Girl Of Darkness

Girl Of Darkness
6


__ADS_3

Tentu saja teriakannya itu terdengar okeh Artemis dan Apollo. Mereka berdua tertawa cekikikan lalu Apollo melirik Artemis.


"Kamu ijinkan tidak kalau aku dengan adikmu?" Tanya Apollo iseng.


Artemis yang fokus menyetir agak berpikir. Adiknya masih sekolah SMA kelas 1 pula, wajar kalau dia sedang senang menyukai seseorang tapi takutnya dia senang Apollo karena wajahnya mirip anggota BTS.


Mau ditolak pun, dia sahabatnya. Jadi pusing! "Yah... tunggu dia sampai usia 25 tahun, setelah itu terserah dia," kata Artemis sambil menggelengkan kepalanya.


Dia tahu sejak lama adiknya menyukai Apollo bahkan sebelum BTS ada tapi sekarang kemunculan BTS membuat Artemis agak ragu. Apalagi karena mereka berdua agak mirip Suga dan Jhope adiknya saja selalu salah menyebutkan namanya.


Tapi kalau Suga eh maksudnya Artemis sudah bicara bahasa Jawa, hancur sudah harapan ganteng adiknya. Sampai Ibunya sendiri pun langsung kabur ke bawah sawah untuk berenang.


"Memangnya kamu sudah ada keinginan punya pacar?" Tanya Artemis pada Apollo yang masih menyetir.


"Belum. Aku mau kerja dulu menabung banyak uang, inginnya langsung menemukan tambatan hati untuk calon istri. Tenang saja adikmu juga masih dalam pertimbangan," kata Apollo membuka laci mobil dan menemukan kaca.


"Hmmm, yah tenang sajalah jodoh tidak akan kemana juga. Oh iya tadi aku menerima pesan kita harus datang ke rumah Manager. Kamu dapat pesan tidak?" Tanya Artemis.


"Sebentar," kata Apollo kemudian mengambil ponselnya dari dalam tas. "Ada ada," kata Apollo membacanya.


"Mau ada tambahan menu baru katanya, kita kan bagian kitchen jadi wajib datang," kata Artemis memasuki jalan besar menuju komplek.


"Oke deh setelah dari rumah Manager kita langsung saja menuju tempat janji adik teman kamu," kata Apollo menyimpan kembali ponselnya.


Satu jam kemudian mereka sampai di rumah komplek Manager mereka yang minimalis. Masih single sih tapi sudah bapak-bapak ada sekitar usia 60 tahun.


Rapat yang dihadiri 20 orang memang membuat sumpek rumahnya otomatis beberapa orang duduk di halaman. Manager mereka berbicara menggunakan mic kecil jadi terdengar sampai ke halaman rumahnya.


Puding dan makanan akhirnya mereka keluarkan karena sangat banyak, agar kebagian semua, mereka lesehan di tengah jalan kompleks. Karena jalannya sepi dan jarang ada orang jadi mereka bebas duduk.


"Ada untungnya juga ya kalian mirip boyband Korea yang lagi booming itu lho," kata A mengambil puding.


"Kita teaaa atuh," kata Apollo sambil mengacungkan jempol. Bayangkan Jhope bisa bicara bahasa Sunda.


Artemis cengengesan juga lalu membetulkan rambutnya yang dipermainkan oleh angin. "Aaaah! Rese nih angin," gerutunya.


"Nih pakai topi kita makan di luar, lesehan karena rumah saya kecil. Berkat kalian berempat cafe kita tidak pernah kekuatan gan pembeli," kata Manager tertawa.


Yupz selain Artemis dan Apollo ada dua lelaki lagi yang gantengnya maksimal, namanya Azura dan Kristan. Mereka berdua asli anak keturunan Jepang jadi kalau disatukan, sudahlah para pembeli muda khususnya gadis pasti pingsan di tempat.


Mereka berempat berteman baik dalam tempat kerja. Mereka sering bertukar shift jadi semua pembeli bisa menyeluruh mengenal para pegawai. Mereka lancar berbahasa Indonesia hanya koplak nya, dua anak Jepang ini sering menggunakan bahasa Sunda.


"Cik ah nyobian keripikna ( Coba ah keripiknya )," kata Azura mengambil keripik.


"Mangga mangga ( Silakan silakan )," kata Artemis menarik bungkusan keripik. "Ngeunah teu? ( Enak tidak )?" Tanyanya.


"Ngeunah beud nepi ka pingsan yeuh ( Enak beuh sampai pingsan nih )," kata Azura memperagakan jatuh pingsan.


Mereka yang ada disitu termasuk manager tertawa terbahak-bahak. Yang mereka buat semakin tertawa adalah Artemis. Wajah Korea tapi lancar Sunda, apa yang mereka pikirkan meleset jauh!


"Sudah dong. Padahal kan kita lihat kamu mirip Suga eh langsung hancur setiap kamu bicara Sunda, kelakuan koplak juga," kata pegawai perempuan yang kecewa tapi ikut tertawa.


"Saya Artemis bukan Suga! Berkali-kali saya bilang ke semua orang di rumah juga. Ini pribadi saya, makanya saya sarankan kalian jangan menumpuk penampilan kami disamakan dengan boyband itu," kata Artemis agak bete.


"Kami berdua sudah lelah disangkut pautkan dengan mereka tuh. Beda kehidupan, yang mirip hanya wajah. Boleh kalian fans tapi tolong jangan samakan jadinya kecewa kan," kata Apollo yang membuat para pegawai perempuan itu agak malu.


"Iya sih, kita ini keterlaluan. Mereka berbeda dengan BTS, Artemis kalau nyanyi tidak ada nadanya, Apollo kalau menari kakunya mirip tengkorak. Jauh sekali hanya wajah yang mirip," kata B.


"Keterlaluan sekali ya suaraku dibilang tidak ada nada," kata Artemis menatap pegawai B.


"Bagaimana kalau kamu buktikan? Nyanyi!" Kata pegawai baru menyemangati.


Artemis lalu berdiri dan membawa mic saat mau bernyanyi tiba-tiba semua temannya bahkan manager berusaha menghalangi.

__ADS_1


"JANGAAAAN," Seru mereka bersamaan.


Seperti Giant yang bete kalau diganggu menyanyi, Artemis menyanyikan lagu Sheila On 7 dengan judul Betapa, ditambah nada yang entah kemana. Orang-orang yang berada disana semuanya bertahan.


Mereka bertahan 10 menit sampai Artemis menyelesaikan lagunya lalu duduk. Hanya Apollo dan manager yang bertepuk tangan.


"Bagaimana? Nyanyian ku enak, k..." Artemis memandang sekelilingnya tapi tidak ada siapapun selain Manager, Apollo dan satu pegawai perempuan yang tampaknya pusing.


"Mereka semua ada di lapangan, katanya mual," Apollo tersenyum lalu menawarkan makanan.


"Pak, saya ikut ke kamar mandi ya," kata pegawai itu lalu kabur secepat kilat.


"Manager tidak mau kesana juga? Pak? PAK!?" Teriak Apollo.


Manager yang dicolek tiba-tiba ambruk pingsan. Artemis dan Apollo panik melihat Manager mereka pingsan di jalan saat duduk.


Ternyata meskipun Artemis dilahirkan dengan wajah ganteng mirip Suga, tapi kemampuan dalam hal bernyanyinya membuat orang-orang pingsan seketika.


Akhirnya semua kembali reda dan Artemis memohon maaf kepada semuanya yang berwajah tirus mirip hantu. Pegawai perempuan itu juga meminta maaf karena sudah mengejek suaranya. Untung tidak dibarengi Apollo dengan tariannya.


"Sudah sore juga nih ayo sholat berjamaah. Kecuali yang bukan agama Islam, boleh langsung pulang," kata Manager berdiri dan menggelar sajadah.


Tujuh orang langsung pulang karena tidak sembahyang termasuk perempuan. Sisanya mereka berjamaah. Yang bertugas menjadi penyeru adzan adalah Apollo dan Artemis. Lalu otomatis banyak orang yang menggelar sajadah di sekitar rumah Manager.


Sengaja Manager menggunakan mic pada mereka berdua dan volume suara dibesarkan. Sudah seperti keadaan mau sholat idul fitri saja itu kompleks. Secara bergantian Apollo dan Artemis menyerukan adzan.


Setelah sholat alhasil mereka pun sulit keluar karena banyaknya warga yang ingin menemui mereka dan pukul 10 malam barulah bisa kabur.


Beberapa jam akhirnya pukul delapan malam di rumah lain, Arika pukul 6 bersiap untuk sholat Maghrib selesainya, dia mengeluarkan semua buku sekolah dari dalam tas. Setelah kosong, dia memasukkan bekal. Sayangnya tidak diijinkan karena orang tuanya mengajaknya mengobrol.


Syukurlah ada beberapa tamu yang datang dan Arika bisa kabur


Mau minta ijin juga tidak mungkin karena sedang ada banyak tamu di rumahnya. Alhasil dia keluar lewat jendela kamarnya. Sudah ada tangga yang dia siapkan dari sepulang sekolah.


Arika berjalan dan mempercepat langkah setelah tahu Saka sudah menunggu dirinya di depan gang.


"Aku juga baru datang. Yuk," ajak Saka menggandeng tangan Arika.


"Sudah ijin orang tua?" Tanya Arika.


"Orang tuaku kan tidak akan peduli, Rika. Jadi ya tidak perlu ijin," kata Saka tertawa. "Kamu sendiri?" Tanyanya.


"Di rumah lagi ada banyak tamu, sudah biasa sih daripada ganggu aku keluar lewat jendela hehehe," kata Arika.


Mereka semua berjanji berkumpul di sekolah. Sesampainya Arika dan Saka melihat kanan kiri takutnya ada penjaga.


"Aman disini," kata Arika.


"Disini juga. Ayo," kata Saka memanjat gerbang.


"Saka, ini kan tidak dikunci. Turun turun," kata Arika masuk lewat gerbang.


"Dasar," kata Saka lalu turun.


Nemesis sudah duluan menunggu dalam kelas, lalu diikuti Anta dan Ringu kemudian barulah Arika dan Saka yang datang.


"Linda mana?" Tanya Nemesis menunggu.


"Terlambat sepertinya kita tunggu saja. Lalu mereka berdua belum datang?" Tanya Arika.


"Katanya lagi di jalan. Kita tunggu mereka bertiga atau langsung ke tempat disana?" Tanya Nemesis menunjuk taman yang dipenuhi dengan pepohonan besar.


Dari jauh taman itu berbentuk lingkaran dengan dihiasi pohon-pohon besar. Entah kenapa kepala sekolah mereka membuat taman seperti itu.

__ADS_1


"Kalau disana, ada mobil datang pun bisa langsung parkir kan beda dengan disini. Disana justru anehnya tidak ada pembatas kawat kan. Kita tunggu sampai Linda datang terus kamu share lock untuk Oppa," saran Saka.


Linda datang dengan senyuman dan mereka memutuskan untuk langsung ke taman itu.


"Kita tunggu disana saja sebelum memasuki taman. Kalau malam seram ya," kata Nemesis memandangi taman itu.


Mereka semua setuju tapi bukannya takut malah semangat! Sambil menunggu, Nemesis mengeluarkan alatnya. Mereka semua terpana.


"Wah! Kereeeen! Kamu dapat ini dari mana?" Tanya Anta memegang semuanya.


"Ada deeeh, aku pinjam. Bagaimana?" Tanya Nemesis bangga.


Ringu keheranan dengan papan berbentuk segi enam. "Ini bagaimana membukanya? Aneh sekali bentuknya," katanya.


"Oh, itu harus diputar. Nah begini," kata Nemesis memberikan contoh.


Kotak itu diputar oleh kelima jari tangan Nemesis lalu terbukalah membentuk papan persegi panjang. Mereka takjub.


"Wih!" Teriak mereka semua.


"Sis, ini kan papan Ouija," kata Anta kaget.


"Masa sih? Aku tidak sempat memperhatikan sih. Lalu bagaimana?" Tanya Nemesis bingung.


"Ini keren! Sudah pakai cara saja ini untuk masuk ke dalam permainan. Kertas ini kita bakar saja, kita gunakan kedua alat ini. Yang satu kita panggil arwah dengan lonceng lalu kedua dengan papan ini," kata Anta semangat.


"Ah, boleh juga tuh. Oke deh ah ya, sebentar lagi mereka tibaaaa," kata Nemesis menperlihatkan isi chat kakaknya.


Mereka semua tidak sabar menunggu. Setengah sebelah, datanglah mobil MPV berwarna perak ke arah mereka. Mereka semua menganga. Mobil itu milik Abah Artemis.


"Dih, mobilnya mewah dong!" Kata Linda kaget.


"Aku juga tidak menyangka. Pulangnya mereka antar tidak ya?" Tanya Ringu tertarik.


"Pasti dong. Kata kakak mereka lelaki banget! Jadi lihat saja nanti," kata Nemesis percaya diri.


Lalu Artemis dan Apollo keluar sambil mengambil beberapa kamera dan buku. Lalu menyapa mereka semua.


"Huwaaaa Suga dan Jhope!" Teriak mereka semua histeris.


Apollo mengacak rambutnya membuat Ringu, Linda dan Saka histeris lagi.


Artemis menghela nafas, dia sudah terbiasa dengan keadaan tersebut. Nemesis mendekat beserta Anta, dan Arika.


"Kakak mirip Suga deh," kata Anta dan Arika.


"Iya kakak juga mirip Jhope. Wah tidak nyangka teman kakaknya Nemesis ternyata seganteng ini," kata Saka.


"Memangnya kita berdua mirip sama mereka?" Tanya Apollo.


"MIRIP!!" Teriak mereka berlima.


Nemesis hanya memandangi Artemis secara diam-diam sampai Artemis menangkap pandangannya dan membuat Nemesis malu.


Artemis lalu tersenyum padanya tapi hanya untuk menghormati. Mereka semua lalu mengobrol sedikit Artemis dan Apollo menolak untuk berfoto bersama takutnya disalah artikan. Meski kecewa tapi mereka senang bertemu kakak ganteng.


"Sudah sudah sebentar lagi pukul 12 malam. Ayo! kalau lama, nanti pulangnya subuh untungnya besok hari Sabtu sekolah kita libur," kata Nemesis memberikan tepukan pada yang lain.


Mereka semua lalu kembali pada tujuan mereka sambil menuju tempat yang dijanjikan, mereka memasuki taman tersebut. Artemis dan Apollo berada di belakang para gadis SMU karena taman itu dikelilingi pepohonan yang rindang.


"Kok ada ya kepala sekolah kalian membuat taman seaneh ini," kata Artemis memandangi sekelilingnya.


"Kami juga tidak tahu, kak. Hobinya aneh, apalagi taman ini yang paling jauh dari taman sekolah," kata Arika.

__ADS_1


"Kalau siang enak sih sejuk tapi kalau malam kita diperingatkan jangan datang sendiri mungkin karena spooky ya," kata Saka yang juga agak merinding.


Bersambung ...


__ADS_2