Girl Of Darkness

Girl Of Darkness
9


__ADS_3

Almira tidak sabar untuk waktu istirahat. Dan...


TING TONG!!


Bel istirahat berbunyi dan Almira segera saja berlari kilat menuju suatu tempat. Keempat temannya berpandangan dan menyusul dengan diam-diam.


"Mau kemana sih Almira?" Tanya A.


"Kenapa dia merahasiakannya?" Tanya Nana.


Mereka sampai ke belakang sekolah dan melihat Tana dan Almira disana. Mereka saling menutup mulut mereka jangan sampai berisik.


Tana datang sambil tersipu malu dan Almira sudah yakin pasti bisa!


"Almira, kamu mencari aku? Ada apa? Hmm? Pita itu..." kata Tana menunjuk. Wajahnya kecewa lagi berpikir Apollo yang berikan.


"Begini, Tana. Sebenarnya aku telah berbohong kepadamu," kata Almira menatap Tana.


"Berbohong soal apa?" Tanya Tana.


"Aku tidak tahu rasa apa yang ada di hatiku. Memang aku menyukai Apollo," kata Almira.


"Oh... ya sudahlah! Aku bisa menerima itu entah kenapa kamu ceritakan soal itu," kata Tana mengibaskan tangannya dan berbalik.


"BUKAAAN!!" Seru Almira yang membuat Tana sangat kaget.


"Ya?" Tanya Tana sambil mengusap telinganya yang kaget.


Almira mengulurkan tangan kanannya pada Tana. "Aku hanya tidak mau mendengar soal permintaan kamu waktu itu dan...terpaksa... berjabat tangan denganmu," katanya menundukkan kepala.


Tana bengong dia agak tidak yakin apa yang didengarkan olehnya, ingin mengetahui segalanya tapi dia melihat Almira gugup. Dengan menahan ketawanya, Tana pura-pura tidak mengerti.


"Oh, ya baiklah. Tidak apa, sudah kuduga memang kamu tidak mau berjabat tangan denganku. Aku harus kembali ke kelas, sebentar lagi masuk," kata Tana.


Almira menarik tangannya, dan menatap oita tersebut, teman-temannya merasa bersedih. Saat ingin merangkul temannya itu ...


"TUNGGU!!!" Teriak Almira menarik kerah seragam Tana dengan keras.

__ADS_1


"OEH!! AW AW AW AQKU TERZEKKIQ," kata Tana berusaha memberitahukan.


"Maaf maaf, jangan pergi begitu saja dong, bicaraku belum selesai," kata Almira marah meskipun ingin menangis.


Tana membetulkan seragamnya dan berdehem! Dia hanya bercanda.


"Ulurkan tanganmu," kata Almira meminta.


"Untuk apa? Aku sudah tidak berharap apa-apa," kata Tana.


Almira tidak peduli, dia langsung memegang tangan kiri Tana dan senyum dengan senang. Tana kaget melihatnya.


"Nah, aku yakin asmara kamu dengan gadis yang kamu taksir akan sukses!" Kata Almira.


"Hah? Aku? Tapi Almira," kata Tana kebingungan.


Tanpa disadari oleh Almira, pita pink yang terlilit di tangan kanannya pun terlepas dan jatuh ke tanah.


"Tenang saja perasaan kamu pasti akan tersampaikan! Aku jamin sebagai orang yang memiliki kemampuan tangan kasih. Aku ikhlas tenang saja," kata Almira senyum.


Tana berwajah semu menatapnya. "Almira,"


Tana menatap Almira yang menahan tawa dan senyum, dia tahu Almira sebenarnya lebih dulu menyukainya. Apollo yang jelaskan tapi karena Tana terlalu sibuk, dia melewatkannya.


"Aphrodite itu maksudnya apa?" Tanya Tana mendekati Almira.


"Meskipun aku bukan dewi yang bisa menolong diri sendiri juga sih," kata Almira mulai menangis.


"Maksudnya tidak bisa menolong diri sendiri?" Tanya Tana yang tanpa disadari Almira sudah berdiri dekat dengannya.


"Semua yang bersalaman denganku apalagi kalau aku ikhlas membantu, perasaan mereka akan sampai ke orang tersebut. Kamu juga sama tapi ... hanya orang lain, aku sendiri tidak bisa melakukannya. Aku tidak bisa menyampaikan rasa suka aku sama kamu, Tana," kata Almira menutup wajahnya menangis.


Tana menutup wajahnya lalu menggoyangkan kedua tangan Almira yang menutup wajahnya. "Hei, dengarkan dulu,"


"Duh, sakit! Ngapain sih kamu," kata Almira melepaskan tangannya.


Tana langsung menghapus air mata Almira dengan tangannya, dan Almira merasa malu.

__ADS_1


"Jangan terlalu dekat bukan muhrim tahu," kata Almira menyapu matanya.


"Nanti juga jadi muhrim," kata Tana tertawa.


"Apa sih!" Kata Almira sebal.


"Kekuatan kamu sudah berguna sekarang," kata Tana menatap serius.


"Hah?" Tanya Almira bingung.


"Makanya giliran aku bicara. Orang yang ingin aku nyatakan suka ya kamu, Almira!" Kata Tana tertawa.


"Bohong!" Kata Almira tidak percaya.


"Itu benar kok, kan dia sudah menyebutkan petunjuknya," kata Nana dan teman lainnya menepuk bahu Almira.


"Lho? KALIAN!" Seru Almira kaget.


Tana membelai jilbab Almira. "Perasaanku itu sudah tersampaikan pada orangnya," kata Tana yang menahan ingin memeluk Almira.


Almira berwajah merah. B melihat pita pink yang berada di atas tanah. "Lalu bisa kamu jelaskan kenapa datang ke sekolah dengan memakai pita?"


Almira menceritakan semuanya mengenai dirinya bertemu dengan kakak berbaju serba hitam dengan rambut panjang putih. Eris memberikan pita itu dan mengikat di tangan kanannya.


Semua orang menertawainya.


"Kalian kenapa sih? Aku tidak melawak ya," kata Almira marah.


"Ya ampun, Almira mau-maunya saja kamu dibohongi. Ini kan pita biasa lihat, digunting juga bisa. Bahkan ditarik juga tidak ada yang istimewa," kata C menarik dengan Nana.


Almira menganga melihatnya, dia sendiri memegangnya dan memang bisa ditarik dengan mudah. Semua teman-teman termasuk Tana tertawa.


Almira juga tertawa pada akhirnya, membuatnya tersadar bahwa Eris tahu dirinya sedang galau.


"Ya Allah, aku tertipu dong," kata Almira memukul kepalanya.


"Seperti kakak itu ingin membuat kamu lebih percaya diri dan berani. Ternyata ya pita biasa bisa membuat kamu lebih berani," kata C.

__ADS_1


"Apalagi... bisa menyatakan cinta nie yeee," kata mereka semua.


Tana mengatakan bila lulus SMA nanti akan langsung meminang Almira sontak saja semuanya menggodanya.


__ADS_2