoshi agak terkejut.


"Darimana Anda bisa tahu mengenai itu?" Tanya Yoshi.


"Ini. Ada kata tersembunyi. Bisa Anda jelaskan?" Tanya Yuri menunjukkan kata berwarna merah dan hitam.


Serentak semua peserta mulai mengeluarkan selebaran iklan tersebut, Yoshi hanya berdiam diri melihat semuanya.


"Benar. Ada kata selamat dengan tinta merah dan hitam. Apa maksudnya? Ini hanya permainan saja kan?" Tanya Rey dari tim yang ketiga.


"Itu adalah selembaran yang dulu, kami memakainya karena isinya sama-sama menantang kalian untuk tinggal seminggu," kata Yoshi.


"Tapi ini mencurigakan. Rumah ini benar-benar aman kan?" Tanya Sani.


"Saya hanya diberitahu saja bahwa semua peserta yang bersedia ikut hanya bertahan hidup disini. Kalau ada yang lain, kalian bisa lihat saya dan pelayan lain disini masih hidup kan," kata Yoshi memperkenalkan 10 pelayan laki-laki dan 10 pelayan perempuan.


Mereka bernafas lega melihatnya dan menatap tajam ke arah Eris. Eris tersenyum secara tersembunyi menatap 20 pelayan di rumah itu.


"Maafkan salah satu anggota kami, dia hanya ingin Bapak lebih menjelaskan dengan detil," kata Ares tersenyum.


Senyum Ares tentu saja membuat semua perempuan luluh dan tidak mempermasalahkan lagi. Sedangkan Eris tidak bergeming dalam posisi dinginnya menatap yang lain.


"Tenang saja, di tim kami ada Olive yang tak lain adalah murid Profesor Oliver D kita semua pasti akan aman HOHOHO!" Kata Rika dengan suara yang keras.


Olive hanya bertingkah bangga dengan yang dikatakan oleh Rika. Semuanya kaget memandanginya.


"Lalu apa kamu bisa memperlihatkan PK?" Tanya Ares.


"Dia hanya mengerti bahasa Jepang saja," kata Rika.


"Aah.. PK o misete moraemasu ka? ( Artinya sama dengan yang ditanyakan Ares pertama )," tanya Ares sekali lagi membuat Olive kaget.


"Anata wa nihongo o hanasemasu ka? ( Kau bisa bahasa Jepang? ) Kao ga kangokujin ppoinoni ( Padahal wajah kamu seperti orang Korea )," kata Olive tampak mengesankan.


Semua orang disana tentu saja hanya beberapa yang mengerti apalagi Eris. Sisanya bertanya apa yang Ares dan Olive bicarakan.


Ares tertawa bahwa dia menjelaskan bahwa paman dan bibinya sering mengajarinya bahasa Jepang. Olive mengangguk mengerti.

__ADS_1


"Gomen nasai, mukeikaku ni wa dekimasen ( maaf untuk itu tidak bisa dilakukan secara sembarangan )," kata Olive mengenai PK.


"Agak mencurigakan ya," bisik Ara pada Yuri. Yuri mengangguk setuju.


Kemudian mereka semua ditempatkan ke dalam ruangan besar dengan adanya ruangan lain. Jarak mereka bersebelahan, namun lumayan berjarak karena tidak boleh ada suara lain.


Sudah tentu kamar laki-laki terpisah dengan yang perempuan. Anita memasuki tiap ruangan tim lain lalu memasuki ruangan tim Ares.


"Wah, semua ruangan sama besarnya ya," katanya menatap ukuran dan tinggi atap.


"Kamu dari tim 3 ya? Siapa namanya?" Tanya Kay dengan gaya menggombal.


Anita bergeser, "Anita. Aku hanya berkeliling saja," katanya lalu pergi membuat Kay kecewa. Kemudian datanglah tim Chris masuk ke ruangan mereka dan beberapa menit mereka semua sudah akrab dekat.


"Kalian menyenangkan ya tidak seperti timnya Rika," kata Mila.


"Hahaha bisa saja," kata Fuji tertawa.


"Menurut kalian yang bernama Olive itu mencurigakan tidak sih?" Tanya Sani.


"Aku baru tahu kalau Prof. Davis bisa punya murid," kata Rio menyisir rambutnya.


"Iya juga sih kan Prof itu sangat sibuk di negaranya, mana mungkin bisa punya waktu mengangkat murid," kata Iran berpikir.


"Apa dia palsu?" Tanya Yuri membuat yang lainnya setuju.


"Entahlah, karena bermacam orang kan yang ingin uang 10 juta termasuk kita," kata Sani meminum air.


"Apa kalian tahu alasan kenapa kita tidak boleh pergi kemana-mana sendirian?" Tanya Yuri memandangi mereka.


"Ah, soal itu ada kabar yang tidak enak. Kalau dengan kami kebetulan ada beberapa Otuber kan, nah menurut cerita mereka rumah ini menyembunyikan sesuatu yang mengerikan," kata Mila.


"Mila, apa kamu memang benar seorang miko?" Tanya Dio penasaran.


Mila lalu bangkit dan kembali ke kamarnya, semua orang memarahi Dio disangkanya Mila marah. Namun kembali lagi dengan membawa baju seorang miko dan alat sejenis lidi.


"Jadi?" Tanya Mila memperlihatkan itu.

__ADS_1


"Baiklah baiklah," kata Dia angkat tangan.


Eris berdiri dan duduk bersama Yuri di tengah ruangan, semuanya memandangi Eris dengan aneh. Karena penampilannya hampir tidak ada warna selain hitam.


"Tidak apa-apakah kamu meninggalkan kuil?" Tanya Eris membuat yang lain agak kaget. Eris sangat jarang sekali berbicara.


Mila tersenyum menurutnya Eris tahu bahwa memang dirinya Miko asli. "Tidak apa, hanya seminggu ini," kata Mila membuat semua orang kaget.


"Chris dimana?" Tanya Kei mencari-cari.


"Dia sedang membacakan doa di ruangan kita, menurutnya ada aura yang aneh," jelas Rio.


"Lalu kenapa kamu tidak ikut juga? Jangan-jangan biksu palsu," kata Mila dengan enteng.


"Enak saja! Aku disuruh Chris untuk jaga kalian semua disini. Kamu saja yang palsu," kata Rio membalas. Mereka hanya tertawa melihat pertengkaran itu.


Lalu datanglah Olive dengan cara berjalannya yang terlihat anggun, Yogo dan Tora masuk dengan bergaya keren. Olive menutup mulut dan hidungnya seolah-olah ingin muntah.


"Sorehanandesuka? ( Ada apa? )" Tanya Ares memandangi Olive.


"Anata no heya ni wa warui ora ga tadayotte imasu! ( Ruangan kalian auranya parah! Ada bau yang tidak enak hebat ya kalian bisa tahan )," kata Olive yang masih bertingkah.


Semua yang ada disana memandangi Olive dengan tatapan aneh.


"Anata wa ekusoshisutodesu ka, soretomo nandesuka? ( Kamu ini exorsist atau apa sih? )," tanya Sisna sebal. Menurutnya tidak ada bau yang aneh di ruangan ini.


Beberapa orang yang tidak mengerti dijelaskan oleh Ares dan Eris masih terus mengamati Olive.


"Kogeta nioi ga shite, fukaina ora ga tadayoimasu ( Ada bau gosong lalu aura yang tidak enak )," kata Olive lagi menunjuk suatu tempat. Yogi dan Tora merinding mendengarnya.


"Lalu kami harus bagaimana?" Tanya Dani dan Fuji yang sudah percaya saja.


Sisna dan Mila hanya menghela nafas mendengarnya. Sani mendengarkan dan menggelengkan kepala, memang benar ada yang mencurigakan dengan Olive.


"Bau yang dia maksud mungkin parfum ini ya? Ini kan zaitun untuk dupa. Masa sih murid Davis sampai tidak tahu? Katakan itu padanya," kata Sani menunjukkan parfumnya.


Ares mengatakannya dan membuat Olive agak gugup dan salah tingkah.

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2