
"Lalu hidupmu berubah di usia 20 tahun. Bertemu dengan Nyx, dia yang tidak mengenalmu mendekati dan mengajakmu untuk ikut dengannya. Dan nasibmu berubah karena kehadirannya," kata Eris mengakhiri.
Aiolos tertawa malu tentu dia ingat, Nyx tidak peduli betapa kotornya dia dan tidak mengenalnya. "Ah ya, semenjak itu dia selalu menganggap aku sebagai kakaknya dan banyak membantu. Bagiku dia adalah adik tersayang yang tidak pernah aku miliki,"
"Ikatan kalian memang dalam sejak dahulu," kata Eria menekan.
Aiolos bengong mendengarnya. "Dahulu? Tapi aku kan baru kenal dia dia usia 20 tahun. Kalau sejak dulu artinya dari lahir atau bagaimana?" Tanya Aiolos yang tidak dijawab oleh Eris.
Eris mengakui Aiolos yang sekarang berbeda dengan yang ada di dunianya, mereka tidak ada hubungan sama sekali tapi sumber kekuatannya memang cukup besar.
"Kamu banyak terlibat dengan hal-hal mistis ya," kata Eris memandangi asap hitam yang dia lihat.
"Apa aku bisa normal seperti Eria?" Tanya Aiolos berharap.
"Apa kekuatan seperti itu mengganggu?" Tanya Eris.
Aiolos mengangguk dengan mantap. "Ya, aku seperti melihat sesuatu atau benda yang bertuah, aku bisa melihat namun tidak bisa membantu apapun,"
"Sulit sekali," jawab Eris melihat aura hitam dan biru gelap menghiasi tubuh Aiolos.
"Jadi memang tidak bisa ya. Sudah kuduga," kata Aiolos menutup wajahnya.
"Memangnya aku bilang tidak bisa? Aku hanya berkata sulit sekali bukan berarti tidak bisa membantu," kata Eris berdiri.
"Eh, lalu?" Tanya Aiolos.
"Sulit artinya tidak mungkin bisa secara instan seperti Eria. Kasusnya berbeda denganmu, ada yang tidak sama denganmu," kata Eris.
Aiolos merenung lalu berdiri juga. "Lantas bagaimana caranya, perlahan juga aku bisa bersabar,"
Eris berpikir lalu mendapatkan ide sambil berjalan. "Bekerjalah disini akan aku jamin kekuatanmu sedikit demi sedikit akan pudar," kata Eris menatap Yuri tengah membuat sesuatu.
"Aku? Bekerja disini? Tapi bagaimana dengan Nyx? Aku tidak enak kalau harus berhenti bekerja di Cafe," kata Aiolos.
"Aku tidak memintamu berhenti bekerja dari Cafe bukan," kata Eris membuat Aiolos bingung.
Raven datang untuk mengisi teh Aiolos. "Kamu benar-benar tidak tahu apa-apa tentang toko Eria ya,"
"Eh? Eh?" Tanya Aiolos.
"Toko ini tidak mengenal waktu. Aku tahu kamu bekerja di Cafe, kamu bisa datang kemari kapan saja di waktu apa saja," mata Eris.
"Kapan saja?" Tanya Aiolos menganga.
__ADS_1
"Benar. Bila kamu ada sedikit waktu datanglah, saat kamu masuk ke dalam toko ini maka waktu akan terhenti di dunia nyata mu. Intinya kamu tidak perlu keluar dari pekerjaanmu yang sekarang. Temanmu juga tidak perlu tahu," kata Eris.
"Waktu akan berhenti? Benarkah? Lalu kalau begitu, hari Senin aku disini maka disana..." kata Aiolos berpikir.
"Waktu akan terhenti dan berjalan kembali setelah kamu keluar dari toko. Ingatan mengenai kamu pada orang-orang akan ikut terhenti juga," kata Yuri yang telah mengalami hal itu.
Eris menatap Yuri untung saja dia hanya mendengarkan soal pemberhentian waktu di dunia manusia dan dalam toko. Yuri akan dikeluarkan dari toko mengingat usianya sudah 25 tahun.
"Kamu bekerja disini juga?" Tanya Aiolos menatap Yuri.
"Juga?" Tanya Yuri. Aiolos menutup mulutnya.
"Kan aku bekerja disini maksudnya," kata Raven muncul.
"Aaah benar juga. Iya aku bekerja disini. Aku juga terkejut awal bekerja lalu keluar, waktu berhenti. Tapi saat pulang, waktu kembali normal. Karena itu juga aku jarang bolos dari kuliah," kata Yuri tertawa.
"Menguntungkan sekali," kata Aiolos tertawa.
"Memangnya ada apa sih? Kenapa membicarakan soal Waktu yg berhenti?" Tanya Yuri bingung.
"Yuri, bantu aku memindahkan ramuan di kamar," kata Raven langsung menarik dirinya masuk.
"Kalau aku bekerja disini lalu bagaimana gadis itu?" Tanya Aiolos.
"Apa dia akan mau?" Tanya Aiolos.
"Harus karena waktu untuknya telah berakhir di toko ini," kata Eris kemudian hendak mengangkat baki itu.
"Jangan. Aku saja yang angkat karena akan menjadi pegawai disini. Ditaruh dimana?" Tanya Aiolos.
Ella muncul dan menunjukkan tempatnya. Toko Eris berdengung, Eria tahu salah satu dari kedua harus keluar. Eris menutup kedua matanya akan datang beberapa pelanggan dan dia tersenyum salah satu pembeli adalah takdir Yuri.
Eris menantikan kedatangannya saat Aiolos masih disuruh oleh Ella memasukkan sesuatu dan Yuri ikut membantu.
TING!
Dentingan bel pintu berbunyi, Ella sudah ada di depan tiba-tiba dan menyambut mereka semua. Aiolos bengong dan Yuri kembali ke dalam Cafe.
Empat orang laki-laki dan dua perempuan berjalan memasuki toko sambil mengobrol dengan serius. Mereka menunduk pada Ella dan melihat-lihat toko.
"Wah, ada Cafe juga," Kata Aiolos.
"Tentu saja," kata Yuri mengedipkan mata.
__ADS_1
Aiolos lalu membantu untuk menjadi koki dan Yuri takjub melihat kecekatannya. Tepat perasaan Eris, Aiolos bisa mengurus soal dapur dan Cafe sebagai pengganti Yuri nanti.
"Wah, toko ini isinya nyaman ya kalau dari luar tidak terlihat besar," kata Sani dengan senang menatap sekelilingnya.
"Aku baru tahu ada toko seperti ini," kata Fuji membuka mantelnya.
"Silakan menunya," kata Raven memberikan masing-masing ke semua orang.
Mereka semua memesan banyak makanan berat serta bermacam-macam roti.
"Kalian jadi kan ikut gabung?" Tanya Sani mengeluarkan lembaran.
"Tentu saja. Aku, Dani dan Kay setuju akan ikut serta," kata Dio sambil menghitung.
"Tapi kita kekurangan orang nih, tiga orang lagi," kata Dani memandangi sekeliling dan menangkap Aiolos, yang diberikan seragam kerja oleh Yuri. Lalu Eria yang tengah membaca buku yang aneh.
Dio mendapatkan ide gila! Dia kemudian beranjak sambil merapihkan bajunya membuat teman-temannya saling berpandangan.
"Permisi. Maaf," kata Dio.
"Ya? Mau pesan tambahan?" Tanya Aiolos dengan ramah.
"Aku ingin mengajak kalian untuk berpetualang. Kalian mau ikut tidak?" Tanya Dio tanpa berbasa basi.
Eris menatap Dio dari balik bukunya dengan tajam, begitu juga Raven.
"Ah, maaf Anda harus meminta ijin pada pemilik toko. Kami hanya pegawainya," kata Aiolos menunjuk pada Eris.
"Ayolah, masa harus ijin ke pemilik segala? Tidak akan lama, hanya seminggu," kata Dio.
"Tapi bosnya adalah nona ini," kata Aiolos lagi.
Dio berpaling pada Eris dengan terkejut dan menelan ludah. Dia tidak tahu kalau pemiliknya memang ada disana.
"Wow! Cantik sekali," gumam Dio menatap Eris.
Teman-temannya tertawa tetapi tidak dengan Kay, dia menatap Yuri lalu menundukkan kepalanya. Ini adalah yang kesekian kalinya dia sengaja datang untuk melihat Yuri.
"Ada kepentingan apa Anda dengan pegawai saya," kata Eris kemudian berdiri.
"Ah, begini," kata Dio salah tingkah dihampiri Eris.
Bersambung ...
__ADS_1