Girl Of Darkness

Girl Of Darkness
GELANG VENUS


__ADS_3

Ost. Outlaw Star - Tsuki No Ie


...This is my Darkness...


...Nothing anyone says can console me......


...Despair and Hope......


...Light and Dark......


...Happy and Sad......


...Hard and Easy......


...Good and Evil......


...Fall and Rise......


...Near and Fall......


...Group and Invidual......


...Before creation there must be destruction...


...If my soul stands in the way I'll toss it aside...


...Yes, I have no choice but to move forward...


...You told me I couldn't kill you but I'd like to try...


...and prove you wrong...


...So, let's see how many times is it gonna take?...


...~ Fullmetal Alchemist ~...


Baju hari ini :



Bulan Agustus masih menjadi bulan yang terus mendatangkan hujan. Setiap hari setiap waktu, menit, jam, hari bahkan per Minggu. Eris menghela nafas kalau hujan terus ya memang membosankan. Udara dingin mengharuskannya berselimutkan kain yang tebal, yang dikirim oleh ibunya.


Setiap harinya Tumbuh tubuhnya masih belum ada perubahan. Menyebabkan dirinya sulit menggapai benda yang jauh di atas sana.


"Sampai kapan aku dengan tubuh kecil begini? Sulit bagiku menggapai semua barang yang terlihat raksasa ini. Apalagi setiap ada pelanggan, mereka akan bertanya dimana orang tuaku," kata Eris memandangi dirinya di cermin yang sangat besar.


Lalu tampaknya dua tangan yang kurus memeluk Eris dari belakangnya. Agak mirip dengan cermin dalam cerita Harry Potter. Itu adalah ibunya sang Ratu.


"Sabarlah, nak sedikit lagi tubuhmu akan tumbuh. Salam sayang untuk Arae ya katakan kepadanya ibunya ingin dia segara pulang."


Eris mendekap dirinya lalu ibunya tersenyum dan menghilang. Kemudian...


"PAAAKET!" Teriak Cupid kembali pergi.


Eris mendatangi arah itu dan melihat kotak kecil yang ada di meja kerjanya. "Hmm gelang Venus? Lagi-lagi Zeus mengirimkannya kemari? Haaa," keluh Eris. Mau bagaimana lagi hanya dia yang bisa mengatasi barang kegelapan itu.


*Ini hanya untuk keperluan novel saja. Aslinya gelang emas ya


__ADS_1


Gelang Venus atau bisa juga disebut sebagai perhiasannya dewi Aphrodite, gelang ini dikatakan bisa membuat seseorang yang memakainya dapat mencapai kejayaan yang cemerlang. Tapi tentu saja ada sisi kelamnya, keserakahan membuat para manusia jatuh ke dalam jurang.


Dewi Aphrodite adalah dewi cinta, kecantikan dan kenikmatan dalam Yunani. Tentunya dewi ini sangat cantik dan bahkan menyaingi kecantikan wajah Hera dari ikat pinggang sampai perhiasan lainnya banyak diperebutkan oleh dewi-dewi kahyangan, karena sudah tentu terdapat kekuatan untuk para laki-laki atau pun warga.


Tentu juga sudah banyak warga manusia yang mengenal kisahnya. Tidak heran banyak juga yang memburu perhiasannya meski dalam bentuk tertimbun lumpur atau tanah sekalipun. Dikatakan dalam dunia manusia bila ada yang bisa memiliki benda-bendanya maka peruntungan dalam soal apapun akan meningkat.


Apalagi asmara ya dewi Aphrodite terkenal untuk irisan percintaan. Tapi yah pastilah selalu ada rival meski dia seorang dewi paling cantik. Seorang perempuan bernama Psikhe mampu menyainginya sehingga Venus tidak rela kecantikannya tersaingi oleh orang lain.


Zeus pun senang melihatnya namun setiap kali dia mendekati Aphrodite, dewi cinta itu sudah menyiapkan alat listrik yang kekuatannya setingkat dewa petir. Alhasil Zeus hanya bisa memandanginya saja dari kejauhan. Dewi Hera yang juga cemburu hanya bisa menggigiti keranjang kayu yang sudah dibelinya.


Yah ada macam kejadian setelah itu dan kini... gelang Venus itu berada di hadapannya, berkilauan mengundang siapapun untuk memilikinya.


Benda ini mencari pemilik yang mampu menahan hawa mendendam dan keangkuhan. Eris meletakkan gelang itu tanpa tempatnya di sekitar area perhiasan lalu melanjutkan membersihkan tempat lainnya. Meskipun dia memiliki kekuatan, dirinya tidak mau terlalu terlena.


"Apakah di dunia ini reinkarnasi dewi cantik itu?" Tanya Eris dalam dirinya. Hari itu Ela tidak bekerja dia disuruh Eris mengantarkan botol tanduk pada Arae.


Saat tengah berpikir tiba-tiba pintu tokonya terbuka dengan kasar, masuklah seorang wanita tua tampaknya aktris. Berusia 54 tahun dengan berpakaian glamor dengan menggendong sebuah tas, di sampingnya lelaki tua yang mengikutinya. Supirnya pasti. Wajah kakek itu tampak kelelahan lalu Eris menyiapkan teh.


Sosok wanita itu memiliki rambut yang pirang dan tergulung seluruhnya kebelakang kepala. Mereka berjalan masuk, yang wanita terlihat sangat angkuh sambil memperhatikan setiap sudut toko Eris.


Lelaki tua itu hanya menunduk setengah badan dari wanita di hadapannya. Wanita itu menatap Eris dengan angkuh dan mengeluarkan rokok dan menyalakannya.


"Wah, anak kecil yang mengelola toko antik? Hebat," katanya sambil terus menyulut rokoknya dan mengepulkan asap ke sekelilingnya termasuk menyembunyikan kepala supirnya.


"Uhuk uhuk," supirnya itu terbatuk-batuk lalu mengeluarkan saputangan dan menutup mulutnya.


"Saya tidak tahu kenapa datang ke tempat seperti ini tapi tidak apa-apa sekalian menunggu waktu syuting. Aku akan menunggu disini saja," katanya langsung duduk di kursi tanpa menunggu Eris mempersilahkan.


Eris masih terdiam lalu meletakkan dua buah cangkir teh dan juga kue. "Duduklah," katanya pada supir itu.


Kakek itu berterima kasih dan menggeser kursinya dekat meja depan pintu masuk. Wanita itu mendengus kesal melihat jadwal di ponselnya.


Eris hanya tersenyum sinis padanya yang tidak sadar bahwa semua kulit badannya sudah mengendor.


"Bagaimana menurutmu penampilanku ini? Ah, aku salah menanyai seorang anak kecil. Hei, Pak Sapto!" Kata wanita itu memanggil supirnya dengan keras.


"Cantik seperti biasanya, Nyonya. Kalau begitu, saya akan melihat-lihat barang yang ada di toko ini," katanya beranjak pergi dengan berjalan pelan.


Wanita itu mendengus ke arahnya tertawa melihat jalannya yang agak terpincang.


Eris memandangi mereka berdua, hubungannya dengan supir luar biasa sangat kelam. Wanita itu dengan tingkah menyebalkan mulai menaikkan kedua kakinya ke atas meja dimana Eris meletakkan kuenya. Eris membencinya!


"Dengarkan ini, Pak. Katanya ada produser sedang mencari beberapa orang gadis muda dan segar untuk memerankan dewi Venus dalam filmnya. Ada-ada saja tentunya pasti mereka tidak bisa berakting dengan baik. Tidak seperti aku, aku ini dewi nya akting mereka lupa? Bintang dan namaku sudah di peringkat atas. Bapak tahu kan beberapa aktris bahkan juga terpaksa gulung tikar menjadi tukang telor ketika mereka menjadi lawan ku," kata wanita itu membanggakan dirinya dengan suara keras.


Sang supir mengangguk dan tersenyum mendengarnya lalu menundukkan kepalanya dan mulai berkeliling. Setelah itu, kedua matanya terbuka setengah lebar melihat sebuah gelang cantik. Lalu dia pegang dengan berbinar gelang itu memancarkan sinar keemasan yang indah. Gelang itu senang dengan hati yang dimiliki oleh kakek.


"Ini cantik sekali, Nak kalau ada seorang perempuan yang memakainya pasti dia akan terlihat sangat cantik," kata kakek itu kepada Eris yang sudah ada di sampingnya.


"Anda berminat? Bisa untuk kado cucu Anda," kata Eris membuat kakek itu kaget.


"Bagaimana kamu bisa tahu?" Tanyanya memandangi Eris. Lalu mengangguk dan tersenyum. "Ah tapi saya tidak tertarik membelinya karena pasti mahal sekali kan," katanya menaruh kembali.


"Anda bisa meminjamnya tanpa perlu mengeluarkan uang sepeserpun," kata Eris.


Kakek itu terkejut, tangannya bergetar saat hendak menyetujuinya...


"HEH PAK SAPTO! KAMU TADI MEMEGANG APA? Coba kamu kemarikan," perintah wanita itu dengan suara yang keras.


Kakek itu menunduk dengan terpaksa membawanya tidak mungkin dirinya berbohong. Uang gajinya akan dipenggal dengan kejam.

__ADS_1


"Saya menemukan gelang indah ini pasti pas untuk Anda pakai," kata supirnya menyerahkan gelang Venus.


Kedua mata wanita itu berbinar dengan cerah. "Indah sekali. Apa kamu menjual gelang emas ini? HAH! aneh sekali mana ada anak kecil sepertimu bisa memiliki gelang semewah ini. Hmmm ini berlian asli! Lalu emasnya..." kata wanita itu terkejut. Lalu dia memegang dengan seksama dan terkejut lagi.


"Nyonya? Saya tidak tahu itu asli kalaupun palsu, saya bermaksud membelinya," kata supirnya dengan jujur.


Eris memandangi kakek itu, gelangnya tidak menyukai wanita angkuh tapi lebih menyukai kakek itu.


"Emas asli! Kamu tertarik dengan gelang ini?" Tanya Wanita itu dengan mengejek.


"Ti... tidak Nyonya, saya kira itu palsu. Kalau asli mana bisa saya membelinya," kata supir itu ketakutan.


"HAHAHA Bagus! Memang kamu mana mungkin bisa membelinya! Harganya sudah pasti milyaran kan? Saya akan membelinya. Berapa Nak harganya?" Tanya wanita itu berhadapan dengan Eris kecil.


"Tidak dijual," jawabnya dingin.


Kakek itu mendengar tapi wanita itu terlalu senang sehingga tidak jelas mendengar. "Tapi Nyonya harganya pasti sangatlah mahal. Menurut saya lebih baik Nyonya tidak perlu membelinya lagipula perhiasan yang Nyonya dapatkan hadiah dari Tuan, itu lebih bagus," saran supirnya.


Dengan lirikan judes dari wajahnya mengejek supirnya. "HAH! Kamu bilang begitu supaya kamu yang beli? IYA!? Memangnya kalau kamu beli, untuk siapa? Istri Pak Sapto sudah lama mati karena terlindas kereta. JAWAB BUAT SIAPA!?" Teriak wanita itu.


Eris sama sekali tidak menyukai wanita ini tapi juga kasihan pada supirnya. Eris memegangi dadanya. "Kasihan? Kenapa?" Pikirnya.


Dengan takut-takut Pak Sapto menjawab. "Ah, saya akan membelikan gelang itu untuk putri saya," katanya.


"Putri!? ISTRI BAPAK INI KAN MANDUL YA. ANAK DARI SIAPA?!" Teriaknya lagi membuat geram Eris dan hampir mengeluarkan kekuatannya untuk menendang wanita itu keluar.


"Anak angkat saya anggap sebagai putri sendiri, Nyonya. S... saya sejak dia kecil tidak pernah bisa membelikannya barang mewah," katanya yang menahan sedih dan air mata.


"HAHAHAHA lalu uangnya dari mana?" Tanya wanita itu mengejek lagi.


Rencananya kalau Nyonya berkenan, saya... mau meminjam," katanya dengan takut.


"Pinjam? Uang yang Anda pinjam 2 tahun lalu untuk biaya putri angkat Anda itu sekarang sedang Anda bayar. Dengan tenaga Anda sampai mati! Saya tidak akan meminjamkan lagi uang kepada Anda. Hadapi saja, seorang supir seperti Anda seharusnya tidak boleh banyak berharap seperti membelikan putrinya barang mahal," kata wanita itu membuat supirnya menangis menahan kesedihan.


"Saya... sudah bekerja sampai setua ini..." katanya.


"Anda mau membelikan yang imitasi juga tetap tidak akan saya pinjamkan. Lebih baik kamu belikan saja dia karet gelang untuk rambutnya... di PASAR HAHAHAHAHA!!" Tawanya bergema membuat semua barang dalam toko kesal dibuatnya.


Kemudian wanita itu mengeluarkan tumpukkan uang ke hadapan Eris yang menatapnya dengan datar.


"Ini. Dan ini apa masih kurang?" Tanyanya melihat Eris yang masih terdiam.


"Barang itu tidak dijual," kata Eris.


"HUH! Tidak dijual? Pak Sapto ambilkan koper yang ada di dalam bagasi mobil, keluarkan semuanya. Biar anak kecil ini tahu kalau aku tidak main-main dan akan membelinya berapapun harganya. CEPAT!!" Suruh wanita itu melihat supirnya berjalan pelan.


"B-baik, Nyonya!" katanya berlari.


"Lebih baik Anda bersikap dengan baik kepada siapapun. Karena kalau tidak, kemalangan akan menghampiri," kata Eris dengan datar.


"HAHAHA aku tidak masalah. Nak, kemalangan ku adalah membiarkan kakek tua ini hidup dengan tenang. Istrinya disukai suamiku dan berencana untuk membawa pergi semua hartanya. Lalu kamu tahu, aku lah yang memerintahkan seseorang untuk melindasnya tepat saat dia menyebrang," bisik wanita itu pada Eris.


Eris menggenggam kepalan kedua tangannya. Meski dia anak iblis dengan statusnya yang negatif tetap saja wanita ini lebih iblis darinya.


"Kakek itu tahu?" Tanya Eris.


"Dia? Tentu saja. Akhirnya dialah yang harus membesarkan putri angkatnya dan bersedia menjadi budak ku sampai mati," kata wanita itu bangga.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2