Girl Of Darkness

Girl Of Darkness
22


__ADS_3

Roh itu kemudian melayang dan memasuki kembali vila sesuai perintah.


"Wahai roh yang dahulu tinggal di kediaman ini, datanglah. Kami menyiapkan sarana tulis bila kau ingin mengatakan sesuatu," kata Rio yang kemudian diikuti oleh yang delapan.


Beberapa menit tidak ada yang terjadi, mereka sempat ragu dan yakin ini gagal. Sisna menyadari sesuatu.


Kertas beterbangan Rio kaget pulpen pun bergerak tanpa ada yang menggerakkan.


Para peserta ketakutan. Namun Ares memerintahkan untuk tetap dalam lingkaran.


"Jangan ada yang keluar! Lingkaran ini sudah aku pasang mantra pelindung. Kalau kalian keluar, aku tidak menjamin mereka akan melukai," kata Chris.


Mereka semua tenang dan bertahan. Takjub melihat kertas beterbangan dengan suara tulisan pulpen.


Eris memperhatikan beberapa roh yang belum dia tangkap berdatangan kemudian menghilang entah kemana.


Sesosok seseorang tengah sibuk menulis, Eris hanya mendengus berpikir orang itu melakukan sesuatu yang menarik.


Bersamaan dengan para roh berdatangan dan kemudian pulpen pun terlempar. Orang itu kembali menuju kerumunan dan menahan tawa.


Namun kenyataannya memang pemanggilan arwah itu juga berhasil. Jadi muslihatnya jelas sama.


Pulpen berhenti dan terjatuh, lampu masih tetap gelap dan menyala lagi. Para peserta bernafas lega dan melepaskan tangan.


Chris nampak tidak yakin, dia merasakan ada suatu keanehan.


( Jangan ditiru ini hanya fiktif belaka ).


Saat Chris maju dan ingin mengambil kertas yang bertebaran, saat itu juga suara keras dalam ruangan terdengar.


DUAK DUAK DUG DUG DUG PRAANG PRAAANG


"KYAAAAAA!!!" Teriakan sesuatu bergema. Orang yang melakukan penipuan pun terkejut sekali. Itu bukan ulahnya.


Eris memegangi Ares dan Yuri yang hampir jatuh karena merasa terdorong oleh sesuatu.


"Ini gempa?" Tanya beberapa orang.


"Tapi Pan, airnya tidak ada yang tumpah," kata Rika heboh.


Mereka menatap gelas yang berisi air sama sekali tidak bergoyang. Lalu kenapa mereka merasa pusing?


"Lapsoundnya hebat sekali," kata Chris dengan tenang dan wajah sangat serius.


Lampu kembali mati yang membuat semua orang kaget dan histeris.


Rio, Sisna, Mila dan Chris melafalkan pengusiran yang membuat suara itu kembali tenang.


Lampu menyala beberapa barang memang terjatuh namun tidak dengan air. Mereka kaget dan sebagian menangis ketakutan.


Rio memeriksa sambil menghitung para peserta. Dio dan Ara berpelukan karena takut gelap.


"Syukurlah lengkap. Tidak ada yang diculik kan?" Tanya Rio lega.


"Yang berteriak kencang tadi siapa?" Tanya Mila.


"Maaf, itu aku. Aku takut gelap dan berteriak secara otomatis lalu memegang Dio. Jadi berlipat," kata Ara menyeka wajahnya.


Mereka semua lega dan tiba-tiba ada yang memukul punggung Dani dengan keras.


"AW!!" Teriak Dani sambil mengelus.


"Kenapa?" Tanya Mila memandangi Dani.


"Aku merasa ada yang memukul punggungku dengan keras," kata Dani.


"Siapa? Tidak ada yang berdiri di belakang kamu," kata Yuri.


Dani heran dia berbalik, di belakangnya memang hanya ada tembok beralaskan semen yang kokoh. Dia pun bingung.


"Tapi sungguh dari arah sini," tunjuk Dani di tembok itu.


"Mana bisa tangan orang menyusut. Kamu kan bersandar pada tembok," kata Ara.


"Tapi.. aneh sekali," kata Dani tidak mengerti. Tepukan itu sangat keras.


Eris menatap tajam, apa yang dikatakan Dani memang benar ada tangan yang menepuknya tapi sudah menghilang.


"Arwahnya terpanggil," kata Sisna memperlihatkan buktinya.


Mereka semua melihat tulisan "Tolong", "Pergi", "Hentikan" dalam kertas itu. Mereka semua merinding namun Chris terlihat agak aneh.

__ADS_1


"Hei, Chris," kata Rio menarik selembar kertas yang tulisannya tidak sama.


..."Aku akan mengejar kalian semua" ...


Semuanya ketakutan hanya ada satu orang yang menahan tawa saat yang lain gemetar.


yoshi pun kini percaya bila vila ini memang ada penghuninya, Hantu.


Namun Chris menatap lembaran kertas lain dan yang diberikan Rio. Tulisannya berbeda nampak seperti ada yang sengaja menulis.


"Kenapa? Wajahmu seperti tidak percaya," kata Rio.


"Tulisan di kertas ini... sangat berbeda," kata Chris memperlihatkan.


Eris terdiam, tangan itu merupakan tangan sang zombie, apakah Dani telah ditandai? Secepat mungkin hal ini harus diutarakan dan mereka keluar.


"HAHAHAHAHA!!! WAJAH KALIAN SEMUA LUCU!!" Teriak Kei yang tertawa keras.


"Maksudmu apa? Kami semua ketakutan, tapi kamu.." kata Rika berkacak pinggang.


"Kalian percaya arwah itu yang menulis? Itu aku yang buat! HAHAHA," kata Kei memegang perutnya yang sakit.


Semuanya memandangi Kei, terjawab sudah keraguan Chris dengan melemparkan kertas itu.


"Maksudnya?" Tanya Yuri.


"Saat kalian memejamkan mata, dia mulai menulis dan membuat kertas terbang. Kalian sudah tertipu," kata Eris menunjukkan tulisan tangannya.


"KAMU!!" Teriak yang lain kesal.


Kei menjelaskan dengan masih tertawa. Chris tampak marah karena Kei jelas mempermainkan mereka.


"Dasar! Untuk apa kamu melakukan ini?" Tanya Ara yang lemas.


"Aku sudah menuliskan itu sebelum ini di mulai dan saat kalian semua menutup mata. Ya benar apa kata Eris, alu selipkan kertas-kertas itu. Bagaimana? Tegang?" Tanya Kei yang terus tertawa.


"Keterlaluan! Kamu pikir ini main-main? Hanya iseng?" Tanya Chris dengan menarik bajunya.


"Tenang pendeta. Kei memang begitu tapi nanti kalau dia mengalami hal sebaliknya, dia akan menangis seperti anak kecil," kata Iran.


Kemarahan Chris bisa ditenangkan oleh beberapa orang. Namun Sisna ketakutan melihat Chris yang marah.


"Hei hei, tenang pendeta. Aku hanya sedikit meluluhkan perasaan kalian," kata Kei angkat tangan.


"Makanlah, bisa menenangkan emosi," kata Eris memberikan bulatan kecil berwarna emas.


Chris bingung namun dia memakannya dan aura berbahaya itu kembali redup.


"Terima kasih," kata Chris senyum pada Eris.


"Ya," Eris berbalik dan tersenyum sesuatu.


Tentu Sisna terkejut dia dan Eris mampu melihat pancaran sinar berbahaya dari dalam diri Chris.


Karena itulah Sisna tidak menyukai Eris yang bisa mengetahui rahasia Pendeta muda.


"Tulisan lainnya bagaimana?" Tanya Rio.


"Itu bukan aku. Aku hanya menuliskan beberapa kata dan "akan kejar kalian". Hanya itu," kata Kei mengangkat bahu dan memungut miliknya.


"Kurang ajar," kata Mila menarik bajunya.


"Kalau tidak begini, kalian akan pingsan bukan. Jadi anggap saja aku berjasa membuat kalian berlatih," kata Kei merapihkan bajunya.


"Kami ingin membuktikan apa benar mereka berdua sudah tidak ada," kata Panca.


"Hahaha soal mereka saja sampai dilakukan pemanggilan arwah. Mayat mereka pun belum ditemukan," kata Kei tidak percaya.


"Soal Olive memang sudah tidak ada di dunia ini," kata Eris mengungkapkan.


"Kamu yakin?" Tanya Ara agak tidak percaya.


"Eris kan juga... Exorsist ( dalam bentuk lain ). Dia mengatakan... Olive sempat mendatanginya juga saat terjaga," kata Yuri.


Chris mendengarkan dan mendatangi. "Benarkah?" Tanyanya.


"Kenapa kamu tidak bilang kalau bisa seperti itu?" Tanya Rika.


"Memangnya kalian percaya? Dan lagi, tidak perlu bertanya dua kali apa yang Chris ucapkan sama dengan yang aku lihat," jelas Eris membuat mereka terdiam.


"Kalian bisa mengandalkan Chris dan yang lainnya, biar Eris bagian penjagaan dan mengawasi," kata Yuri.

__ADS_1


"Kalau Anita?" Tanya Iran.


"Sudah tidak ada," jawab Eris.


Para tim lain menangis, Chris pun hanya menundukkan kepala dan berdoa.


"Aku setuju dengan pendapat Eris," kata Panca tiba-tiba.


"Kenapa? Kamu jarang bicara atau berpendapat," kata Kei.


"Sebenarnya waktu aku selesai mandi secara tidak sengaja aku terjatuh dan karpet lorong terangkat. Saat aku mau betulkan, aku melihat jejak seret kaki seseorang," kata Panca.


"Dimana kamu terjatuh!?" Tanya Chris dengan heboh.


Panca kemudian membawanya dan mereka semua ikut karena harus tahu. Panca menunjukkan karpet yang terarah menuju lorong.


Dia mengamati dan telah menandainya, ada jejak kaki yang panjang tampak diseret sesuatu.


"Yang lain lebih baik kembali ke aula dan sebagian laki-laki berjaga-jaga," kata Rio.


Kebanyakan para perempuan penakut menurut Kei, Iran, Dani dan Dio berjaga di aula.


Sisanya mereka mengikuti alur jejak seret itu, dan terkejut menemukan lima kuku palsu yang biasa Anita pakai.


"Penuh darah," kata Eris menunjukkan.


"Jadi Anita memang..." kata Panca menutup mulutnya.


Dan jejak itu terhenti di lorong menuju rumah itu. Eris tidak merekomendasikan menuju arah sana.


"Kita harus keluar dari sini. Ini bukan lagi menantang maut tapi selama ini, kita hanya umpan untuk jadi mangsanya," kata Eris.


Setelah itu mereka berlari menuju aula tadi.


"Aku mau pulang! Pokoknya pulang! Aku tidak peduli dengan sepuluh juta itu, kalau memang vila ini ada iblis nya!" Teriak Fuji.


"Kamu punya hutang!" Kata Sani.


"Pasti aku bayar tapi tidak dengan bertahan di dalam sini," kata Fuji membuat Sani terdiam.


Yang menunggu memeriksa lorong tapi mereka enggan keluar lebih dari itu. Dan melihat beberapa orang berlarian dengan cepat.


"Itu mereka!" Teriak Iran.


Saat mereka berpikir sudah aman, Iran melihat sosok hitam mengejar dan berteriak.


"ADA MONSTER! DI BELAKANG!" Teriak Iran histeris.


Para perempuan panik mereka menangis. Lelaki mencari benda yang kuat dan panjang, mereka berusaha mengulurkan tangan.


"Sedikit lagi! Ayo!" Teriak Dani.


Eris membacakan sesuatu dan bulatan itu menyerang zombie. Chris juga serta Rio membacakan sebuah mantra.


Zombie itu terjatuh dan meraung kesakitan. Iran berusaha membantu dengan menarik para perempuan.


Dia terjatuh dan zombie berusaha menangkap Iran, yang untungnya Chris menarik tangannya.


Eris langsung mengeluarkan lidah api hitam yang menyerang sang zombie. Zombie kesakitan api itu menggigiti tubuhnya dan dia berlari menangis masuk rumah.


"BODOH! JANGAN BERTINDAK GEGABAH!" Teriak Chris pada Iran.


"Ma-maaf, aku...aku hanya ingin kalian semua selamat," kata Iran agak menangis.


Chris memeluk Iran dan menepuk punggungnya. Para perempuan berhamburan menyambut para anggotanya.


Ares langsung mengambil kotak P3K dan dibantu oleh Rika memberikan perawatan pada yang luka.


Yuri datang dengan cemas melihat Iran yang ditepuk oleh Chris.


"Ada apa? Iran kenapa?" Tanya Yuri.


"Dia hampir ditangkap zombie," kata Chris.


"Zombie!?" Tanya semua orang.


Iran menceritakan bahwa zombie tersebut mengejar Eris dan lainnya, dan dia keluar hanya agar semuanya selamat.


"Tapi dia jatuh dan hampir ditangkap kalau saja Chris tidak kembali dan menariknya," kata Ares yang bernafas lega.


Yuri menangis dan bersyukur Iran selamat. Dia tampak malu akan kebodohannya.

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2