Girl Of Darkness

Girl Of Darkness
4


__ADS_3

...Yuki Kajiura - Somewhere I belong...


Di tempat lain, tepatnya toko Zalaam milik Eris, semua sudah siap dalam posisinya. Eris mengeluarkan boneka kayu yang dituliskan nama Ela untuk dijadikannya Resepsionis. Dan boneka itu berubah menjadi manusia yang tugasnya hanya mencatat tamu yang berkunjung lalu memegang kasir juga.


Eris lalu merapikan barang lainnya dan menata bunga mawar hitamnya dan bunga tulip yang menebarkan harum dan mekar dengan penuh di atas meja besar depan pintu masuk. Bagi orang lain mawar itu menebarkan aroma layaknya bunga tapi bagi Eris dan Ela, bunga itu menebarkan bau darah.


"Sebentar lagi akan ada gadis cantik yang datang kemari untuk meminjam pakaian ini tapi apa bisa di mengembalikannya? Atau..." kata Eris menatap bola kristal.


Lalu tertampakkanlah bayangan kekasih Andriani yang memang sedang berjalan bersama perempuan lain dan itu bukanlah adik perempuannya. Kemudian Kratos yang sedang berada di luar rumah membantingkan ponselnya ke lantai teras rumahnya.


"Mereka hampir sampai," kata Eris lalu menutup bolanya dan meletakkannya di lemari.


Mobil mereka sampai ke tempat toko Eris dan turun.


"Wah, jauh juga ya. Aku pegal," kata Sarah menggeliat kecapean.


"Iya ya tapi anak itu kok bisa seperti dekat ya?" Tanya Andriani.


"Guys, aku tidak bisa ikut. Aku disuruh menemani kedua adikku di rumah. Maaf ya," kata Hero memohon ampun pada keduanya.


"Yahhh Hera mentang-mentang kamu sudah beli kostum," kata Andriani lemas.


"Sudahlah tidak apa kan dia sudah antar kita ke sini," kata kakaknya.


"Iya juga. Ya tidak apa-apa deh salam ya buat kedua adik kamu," kata Andriani.


"Oke, kalau nanti kalian mau sholat maghrib datang saja ke rumahku sekalian aku buat makan malam," katanya sambil melambaikan tangannya dan pergi berjalan kaki.


Setelah Hera pergi, mereka melanjutkan perjalanan di sebuah jalan setapak, masuk ke dalam gang yang lumayan sempit. Tibalah mereka di tempat yang aneh, saat masuk gang itu entah kenapa perasaan mereka seperti terhipnotis. Mereka berdua termenung antara takut tersesat namun melanjutkan.


Andriani lalu menunjuk ada sebuah rumah yang sebelahnya danau luas. Rumah itu tinggi dan satu-satunya rumah yang ada disana. Dengan pagar tinggi berwarna hitam mengkilat kemudian mereka buka langsung menuju pintu depan.


Andriani bermaksud memegang gagangan pintu yang tertempel dengan hiasan kepala singa. Saat jarinya tersentuh, pintu itu langsung terbuka dan melihat suasana di dalamnya luas sekali dan hangat auranya.


"Selamat datang," kata Ela menyambut mereka dengan wajah yang tidak ada ekspresi.


Mereka seakan tersihir oleh indahnya barang yang terpajang rapi. Bagaikan di dunia dongeng semuanya penuh dengan berbagai macam batang serta boneka. Ela mendiamkan mereka dan hanya menunggu perintah dari Eris.


Sarah lalu melihat ke vas besar yang ada di atas meja depan pintu saat mereka masuk. Rasanya tidak asing melihat mawar dan tulip itu hanya saja berwarna hitam pekat. Dia ragu mawar itu memang hitam atau...


"Hey, Dek kamu merasa tidak kalau mawar ini..." kata Sarah melibat adiknya sedang asyik melihat-lihat barang lain.


Sarah memandangi lagi Bunga-bunga itu lalu saat hendak memegangnya untuk memastikan, Eris muncul entah dari mana.


"Welcome. Beautiful, doesn't it? The flowers thats I get from the back field ( Selamat datang. Cantik, bukan? Bunga-bunga yang baru aku petik dari halaman belakang )," kata Eris mengagetkan Sarah.


Sarah yang mendengar suaranya. "Eh, astagfirullah! Kaget aku. Oh, dari halaman. Saya pikir ini dari rumah saya hanya memang aneh bagaimana bisa kalau benar kamu mengambilnya," kata Sarah menertawai dirinya sendiri.


Eris lalu berjalan menuju tempatnya yaitu bar yang letaknya berada di samping barang-barangnya. Memandangi Sarah yang masih asyik dengan dunianya. Sambil ikut memperhatikan, Sarah juga memandangi Eris dengan kagum.


"Masih kecil sudah bisa menjaga toko dengan baik, dimana mereka? Kenapa kamu dibiarkan menjaga toko sendirian padahal masih sekecil ini," kata Sarah lalu duduk.


"Mereka sibuk saya ditugaskan kemari karena suatu alasan," kata Eris menuangkan teh.

__ADS_1


"Rambutmu cantik sekali. Apa itu asli?" Tanya Sarah penasaran.


"Mau coba tarik?" Tanya Eris menawarkan rambutnya.


Sarah kemudian memegangnya memang asli dan melihat dengan dekat. Kedua mata Eris tak menampilkan emosi lain, hanya diam. Sarah kembali duduk dan jelas itu rambut asli.


"Wajah kamu cantik. Apa ada rahasianya?" Tanya Sarah.


"Manusia selalu penasaran ya," kata Eris membuat Sarah keheranan. "Kamu tidak ada keperluan dengan saya. Adik kamu berbeda," kata Eris.


Andriani lalu menghampiri mereka dan menatap Eris lalu ingatannya kembali lagi. "Kamu masih ingat aku? Aku yang bertanya di hari itu dimana kamu beli bajunya. Wah, ini kan bajunya sekarang tampak berbeda ya. Apa ini baru? Saya kemari mau membeli," kata Andriani yang membawakan baju yang digantung.


Eris membawakan kursi dan membuatkan teh lagi serta kue. Dengan agak canggung, mereka berdua meminum teh itu. Aromanya sangat harum dan ini adalah teh asli beraroma kan Chamomile.


Sarah memandangi Andriani begitupun sebaliknya. Menurut mereka Eris memang sangat misterius apalagi kedua matanya yang tidak menampilkan apapun.


"Kamu tentu sudah tahu aturannya kan," kata Eris.


"Ah, iya teman saya pernah melewati toko ini," kata Andriani.


"Tidak tertarik model lain?" Tanya Eris.


"Aku tertarik sih dengan yang dipakai kamu sekarang tapi tetap aku ingin baju yang sama dengan yang aku punya dulu. Apa aku bisa kalau membelinya saja?" Tanya Andriani. Sarah terbelalak padanya tapi tidak berdaya.


"Sayang sekali tidak bisa aku jual berapapun kamu memiliki uang. Ambillah. Baju ini memang baru, yang kemarin sudah tidak ada. Kalau kamu berminat, kamu boleh meminjamnya tapi kamu tidak bisa membelinya," kata Eris yang duduk di kursinya.


"Baiklah kalau begitu, aku pinjam," kata Andriani yang masih senang.


"Nona, Anda harus mengisi formulirnya sertakan nama dan tanda tangan," ucap Ela menghampiri Andriani.


"Berapa hari peminjamannya?" Tanya Sarah.


Eris terdiam. "Saya beri kamu waktu 3 hari kamu bebas memakainya sesuai kebutuhan atau memajangnya. Tapi tidak kamu jual saat hari ketiga di waktu yang sama seperti sekarang, datanglah kemari dan aku anggap pembayarannya sudah terpenuhi," kata Eris.


"Hanya segitu saja?" Tanya Sarah.


"Iya tapi kalau kamu lewat di hari ketiga, saya tidak dapat membantu apapun," kata Eris yang memberikan tanda tanya besar pada Sarah.


"Oke oke akan kukembalikan tepat waktu," kata Andriani yang setengah mendengar.


"Tuh kan benar ya Dek, kamu harus kembalikan kalau tidak kena denda," kata kakaknya melihat-lihat kosmetik.


"Baju ini bukan baju biasa. Memiliki julukan sebagai Baju Pengikat Jiwa. Pemilik yang memakainya akan terlihat sangat cantik dan bisa memikat seseorang yang disukainya. Tetapi, jangan sampai kamu memikat lelaki yang lain lagi," kata Eris memperingatkan.


"Kenapa?" Tanya Andriani setelah tahu ada efeknya.


"Baju ini tidak suka bila harus memikat lelaki lebih dari satu. Dia akan marah dan berbuat sesuatu yang tidak diinginkan wanita manapun. Maka pikirkanlah hati siapa yang ingin kamu pikat nisa dikatakan akan menjadi langgeng dengannya. Setelah berhasil memikat lelaki yang kamu suka, lepaskan baju itu secepat kamu bisa," kata Eris.


"Ya wajarlah pasti bau sama badan kamu kan seharian dipakai terus," kata Sarah sambil tertawa.


"Iya iya akan aku lepaskan. Kakak ini bicara begitu depan anak kecil!" Kata Andriani cemberut.


"Ada pertanyaan?" Tanya Eris.

__ADS_1


"Setelah berhasil memikat senior, aku akan kembalikan baju ini kemari. Kalau sudah dikembalikan aku bisa meminjam lagi kan?" Tanya Sarah.


"Aduh, Dek mau dipakai kemana lagi? Kan janjinya sampai acara kampus," ngomel kakaknya.


Tanpa mereka sadari Eris menyeringai. "Tentu kamu bisa meminjamnya lagi," kata Eris.


"BENAR!? Waaah asyiknyaaaa... pembayarannya?" Tanya Andriani yang memeluk baju itu.


"Sama saja asalkan kamu kembalikan sesuai waktu yang kuberi. Yang terpenting kamu bisa penuhi janjimu untuk mengembalikannya, Ela asisten saya yang akan memperpanjang peminjamannya," kata Eris.


Ela membungkukkan badannya dan tersenyum kosong.


"Aku akan membayarnya dengan apapun asalkan bisa menikmati baju ini lagi," kata Andriani yang tidak sadar dengan perkataannya.


Sarah terlalu sibuk mencoba semua kosmetik yang dia lihat. Ada yang bahannya lembut dan enak di bibir atau wajahnya. Ela menyiapkan kosmetik lain yang aman dicoba pada kulit manusia, sedangkan kosmetik yang sudah terbungkus adalah bahan sesuatu sesuai kebutuhan mereka. Jadi aman.


"With anything? ( Dengan apapun )?" Tanya Eris dengan senyum.


"Iya, APAPUN. Akan kubayar kalau bisa aku beli aku tidak akan bawa kabur baju ini kok. Aaah lebih enak begini apa gunanya aku susah-susah sholat meminta sesuatu tapi tidak terkabul terus. Toh kalau aku ke sini lagi, aku bisa dapatkan apapun," kata Andriani.


"Hush, jangan begitu! Kita ini muslim sudah wajib kita mengerjakan sholat! Sudah? Pulang yuk, sudah hampir gelap nih," kata kakaknya menatap ke luar jendela.


Andriani lalu cemberut mendengarnya. Kembali ke ruangan tadi, Sarah terus memandangi tumpukan bunga mawar dan tulip entah kenapa dia masih yakin itu sama dengan yang dimilikinya. Eris hanya memandangi mereka berdua termasuk kakaknya yang masih kepo.


Saat dirinya sedang memuji kecantikan mawar hitam, secara tidak sengaja dia melihat karet gelang miliknya. "Lho karet ini kan sama dengan yang ada di rumah. Kalau begitu..." pikir Sarah mematung. Lalu berbalik memandangi Eris yang tengah memejamkan kedua matanya.


Lalu Sarah melihat ke luar jendela dari sudut yang berbeda terdapat hamparan bunga mawar dan tulip yang bermekaran dengan indahnya dan beberapa spot yang habis di potong tampaknya. Sarah bernafas lega bodoh sekali dalam pikirannya.


"Ternyata benar, anak itu memiliki halaman tanaman mawar dan tulip apalagi banyak bunga lainnya. Berbeda dengan yang aku punya di rumah. Haduh, aku ini!" Kata Sarah memukul kepala sendiri.


Eris tersenyum membuka sedikit kedua matanya lalu menunggu.


"Mulai seperti Mama tidak heran adek berpikir begitu. Sudah, toko ini toko biasa kok namanya juga toko antik wajar kalau aku merasa sedikit tidak nyaman. Coba aku hirup lagi aroma mawarnya mumpung masih disini," kata Sarah kembali ke depan dan menghirup banyak aromanya. Namun kemudian terbatuk-batuk dan bergegas meminum tehnya.


"Pulang yuk. Kita ke rumah Hera dulu untuk ikut sholat lalu pulang. Kamu sudah sholat dzuhur tidak di kampus?" Tanya Sarah.


"Percuma sholat keinginanku tidak ada yang terkabul," kata Andriani menunggu Ela merapihkan bajunya.


"Kamu tidak boleh bilang begitu nanti kena batunya. Orang yang jarang sholat jadi temannya setan lho. Ayolah! Sudah jam 6 nih!" Ajak Sarah yang kemudian mereka berdua meninggalkan toko tersebut.


Akhirnya Andriani pun setelah bilang terima kasih keluar menyusul kakaknya. Sarah masih mengagumi kecantikan halamannya yang penuh bunga.


"Sedang apa? Ayo!" Ajak Andriani.


"Halamannya cantik sekali! Tidak seperti di ruman banyak yang mati dan layu tapi disini malah mekar penuh. Rahasianya apa ya? Kalau kamu ke sini lagi, aku ikut ya," kata Sarah yang kemudian berlalu pergi ke depan.


"Nama toko ini Zalaam kira-kira apa artinya ya?" Tanya Andriani.


"Darkness ( kegelapan )," jawab Eris.


Setelah mereka berdua yakin pergi, Eris menuju halaman buatannya. Dia memasang segel juga di semua area, yang terlihat sekarang hanyalah halaman yang banyak tumpukan tanaman mati serta pohon. Gersang dan tandus yang ditumpuk menjadi satu.


Eris memasuki tokonya dan membawa vas tersebut lalu ditumpahkan semuanya dalam halaman itu. Bunga mawar dan tulip berubah menjadi mati dan layu tidak terbentuk. Lalu Eris membakarnya menjadi abu dan meniupnya. Halaman kembali menjadi hidup. Mawar merah dan hitam serta tulip pun bermunculan.

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2