
"Lia, bagaimana kalau kamu mencoba mendatangi tempat itu juga?" Tanya salah satu teman kelas Sia sambil tertawa.
"Untuk apa?" Tanya Adelia.
"Untuk upgrade wajah kamu hahaha!" Kata yang lainnya menertawai.
Adelia kesal sekali mereka selalu seperti itu. Dia juga sadar sebenarnya sudah lama kalau bergabung dengan lingkaran pertemanan dengan Sia apalagi Sehan, itu sama sekali tidak mungkin.
Sia yang sekarang lebih bisa menguasai dirinya tidak terlalu banyak bicara dan pasrah saat Sehan menyeretnya kemanapun.
"Kamu tidak siap-siap? Akan ada acara bertema Dewi Kecantikan Sang Aphrodite," kata A memberitahukan.
"Dewi Kecantikan?" Tanya Adelia pelan.
"Artis drama yang katanya kecantikannya sampai dijuluki sebagai Dewi Venus juga akan hadir. Kalian sudah menonton belum film terbarunya?" Kata B dengan semangat.
Adelia terdiam mendengar obrolan mereka. Dia merasa tampaknya wajahnya belum ada efek dari sabun yang dia dapatkan. Setiap hari selalu dia bersihkan wajahnya namun dalam hatinya masih saja kalah glowing dari mereka berdua.
Sia dan Sehan masih berada di kelas lain mereka sedang menghadiri rapat bersama para pengurus panitia. Sehan paras cantik namun tomboi menunjuk Ambrosia sebagai wakilnya.
"Eh eh, kalian sadar tidak sepertinya akhir ini penyakit mengerikan yang dimiliki Ambrosia semakin berkurang ya," kata A sambil memakan cemilannya.
"Iya aku setuju. Makin kesini, perbannya pun lepas satu per satu, meski masih ada bekas tampak kulitnya kembali sehat," kata yang lain menyetujuinya.
Sehan lalu datang sambil membawa makanan, Sia dipanggil ke ruang guru. "Ada apa nih?" Tanyanya menghampiri mereka.
"Kamu kan dekat nih sama Sia merasakan ada bau busuk tidak?" Tanya mereka penasaran.
"Hmmm tidak ada. Kalian tidak merasakan?" Tanya Sehan.
"Tidak ada. Malah wangi bunga segar," kata C.
"Iya kelihatannya dia sudah menemukan obat untuk menghilangkan semua penyakitnya. Bagus sih," kata Sehan lagi.
"Semoga perilakunya yang jelek itu tidak kembali juga," kata temannya.
"Ya jangan sampailah. Sekarang dia lebih banyak diam dan mendengarkan," kata Sehan.
Adelia lalu mendekati mereka. "Kalian tahu dia pakai obat apa?" Tanyanya berdiri sebelah Sehan.
"Tanyakan saja pada dia. Kami sih sudah cukup senang sakitnya sembuh. Kamu kan akrab juga sama Sia," celetuk A.
"Aku tidak seakrab itu dengannya tapi akan kucoba tanyakan," kata Adelia kembali ke kursinya. Lalu Sehan merasa aneh dan pindah.
Adelia sendiri menggunakan sabun merah itu di rumahnya saat mau pergi sekolah. Dia agak takut sabunnya berubah menjadi merah darah saat dia cuci dengan air.
Sambil memejamkan kedua matanya, saat dia cuci lalu aplikasikan ke wajah, perlahan dia membuka katanya dan... ternyata sama seperti sabun pada umumnya. Mengeluarkan busa berwarna putih dengan keharuman wangi bunga.
Dia legaaaa sekali melihatnya pikirannya terlalu jauh berpikir karena tatapan Eris yang dingin. Dalam penglihatan yang lain sudah tentu benar, Adelia mencuci wajahnya dengan menggunakan darah dari sabun tersebut.
Setelah cukup dia membasuh dan mengeringkannya. Wajahnya menjadi agak bersinar dan memang harum sih. Adelia keluar kamarnya dan sarapan lalu pergi ke sekolah. Dia membawa serta sabunnya itu.
Lima menit kemudian Ambrosia datang sambil berjalan dengan biasanya. Sia duduk tanpa memperhatikan semua temannya yang sedang mengobrol.
"Pagi Sia, hari ini kamu wangi sekali. Kamu lepas perban lagi? Penyakitnya sudah sembuh ya," kata Adelia agak kecewa.
Tangan Sia sudah hampir mulus tersisa bekas letupan gelembung yang melebar tapi dia tidak taku melepaskannya. Kulit bekasnya itu seperti mengering dan mengelupas, Sia juga sudah bawa lotion untuk melembutkannya. Bila ada waktu senggang dia menguliti kulit keringnya lalu mengoleskan lotion.
"Ya begitulah, itu karena aku bersabar memakai obatnya. Meski kamu melihatku tampak baik-baik saja, tapi perlu kalian ketahui ya selama ini aku berjuang keras," kata Sia dengan nada agak tegas.
__ADS_1
Teman-temannya mengelilinginya dan mengangguk. Mereka memegang kulitnya meski tampak kasar tapi sudah lumayan.
"Baguslah, perjuangannya keras ya," kata mereka memperhatikan.
"Tentu saja penyakit aneh ku ini menjadi kesadaran untukku juga kalau perilaku aku dulu sangat keterlaluan. Aku minta maaf ya ke kalian semua," kata Ambrosia dengan gamblang.
Mereka tampak malu tapi mengangguk. "Setidaknya bisa membuat kamu sadar ya bagus," katanya.
"Nah, begitu dooong," kata Sehan langsung menggantungkan tangannya ke leher Sia.
"Hentikan!" Kata Sia mencubit pipinya Sehan.
"Lalu obat seperti apa yang bisa menyembuhkan penyakit mengerikan itu?" Tanya Sehan yang menahan cubitan Sia.
Sia melepaskan tangannya dengan bangga tersenyum. "Setelah perjuangan mencari obat kemana-mana akhirnya aku dapatkan secara ajaib," kata Sia.
"Woooh," seru mereka semua.
"Lalu?" Tanya Sehan yang masih menggantungkan tangannya di kepala Sia.
"Obat itu tidak ada dimanapun. Bulan ini terakhir katanya aku menggunakan obat itu karena nanti aku tidak membutuhkannya lagi. Toooh tubuhku sudah benar-benar pulih ya dan kecantikanku kembali semula tuuuch," katanya dengan genit.
"Heeeeiii kamu kembali seperti semula lagi hmmm," kata Sehan mencekik lehernya.
"Uhuk uhuk SEHAAAAN!" Teriak Sia memukul kepalanya dengan buku tebal.
Mereka tertawa melihat Sia dan Sehan, hanya Adelia yang ketawa tipis. Dirinya kecewa sekali kutukan yang dia kirimkan kini ternyata memudar. Dan anehnya kertas mantra yang dia tulis pun menjadi abu.
Sehan melepaskan tangannya dan meminta maaf terlalu kencang mencekiknya. Mereka berdua mengobrol sambil sesekali tertawa. Sia sudah ceria seperti sedia kalanya dan perilakunya disukai semua orang.
"Sehan, aku mau bicara berdua sama kamu nanti," kata Sia menarik telinga.
"Duh aduh duh, sekarang?" Tanyanya mengelus telinganya yang dijewer.
"Kalau kamu nanti mau ke toko itu lagi, kami ikut ya," kata yang lain.
"Oke," jawab Sia.
Tidak dengan Adelia yang menganggap segala hal berkaitan dengan Sia itu biasa. Dia menjadi penasaran karena dirinya tidak diikutsertakan dalam obrolan rahasia mereka.
Istirahat tiba, Sia dan Sehan keluar kelas bersamaan. Adelia yang memang penasaran, mencoba mengikuti mereka. Dia ingin tahu apakah jangan-jangan Sia akan mengatakan lagi suatu rahasia?
Tapi sebelum mereka keluar kelas, beberapa temannya menahan mereka dan memaksa memberitahukan soal obat itu.
"Eh tunggu dulu sebelum kalian pergi. Beritahu kami dong obat yang kamu pakai bisa sampai mendapatkan kulit mulus," Kata A memohon.
"Iya aku juga penasaran. Ayo beritahukaaan," pinta Adelia yang memang penasaran.
Sia melihat ke dalam kelas hanya mereka berdelapan yang ada dalam kelas. "Apa boleh buat," katanya lalu kembali ke bangkunya diikuti Sehan dan yang lainnya.
Sia mengeluarkan kotak cantik dan menaruhnya di atas mejanya. Mereka semua berbinar melihatnya dan membukanya. Adelia kaget benar saja isinya sabun tapi berbeda bentuk dan warna.
"Waaah haruuumnyaaaa," kata yang lain menciuminya.
Adelia terpaku melihatnya kenapa berbeda dengannya? Dan lagi harumnya semerbak kelas mereka menjadi harum bunga.
"Karena ini saja penyakit kamu sembuh?" Tanya Adelia tidak percaya. Kutukannya sembuh karena sabun!?!?
"Iya, keren kan. Kata pemilik sabunnya penyakit aku itu karena ada yang benci, ya menyadari sih kesalahanku banyak. Aku mulai terima," katanya dengan tawa histeris.
__ADS_1
"Sabun biasa? Sabun garam. Iya juga ya kalau terkena santet kan sebagai penyembuhan ya garam," kata Sehan meneliti.
"Bukan garam dapur ya. Garam yang masih berupa kristal belum diolah. Wah keren juga ini," kata yang lainnya.
"Sudah ya sini masukkan lagi," kata Sia. Mereka menyimpannya lagi.
"Cara dipakainya bagaimana?" Tanya Adelia.
"Karena aku mulai sembuh kembali aku hanya perlu basuh di bagian yang masih ada bekasnya. Dan busa itu mengering tanpa menyisakan air sedikitpun, mungkin menyerap ya. Aku tidak disarankan memakainya setiap hari lagi," jelas Sia yang menyimpan sabunnya kembali.
Adelia masih memperhatikan sabun milik Sia. "Jangan-jangan yang dia punya itu yang bisa membuatnya bertambah glowing? Karena sabun yang aku punya hanya untuk terlihat cantik. Aku harus memilikinya, mungkin ditukar saja," dalam hatinya.
"Kita makan yuk. Jadi soal apa yang kamu mau bicarakan?" Tanya Sehan.
"Ada lagi yang lain termasuk soal persiapan festival. Kamu sudah kirimkan persetujuan dengan Aktris Venus?" Tanya Sia.
"Oalaaa sudah kok hehehe," kata Sehan menggaruk kepala.
Sia dengan rambut gelombang mirip Tamara Bleszynski memang bisa memikat banyak murid lelaki manapun termasuk kekasih Adelia. Rambutnya sampai pinggang membuatnya lebih anggun tapi Sia sama sekali tidak tertarik.
Sehan yang rambut mirip dengan Raisa pun tidak kalah cantik. Mereka berdua sama-sama berambut lembut dan banyak yang ingin menatanya.
Membuat banyak siswa bingung memilih mereka siapakah yang pantas menjadi Dewi Kecantikan Aphrodite nanti. Adelia yang berjuang memperindah rambutnya pun sulit disetarakan. Itulah yang membuatnya semakin murung.
Di belakang gedung sekolah Sia dan Sehan berdiri, diikuti Adelia yang bersembunyi di semak belukar.
"Emmm... begini, aku mau tahu kamu punya hubungan apa dengan Aegis," kata Ambrosia yang agak malu tapi bersikap angkuh.
Sehan yang mendengarnya tertawa keras dan menepuk bahu Sia dengan keras. "Ya ampun jangan-jangan kamu pikir aku sama dia pacaran?" Tanyanya.
"Dengar ya, memangnya kamu pikir semua orang yang melihat kalian tidak akan berpikiran begitu?" Tanya Sia mendengus.
Sehan berhenti tertawa dan menggaruk rambutnya yang lembut. "Begitu ya. Aku tidak sadar sih. Tapi kenapa kamu bertanya soal dia? Kamu suka yaaaa," goda Sehan mencubit pipinya.
"Eeww memangnyah kenavah," kata Sia yang berusaha melepaskan tangan Sehan.
"Hahaha benar ya tidak kuduga nona besar sepertimu menyukai rakyat jelata," katanya menahan tawa.
"Ish memangnya tidak boleh!?" Tanya Sia galak menahan malu.
"Tenang tenang itu normal kok Aku tidak berpikir macam-macam. Kamu selalu benci aku ya?" Tanya Sehan.
Sia diam memandang ke arah lain.
"Karena aku dekat dengan Aegis?" Tanyanya lagi.
"Ya begitulah. Aku kan tidak tahu kalau ternyata tidak ada hubungan," kata Sia memainkan rambutnya yang panjang itu.
"Kenapa kami dekat karena Aegis sebenarnya adalah adikku. Adik tiri sih dari ibu yang lain. Kita terpisah saat ayahku bercerai dengan ibunya. lalu Ayahku ya menikah lagi dengan perempuan yang sudah memiliki anak," kata Sehan menceritakan kisahnya.
"Anak itu kamu?" Tanya Sia.
"Iya. Usia kami berdua tidak jauh hanya 1 tahun saja tapi aku kaget sih ternyata dia disekolahkan disini. Jadi yaa kami bisa menumpahkan kerinduan selama 12 tahun lalu," kata Sehan tertawa.
"Agak aneh juga ga tidak seperti adik kakak. Kelasnya opn sebelah kelas kita kan," kata Sia.
"Ya begitulah bukan hanya kamu saja kok yang berpikir aneh. Aku sendiri heran ayahku dulu tidak menyebutkan alasan bercerainya," kata Sehan mereka sekarang duduk bersama di taman.
"Tingkatannya juga berbeda ya," kata Sia berpikir.
__ADS_1
"Kabarnya ada banyak hal aneh yang terjadi dari pihak ibunya Aegis. Mereka bertiga sempat satu atap tapi ada kejadian yang aneh, aku dan ibuku memutuskan keluar dari rumah itu," jelas Sehan.
Bersambung ...