
"Iya, aku ingat kok ini acara Radio Seram yang isinya tidak boleh ada konten dewasa kan. Sedikit tidak apalah, aku kebetulan ada pengalaman hiking nih," kata Diega sambil menggulungkan lengan bajunya.
Di belakang kamera beberapa staf salah tingkah melihat Diega.
"Eh, kamu lihat tidak selintas agak mirip Kim Namjoon deh," kata A berbisik.
"Masa sih? Dia memang masih muda tapi sudah berkumis," kata B menatap Diega.
"Oke deh silakan kamu ceritakan selengkapnya nama gunungnya disamarkan ya," kata Ekok dengan sopan.
"Baiklah. Jadi ini cerita pengalaman hiking bersama teman-teman ke gunung B. Aku memang senang sekali menaiki gunung dimana saja bersama grup aku sewaktu SMA. Kita sampai sekarang masih suka sih hanya sudah lama tercerai berai grupnya. Saat hiking ke gunung itu, di perjalanan kita bertemu rombongan lain ada perempuannya juga," kata Diega membuat suasana hening.
Tempat lain ada seorang pemuda tinggi yang berlari terburu-buru memasuki kamarnya dan melemparkan tas sekolahnya. Menuju kamarnya dan menyalakan radio, ya Radio Seram dia terlambat mendengarkannya 5 detik.
"Uh, aku terlambat tapi tampaknya masih pembukaan," kata Pemuda itu menyisir rambutnya yang acak-acakan.
"Kalau teman-teman aku sih biasa ya menggoda rombongan lanjut kita tertawa kalau ada yang tersipu. Saat aku jalan dengan ketua grup, aku melihat ada perempuan ayu, manis, lalu lembut orangnya dia sedang duduk dengan grupnya. Aku tertarik sama dia," kata Diega tertawa.
"Wooow ini yang begini banyak ya menemukan cinta pertama, cinta sejati di atas gunung coba," komentar Ekok menggelengkan kepalanya.
"Lalu aku penasaran akan sesuatu padanya," kata Diega.
"Nah, apa tuh?" Tanya Ekok penasaran.
"Buah dadanya tuh besar," jawab Diega membuat semua orang terjungkal.
"Ya ampun mesum juga dia," kata staf lain.
"Ya elah, seperti baru lihat saja Kang. Wah ini sih sudah pasti ada unsur ke arah yang miring," kata Ekok membenarkan kursinya.
Pemuda itu juga sama terjatuh dari kursi putarnya lalu berdiri dan membenarkan lagi duduknya. Sambil mendengarkan, dia berganti baju.
"Ares, makan siang dulu! Kamu ini pulang sekolah pasti saja selalu langsung ke dalam kamar. Tas dilempar begitu saja langsung mendengarkan siaran," kata Ibunya berdiri membawakan tas dan makan siangnya.
"Sekarang temanya seru nih. Ah, taruh sini saja Bu nanti aku makan," kata Ares masih mendengarkan siaran itu.
"Sekarang judulnya apa sih?" Tanya Ibunya ikut mendengar.
"Ada orang yang punya pengalaman seru saat hiking," kata Ares menatap Ibunya lalu mendengarkan lagi.
__ADS_1
"Paman kamu juga sangat menyenangi hiking apa itu sebabnya kamu tertarik naik gunung?" Tanya Ibunya sambil membereskan baju seragamnya.
"Hehehe," kata Ares tertawa lalu mendengarkan lagi. Ares merindukan paman yang telah dikabarkan menghilang 3 tahun lalu. Saat itu Pamannya yang sudah tua memaksa ingin naik gunung tapi setelahnya sama sekali tidak kembali. Mayatnya pun tidak ada seakan menghilang begitu saja.
"Wah, ini aku tahu kemana arahnya. Lalu kamu penasaran kan dengan perempuan itu?" Tanya Ekok lagi.
"Iyalah namanya juga laki-laki hahahaha," kata Diega tertawa.
Mendengar suara itu Ibunya Ares terkejut dan membalikkan badannya lalu memeriksa lagi.
Eris berdiri di balik jendela, tentu dia tahu karena yang meminta tolong adalah Paman Ares yang hilang. Namun sayangnya Ares sendiri tidak begitu merasakan bahwa ada Eris di dekatnya.
"Ada apa, Bu?" Tanya Ares.
"Ah... tidak, Ibu pikir kenal dengan suaranya tapi mungkin Ibu salah. Jangan lupa dimakan ya," kata Ibunya berbalik ke lantai bawah. Di luar kamar Ares, ibunya terkulai lemas.
Suara yang ia dengar adalah suara Kakak lelakinya yang telah hilang, lalu kenapa sekarang ada di stasiun radio?
"**Bro, tuh perempuan buah dadanya lumayan," bisik Diega ke teman sebelahnya.
"Gila ya lu! Bisa-bisanya lihat yang tidak sopan, ingat ini di gunung jangan berpikir mesum! Ayo," ajak temannya menarik tangan Diega.
Saat hendak pergi, perempuan ayu itu menangkap tatapan Diega lalu tersenyum. Diega pun lalu membalasnya dan pergi**.
"Ya mau bagaimana lagi, Kang?" Tanya Diega mengangkat bahunya.
Di lantai bawah Ibunya Ares pun turut mendengarkan siaran itu memastikan bahwa dugaannya salah.
"Lalu?" Tanya Ekok.
"Kita lanjut tuh perjalanan. Kita berangkat dari mess bawah tuh sekitar pukul empat pagi, nah waktu bertemu perempuan itu sudah pukul delapan pagi. Lanjut grup aku mengobrollah sambil sesekali bercanda lagi, sampai kita di puncak tiba-tiba rombongan perempuan itu tepat di belakang," kata Diega.
"Agak aneh ya. Jalan mereka cepat sepertinya," kata Ekok berpikir.
"Iyalah, kita pergi itu hanya ada grup kita saja tapi kita saat itu tidak terlalu memikirkannya sih," kata Diega.
Ibu Ares yakin itu adalah suara kakaknya yang hilang lalu memberitahukan kerabat serta suaminya.
"Berapa orang tuh rombongan?" Tanya Ekok.
__ADS_1
"Ada dua belas. Enam laki-laki dan enam perempuan termasuk perempuan tadi," kata Diega menghitung.
"Wow, asyik sekali dong bisa bertemu dengan dia lagi. Ada bibit cinta nih," goda Ekok.
"Hehehe tahu saja Kang. Aku kebetulan di baris belakang kan jadi bisa bertemu sama dia," kata Diega mengenang.
Ares lalu teringat akan cerita Pamannya yang juga bertemu dengan Bibi di gunung. Dia agak mulai takut tapi masih berpikir jernih, toh banyak orang yang mengalami hal sama dengan pamannya yang hilang.
"Orang ini tidak mungkin paman," kata Ares.
"**Permisi Kang," kata ketua tim rombongan itu.
"Oh, silakan silakan kita santai kok," kata Diega mempersilakan.
"Tidak, ayo bersama saja. Kalian mau ke gunung B kan?" Tanya ketua mereka.
"Iya. Kalau begitu boleh deh kita jalan santai saja juga tidak apa-apa," kata Ketua grup Diega.
"Oke, kita juga sama," sambut ketua rombongan itu**.
"Akhirnya ya sudah kita semua total ada 20 orang ya. Saya jalan dengan dia perempuan itu juga posisinya di belakang sih," kata Diega ketawa malu.
"Pasti ada rasa bagaimanaaaa begitu terbayang sama dadanya?" Tanya Ekok.
"HAHAHAHA!! Akhirnya aku jalan bareng dia setiap jalan kita mengobrol banyak. Suaranya lembut sekali membuat aku ingin memeluknya apalagi setiap mengobrol kita saling menatap. Ada desiran sesuatu lah," jelas Diega.
"**Akang orang mana?" Tanya perempuan itu dengan mulutnya yang dia oles lipstik berwarna merah muda terang.
"Saya Solo. Kamu?" Tanya Diega menelan ludah menatap bibirnya.
"Sunda Kang. Nama saya Keling. Kalau Akang?" Tanyanya dengan malu.
"Diega tapi kadang suka kepleset jadi Diego," jawab Diega menampar pipinya sendiri.
Semua orang yang mendengarnya tertawa terbahak-bahak. Di atas gunung siang hari yang terik berubah menjadi sejuk.
"Aduh! Kang, tunggu sebentar," kata Keling yang ternyata tali sepatunya lepas.
"Kalian duluan saja, biar aku yang menunggu Keling sampai selesai," kata Diega ke teman-temannya. Mereka tahu maksudnya Diega bermaksud lebih dekat dengannya.
__ADS_1
"Oke deh. Kita jalannya santuy kok kalian pasti bisa menyusul," kata Ketua grup Diega.
Bersambung** ...