
Ins. Do As Infinity - Shinjitsu No Uta
...This is my Darkness...
...Nothing anyone says can console me......
...Despair and Hope......
...Light and Dark......
...Happy and Sad......
...Hard and Easy......
...Good and Evil......
...Fall and Rise......
...Near and Fall......
...Group and Invidual......
...Words cut deeper than knives...
...A knife can be pulled out, words are embedded into our Soul...
...Pretending to be Happy when you are in Pain...
...is just an example at how Strong you are...
...~ Mirai ~...
Baju hari ini :
Semenjak Eris menempatkan portalnya ke pertengahan kota, sejak hari itu pula tokonya menjadi penuh pembeli. Bertumpuk uang dunia manusia kini kian meningkat. Tampak Arae, Hera dan Ela kini menjadi kasir tambahan. Arae yang lincah menjadi pelayan yang melayani semua pembeli.
Eris menghela nafas ini diluar dugaan, dirinya sama sekali tidak mengira manusia akan banyak tertarik pada barang antiknya, tapi dari sekian banyaknya mereka yang masuk dan membeli.
Barang yang menunggu majikannya tentu tidak dapat mereka lihat. Dengan saran Arae dan Hera juga, kini Eris menjual obat cair jenis penyakit apapun tentu saja Eris yang meramu.
Dengan kemasan botol yang lebih menarik dan berbeda dengan yang lainnya. Botol Sang Penyihir itulah judulnya membuat banyak manusia penasaran dan membelinya. Eris termasuk murid yang paling pintar dan agak mirip Hermione dari Harry Potter, kesenangannya adalah membaca segala macam buku.
Tentu saja bahannya alami tidak ada percampuran zat kimia berbahaya. Botol obat berupa sirup yang manusia tidak perlu takut untuk meminumnya. Tentunya bukan obat yang ada dalam dunia manusia tapi masih aman untuk dikonsumsi.
Gara-gara Arae yang menyebarkan selebaran untuk mempromosikan tokonya, sekarang semakin banyak dipenuhi manusia. Hera yang butuh magang pun ikut menjadi kasir dan sibuk membungkus lalu menyimpan uang. Apalagi bayarannya tidak tanggung sehari dia bisa mengantongi Rp 5.000.000 karena Eris tidak memerlukan uang sama sekali.
Marah? Tidak. Eris hanya datar dan lurus menatap orang-orang yang rusuh bahkan botol obatnya dia membuat sebanyak 150 botol dan kini dia hanya duduk dengan santai.
Arae bisa membuat tubuhnya berduplikat semacam Kage Bunshin no Jutsu milik Naruto well, Arae sangat senang menonton Naruto akhir-akhir ini. Eris memperhatikan Arae yang sedang menciptakan ilusi dirinya sebanyak 100 orang.
Semuanya teratasi sampai mereka keluar toko dan Arae istirahat hanya 5 menit lalu keluar lagi. Ela juga kadang sebagai kasir kalau penuh, kalau sedikit diserahkan semuanya pada Hera.
Entah kenapa, dengan kehadiran mereka berdua tokonya semakin ramai. Lalu saat bosan, dia berjalan-lana dan melihat Cupid datang membawakan paket berupa Sabun Garam berwarna hitam.
"Bawakan semuanya ke gudang," kata Eris pada Cupid. Lalu dia mengikuti Eris dengan sosok tukang ojek orang yang melihatnya hanya memberikan jalan untuknya.
Dalam sebuah ruangan Cupid menyimpannya dan menerima bayaran berupa permata dari Eris lalu pergi. Eris masuk dan membukanya, garam-garam itu dia tempatkan dalam sebuah alat untuk membuat sabun.
Lalu dia menambahkan sesuatu dalam garam itu ditambahkan dengan serpihan kelopak bunga. Kemudian setelah jadi, di bungkus dengan cantik dan diberikan semacam mantra bubuk emas yang langsung masuk.
Eris tersenyum dingin melihatnya. Bungkusan itu diberikan gambar sayap gagak. Sebagian dia buat bubuk dan ditempatkan dalam botol parfum kaca kristal yang sangat cantik, pilihan ibunya.
Garam hitam itu berubah menjadi emas dalam botol lalu Eris tutup dengan bentukkan mawar. Arae, Hera dan Ela menuju ruangan itu dan melihat pekerjaan Eris.
Contoh Botol Parfum Wild Rose by Avril Lavigne
"Pekerjaan kalian?" Tanya Eris menyadari mereka semua melihat hadil pekerjaannya.
"Toko sedang istirahat," kata Hera yang berbinar menatap botol tersebut.
"Akhirnyaaaa bisa selonjoran," kata Arae yang rebahan di lantai.
Ela hanya berdiri memandangi benda itu menunggu untuk perintah Eris.
"Bawakan ini semua ke bawah lalu rapikan," katanya pada Ela. Ela mengangguk dan membawa semuanya.
"Apa ini isinya?" Tanya Hera penasaran.
"Garam mandi tapi kamu tahu kan barang tertentu kegunaannya tidak sembarangan," kata Eris yang selesai membuat 150 sabun garam dan bubuk garam mandi 150 buah juga.
__ADS_1
"Tentu saja," kara Hera menyerahkan botol itu pada Eris. "Kegunaannya?" Tanya Hera mengikuti Eris ke depan.
"Nanti juga Bibi akan tahu," kata Eris meletakkan sisa produknya.
"Kapan? Bibi ini dalam versi manusia lho tidak seperti Arae iblis yang membuat bentuk manusia seimut ini," kata Hera mencubit pipi Arae.
"Hahaha Bibi iri ya hahaha," kata Arae yang tertawa terus dengan gemas.
"Nanti Bibi akan tahu sebentar lagi akan ada calon pembeli. Orang yang membutuhkan auranya akan masuk pada jenis garam apa," kata Eris.
"Hmmm karena aku tidak membutuhkan jadi garam ini tidak bereaksi ya. Tapi aku bisa membelinya kan?" Tanya Hera.
"Tentu akan menjadi sabun garam yang kegunaannya biasa," jawab Eris.
Ada bermacam pembeli yang meminta menukarkan barang yang dimilikinya dengan batang di toko yang Eris punya. Tentu saja itu akan termasuk ke dalam hitungan untuk dileburkan menjadi abu. Eris adalah campuran penyihir dan iblis yang didapatkan dari kedua orang tuanya.
Beberapa dari orang-orang ada juga orang asing yang menanyakan harga sebuah teko poci dengan corak burung Phoenix yang kedua matanya seolah menatap mereka. Eris terkejut bule asing bisa melihat mereka. Eris lalu menyapukan tangannya membuat bule itu memilih barang yang lainnya.
"Kau kenapa bisa ke tempatku?" Tanya Eris pada burung Phoenix yang berpura-pura menjadi teko kemudian menatapnya lalu mengepakkan kedua sayapnya.
Ela membukakan jendelanya dan burung itu terbang sambil menatap Eris dengan kedua matanya yang bijak lalu menundukkan kepalanya dan pergi.
"Entah apa yang dia cari," kata Eris lalu ke rak yang lain memeriksa semua barang lagi.
"Nona, ada bulunya yang dia tinggalkan," kata Ela memperlihatkan buku itu. Besar dan tampaknya masih sangat baru. Ela menatap ke arah langit dimana burung itu menghilang.
"Simpan di ruang penyimpanan mungkin dia ingin menitipkan bulu itu untuk seseorang," kata Eris. Ela mengangguk lalu pergi.
Kemudian perempuan asing lagi yang tertarik pada kalung dan cincin yang terbuat dari perak atau batu akik berwarna hitam dengan ukiran tidak biasa. Terlihat terdapat bintang yang bertebaran di dalamnya dan dia ingin membelinya.
Barang biasa bisa mereka dapatkan hanya dengan menukarkan barang yang mereka miliki. Apapun yang sedang mereka pegang atau baru beli. Sebagian hanya penasaran ingin melihat.
Eris yang menanganinya benda apapun sampai hanya sebuah foto. Tenang saja barang itu aman kalau pemiliknya tahu harus sebijak apa menggunakannya.
Barang yang mereka tukarkan tidak Eris simpan melainkan dileburkan menjadi abu. Baginya itu adalah harga yang harus mereka berikan untuk mendapatkan barangnya. Tidak ada batas waktu dalam pembayaran. Persahabatan, kebijaksanaan bahkan harga diri pun bisa dijual pada Eris tapi bukan dengan mengorbankan tubuh mereka.
Waktu seakan berhenti dalam tokonya tidak sedikit yang juga membeli sabun garam yang diramu olehnya. Garam itu akan berubah warna sesuai pemilik yang membelinya.
Yang mengerikan adalah warna merah darah membuat Arae dan Ela meliriknya. Seorang perempuan yang pernah ditemui oleh Eris. Dengan aura dan aroma tubuhnya yang mencurigakan.
Dia datang mengambil sabun garam itu dengan tatapan wajah yang cantik namun mulutnya sangat bau. Bukan bau mulut karena lapar tapi bau amis, Eris tidak takut karena toh dia gadis kegelapan.
"Nak, ternyata kamu rumahnya disini. Saya ingin beli garam ini. Berapa harganya?" Tanya perempuan itu.
Hera meski hanya manusia biasa, dia merasakan aura yang mengerikan membuatnya mundur dan digantikan oleh Arae yang maju.
"Ibu ini... penuh dengan lumuran darah. Apa Eris sadar bahwa ibu ini senang memakan anak kecil," kata Arae setengah berbisik. Meski dia iblis yang bisa memakan bulat manusia, namun masih memiliki perasaan.
"Kamu tidak akan memakannya?" Tanya Hera lagi.
"Tidak lebih baik dibiarkan membusuk. Mengerikan," kata Arae yang tajam menatapnya.
"Anda yang waktu itu. Anda tidak perlu membayar karena Anda pernah memberi saya uang dan saya tidak menggunakannya," kata Eris menyimpan uang pemberiannya waktu itu.
"Ah, ya ampun. Jadi kamu menyimpannya. Kapan-kapan mau kan berkunjung ke rumah Ibu? Nanti akan Ibu sediakan kue yang enak. Kalau begitu barangnya saya terima ya," kata Ibu tersenyum lalu pamit.
"Boleh saja," kata Eris menampilkan senyuman dinginnya.
Wajah Ibu itu senang tampak sekali kalau senyumnya sangatlah palsu. Kenapa Ibu itu bisa masuk ke dalam tokonya karena ada sesuatu yang ingin dia cari, dan sudah takdir harus bertemu dengan Eris.
Arae dan Hera menghampiri Eris yang masih menatapnya lekat-lekat.
"Eris, Ibu itu... melakukan sesuatu ya?" Tanya Arae.
Eris mengangguk. "Penumbalan bayi dan anak kecil," kata Eris melihat banyak anak kecil di sekitarnya yang menangis.
"Astaga! Untuk apa?" Tanya Hera terkejut.
"Abadi. Ibu itu tampaknya tertarik untuk membuatnya tidak bertambah usia dan memiliki tubuh proporsional serta kulit yang sempurna," kata Eris menghanguskan uang yang pernah diberi Ibu itu.
Mereka berdua lalu menyebarkan bubuk wangi ke arah pintu dan lantai yang otomatis terserap ke dalam lantai. Bau amis itu hanya mereka yang menghirupnya dan tidak disukai.
"Intinya bukankah berarti Ibu itu..." kata Ela berbicara.
"Calon iblis," kata Eris lalu menemani seorang pembeli dengan rambut yang mencolok.
Pembeli itu sangat glamor dengan riasan mencolok, rambut merah, mengenakan seragam sekolah SMA. Dia melihat jam tangannya dan tampaknya sudah terlambat sekolah.
Anak sekolahan itu seperti mengutil karena sejak tadi dia melihat keadaan dan beberapa barang berupa cincin cantik dia dapatkan. Dia ganti dengan cincin usang disimpan di lemari itu, Eris tidak keberatan karena itu juga berupa transaksi.
Dia berpura tidak melihatnya setelah selesai, gadis itu terkejut. "Ya ampun sudah jam segini! Aku tidak sadar karena terlalu asyik berada di toko ini," katanya.
"Tidak ada yang kau beli?" Tanya Eris yang berdiri di sisinya.
__ADS_1
Gadis itu tidak terkejut tampaknya juga sudah jadi kebiasaannya. "Ah..." katanya agak panik. "Aku ada janji dengan beberapa teman, toko kamu sangat bagus. Senang berkenalan denganmu, Nak," katanya bergegas keluar toko.
"Pembayarannya sudah aku terima," kata Eris.
Gadis itu menoleh, menatap Eris yang memperlihatkan cincin usangnya. Lalu dia menunduk dan pergi keluar.
Otomatis dibakar melebur saat gadis itu menghilang. Seorang nenek yang sudah lama memperhatikannya mendekatinya, agak terkejut dengan yang dilakukan oleh Eris.
"Nak, kamu bukan dari dunia ini bukan? Saya tadi memperhatikan yang kamu lakukan pada cincin itu. Percikan api berwarna ungu biru bukan?" Tanyanya pada Eris.
Eris diam tidak menjawab dan hanya menatapnya dengan wajah datar. Nenek itu meneruskan ucapannya meskipun Eris tidak menjawab.
"Makhluk apa kamu ini? Tapi saya tidak merasakan adanya ancaman. Kamu sangat cantik sekali," katanya lalu memegang tangan kiri Eris dan menghentakkan nya.
"Apa mau nenek?" Tanya Eris dengan suaranya yang beraura membekukan.
"Tanganmu... dingin. Apa kamu ini vampir?" Tanya Nenek itu agak mundur.
"Pulanglah. Nenek hanya tersesat ke dalam toko ini. Silakan," antar Eris ke arah pintu.
Ada banyak orang tapi entah kenapa mereka seperti bergerak lamban. Nenek itu memperhatikan semuanya. "Saya mengerti. Tampak kamu kesepian sebenarnya, ada yang kurang di dalam sini kan," kata nenek itu menunjukkan dadanya sendiri.
Eris hanya memperhatikannya.
"Maafkan saya ya maklum sudah tua. Mungkin sayalah yang kesepian. Saya masuk ke toko ini karena banyak orang, saya tidak mengambil apapun," katanya sambil tertawa sendiri menatap Eris.
Eris tidak menjawab mereka berdua berjalan ke arah pintu.
"Aku tidak akan ikut campur urusanmu hanya coba renungkan apa yang hendak kamu cari di dunia ini. Apa kamu vampir yang memiliki niat baik atau buruk?" Tanya nenek itu lagi.
Arae yang melihatnya menyusul Eris, Eris memang kurang tidak memiliki rasa emosi sama sekali.
"Anda bisa mengatakannya seperti itu," kata Arae menghampiri mereka sambil tersenyum.
Nenek itu melihat Arae dan tersenyum manis. "Kamu iblis? Saya baru pertama ini melihat iblis yang semanis kamu hehehe," katanya sambil tertawa.
"Aduuuh aku di bilang manis. Senangnya, maafkan teman saya ya Nek, dia memang tidak memiliki perasaan apapun," kata Arae menatap Eris.
"Astaga! Tidak apa-apa, mendengarkan ocehan saya saja sudah senang. Aku yakin suatu hari akan ada beberapa orang yang berusaha membuat hatimu hangat," kata nenek itu masih berdiri.
"Tentu saja nek, untuk itulah dia datang kesini," kata Arae memeluk Eris yang masih datar saja.
"Hahaha sama denganku dulu sama sekali dingin pada setiap orang lalu bertemu dengan suami yang sudah pergi duluan. Aku tidak menyesal dan melahirkan banyak anak dan memiliki cucu," katanya.
"Sekarang Nenek tidak bersama anak?" Tanya Arae menawarinya bantal duduk.
"Terima kasih, manis. Tidak ada, mereka semua meninggalkanku di tengah kota katanya meski mereka tidak datang, pasti banyak teman disini. Yah, biarlah mereka akan datang saat aku mati dan berebut warisan," kata nenek itu tertawa namun sedih.
Eris dan Arae duduk bersamanya. Meski Eris tidak menanggapi, dia terus mendengarkan.
"Jangan sedih, Nek. Nenek bisa datang kapan saja ke sini. Boleh kan, Eris?" Tanya Arae yang menatapnya.
"Bolehkah? Taman mu sangat indah, saya ingin berjalan disana tapi kalau mengganggu tidak apa. Kalau begitu saya pulang dulu," kata nenek itu berusaha berdiri dengan bantuan tongkatnya.
Arae mengantarkannya sampai depan gerbang.
"Aku akan buatkan teh," kata Eris sambil berbalik berjalan ke mejanya.
Nenek itu mendengar lalu berbalik. "Saya akan membawakan kue yang enak! Kamu harus mencobanya juga meskipun tidak yakin apa kamu bisa memakannya. Kamu juga ya manis, makan buatanku," kata nenek itu ceria menatap Arae.
"Tentu saja!" Jawab Arae senang mengantarkan nenek itu sampai dijemput supirnya.
Nenek itu pulang dengan perasaan senang dan supirnya juga turut senang. "Besok antarkan lagi aku ke tempat ini, mungkin hanya nenek tua yang sekarat ini yang bisa melihat toko itu," katanya melirik ke samping dimana hanya ada bangunan kosong.
"Baik, Bu," kata supirnya dan berangkat.
Eris tidak berkata apapun saat nenek itu pergi dia sontak memegang dadanya. Kekurangannya adalah dadanya yang kosong melompong, itu adalah kutukan yabg harus dia terima saat masih bayi.
Akibat pelanggaran yang dilakukan oleh Ayahnya membuatnya menjadi satu-satunya anak yang dadanya kosong. Kesepian? Hati? Hangat? itu tidak ada dalam tubuhnya tapi kini sepercik api masuk ke dalam dadanya.
Tujuannya datang adalah memperoleh bola kehidupan agar dirinya bisa kembali ke bentuk semula dan pulang. Hanya saja ibu dan ayahnya banyak berharap Eris bisa memperoleh apa yang seharusnya ada dalam dirinya, sama seperti orang dan warga di dunianya.
Lalu bel pintu terbuka dan masuklah siswi SMP dengan mengenakan mantel jaket tebal berwarna cokelat, menyembunyikan seluruh tubuhnya. Gadis itu kemudian melihat-lihat dengan perasaan yang takut.
"Megah sekali. Ini toko?" Tanyanya melihat ke atas.
"Selamat datang," kata Eris berhubung Ela masih sibuk.
Gadis itu memeluk erat jaketnya ingin mengatakan sesuatu tapi ditahannya lagi. Menatap Eris dengan kedua matanya yang habis menangis.
Eris menawarinya untuk duduk dan membuatkan teh, gadis itu menolak dengan keras membuat mantelnya melorot ke bawah.
Terlihatlah wajahnya yang penuh luka mengerikan, bekas ditampar dan luka lainnya. Gadis itu berteriak sambil menutup semuanya lagi.
__ADS_1
"Tidak akan ada yang memperhatikanmu disini jadi tidak perlu kau tutupi seluruh tubuhmu dengan mantel jaket itu. Mereka tidak akan sadar bahwa kau ada disini," jelas Eris menawarinya untuk duduk lagi.
Bersambung ...