Girl Of Darkness

Girl Of Darkness
7


__ADS_3

Di masa sekarang, karena Tabiko semakin lemah dia memanggil nama Thanatos dalam hati. Thanatos muncul dengan seringai mengerikan. Tanpa tahu bahwa orang yang ada di hadapannya adalah Eris.


Eris membuka sedikit matanya dan benar saja dugaannya bahwa pamannya yang melakukan hal semacam ini.


Thanatos melihat tubuh Ana-Eris yang tergeletak di trotoar dan membawanya ke dalam rumah sakit tempat dimana dulu Tabiko dioperasi.


Tabiko juga dibawa kesana dan dia diletakkan di kasur, bernafas dengan pelan untuk mencoba bertahan. Tidak, bukan Thanatos yang membawa Tabiko tapi pembantunya yaitu Tartarus yang berubah menjadi asisten dokter.


"Yang beginian saja aku dipanggil," pikir Tartarus mendengus pelan. Lalu setelah selesai dengan menjentikkan jarinya dia menghilang bagaikan asap knalpot.


"Dok, nafasku mulai sesak, aku merasa wajahku mulai berubah. Cepatlah tukar darahnya denganku," kata Tabiko menatap Ana-Eris dengan tatapan kasihan.


"Hebat sekali baru kali ini aku menemukan anak manusia yang sepertimu. Kamu bisa dengan mudahnya membunuh mereka semua lalu menyedot darahnya," kata Thanatos membuka sebuah lemari putih di belakangnya.


Terlihatlah botol-botol darah yang sebagian sudah kosong. Sangat mengerikan sekali, ada sebagian yang sudah membusuk. Itu adalah bagian darah Tabiko yang telah ditukar.


"Aku ingin lebih cantik jadi bagiku itu mudah. Dokter tolong cepat," pinta Tabiko. Dia merasa bisa mencium bau busuk dari wajahnya.


"Baiklah tunggu sebentar, aku akan mulai memindahkan darahnya," kata Thanatos sudah siap dengan peralatannya.


Thanatos lalu menyuntikkan pipa itu ke kulit Tabiko dan menyedot darah Ana-Eris.


"Ughhhh... sakit," kata Tabiko tidak biasanya kesakitan. Darah bukan berwarna merah melainkan hitam keluar dari mulut Tabiko.


Thanatos tertawa melihat itu dia banyak berterima kasih pada Tabiko yang telah mempersembahkannya darah segar setiap hari. Lalu darah hitam itu tidak keluar lagi karena darah Ana-Eris telah memasuki wajahnya, dan Thanatos melihat sekilas darah yang bercahaya keunguan.


"Hm? Kelihatannya aku salah lihat," pikir Thanatos keheranan. "Kasihan sekali kamu harus menjadi mangsa dari teman kamu sendiri, Ana," kata Thanatos lalu bermaksud membuka seprainya.


Setetes darah terjatuh ke lantai dengan warna yang tidak biasanya. Bukan merah tapi hitam keungu biruan, Thanatos berlutut dan memegangnya.


"Ini darah tapi... Jangan-jangan," kata Thanatos yang berdiri lalu membuka seprai tersebut.


Thanatos melihat Eris yang sudah sadar dan tersenyum kepadanya dengan senang. "Hai, paman," ucapnya memegangi tangannya.


"E-ERIS!?" Tanya Thanatos berjalan mundur.


Tabiko juga membelalakkan matanya dan kaget. "Ba...gai..ma...na bisa," kata Tabiko yang masih menerima darah Eris.


Eris bangun dan duduk dengan wujud aslinya. "Apa kabar Paman? Sepertinya yang paman kerjakan menyenangkan ya," menatap tajam ke arah pamannya.


"O-oh a-aku hanya mem-membantu," jawab Thanatos dengan panik.


"Dokter," kata Tabiko berusaha bangkit. Setengah badannya sudah menerima darah Eris. Wajahnya pun kembali sembuh sebagian.


Thanatos memandangi wajah Tabiko yang berubah menjadi lebih cerah dan bersinar. Namun Thanatos tidak yakin bahwa Tabiko akan selamat.


"Eris. Apa darah kamu rhesus?" Tanya Tabiko berusaha turun dari kasurnya dengan pandangan yang mengancam.


"Aku tidak punya jenis golongan darah," kata Eris mencabut pipa itu beserta jarumnya. Dia membiarkan darahnya menetes keluar.


"Eh? Tapi... wajahku kembali bersinar setelah meminum darahmu. Kalau begitu, Dokter aku bisa memiliki wajah cantik ini selamanya kalau aku menghisap seluruh darahnya kan," kata Tabiko tertawa dengan jahat.


"Eris, kenapa kamu diam saja saat aku berusaha menyedot darahmu?" Tanya Thanatos dengan wujud aslinya.

__ADS_1


Eris lalu turun dari kasur dan berjalan ke sisi Thanatos. "Untuk menyelamatkan seorang murid aku berubah wujud menjadi dirinya," katanya.


"Menyelamatkan? HAHAHA!! Lucu sekali. Kamu adalah Gadis Kegelapan seorang iblis untuk apa kamu menyelamatkan manusia?" Tanya Thanatos menertawai keponakannya.


"Paman juga sama kenapa bisa-bisanya mau diperbudak oleh dewi Aphrodite?" Tanya Eris tanpa menatapnya.


Thanatos terdiam, dia juga menyadari kesalahan yang maunya saja disuruh ini itu oleh kakak yang paling tua itu.


"Sekarang giliran ku," kata Eris. Dia mengeluarkan pisau dan mengiris tangannya mengeluarkan lebih banyak darah lagi.


Thanatos yang melihatnya kaget. "Apa kamu gila!?" Teriaknya lalu sadar bahwa Tabiko memandangi darah Eris dengan tatapan seorang monster.


"AKU BUTUH DARAHMU!" Teriak Tabiko dengan suara parau nya dan berlari menuju Eris.


Thanatos melihat Tabiko yang sudah gelap mata. Sekarang Thanatos menyadari kenapa Eris memberikan darahnya. Anak manusia ini sudah setengah menjadi setan.


"Hentikan! Jangan Tabiko, kamu tidak akan mungkin bisa kuat menghisap darahnya," kata Thanatos yang memegang bahu Tabiko.


"Kenapa!? Bukankah Dokter yang menyarankan aku untuk membunuh?" Tanya Tabiko melawan.


"Memang benar tapi maksudku bukan untuk DI MINUM! Kalau kamu menghisap darah Eris..." kata Thanatos berusaha menahannya.


"Minggir! Aku sudah bersedia menyerahkan jiwaku pada Iblis jadi aku tidak akan tinggal diam melihat Eris hidup," kata Tabiko menghempaskan Thanatos.


"Mengerikan sekali bukan? Orang yang sudah memiliki keinginan mutlak, akan meraih apapun bahkan dengan jalan yang kotor. Hisap dan jadilah makhluk abadi," kata Eris memberikan banyak darah pada Tabiko.


Tabiko langsung saja menerimanya lalu meminum darah Eris yang Eris masukkan dalam botol. Tabiko melihat warna darah Eris bukan berwarna merah atau hitam, mirip coca cola rasa anggur dan blueberry.


Thanatos menutup kedua matanya tidak ingin melihat apa yang terjadi pada Tabiko. Setelah dirasa cukup, Tabiko menghentikan aksinya dan berlari ke depan cermin.


Eris hanya memandangi Tabiko dari kejauhan, luka Eris mulai tertutup kemudian darahnya menjadi kepulan asap abu-abu dan putih.


"Hmm abadi? Makhluk seperti aku pun tidak pernah menyukai keabadian," kata Eris menyeka tangannya. Kedua kata Eris lalu bersinar merah dan keemasan, auranya menjadi berbahaya. Api ungu miliknya muncul di sekelilingnya.


Tabiko menatap Eris yang masih berdiri tegak, dia melihat luka itu benar-benar sembuh total. Tabiko menatap wajah Eris yang masih sama tidak ada kerutan atau hancur.


"Kenapa? Kenapa tubuh kamu tidak berubah? Korban aku semuanya menjadi kurus tanpa darah. Tapi kamu tidak," kata Tabiko.


Eris menatap Tabiko dengan dingin.


"Tidak ada seorang pun makhluk yang berani meminum darah Eris. Apalagi kamu yang sekarang sudah menjadi setengah setan seharusnya kamu dengarkan ucapan ku," kata Thanatos yang terduduk di kasur Tabiko memandangi indahnya bulan.


Tabiko kebingungan. "Setengah setan? Aku? Bicara apa dokter ini? Aku kan hanya mengikuti saran dokter. Aku menjadi Gadis Vampir!" Kata Tabiko menghampiri dokter Thanatos dengan perasaan yang aneh.


"Memang benar aku menyarankan itu tapi apakah kamu ingat aku berkata kamu harus meminum darah mereka?" Tanya Thanatos berbalik menatap Tabiko.


Tabiko terdiam dan menatap tangannya. "Aku... setan?" Tanyanya kepada dirinya.


"Ingatlah kamu sendiri yang menjual diri pada iblis demi keinginan mendapatkan wajah yang cantik lagi. Kau pikir Iblis itu imajinasi?" Tanya Eris.


"HAHAHAHAHAHAHAHA!!!" Tabiko tertawa dengan histeris.


"Dia sudah gila," kata Thanatos.

__ADS_1


"Seperti keinginan paman. Kamu tahu kan vampir bisa dibunuh dengan cara ditembakkan peluru suci," kata Eris. Apinya perlahan membesar mengelilinginya.


Tabiko yang mampu melihat api ungu itu kemudian memohon kepadanya dan bersimpuh. "Tidak! Jangan! Aku ingin terus cantik, aku tidak akan membunuh lagi," katanya berlutut.


"Aku tidak mungkin memiliki peluru suci," kata Eris menatap Tabiko.


"Eh? HAHAHA jadi kamu menggertak ya. Aku tidak masalah menjadi setan yang penting kini wajahku kembali cantik. SELAMANYA!" Teriak Tabiko dengan puas.


"Tabiko, kamu telah banyak menghisap darahku menurutmu apa yang akan terjadi pada tubuhmu?" Tanya Eris kemudian menghilang sambil tersenyum jahat.


Tabiko terdiam lalu menatap Thanatos. Thanatos berdiri dan menjelaskan. "Kamu salah besar meminum darahnya," kata Thanatos bayangannya disinari cahaya bulan.


Tabiko tidak mengerti lalu merasakan sesuatu terjadi pada tubuhnya. "Tubuhku," katanya memperhatikannya.


"Dalam penglihatan ku, darahmu sudah berubah. Suara kamu juga Tabiko. Darah Eris mulai menyebar ke seluruh syaraf bahkan urat. Bukan membuatmu kebal tapi," kata Thanatos menunggu efeknya.


Kedua kakinya perlahan berubah seperti mengeluarkan akar hitam dengan glitter warna warni alias api Eris mulai menjalar. Kulitnya terbakar mengeluarkan asap tipis.


"APA INI!? DOKTER! DOKTER TUBUHKU...TERBAKAAAAAAR! AAAAAA. TOLONG," Kata Tabiko berusaha meraih Thanatos.


Thanatos tidak bergerak sedikit pun dari dirinya berdiri. Dia menatap cahaya bulan yang terang. "Tidak ada makhluk apapun yang berani meminum darahnya. Seharusnya saat kamu menjadi setan, masih memiliki insting. Tapi sepertinya tidak ya," kata Thanatos memandang Tabiko.


"Dokteeeeer.. HUAAAAAAA seharusnya aku tidak menerima sarannya. Seharusnya aku bersabar menerima semua ujian ini," kata Tabiko yang lemas duduk di lantai sambil menangis.


Thanatos berjongkok di hadapan Tabiko. "Kamu tahu, darah Eris bisa menghanguskan makhluk ghaib kecuali manusia. Tidur panjang lah Tabiko, waktumu sudah tiba," kata Thanatos tertawa jahat.


Tabiko hanya terus menangis dan api itu kemudian memakannya dengan habis menyisakan sisa tubuhnya yang hitam legam. Bola kehidupan Tabiko keluar dan Thanatos menyambutnya.


"Terima kasih atas perhatianmu yang menerima saran gilaku. Aku terima pembayarannya," kata Thanatos lalu menghilang, tidak lupa dia menghancur porak porandakan semuanya dan membakarnya dengan api.


Keesokan harinya terdengarlah kabar bahwa kamar Tabiko mengalami kebakaran misterius. Mereka juga menemukan mayat Tabiko yang sidah tidak bisa dikenali, untung saja masih ada beberapa darah Tabiko yang tersisa.


Dalam sekolah pun mereka gempar karena ternyata seperti dugaan Ana, bahwa Tabiko adalah gadis vampir. Sari bersyukur Ana selamat mereka berpelukan lalu menceritakannya pada yang lain.


Dalam toko Eris, Yuri tidak menyangka soal itu. Apalagi saat datang, Eris pingsan di depan pintu. Sambil menemani Eris yang masih terbaring di kamar, Yuri melihat bola kristalnya.


Lalu mendengar suara Ana yang datang kembali sambil membawa sebuah buku cantik.


"Ana. Ada apa?" Tanya Yuri menyambutnya.


"Ini. Untuk pembayaran ku. Terima kasih," kata Ana menangis.


Yuri dan Arae menundukkan kepala lalu melihat Ana keluar dari toko. Setelah keluar, saat Ana berbalik toko Eris sudah tidak ada dan dia tersenyum bahagia.


Yuri kembali ke kamar Eris. Eris sedang menyisir rambutnya.


"Ana ya," kata Eris.


"Dia menyerahkan buku diary yang cantik sebagai bayaran katanya," kata Yuri.


Eris terdiam menatap buku diary itu. Dia memegangnya dan buku tersebut berubah wujud menjadi lebih keren dan... misteri.


"Kalau saja Tabiko bertemu denganmu sebelumnya, dia tidak akan sampai membunuh kan," kata Yuri.

__ADS_1


"Belum tentu. Kita tidak akan pernah bisa melawan apa yang harus terjadi, Itulah takdir. Biar pun dia harus bertemu denganku tidak menjamin hidupnya akan panjang bukan. Manusia itu pintar, pintar membuat masalah," kata Eris lalu berbalik menatap Yuri.


__ADS_2