
Chris menghela nafas kadang Mila tampak sengaja melakukannya. Tentu Eris tidak keberatan bila dia ungkapkan siapa sebenarnya.
Saat Yuri melihat tidak ada siapapun yang mengganggu Chris, dia mendatanginya. Sisna kemudian berdiri dan hendak ikut tapi Rio menariknya ke sisi lain.
"Profesor Davis itu orang hebat, Chris?" Tanya Yuri.
Chris tersenyum, "Yah bisa dibilang begitu. Pintar dan hebat, dia juga menyelesaikan kuliah di usia paling muda dan membuat tesis mengenai Mistisme," kata Chris.
"Wow! Meski aku tidak mengerti nampaknya cukup berat," kata Yuri. Memikirkan judul lalu bahan isinya.
"Kamu ini memang rendahan ya masa mengenai Profesor Davis saja tidak tahu," kata Anita yang berjalan elegan ke hadapannya.
"Anita, jangan minum terlalu banyak," kata Iran.
Namun Yuri tidak peduli karena Chris tidak mengejeknya.
"Salah satu karyanya adalah "Sistem Supranatural," kata Chris lagi sambil meletakkan gelas.
"Tentang apa itu?" Tanya Yuri.
Anita kesal dia tidak didengarkan oleh sebagian orang dan pergi menjauh sambil agak mabuk.
"Terdapat perdebatan mengenai penelitian fenomenal supranatural, apakah itu ilmiah atau hanya penipuan," kata Chris.
"Soal hantu pun tidak ada yang bisa membuktikan apakah benar ada atau hanya taktik kan," kata Ara.
"Tepat! Kita tidak bisa menjelaskan bila melihat gelas yang terbang. Otomatis sebagian orang berpikir itu ada benang yang dikaitkan. Atau ditempelkan sesuatu yang tipis," jelas Chris.
Ares dan yang lain ikut bergabung, mereka tentu penasaran apa yang di diskusikan oleh Yuri dan Chris.
"Dengan kata lain fenomena tersebut belum bisa dianggap sebagai sesuatu yang ilmiah ya. Dia melakukan penelitian itu untuk membuktikan, benarkah tipuan atau memang ada hubungannya dengan sesuatu yang mistis," kata Ares mengerti.
"Watashi wa Aresu ya Kurisu no yona chishiki hofuna dansei ga sukidesu
( Aku suka deh dengan laki-laki yang berpengetahuan luas seperti Ares dan Chris )," kata Olive dengan senang menggunakan.
"Shikashi nakaniha kyoju no kyo e o tayori ni taionkei riron o tsukai mawasu mono mo iru. Hazukashi!"
( Tapi ada juga yang seenaknya memakai teori termometer dengan mengatasnamakan ajaran dari Profesor. Memalukan! )" Kata Sisna menyindir Olive.
Olive diam mendengarnya, tidak sanggup memandangi Sisna dan orang yang mengerti.
Lanjut dengan pertanyaan Yuri. "Apa Prof itu pernah mengalami pengalaman mistis?" Tanyanya.
Anita datang lagi dengan gaya sombongnya dengan nada me nyelekit.
"Duh begini ya kalau bicara dengan pemula yang isi otaknya kosong! Dengar ya kenapa Profesor bisa menulis tesis dengan judul fenomena, karena dia mengalaminya sendiri!" Kata Anita dengan sok.
"Anita! Hentikan!" Kata Rio.
"Masih saja merendahkan orang lain," kata Tora dengan marah membuat Anita seketika diam dan menjaga sikapnya.
Tora, Yogi dan Rio adalah orang dewasa dengan usia yang agak tua dari yang lain. Mereka lebih sering sebagai pengamat termasuk Rio.
"Maaf ya, Yuri. Dia sedang ada masalah dengan seseorang," kata Yogi menundukkan kepala.
"Tidak apa-apa. Aku maklum," kata Yuri membalas lalu menatap Anita dan menjulurkan lidah.
__ADS_1
"Apa kamu punya bukunya, Chris?" Tanya Ares.
"Tidak sayang sekali. Aku pun kehabisan banyak yang bilang isinya cukup menarik," kata Chris mengedipkan matanya.
"Kalau Olive bagaimana? Dia kan muridnya pasti mendapatkan buku itu secara gratis kan," kata Sani menatap Sisna.
"Kalau dia punya pasti sudah memamerkan bukan," kata Sisna dengan jutek.
Olive terdiam, dia mengerti apa kata Sani. Dia bergumam, "Aku juga tidak,"
"Oh iya bukannya saat tiba Chris sempat mengatakan soal Profesor?" Tanya Ara mengingatkan.
Chris merenung dan ingat kata-katanya saat itu. "Ahh yang aku katakan kalau Profesor yang aku tahu masih muda?"
Mereka semua mengangguk. Chris berpikir ulang.
"Memangnya pernah bertemu?" Tanya Ares membuat Olive agak tegang.
Anita dan Panca juga sama mereka berusaha mengalihkan topik tapi gagal karena yang mengawali pembicaraan adalah Yuri.
Mereka juga enggan berhadapan dengan Eris yang menatap tajam.
"Belum hanya mendengar kabarnya saja karena memang sangat muda, sekitar usia aku, Ares, Dio dan Ara. Yah aku mungkin lebih muda ya dibawah dia dua tahun," kata Chris tertawa.
"Hah!?" Tanya mereka tidak menyangka.
Sosok Chris lebih cocok dengan usia tiga puluh tahun mungkin karena wajahnya agak dewasa ya.
"Wah, Chris masih kecil ya pantas imut sekali," kata Fuji dan Ara.
"Dua tahun di atas Chris kalau begitu kuliah dong?" Tanya Yuri.
"Bisa jadi tapi di saat orang lain baru masuk, dia sudah lulus duluan," kata Chris.
Mereka semua tampak terkesima dan kagum. Mila, Eris serta yang lain menatap Olive yang hanya bisa menunduk.
"Bukankah dia terlalu muda untuk disebut Profesor?" Tanya Eris.
"Ya memang sih itu hal yang sangat langka bagi kita yang biasa. Tapi memang iya dia lulud lebih cepat dari mahasiswa/i umumnya. Otaknya sangat pintar," kata Rio memperlihatkan nilai yang semuanya sempurna.
"Wah, ada juga ya orang seperti ini," komentar yang lain kagum.
"Iya benar. Di luar negeri banyak lembaga yang bisa memperoleh bantuan untuk kepentingan penelitian makhluk halus. Tapi tidak semua orang bisa mendapat lesempatan," kata Chris mengangkat bahunya.
"Kamu tidak tertarik, Chris? Kalau bekerjasama kamu bisa menghasilkan banyak uang. Dari pembersihan hehe," kata Rio menggoda.
"Hahaha otakku rata-rata kok aku tidak sepintar beliau," kata Chris mengibaskan tangannya.
"Tapi aku melihat kamu sewaktu membacakan ayat kitab, aku merasa sangat ringan," kata Fuji.
"Iya, kami juga," kata yang lain menimpali.
Chris tersenyum, karena bila orangnya bermasalah atau kerasukan terasa sangat panas menyengat.
"Itu bukan hanya sekedar ayat kitab biasa. Karena tampaknya dia menghindari aku agar tidak bisa mendengar lantunannya," pikir Eris.
"Lalu yang aneh itu kalau memang benar Profesor memiliki murid. Kalian merasa aneh tidak?" Tanya Mila mengungkapkan.
__ADS_1
"Ahhh aku tahu. Akan lebih heboh kan meski sekedar memeriksa permainan ini," kata Iran menatap Olive.
"So-sore wa watashi ga karera o saketakaradesu!"
( I-itu karena aku menghindari mereka! )" Kata Olive dengan gugup.
"Kamu dengar tidak lama kelamaan entah kenapa dia memakai bahasa dan logat yang sama dengan kita," bisik Fuji pada Dio.
"Dia juga kan cenayang, Profesor itu. Makanya tidak mungkin tidak ada berita soalkabar muridnya datang ke negara ini," kata Ares.
Anita, Panca dan Olive hanya terdiam kalau terus begini, kedok mereka sudah pasti akan terbongkar.
"Ternyata hebat sekali ya," kata Yuri. Ara setuju.
"Kalau dibilang hebat ya memang, dia kan meneliti makhluk halus tapi jarang terdengar kalau dia terjun langsung untuk mengalaminya, seperti kata Anita," kata Chria tanpa melihat.
Anita hanya terdiam, ya dia hanya asal bicara saja karena sudah tentu soal Olive akan ketahuan.
"Kalian pernah lihat tidak tayangan tajun lalu soal dia memperlihatkan PK," kata Dani antusias.
Yuri lagi-lagi tidak tahu tapi beberapa orang pun mempertanyakannya.
PK atau Psikokinesis. Berasal dari kata Psyche yang berarti piliran, jiwa, hati, atau nafas. Kinesis berarti gerak, yang dimana adalah kemampuan memanipulasi sebuah objek fisik hanya dengan pikiran semata-mata.
Sebuah objek, bisa berupa benda maupun tubuh dimanipulasi dalam jarak jauh.
Ada dua kategori, yaitu :
Psikokines-makro yaitu kejadiannya bisa diamati secara langsung. Kalau dalam dunia supranatural orang yang bisa membengkokkan sendok, garpu atau barang lain.
Kalau di kita seperti semacam debus, kuda lumping atau kuda dor yang disertai unjuk kekuatan tidak mempan terluka. Atau tidak mudah ditebas oleh senjata tajam.
Psikokinesis-mikro, yaitu kejadian yang tidak bisa diamati dengan menggunakan mata telanjang.
Contoh di kita seperti pengobatan jarak jauh, ruqyah juga bisa dari jarak jauh. Sesuai yang memiliki kemampuan atau bakatnya.
Tidak mengherankan Yuri baru menyadarinya. "Kalau begitu seharusnya Olive bisa dong,"
Olive kaget mendengarnya dan memandangi Anita dan Panca, yang hanya diam disana.
"Iya ya disini ada muridnya kan. Kamu kan mengaku muridnya, coba tunjukkan PK yang kamu punya pada kami," tantang Key.
Olive tidak menjawab dia hanya menggelengkan kepala.
"Sudah sudah! Kita semua tahu kalau kamu itu penipu! Jujur sajalah, aku yakin kamu juga mengejar uang kan jadi kamu berpura-pura menjadi muridnya," kata Dani tertawa.
"Kalau mengaku gengsi lah," kata Sani.
Bersambung ...
__ADS_1