
Dengan wajah tertunduk sedih dan malu, Alira menjelaskan masalahnya.
"Sebab aku ingin sedikit lebih lama tertidur dengan begitu aku bisa bermimpi lebih lama lagi," katanya sambil memainkan telunjuknya.
"Mimpi? Kamu beli obat tidur dari dokter hanya karena itu?" Tanya Honna menggelengkan kepalanya. "Nih anak benar-benar kacau masa hanya karena mimpi saja bisa bertindak bodoh," dalam pikirannya.
Alira mengangguk sudah pasti temannya itu tidak mempercayainya. "Sebelum kamu mulai marah lagi, di dalam mimpi ada seseorang yang memanggilku tapi, walaupun aku mencari dengan susah payah wujudnya tetap tidak terlihat. Tapi aku tahu aku bisa merasakan bahwa laki-laki yang memanggilku itu memang mengenal aku," kata Alira.
"Kok kamu tahu sih dia itu laki-laki? Kan tidak terlihat," kata Honna mulai berpikir Alira berkhayal.
Alira memegang dadanya dan memejamkan kedua matanya. "Aku bisa merasakannya, Honna. Aku ingin bertemu dengannya aku sudah memanggilnya dan mencari tapi tidak ketemu lagi," kata Alira agak menangis.
Honna hanya memijit lehernya yang pegal lalu menghela nafas. "Dia benar-benar suka berkhayal sudah sejak kecil juga selalu begitu," pikirnya.
"Aku tahu kamu tidak percaya tapi itu kenyataan," kata Alira menghapus air matanya.
"Kamu ini memang anak yang aneh," kata Honna dengan tatapan sinis.
Mendengar itu Alira marah sambil berdiri. "HONNA! KAMU KETERLALUAN! Kamu tidak mengerti perasaanku!" Teriak Alira sambil membereskan buku-bukunya.
"Ya memang begitu kan hanya karena mimpi laki-laki saja kamu sampai meminum banyak obat tidur. Sadar dong! Itu hanya mimpi kalau kamu sampai membela diri hanya ingin bertemu laki-laki khayalan, kamu memang abnormal!" Kata Honna memarahinya.
Alira mendengarkannya dia menangis tidak menduga sahabat sejak kecilnya berkata begitu. Orang tuanya juga sama.
"Mana bisa kamu mengerti, Honna!? Sekarang saja lali-laki dalam mimpi itu sudah menempati di dalam hatiku," kata Alira sambil menangis terisak-isak.
"Wujud dia hanya ada di alam mimpi, Alira! Dia tidak nyata kamu mau menyiakan harapan kamu pada sosok yang tidak terlihat? Lama-lama kamu bisa jadi gila!" Kata Honna dengan kesal.
Alira memang terlalu bucin anaknya kalau ada laki-laki yang hanya menyapanya saja bisa dia terus pikirkan. Itulah yang menyebabkannya dijauhi banyak laki-laki begitu juga dengan murid laki-laki di sekolah mereka. Untungnya Alira diberikan wajah yang imut dan cantik.
"KAMU JAHAT!!!" Teriak Alira menangis keras lalu berlari keluar rumah Honna.
"ALIRA!!" Teriak Honna lalu mengejarnya sampai ke luar.
Eris melihat kejadian itu melalui cermin kristal di dalam tokonya. Arae dan Hera sedang mengerjakan tugas mereka masing-masing. Ela membereskan dan membersihkan debu. Pembeli tidak begitu banyak.
Eris lalu mencarikan barang yang bisa mengabulkan keinginan gadis itu. Dia melihat ke dalam mimpi Alira menurutnya laki-laki yang Alira lihat mirip dengan yang Eris lihat juga.
Kembali ke pemandangan dimana Honna menutup pintu rumahnya lalu berjalan lemas. Dia duduk di sofa dan memijat kepalanya.
"Aku ini mungkin sudah keterlaluan ya," katanya menyesal.
"Seharusnya aku lebih bisa diajak berunding olehnya. Kenapa aku harus marah-marah kepadanya sih? Alira anak yang baik kedua orang tuanya pun sangat menyayanginya tapi kenapa dia sampai sejauh itu ya?" Tanya Honna tidak mengerti.
Berubah ke tempat lain yaitu gedung besar, terdapat banyak orang yang memakai kemeja putih dan celana panjang hitam. Beberapa orang seperti sedang berlatih untuk menjawab wawancara.
Hari ini adalah hari dimana terdapat tes wawancara dan ujian tertulis untuk karyawan baru. Memang penghasilannya tidak begitu besar tapi dijamin mereka akan mendapatkan banyak bonus bila pekerjaannya baik.
Aiolos akhirnya datang tepat waktu dan mengisi buku kedatangan lalu masuk mencari temannya. Dengan penampilan keren layaknya seorang aktor, dia mendapati temannya sedang menunggu dirinya di lobby.
"Bro!" Sapanya dengan senyuman cerianya.
"Aio!" Jawab temannya, Nyx.
Temannya lega akhirnya dia datang tepat waktu. Mereka berjabat tangan lalu berpelukan dan duduk bersama, temannya agak cemas dan memeriksa semua yang dia bawa.
"Aku bawa semua kok. Tenang saja," kata Aiolos menepuk bahu temannya.
"Aku cemas karena kamu sering sekali terlambat kalau begini bagaimana jadinya kamu bisa kerja? Kamu begadang?" Tanya Nyx yang agak bete.
Nyx adalah teman dekat Aiolos mereka sama-sama berjuang dari sejak lulus SMA sampai mereka bekerja. Tahu perusahaannya sedang membutuhkan banyak karyawan, Nyx menyuruhnya untuk melamar.
Perawakan Nyx lebih keren lagi. Badannya besar, bahu bidang dan memiliki parah wajah yang ganteng. Nyx lebih serius tapi kadang-kadang sangat ceroboh. Rambutnya yang cepak lurus dengan mata cokelatnya terkesan seperti bukan orang Indonesia.
Banyak yang salah mengira dirinya dengan Jeon Jung Kook BTS, dia selalu menjelaskan bahwa dirinya bukanlah pemuda itu. Karena dia lahir di Indonesia sedangkan Jungkook dari Korea.
"Lalu Bos kamu sudah ada?" Tanya Aiolos celingukan.
"Untunglaaaah mobilnya mogok jadi dia baru saja di jemput. Kamu sudah siap kan?" Tanya Nyx menepuk bahunya.
"Ready," jawab Aiolos dengan ceria.
__ADS_1
"Lalu alasan kamu bangun kesiangan apa?" Tanya Nyx memberikan bento paginya pada temannya itu.
"Wohohoho! Aku sudah makan sih kita makan bersama saja," kata Aio.
Sambil makan berdua Aiolos bercerita sedikit. "Aku keenakan mimpi hehehe tapi bukan mimpi basah ya," katanya sambil memakan burger.
Nyx tertawa keras mendengarnya. Mimpi apa kalau begitu? Kamu setiap tidur berdoa dulu tidak? Kita makan di kantor aku saja yuk, nanti aku kenalkan kamu dengan para juri jadi kamu bisa diterima cepat disini," ajak Nyx menaruh nasi dan ayamnya.
"Jangan, bruh! Aku pilih jalan biasa saja sama dengan mereka semua. Aku yakin sih pasti diterima bekerja disini," katanya dengan riang.
"Percaya diri sekali kamu. Hahaha baiklah. Oh! Bosku datang, aku ke atas ya nanti hubungi aku kalau kamu sudah selesai," katanya membereskan tempat makannya.
"Oke, sudah pergilah. Biar aku yang bereskan," kata Aiolos menyuruhnya pergi.
"Oke, sampai nanti," katanya melambaikan tangan dan bergegas ke kantornya.
Aiolos lalu menunggu gilirannya dipanggil. Lima orang masuk ke dalam dan diwawancara sekitar 15 menit lalu mereka memasuki ruangan untuk tes tertulis.
Di suatu gang terlihat dua orang yang tengah kebingungan mencari alamat yang mereka pegang. Yang satunya orang tua seorang pendeta dan satu lagi pemuda pirang usia 18 tahun.
"Sudah lama ya kita tidak jalan-jalan seperti ini lagi," kata Bapak tua itu sambil tertawa.
"Benar juga kita berdua sibuk mengusir setan, sudah 3 tahun semenjak Ibu meninggal juga," kata pemuda itu melihat-lihat rumah yang sudah berubah.
Honna dan Alira memiliki keyakinan yang berbeda. Honna beragama Islam sedangkan Alira kristen tetapi meski berbeda, mereka sudah saling dekat sejak masih kecil. Dan sepertinya laki-laki yang di dalam mimpi Alira kemungkinan adalah pemuda tersebut.
"Ah, benar juga sudah selama itu. Lalu aku memutuskan untuk menjadi pendeta karena tidak ingin menikah lagi," kata Bapaknya mengedipkan salah satu matanya.
"Hahaha padahal banyak yang menyukai Bapak sayang sekali," kata pemuda itu.
"Tentu saja karena aku punya anak yang setampan kamu jadi kalau mereka menikah denganku, anaknya juga bisa menikahi kamu. Tapi kamu juga menolaknya kan," kata Bapaknya tanpa menatap anaknya.
"Ah hehehe karena aku sudah punya seseorang yang aku sukai. Kebetulan sekali kita ke wilayah ini karena ada pekerjaan mungkin saja bisa bertemu dia lagi," kata pemuda itu malu-malu.
"Hahahaha," jawab Bapaknya tertawa.
"Pak, masih jauh kah rumah yang kita tuju itu? Kakiku sudah pegal," katanya sambil memijat.
"Hmmm ya, aku memang kesulitan mengingat arah. Ini adalah kunjungan pertama keluarga itu, pasti kita tersesat," kata Bapaknya yang juga melihat ke jalanan.
"Hahaha kamu memang anak yang bisa diharapkan," kata Bapaknya mengikuti jalan anaknya.
Eris dan seekor gagak yang selalu datang ke tokonya memperhatikan mereka dari langit. Gagak itu sudah tahu kalau Eris bukan berasal dari dunianya.
"Berikan aku sehelai bulumu," kata Eris ke gagak itu.
Gagak itu lalu mencabut bulunya dan memberikannya pada Eris. Eris menggunakan kekuatannya dan melemparkannya ke dalam tas Alira yang sedang berlari sambil menangis. Lalu Alira bertabrakan dengan pemuda itu.
"KYAAA!!" Teriak Alira jatuh dengan buku yang terlepas.
"Maaf maaf. Kamu tidak apa-apa?" Tanya pemuda itu cemas.
"Aku tidak apa-apa. Aku juga minta maaf. Permisi," kata Alira kembali lari dan buku gagak itu jatuh tepat di hadapan pemuda.
"Eh? Eh, tunggu! Kamu..." kata pemuda itu bermaksud menghentikannya tapi keburu menjauh.
"Kamu kenal?" Tanya Bapaknya keheranan.
"Tidak juga hanya mirip teman sepermainan ku. Lho? Apa ini?" Tanya pemuda itu mengambil bulu yang ada di depannya.
"Itu bulu gagak," kata Bapaknya merasa aneh.
"Kenapa gadis itu memiliki bulu gagak, Pak?" Tanya Pemuda itu tidak mengerti.
"Sudahlah mungkin dia sendiri juga tidak tahu kalau di tasnya ada ini. Buang saja," kata Bapaknya lalu menekan bel pintu di depan rumah tersebut.
TING TONGGGG
Terdengarlah suara seseorang berlari cepat ke arah pintu dan membuka pintu dengan kasar.
"ALIRA!?" Tanya Honna agak senang.
__ADS_1
"Ma...Maaf apakah Ibu kamu ada di rumah?" Tanya Bapak pemuda itu kaget.
Honna langsung lemas ternyata bukan Alira. "Anda siapa ya?" Tanya Honna.
Pemuda itu menatap lekat Honna, sepertinya dia agak kenal.
"Ibu saya belum pulang. Ah, mari masuk," kata Honna.
Mereka berdua masuk dan melihat sekitar rumah. Lalu duduk di sofa.
"Sepertinya aku pernah kesini," gumam pemuda itu.
"Oh ya? Kapan?" Tanya Bapaknya menyimpan barangnya di sebelah sofa.
Honna menyiapkan minum dan kue lalu diletakkannya di atas meja.
"Silakan. Apa Ibu saya yang memanggil Anda?" Tanya Honna sambil duduk.
"Iya, Ibumu ingin mengobrol dan meminta kami datang untuk menginap juga. Namamu?" Tanya Bapak itu.
"Saya Honna, tunggulah sebentar lagi Ibu saya pulang," kata Honna dengan wajah sedih.
"Maaf, aku menyela. Apa kamu pernah sekolah di SD Matahari?" Tanya pemuda itu pada Honna.
"Iya. Kenapa?" Tanya Honna bingung. Kenapa pemuda ini bisa tahu?
"Aku juga berasal dari sekolah itu. Kamu tidak kenal?" Tanyanya menunjuk ke dirinya.
"Tunggu tunggu sebentar," kata Honna mengingat-ingat.
"Rambut pirang," kata pemuda itu.
"Rambut itu... aku ingat seorang murid laki-laki dengan satu-satunya pirang dan dia selalu berkelakuan bodoh," kata Honna berpikir.
"Bodoh?" Tanya Bapak lalu memandangi anaknya. "Apa yang kamu lakukan?" Tanyanya.
"Itu... hahahaha," katanya agak malu.
"Aku ingat! Kamu laki-laki yang selalu melakukan hal bodoh untuk menarik perhatian Alira kan?!" Tebak Honna dengan gembira.
"Jangan katakan keras-keras dong!" Kata pemuda itu menahan malu.
Mereka berdua tertawa bersama lalu datanglah Ibunya Honna dan berpelukan dengan Bapak pemuda itu. Mereka banyak mengobrol dan kemudian menyuruh Honna membawakan barang mereka ke kamar tamu.
Setelah itu Honna dan Tora banyak mengobrol dan tertawa. "Apa Alira masih sama?" Tanya Tora agak malu.
"Nih, dia yang sekarang. Dia pasti senang sekali kalau bertemu kamu," kata Honna memperlihatkan foto Alira.
Tora kaget karena tadi dia bertabrakan dengan seorang perempuan. Ternyata itu adalah Alira.
"Berarti tadi yang bertabrakan dengan aku adalah Alira. Lalu kenapa dia membawa bulu gagak?" Tanya Tora pada Honna.
"Bulu gagak? Dia tidak membawa itu waktu kesini," kata Honna dengan yakin.
"Oh ya? Aneh sekali," kata Tora.
"Memangnya pertanda jelek?" Tanya Honna agak cemas.
"Diartikan sebagai musibah atau lebih jelek lagi kematian. Tapiii itu hanya mitos sekarang kan jaman sudah berubah, jangan cemas dia akan baik-baik saja," kata Tora menenangkan Honna.
"Syukurlah. Apa Alira masih menangis saat kamu tabrakan sama dia?" Tanya Honna merasa tidak bersalah.
"Iya. Dia sekarang semakin cantik ya kamu sendiri kenapa nih? Kok semakin sedih? Kalian berantem?" Tanya Tora.
"Maaf ya, hari ini perasaan hatiku sedang tidak enak jangan banyak bertanya dulu," kata Honna.
"Ada kegundahan di hati kamu ya? Banyak berdoa, Hon kamu lupa?" Tanya Tora.
Honna terdiam mendengarnya dan terdiam. "Bisa tidak kamu membantuku?" Tanyanya.
"Tentu kita berdoa bersama apapun yang terjadi pada Alira berakhir dengan bahagia dan tidak merugikannya," kata Tora.
__ADS_1
Honna mengangguk sambil menangis.
Bersambung ...