Girl Of Darkness

Girl Of Darkness
5


__ADS_3

Ana kemudian keluar setelah memastikan sekitarnya aman dan melihat dengan teliti ke dalam tempat sampah tersebut. Dia memang botol plastik kecil itu dan mencoba menciuminya.


Lalu melemparkan botol itu dengan perasaan jijik.


"Itu darah. Tabiko jadi benar kamulah gadis vampir itu," kata Ana dengan ketakutan. "Apa yang terjadi setelah aku meninggalkannya pergi? Apa yang dia lakukan?" Tanya Ana sambil terus memandangi tetes darah di jarinya.


Kemudian menyadari dia sendirian di lorong, Ana kemudian berlari menuju toilet lalu ke kelasnya. Sayang Tabiko telah melihat hal itu dan tersenyum jahat.


Dia tahu Ana sudah mencurigainya dan sengaja memasang jebakan. Sambil menjilati jemarinya, kini dia harus membunuh Ana meskipun bukan targetnya.


Namun Tabiko juga tidak sadar bahwa perilakunya telah diketahui oleh Eris dan Raven yang berada di langit.


"Nona," kata Raven dalam bentuk gagak nya.


"Bawa Ana ke toko biar aku yang menggantikan tempatnya," kata Eris memandang dingin pada Tabiko yang ada di bawah mereka.


"Baik, Nona," kata Raven lalu terbang melesat ke bawah dan berubah menjadi pemuda.


Eris menghilang sekejap dan berada di depan botol plastik yang dilemparkan oleh Ana tadi. Dia menyelidiki saat kedua matanya berubah menjadi api keunguan, tahulah itu darah milik siapa.


Eris kemudian berjalan menuju kelas dan sesampainya, wujudnya langsung berubah menjadi Ana dan mengatur nafasnya.


"Maaf, Pak aku lama," kata Ana-Eris menundukkan kepalanya.


"Masuklah. Pelajaran akan dimulai, kalian kerjakan halaman 90 sampai 96," kata Guru mereka.


Tabiko menatap Ana dengan pandangan mengerikan lalu mulai mengerjakan tugas yang diberikan.


Ana-Eris mengerjakan semua soal dengan baik, semua tugas dia kerjakan tanpa ada salah sedikitpun.


"Ana, sejak kapan kamu sepintar ini?" Tanya temannya di depan memeriksa hasil jawaban Eris.


"Aku belajar dengan giat," kata Ana-Eris tertawa.


Tabiko kemudian termenung, dia baru tahu kalau Ana ternyata murid yang sangat pintar. Nilainya jauh di atas Tabiko dan dia kesal.


Sebelum kejadian Eris berubah wujud, kita kembali ke waktu dimana Ana tengah berlari. Tiba-tiba Raven muncul di hadapannya menunggu kedatangan Ana.


"Lho? Kamu kan yang ada di toko Eris. Kenapa ada di sekolah?" Tanya Ana kebingungan. Dan... kok dia bisa masuk ke sini tanpa ada yang mengejar?


"Saya disuruh Nona Eris untuk membawamu ke toko. Kamu dalam bahaya," kata Raven menghampirinya dengan sopan.


"Apa!? Kenapa?" Tanya Ana keheranan.


"Saat kamu mengamati botol plastik yang terdapat sisa darah, teman yang kamu curigai sebagai gadis vampir telah memasang jebakan," jelas Raven.

__ADS_1


Sontak Ana kaget dan lemas. "T-Tabiko tahu aku... mencurigainya?" Tanyanya jatuh ke lantai.


Raven lalu berjongkok di depannya. "Jangan cemas, aku ada di sini untuk memastikan kamu aman. Kalau kamu tidak ikut, kamu akan menjadi korban selanjutnya," kata Raven membuka tangannya.


"La-lalu Eris... Sekolah aku bagaimana?" Tanya Ana dengan kedua tangan yang bergetar.


"Ikutlah. Kamu akan tahu," kata Raven.


Ana mengangguk dan menyambut tangan Raven lalu pergi menuju toko Eris dengan portal yang muncul di hadapan mereka berdua.


Mereka lalu keluar dan berada di dalam toko Eris. Ana merasa tengah bermimpi bisa mengalami kejadian mengerikan lalu juga petualangan yang keren!


Dia melihat ada sebuah cermin yang besar dengan terdapat beberapa kursi. Ana menyaksikan Eris yang berubah menjadi dirinya, dia kagum.


"Selamat datang," kata Ella dengan suara parau.


"Terima kasih," balas Ana dengan sopan lalu duduk di hadapan cermin itu.


Yuri datang dan menyediakan teh greentea yang hangat. "Minumlah," kata Yuri menenangkan Ana.


"Eris butuh bantuan kamu. Ini ada alat komunikasi mirip dengan yang dipakai oleh Edogawa Conan," kata Arae menyerahkan alat itu.


Ana tertawa kecil melihat dasi kupu-kupu berwarna hijau itu. Ana memakaikan alat itu di telinga satunya dan memegang dasi.


"Kamu hanya perlu berbicara sesuai gambaran yang ada dalam cermin dan Eris akan bergerak sesuai perkataan kamu. Bisa?" Tanya Yuri dengan suara lembut.


"Jangan khawatir kamu aman di sini," kata Raven menepuk bahu Ana.


Setelah itu segalanya sesuai arahan dari Ana, Eris dapat melalui semuanya di sekolah.


Sore harinya wakti mereka pulang. Ana-Eris membereskan semua peralatan dan buku Ana yang asli, lalu bersiap pulang.


"Ana, kita pulang bersama yuk," kata Tabiko tiba-tiba datang dengan wajah yang bersinar bagai malaikat.


Ana-Eris tersenyum dengan senang. "Tentu, ayo," kata Ana di toko dan Ana-Eris menggendong tas sekolahnya.


Mereka lalu keluar dari sekolah dan berjalan bersama-sama, semua murid merasa heran karena Tabiko tidak pernah mau diajak pulang bersama dengan murid biasa.


Saat keluar gerbang sekolah, Ana tentu diberi arahan untuk mengeluarkan semua pemikirannya. Karena Eris bukan manusia, kalau ada sesuatu yang terjadi dia bisa mengatasinya.


"Apa tidak akan berbahaya untuk keselamatan Eris? Kalau benar Tabiko gadis vampir itu?" Tanya Ana sebelum setuju.


"Eris akan baik-baik saja," kata Yuri.


"Tapi..." kata Ana masih ragu.

__ADS_1


"Kami bukan manusia kecuali Yuri dan Raven. Jadi bila Tabiko macam-macam pada Eris atau kami, dialah yang dalam bahaya," jelas Arae agak tidak sabaran.


Yuri dan Raven tertawa garing mendengarnya namun mengangguk setuju.


Ana sudah tentu terkejut tapi memikirkan kelakuan Tabiko yang lebih kejam daripada Iblis, akhirnya dia setuju.


"Eris, aku akan mulai memancingnya. Kamu akan baik-baik saja kan?" Tanya Ana dalam alat itu.


Eris yang mendengarnya memberikan kode tertawa ceria pada teman-temannya, dan Ana tahu memang Eris tidak keberatan.


"Oh iya Tabiko, meskipun drama akan di batalkan untuk tiga hari ke depan, minggu depan akan ada konser di sekolah sebelah. Apa kamu akan datang?" Tanya suara Ana melalui suara Eris-Ana.


Tabiko yang sibuk dengan ponselnya kemudian berpikir. "Minggu depan ya? Aku ada urusan sih sepertinya tidak akan datang,"


"Sayang sekali. Sebenarnya ada yang ingin aku bicarakan denganmu. Apalagi saat ini pembunuhan vampir itu tiba-tiba berhenti. Lalu... aku juga mencurigai kamu melakukan sesuatu," kata Eris-Ana.


Mereka berjalan mengarah sebuah taman. Saat mendengar itu wajah Tabiko menjadi gelap.


"Kenapa tidak sekarang saja? Daripada menunggu seminggu menuju acara konser," kata Tabiko dengan pandangan jahat di wajahnya.


"Sekarang? Memangnya kamu bisa? Mungkin akan lama, ini kan waktunya kamu melakukan perawatan bukan?" Tanya Eris-Ana melihat jam tangannya.


"Ah.. luluran itu? Itu bisa aku lakukan kapan saja kok. Jadi, kamu mencurigai aku soal apa?" Tanya Tabiko yang memasukkan tangannya ke dalam tas.


Eris-Ana kemudian duduk sambil menatap langit. "Aku lihat kamu meminum darah di taman belakang sekolah. Tabiko, jangan katakan kalau gadis vampir itu sebenarnya kamu," katanya memandangi Tabiko yang kaget.


Tabiko lalu menundukkan kepalanya kemudian tertawa dengan sangat keras. Di jalanan menuju taman itu tidak ada siapapun yang datang atau lewat. Semuanya sudah diatur oleh Eris sendiri dengan sedikit jentik kan tangan.


"Aku? Vampir? HAHAHAHA! Bagaimana bisa kamu berpikir seperti itu, Ana?" Tanya Tabiko.


Ana yang ada di dalam toko bernafas lega kalau dugaannya ternyata salah Lalu melepaskan alat itu.


"Ternyata dugaan aku salah," kata Ana.


"Menurut kami tidak," kata Arae masih memperhatikan cermin besar itu.


Karena tahu Ana yang asli telah melepaskan alat komunikasi itu, akhirnya Eris lah yang bertingkah layaknya Ana.


"Habisnyaa aku mencium bau darah dari plastik itu. Aku juga lihat sendiri kamu meminumnya. Jujurlah," kata Ana-Eris memandangi Tabiko yang berhenti tertawa.


"Lalu kamu mau apa bila aku memang gadis vampir itu?" Tanya Tabiko mengejek Ana.


"Ayo pergi ke kantor polisi dan kamu sebutkan alasannya melalukan pembunuhan," kata Ana-Eris berdiri di hadapannya dengan nada memohon.


Tiba-tiba kedua mata Tabiko berubah menjadi warna merah darah dan mengeluarkan aroma darah yang pekat.

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2