
Ost. Ghost Hunt - Kuragari
...This is my darkness...
...Nothing anyone says can console me...
...Despair & Hope......
...Light & Dark......
...Happy & Sad......
...Hard & Easy......
...Kind & Evil......
...Fall & Rise......
...Near & Far......
...Group & Individual......
...A lie saves you temporarily ...
...But it will destroy you forever...
Seragam hari ini :
Suatu hari di sebuah kampus terdapat sebuah ruangan yang tampaknya sedang ada pembelajaran atau tepatnya diskusi. Beberapa mahasiswa/i tengah memperhatikan teman mereka yang berada di depan, dengan wajah serius.
Sebagian sudah tentu tertawa mendengar penjelasannya. Orang itu adalah salah satu temannya Yuri di kampusnya. Mereka diberi tugas untuk diskusi dengan judul yang beragam.
Salah satu teman Yuri mengambil judul mengenai Dewa Kematian, yaitu Death atau Thanatos. Temannya memproyeksikan Death sebagai tengkorak bertudung hitam yang selalu membawa tongkat sabit di tangannya.
"Apa kalian percaya dewa kematian itu ada?" Tanyanya kepada semua umat dalam kelas tersebut serta ada juga dosen yang menyimak.
Satu mahasiswa mengangkat tangan dan mengemukakan pendapatnya. "Entahlah, Ria. Mungkin memang ada," katanya mengangkat bahu.
"Kamu pernah bertemu dengan dia?" Tanya yang lain lalu semuanya tertawa.
"Kalau sudah mana mungkin aku masih bisa berdiri disini kan. Kenapa tugas diskusi ini berjudul Dewa Kematian karena itu yang membuat aku tertarik," kata Ria menjelaskan.
Kemudian mahasiswi lain mengangkat tangannya untuk berpendapat. "Ria, kenapa kamu membuat judulnya mengenai hal itu? Dewa kematian kan tidak ada yang tahu wujud aslinya bagaimana. Kalau dalam Al Qur'an, dewa kematian itu adalah malaikat Izrail," kata mahasiswi berkerudung biru.
Dosen mereka yang menyimak juga memberikan pendapatnya. Kekurangan Ria adalah judul Dewa Kematian sebenarnya sangat absurd untuk dibicarakan, karena banyak cabang dan... yah, tidak ada bukti bahwa dewa itu ada juga.
"Dalam agama masing-masing pasti sebutan dewa kematian beraneka ragam kan. Yang ingin mereka katakan adalah dewa kematian yang kamu kisahkan ini mengarah kemana?" Tanya pak dosen kepada Ria.
Ria mencerna apa kata dosennya lalu menepuk dahinya. "Maaf Pak, maaf semuanya. Aku lupa menjelaskan kalau dewa kematian yang aku bawa untuk diskusi ini mengarah pada mitologi," kata Ria.
__ADS_1
Semua mahasiswa/i disana bersorak dan menertawakan Ria. Yuri ada disana juga dia menggelengkan kepalanya.
"Hahaha maaf ya. Aku juga sempat bingung. Jadi dewa kematian yang aku maksud adalah Thanatos, dewa pencabut nyawa dalam mitologi Yunani dahulu," kata Ria dengan wajahnya yabg memerah.
"Ya Allah, Riaaaa kita kan sudah berpikiran macam-macam ya," kata yang lain. Kelas menjadi heboh mendengar perkataan Ria.
"Ya sudah lanjutkan. Ayo anak-anak berhentilah tertawa," kata dosen menepuk tangannya dan mereka semua menyimak lagi.
Ria mengambil nafas lalu mengeluarkannya dan melanjutkan. "Thanatos adalah anak dari Niks dan Erebos dan memiliki saudara kembar yaitu Hipnos. Kalau aku jelaskan mereka semua, pasti habis sudah semua materi perkuliahan. Jadi aky akan singkat saja menceritakan semua mengenai Thanatos," kata Ria.
Yuri sudah tentu tahu seperti apa penampakan Thanatos yang aslinya dan memang sangat kejam. Hari ini dia tidak pergi bekerja di toko Eris karena Eris sering memberikan saran.
"Lebih baik bila kamu mempunyai banyak waktu di waktumu yang adli," kata Eris.
"Kenapa? Apa kamu tidak butuh bantuan ku lagi?" Tanya Yuri agak sedih.
"Kamu disini kalau hanya punya waktu luang. Gunakan waktumu sebaiknya dengan mengikuti banyak kegiatan di duniamu. Toko ini akan selalu menyambut kedatangan mu," kata Eris lagi.
"Jangan cemas bila kami berpindah dimensi kamu akan kami beritahu. Jadi tenang saja," kata Arae mengedipkan sebelah matanya.
Yuri mengingat apa kata mereka semua dan kuliah dengan hati yang tenang. Tanpa sepengetahuannya, Eris berada di pepohonan duduk mendengarkan diskusi yang dikatakan oleh temannya.
"Saudaranya yang lain adalah :
Geras yaitu Dewa Masa Tua,
Oizis yaitu Dewa Penderitaan,
Moros yaitu Dewa Ajal,
Momos yaitu Dewa Ejekan,
Eris yaitu Dewa Perselisihan,
Nemesis yaitu Dewa Pembalasan, dan
Kharon yaitu dewa yang bertugas sebagai pendayung di dunia bawah,"
Mendengar itu Yuri bangkit dari tangan yang mengganjal wajahnya. Eris adalah Dewa Perselisihan? Tapi kenapa aslinya berbeda? Yah, namanya juga artikel itu kan cerita di jaman Yunani pasti berbeda dengan wujudnya sekarang.
"Wah ternyata banyak juga ya," kata teman lainnya.
"Seperti yang tadi Aron pertanyakan mengenai penampakan dewa kematian, di sini dijelaskan bahwa Thanatos sering digambarkan sebagai pria tua bersayap," jelas Ria menunjukkan gambar.
Kelas bergaduh melihat penampakan gambar mereka tertawa dengan keras.
"Aku tahu apa yang ada dalam pikiran kalian semua," kata Ria yang menatap gambar tersebut.
"Wah ini sih pencemaran kalau kita bertemu dengan kakek-kakek berciri begitu pasti Thanatos dong," kata salah satu mahasiswa di ujung.
"Lah kakek aku Thanatos dong," kata teman yang lain.
"Ya ya ya ini kan mitosnya bukan Real," kata Ria membela diri.
__ADS_1
"Biarkan saja mereka. Kamu lanjutkan. HEI!!" Teriak dosen menyuruh mereka untuk diam.
Yuri juga jadi semakin semangat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai dewa burik tersebut. Yang telah menolaknya membantu menuju dunia manusia saat dirinya tersesat sebagai roh.
Arae lalu muncul di sisi Eris dan ikut mendengarkan juga. Mereka tidak terlihat oleh orang lain selain yang lama berkontak dengan mereka.
"Hmmm tampaknya menyenangkan ya dunia kampus," kata Arae memperhatikan kelas Yuri.
"Yah," kata Eris fokus mendengarkan.
"Thanatos dianggap sebagai sosok yang tidak punya belas kasihan dan tak pandang bulu, membenci dan dibenci oleh manusia dan para dewa. Tapi Thanatos kadang bisa terkecoh, dan Raja Sisifos dari Korintus pernah melakukannya," jelas Ria.
Yuri jadi ingat bagaimana wajah Thanatos, yang disebutkan oleh Ria, tidak salah apalagi dengan kejadian Gadis Vampir. Secara gamblang, diperlihatkan oleh cermin Eris seperti apa Thanatos sebenarnya.
Salah Tabiko juga sih menyebutkan keinginan dengan hubungan Iblis. Yuri jadi merinding.
"Ketika tiba saatnya bagi Sisifos untuk mati, dia menipu Thanatos sampai Thanatos terbelenggu. Ini menyebabkan tidak ada manusia yang bisa mati akhirnya Ares, dewa perang merasa frustasi pada setiap pertempuran yang dia buat," jelas Ria.
Di luar, atas pohon Arae tertawa memang benar saat itu melihat Ares bertarung tiada habisnya setiap dia membunuh musuh, musuh tersebut bangkit lagi. Seakan punya ilmu kebal dan menyerang Ares.
Eris juga mengenang masa waktu itu yang akhirnya Eris membantu membakar mereka dengan api ungunya, meskipun sudah menjadi hitam legam tetap saja masih hidup.
"Dari pihak manapun tidak ada korban," kata Ria.
"Dunia saat dewa masih ada pasti sulit ya hidup manusia. Untung sekarang sudah tidak ada," kata A menyeletuk.
Meskipun dewa Ares tidak jauh berbeda dengan Thanatos tapi Eris mengenalnya cukup baik. Ares memiliki hati yang hangat dan sangat ramah tapi bila sudah menyangkut perang, sifatnya berubah menjadi bengis.
"Kalau mendengar nama Eris, itu mirip dengan penjaga toko di seberang tadi ya," kata Karina.
Yuri terdiam mendengar apa kata mereka. Kalau begitu toko Eris berada dekat dengan kampusnya? Kalau mereka bisa lihat berarti akan ada seseorang yang memasuki toko itu.
"Benar benar kan aku menanyakan namanya," jawab yang lainnya heboh.
"Dengar ya ini hanya cerita jaman dulu bukan kenyataan! Mana mungkin Eris sang penjaga toko adalah orang yang sama dengan yang aku kisahkan. Banyak sekali nama Eris bertebaran di dunia ini. Please deh," kata Ria mendengar dan juga pernah melihatnya.
"Ya kan hanya mirip di nama saja," kata yang lainnya.
"Pak, sudah selesai," kata Ria menyerahkan semua lembaran tugasnya.
Dosen lalu mengambil alih perhatian mahasiswanya di depan kelas. Mereka bertepuk tangan untuk diskusi yang Ria telah sampaikan.
"Baiklah, kita sudah mendengarkan kisah ya mengenai Dewa Kematian buatan Ria. Memang pasti masih banyak pertanyaan sekitar hal tersebut ya, karena kita sendiri manusia tidak ada yang busa mengetahui kapan kematian mendatangi kita. Baiklah, sekian dari perkuliahan saya hari ini, besok untuk diskusi selanjutnya silakan bersiap. Oh ya Ria," kata Dosen.
"Ya, Pak?" Tanya Ria.
"Akan lebih baik kalau kamu punya suatu rekaman video mengenai bagaimana dewa kematian itu menarik nyawa, akan lebih bagus," katanya sambil tersenyum.
Yang lainnya tertawa mendengar pernyataan dosen itu. Ria hanya bengong do tempat duduknya lalu menatap Yuri dan teman yang lain.
"Si Bapak ini bagaimana sih? Masa iya harus merekam orang yang sedang sekarat sih?" Tanya Ria masih melongo.
Yuri dan semua temannya tertawa keras.
__ADS_1
"Habis kamu juga sih temanya begitu," kata Yuri membereskan buku dan lainnya.
Bersambung ...