Girl Of Darkness

Girl Of Darkness
122


__ADS_3

Arae dan Raven akhirnya bergabung dan menikmati indahnya pemandangan di tempat itu. Lalu mereka mendengar suara pengumuman melalui mic oleh Kapten kapal tersebut.


"Terima kasih kepada para pengunjung yang ikut serta dalam tur kapal mewah ini. Silakan sambil menikmati sajian yang ada di dalam kapal, kami mempromosikan pelayanan serta keramah tamahan dengan menyajikan berbagai hiburan menarik di lantai 2. Kita sebentar lagi akan segera berlayar mengarungi samudera dan melewati beberapa kota." Begitulah isinya.


"Wah, jadi kita akan menginap? Untung aku sudah bawa banyak persiapan," kata Yuri bergembira.


Mereka bertiga senang akhirnya Yuri bisa tersenyum lagi. Lalu saat mereka bertiga sibuk mengobrol, Eris mendengarkan ghibahan seseorang.


"Itu itu tahun ini juga sama. Nenek itu selalu naik kapak ini sendirian," kata A berbisik pada temannya.


Eris memandangi tampak pasangan nenek dan kakek yang saling melambaikan tangan. Saat Nenek itu mulai berjalan menaiki tangga, senyum di wajahnya berubah menjadi dingin.


"Sejak tahun pertama tur kapal ini diadakan, nenek itu terus ikut sama sekali tidak pernah absen," kata B.


"Iya. Lalu diantar oleh suaminya setelah itu dijemput. Apa mereka itu suami istri asli?" Tanya A agak penasaran.


"Memangnya kenapa?" Tanya C yang baru datang.


"Karena suaminya selalu tak pernah ikut, yang naik selalu nenek itu," jawab A.


Nenek itu lalu sampai di geladak dan mereka menyambutnya. Eris memandangi nenek itu dan mengambil jam yang masih terdiam.


Sejam kemudian kapal mulai bergerak, Yuri sangat antusias sekali. Yuri juga bersama Arae dan Raven menuju lantai 2 yang penuh dengan banyak hiburan. Ada casino juga dan Arae mencobanya sudah tentu dengan agak curang.


Eris mencoba permainan slot yang berisikan buah-buahan dan memenangkan banyak dalam sekali tarikan, membuat semua orang terpana.


"Kamu menggunakan kekuatanmu ya?" Tanya Yuri.


"Tidak," jawab Eris menjauh dan beberapa orang berhamburan mengambil koin di tempat Eris tadi.


"Manusia memang serakah ya," kata Arae memandang menggigil melihat pemandangan itu.


Dua jam kemudian Yuri sudah kembali ke kamar dan tengah tidur. Mereka berada di kasur besar kecuali bagi Raven yang terpisah.


"Akhirnya Yuri tertidur juga setelah bermain sebanyak 15 permainan di lantai 2. Setelah temannya meninggal, dia sangat syok sekali," kata Raven menguap lebar.

__ADS_1


Bantal tiba-tiba melayang tepat saat Raven menguap. "Kamu juga harus tidur, Raven," kata Arae sambil tertawa.


Akhirnya dengan menjauh dari tempat Yuri tidur, mereka perang bantal. Sampai Eris masuk, bulu-bulu bantal beterbangan.


"Malam nanti kita akan mulai bekerja," kata Eris lalu keluar lagi.


"Siap," kata mereka berdua.


Eris keluar kamar dan berjalan di dek kapal. Angin laut membuat rambut panjang berwarna putih melambai dipermainkan oleh angin. Dia teringat akan dunianya yang penuh angin.


Eris lalu memalingkan wajahnya dan melihat nenek tua yang tadi naik kapal, tengah berjalan seorang diri di antara orang-orang uang muda.


"Angin malam tidak baik untuk kesehatan Anda," kata Eris yang sudah berdiri di belakangnya. Eris jadi teringat pada nenek yang selalu mendatangi tokonya. Ada kesan dia merindukannya.


Nenek itu tersadar ada yang mengajaknya mengobrol kemudian membalikkan badannya. Dia terkejut seorang anak kecil berbicara dengannya.


"Ah, anak kecil terima kasih. Itulah kenapa saya tidak lupa membawa jaket bulu ini. Apa kamu sendiri?" Tanya nenek itu sambil tersenyum.


"Tidak, ada pegawai saya di bawah," kata Eris.


"Bekerja. Anda tertarik melihat-lihat ke dalam toko saya?" Tanya Eris memberikan kartu nama dimensinya.


Nenek itu menyambut dan memandang dengan tatapan aneh. "Toko? Saya baru tahu kalau kapal ini memiliki toko," katanya agak memiringkan kepalanya.


"Ada, bila Anda percaya," kata Eris dengan wajah datarnya.


Nenek itu tersenyum kepadanya lalu menaruh di dalam saku jaketnya. "Terima kasih, Nak. Saya masih ingin berada di sini. Jika berdiri di sini kehidupan saya yang tidak berarti sedikit tertolong," katanya sambil memandangi lautan yang luas itu.


"Kenapa tidak berarti?" Tanya Eris.


"Yah, ini hanyalah kesedihan seorang nenek tua. Hidup tidak berarti karena saya menikahi orang yang tidak saya cintai," jelas nenek itu dengan pandangan mata yang sedih sekali.


"Apa itu soal pasangan Anda yang tadi mengantar ke kapal?" Tanya Eris.


"Ya kelihatannya kami seperti apa, Nak?" Tanya nenek itu menatap Eris.

__ADS_1


"Bahagia pastinya," kata Eris meskipun tidak begitu.


Nenek itu menghembuskan udara dalam mulutnya. "Seharusnya begitu. Dicintai, diharapkan lalu kami akhirnya bersama dan menikah. Anak pun ada, disebutlah kami sebagai suami istri tapi hati nenek tidak ada padanya," kata nenek itu memejamkan kedua matanya.


"Karena Anda tidak pernah mencintainya," kata Eris tepat sasaran.


Nenek itu lalau tertawa. "Nak, kamu masih kecil tapi rupanya mengerti. Ya kamu benar perasaan nenek hingga sekarang pun tetap pada Panji, pemuda misterius," jelasnya sambil menatap topi yang selalu dia bawa.


Eris memperhatikan topi itu juga, Jam yang digenggam Eris tiba-tiba menghilang begitu saja. "Kemana dia sekarang?" Tanyanya.


"Entahlah, bagian itu sama sekali tidak bisa nenek temukan. Nak, kamu masih kecil mungkin belum mengerti persoalan ini. Saya tahu cerita sedikit tentang kapal kenangan ini," kata nenek itu mengedipkan sebelah matanya.


Eris kemudian berinisiatif membawakan kursi agar nenek tersebut tidak pegal berdiri. "Anda bisa cerita sedikit," kata Eris.


Nenek itu terkejut katena kursi yang dibawa Eris lumayan berat dan Eris tidak kesusahan. "Ya ampun tidak usah," katanya.


"Duduklah," kata Eris agak sedikit menekan.


Nenek itu kemudian duduk sendiri dan tersadar, Eris sudah duduk di depannya. "Hahaha sudah lama nenek tidak bercerita. Dulu ini bukan kapal pesiar, kapal untuk keluar negeri seperti Hong Kong, Jepang, india dan negara lainnya," kata nenek itu mulai membayangkan.


Eris terus mendengarkan.


"Di kapal inilah pertama kalinya nenek bertemu cinta pertama. Namanya adalah Panji tapi dia bukan pecinta hewan yang sering kamu lihat di TV. Bagi nenek dia adalah pemuda misterius, nenek berpikir kalau benar dia masib hidup, nenek kemari pasti akan bertemu lagi," katanya dengan wajah yang sedih.


Eris memberikan sapu tangan kepadanya.


Nenek itu menggunakannya untuk menghapus air matanya. "Aduh, maaf ya Nak nenek jadi bercerita sedih. Sudah malam kamu tidak mengantuk?" Tanyanya memandangi Eris.


Eris lalu berdiri. "Bila Anda berubah pikiran pintu toko kami selalu terbuka untuk siapa saja," kata Eris lalu pergi meninggalkan nenek itu sendiri.


Nenek itu kemudian masih berada di geladak dan mengenang Panji. Sekilas ada perasaan bersalah pada suaminya yang selalu ada untuknya. Kemudian angin semakin keras menyambar tubuh renta itu dan nenek tersebut memutuskan untuk turun.


Saat berjalan, dia teringat pada kartu nama yang cukup misteri. "Zalaam?" Tanyanya dengan rasa aneh. Lalu iseng mencari nomor kamar tersebut.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2