Girl Of Darkness

Girl Of Darkness
2


__ADS_3

Alira yang masih berlari dalam perjalanan pulang menuju rumahnya tidak menyadari memasuki portal gerbang menuju toko Eris. Setelah lama menangis akhirnya saat berhenti dia menyadari sekitarnya berubah.


"Di mana ini? Seharusnya aku sudah sampai di rumah tapi... ini daerah yang tidak aku kenal. Bagaimana ini?" Tanya Alira yang ketakutan. Mana dia lupa membawa ponselnya pula.


Terus berjalan dengan perasaan takut dan menangis, dia kemudian berhenti di depan toko Eris. Tangisannya berhenti dia merasa lega setelah melihat toko itu.


"Syukurlah ada toko tapi kenapa hanya ada satu?" Tanyanya lagi.


"Kenapa kamu menangis?" Tanya Eris yang sudah berdiri tepat di sampingnya.


"KYAAAAA!!" Teriaknya sambil menyembunyikan wajahnya dengan ketakutan.


Eris memungut buku yang terjatuh. "Kakak sedang mengerjakan tugas ya? Mau saya temani?" Tanya Eris sambil memberikan buku catatannya.


Tahu yang bertanya padanya adalah anak kecil, Alira langsung bernafas lega tapi menjadi double kaget.


"Ternyata...anak kecil aku kira hantu...tapi aku tidak melihat kamu tadi," kata Alira tertawa.


"Ada. Tapi kakak terus berlari," kata Eris masih memegang bukunya.


"Iya ya aku terus menangis setelah Honna mengatakan hal kasar padaku. Terima kasih Nak, ini rumahmu?" Tanya Alira mengambil buku lalu memasukkannya dalam tas.


Eris lalu membuka gerbang rumah dan mempersilakan Alira masuk. Tanpa diduga kedua kakinya melangkah ke dalam, dia memandang ke sekeliling rumah itu.


"Wah, indahnyaaaa aku baru tahu di sekitar sini ada toko mungil," kata Alira menatap bunga-bunga yang mekar.


"Begitukah. Mari masuklah dan silakan melihat-lihat mungkin ada barang yang kakak inginkan?" Tanya Eris memegang tangan kanan Alira.


Selintas Alira kaget tangan Eris dingin sekali. "Tangan anak ini dingin sekali. Seperti bukan manusia saja," pikirnya lalu mengikuti langkah Alira.


Arae yang memperhatikan Eris dari kabel listrik atas tertawa, menurutnya sangat lucu sekali melihat Eris menggenggam tangan manusia. Lalu dia menghilang.


Mereka masuk ke dalam toko dan Alira semakin terkagum melihat dalamnya. Ruangannya sangat besar dan bergaya Eropa.


"WUAAAAHH seperti masuk ke dunia Alice in Wonderland. Wow bagus sekali sampai ada teko burung," kata Alira mengangkatnya.


Eris memandang teko berleher panjang. Lagi-lagi burung Phoenix itu menjelma menjadi Vas bunga. Eris memandanginya namun Phoenix itu menutup matanya seakan-akan tidak ingin menatapnya.


"Itu tidak bisa dijual," kata Eris.


"Oh ya? Lagipula pasti harganya mahal kan hehehe," kata Alira lalu melihat yang lain.


Eris menyiapkan meja dan kursi seperti biasanya lalu teh dan kue yang baru saja diantar oleh nenek.


"Kamu bisa mengerjakan tugasmu disini juga," kata Eris.


Alira menggarukkan kepalanya dia sangat malu sekali. "Terima kasih seharusnya bisa selesai. Baiklah kalau begitu aku akan ikut mengerjakan tugas disini," katanya mengeluarkan buku catatannya.


Beberapa menit kemudian Alira sibuk mengerjakan semua tugasnya, dia sangat fokus sekali. Lalu sesekali meminum teh anggur yang sangat enak itu apalagi dia sangat heran tidak mengantuk sama sekali.


"Aneh. Biasanya kalau aku melakukan sesuatu pasti mengantuk tapi ini tidak. Kenapa ya?" Tanya Alira.


"Apa kebiasaan itu mudah tertidur?" Tanya Eris mengisi kembali tehnya.


"Tidak juga. Mungkin kamu berpikir aku aneh sama dengan teman masa kecilku," kata Alira.


"Ceritakan saja mungkin aku bisa membantumu," kata Eris lalu duduk di kursinya.


"Baiklah, ini sesuatu yang aku lihat dari alam mimpi," kata Alira.


Dia lalu menceritakan segalanya, Eris berpikir kenapa mimpinya sama dengan anak ini? Lalu dia teringat sesuatu yang ada di rak. Melihat Eris yang serius, Alira agak merasa bersalah.


"Jangan dipikirkan hahaha itu hanya mimpi begitu kata teman dekatku," kata Alira memakan kue. "Toko ini nyaman sekali ya," kata Alira mengalihkan topik.


Eris menatap lekat Alira. "Kamu bisa masuk ke dalam toko ini berarti ada sesuatu yang kamu inginkan," kata Eris.


Alira berpikir satu-satunya yang dia inginkan tentulah sudah dia dapati. "Apa ya?" Tanyanya.


"Misal ingin melihat atau bertemu dengan seseorang yang ada di dalam mimpimu secara jelas," kata Eris memandang Alira.


"Oh! Aku sudah punya obat tidur hehehe," kata Alira memperlihatkan botol obatnya.

__ADS_1


"Itu bisa membunuhmu," kata Eris yang penasaran juga kenapa sosok itu terlihat dalam mimpinya juga. Mungkin Alira memiliki kemampuan dalam penglihatannya.


Alira memandang botol itu dan meletakkannya ke meja. "Honna juga berkata begitu. Apa aku salah ya mengandalkan obat," katanya tertunduk.


"Kalau kamu bisa bertemu dengannya apa yang akan kamu lakukan?" Tanya Eris mendekati Alira.


"Aku ingin menyentuhnya meskipun kami sudah mengobrol tapi tetap saja wajahnya tidak bisa kulihat. Tapi temanku bilang itu hanyalah mimpi," kata Alira lalu menangis.


Eris lalu berjalan menuju rak dan mengayunkan tangannya. Sebuah mahkota yang terbuat dari bunga mawar berwarna hitam dengan hiasan-hiasan sayap angsa, serta terdapat ornamen kepala angsa emas.


"Ini," kata Eris memberikannya pada Alira.


Alira terpana menatap mahkota, begitu indah. Dia mengambilnya dan ada wangi bunga juga. "Cantiknya! Apa ini?" Tanya Alira mengagumi benda itu.


"Mahkota Angsa dengan kamu memakai ini apa yang kamu inginkan dalam alam mimpi akan terwujud," kata Eris.


"Benarkah? Tanpa perlu meminum obat tidur?" Tanya Alira menghapus air matanya.


Eris mengangguk.


"Lalu berapa harganya?" Tanya Alira membuka dompetnya.


"Obat tidurmu adalah bayarannya," kata Eris menunjuk ke botol itu.


"T-tapi," kata Alira di sisi lain mahkota itu tidak ada efek apapun. Alira memejamkan matanya lalu menyerahkan obat itu sebagai pembayaran. "Lalu ada syarat lain?" Tanyanya.


"Bila kamu sudah bertemu dengannya, gambarkan sosok laki-laki itu dan berikan padaku," kata Eris memegang botol tidur itu.


"Sungguh? Kamu tidak memerlukan uang? Hanya obat ini saja? Baiklah, kalau nanti malam aku bertemu dengannya, aku akan kembali lagi untuk menyerahkan gambarnya. Terima kasih!" Kata Alira lalu membereskan bukunya dan memasukkan mahkota itu ke tasnya lalu berjalan pulang dengan bahagia.


Eris juga mengalaminya dan anehnya semuanya persis sama dengan yang Alira alami. Untuk melakukan itu hanya manusia yang bisa memasuki alam mimpi. Makhluk seperti dirinya tidaklah mungkin.


"Ada sesuatu, Eris? Kamu memberikan gadis itu Mahkota Ratu Angsa dari negeri Weyz. Itu kan langka sekali," kata Arae yang tiba membawa paket.


"Aku bermimpi saat tidur. Aneh sekali bukan? Aku makhluk yang tidak punya emosional bisa mengalami itu dan anehnya mimpiku sama dengannya," kata Eris. Botol obat tidur itu melayang dan lenyap dimakan api ungu miliknya.


"Hmmm kenapa tidak meminta bantuan Ratu?" Tanya Arae.


"Aku merasa orang tuaku sendiri menyembunyikan sesuatu dariku. Jangan laporkan hal ini pada mereka kalau tidak, aku tidak akan memberimu cairan lagi," kata Eris.


Besoknya Alira bersekolah dengan biasa tapi dia sangat gembira dan ceria sekali. Kebiasaannya yang sering tidur di dalam kelas semakin berkurang, Honna sendiri merasa heran tapi dia bersyukur meskipun dia harus menjaga jarak dengannya.


Alira memandang Honna dengan perasaan bersalah lalu menghampirinya di lorong sekolah.


"Honna! AKU MINTA MAAF!" Kata Alira sambil teriak.


Honna yang sedang minum susu pun tersedak. "UHUK UHUK! Tidak usah berteriak kan bisa," katanya sambil mengeringkan seragamnya yang terkena tumpahan susu.


"Aku bantu. Maaf, aku sadar perbuatanku kemarin sangat keterlaluan. Anak itu juga bilang hal yang sama denganmu," kata Alira membantu membersihkan seragamnya.


"Anak itu?" Tanya Honna penasaran.


"Nanti deh akan aku ceritakan aku takut kamu tidak akan percaya dengan yang aku alami. Tapi aku sudah tidak akan tidur dalam kelas lagi jadi kamu tidak perlu cemas hehehe," kata Alira semangat.


"Baguslah kalau begitu. Lalu apa penyebab kamu hari ini tampak begitu senang?" Tanya Honna.


"Ahahaha aku baru saja mendapatkan sesuatu yang menarik nanti deh aku kirimkan fotonya. Benda itu ada di rumah," kata Alira.


Honna tersenyum dalam hatinya semoga saja Alira tidak melakukan hal yang berbahaya lagi dengan


Alira kini semakin lega karena memiliki benda yang lebih bisa membuatnya bertemu apalagi sampai melihat sosok aslinya. Dia sudah tahu perbedaan usia dengan sosok itu sepertinya berbeda 12 tahun.


Sosok laki-laki itu tidak lain adalah Aiolos yang juga bertemu dengan Alira. Tapi kadang bertemu sosok perempuan berambut putih yang panjang seolah menunggu kedatangannya. Sama halnya dengan Eris, Aiolos berusaha menyentuhnya namun tidak bisa.


Di malam harinya Alira memakai mahkota itu dan benar saja dia memasuki alam mimpi, menunggu kehadiran seorang lelaki yang pernah dia temui.


"Alira!" Seru sosok lelaki di kejauhan.


"Hei! Kamu dimana?" Teriak Alira lalu berlari. Tapi kemanapun dia lari, sosok itu tidak ada.


"Alira! Kamu ingat aku?" Tanya suara itu lagi.

__ADS_1


"Kumohon, mendekatlah. Agar aku bisa melihatmu dengan jelas," pinta Alira.


Laki-laki yang memanggilnya itu mendekat lalu berdiri di hadapannya. "Alira, ini aku," katanya tersenyum.


"Kamu... AAAAA!!" Angin kencang tiba-tiba datang seperti mengibaskan sosok itu menjauh. "Hei! Kamu dimana? Angin apa tadi itu?" Tanya Alira kebingungan.


Tentu itu adalah Eris dan Arae yang mengusir penampakan laki-laki masa kecilnya. Mereka kemudian menunggu lagi.


"Eris, apa kamu yakin bisa melihatnya? Dunia mimpi bukanlah daerah kekuasaan kamu," kata Arae agak ragu.


"Aku tahu itu mungkin saja dengan mahkota itu, aku bisa menggapainya sedikit," kata Eris.


Segera saja pemandangan lain berubah. Masih dunia mimpi tapi Alira melihat sosok laki-laki lain yang sedang berdiri, Alira berlari takut waktunya akan berakhir. Dia mengulurkan tangannya dan menyentuh bahunya.


"Hai," kata Aiolos tersenyum kepadanya.


"HUAAAAA BTS!" Teriak Alira terkejut.


"Eh? BTS? Saya bukan mereka," kata Aiolos.


"Masa sih? Tapi kamu mirip sekali dengan Park Jimin. Yakin bukan dia?" Tanya Alira memeriksa.


"Bukan bukan. Sahabat saya juga selalu disangka begitu hahaha memangnya kami mirip ya?" Tanya Aiolos menunjuk ke wajahnya.


"Sekali. Aku kira memang Jimin tapi tidak apa deh meski bukan mereka. Sedang apa?" Tanya Alira yang sekarang sudah biasa saja.


"Memandang pemandangan disini," kata Aiolos memperlihatkan pemandangan indah.


Mereka kemudian berbincang banyak hal. Alira senang sekali ternyata memang berbeda dia bukan anggota BTS.


Eris tahu sepertinya Alira telah menemukan pemuda itu tapi lagi-lagi cermin nya berembun lalu semuanya tertutup awan. Penguasa dunia mimpi tidak mengijinkan Eris masuk dengan cara yang tidak mereka sukai.


"Sekarang satu-satunya jalan hanyalah menunggu gambar yang akan dibuat oleh gadis itu," kata Eris menghela nafas. Baru kali ini dia merasa tidak sabar.


Dalam mimpi Alira, dia sangat senang akhirnya bisa bertemu dengan mereka berdua meski begitu tampaknya dia kenal dengan suara yang pertama.


"Kamu sudah bekerja?" Tanya Alira pada Aiolos.


"Sudah, aku baru saja diterima di tempat sahabatku bekerja," kata Aiolos cengengesan.


"Wah, syukurlah!" Kata Alira senang sekali.


"Kamu? Aku taksir masih usia 16 tahun ya," kata Aiolos menebak.


"Hehehehe iya aku masih sekolah," kata Alira.


"Anak sekolah jangan terlalu sering pacaran ya," kata Aiolos dengan isengnya.


"Enak saja! Aku masih single tahu," kata Alira marah.


"Hahaha mana mungkin. Pastinya ada yang kamu sukai kan di kelas. Ayo cerita," kata Aiolos.


Alira terdiam. "Tidak ada tuh mereka semua kelakuan anak kecil," kata Alira.


"Heh, memangnya kamu tidak? Hmmm," kata Aiolos menjitak Alira dengan lembut lalu mengacak rambutnya.


"Hentikaaan rambutku jadi berantakan! Soalnya orang yang aku suka bukan dari sekolah," kata Alira merapihkan rambutnya.


"Ceritakan ayo. Waktu bangun masih panjang aku sudah pasang alarm supaya tidak kesiangan," kata Aiolos semangat.


"Anak itu suka iseng kepadaku semasa aku kecil, dijatuhi ulat, kelabang, kecoa bahkan dilempari tikus mainan. Sebaaal! Kami pernah berkelahi juga karena dia terus menjahili," kata Alira marah sekali.


Aiolos menahan banyak ketawa tapi tidak kuat lalu tertawa keras. "Berawal dari hanya iseng kemudian menjadi perhatian. Aku harap kamu secepatnya bisa bertemu dia dan menyatakan perasaan," kata Aiolos yang masih tertawa.


Alira malu sekali melihat Aiolos tertawa dan membelai rambutnya. Dia menjadi suka tapi bayangan teman masa kecilnya sudah lama ada di hatinya hanya saja kini keadaannya tidak diketahui.


"Kakak tahu, Jimin juga kalau tertawa mirip seperti itu. Ayolah mengaku saja kakak ini anggota BTS kan?" Tanya Alira memaksa.


"Ya ampun, bukan," kata Aiolos menggaruk kepalanya.


Pukul lima pagi Aiolos terbangun dia sadar itu adalah mimpi yang aneh, tapi gadis itu lumayan lucu juga hanya terlalu kecil untuknya. Dan Aiolos segera bersiap mandi dan kemudian masak.

__ADS_1


Di rumah Alira sendiri pun dia sudah bangun dan senyum sendiri. "Aku bertemu orang yang mirip anggota BTS. Aku akan gambarkan orang itu nanti saat di pelajaran menggambar. Hari ini aku senang sekali tapi yang pertama itu kok mirip ... " kata Alira memandangi jendela kamarnya.


BERSAMBUNG ...


__ADS_2