Girl Of Darkness

Girl Of Darkness
3


__ADS_3

Kegiatan les privat pun lalu dimulai, di tempat lain Ibu Laut termenung kenapa Kio tidak datang lagi. Eris datang dan memperlihatkan apa yang terjadi padanya.


"Kejam sekali dia pada anakku! Kio sudah cukup bagus dalam nilainya lalu sekarang dibebankan lagi?" Tanya Ibu Laut dengan kesal.


"Jangan melakukan apapun," cegah Eris.


"Tapi..." kata Ibu Laut dengan cemas apalagi melihat Kio yang sama sekali tidak mengerti.


"Rida akan terus bergulir. Tunggu saja disini sampai Kio datang," kata Eris yang melayang menjauh.


"Tunggu. Ini," Ibu Laut memberikan kunci pada Eris.


"Dia lupa menutup kembali. Tenang saja selama dia ingat pintu yang mana dirimu berada, kalian akan terhubung," kata Eris melihat Ibu Laut sangat cemas.


"Eris, dia akan menjadi anakku kan. Aku akan membawanya pergi," katanya dengan tegas.


"Tentu," Eris lalu menghilang.


Di dalam kedalaman lautan, Ibu Laut terus menunggu kedatangan Kio.


Eris lalu muncul dalam kamar Kio, dia melihat sekelilingnya. Gambar Kio dan Ibunya sewaktu berada di akuarium lalu, terlihat senang sekali. Lalu Eris menaruh kunci itu di dalam saku piyama Kio dan menghilang.


Selama les berlangsung, Rama selalu mencemoohnya karena Kio tidak mampu menghitung dengan benar.


Sambil membetulkan kacamatanya, Rama kembali memojokkan Kio. "Salah salah aduh, sudah berapa kali sih? Itu bukan rumusnya! Kamu mengerti tidak sih? Kalau terus begini, mustahil kamu bisa masuk SMA Mentari. Benar kata Ibumu kamu ini jauh dari beliau dan suaminya," katanya menyengir.


Kio merasa terpukul sekali. Dia menghentikan gerakan tangannya yang sedang membetulkan jawaban. "Memangnya kenapa? Apa Kakak pikir kalau orang tuanya pintar, anak juga harus sama? Keluarga Kakak bagaimana?" Tanyanya.


Rama menghentikan seringai nya, tangannya mengepal menahan. "Hah, kamu ini jangan-jangan bukan anak mereka," katanya tidak mau kalah.


"Kalau iya memangnya kenapa?" Tanya Kio membalas omongan Rama.


Rama hanya diam, dirasa sudah keterlaluan bicaranya dia memberikan tugas pada Kio dan harus dikerjakan. Rama pulang dengan agak canggung saat Ibunya Kio pulang.


"Ada apa?" Tanya Ibu Kio menatap Rama yang agak salah tingkah.


"Tidak tahu," kata Kio tidak acuh dan masuk kamarnya.


Seminggu akhirnya lewat juga, Kio bisa bebas malam harinya lalu diambilnya kunci dari dalam piyama dan menuju lautan.


Kio disana menangis saat Ibu Laut menghampirinya. "Ada apa? Kamu kenapa?" Tanyanya dengan lembut.


"Huhuhu di sekolah, tempat kursus atau di rumah, aku selalu sesak nafas hanya disini aku merasa lega," kata Kio menatap Ibu keduanya itu.


Ibu Laut segera memeluk Kio dan mengusap kepalanya. "Cup cup cup sudah, kasihan kamu bagaimana kalau tinggal di sini saja?" Tanyanya.


Kio yang menangis lalu berhenti dan menatap Ibu keduanya itu. "Tinggal? Di sini?" Tanyanya meyakinkan kalau dirinya tidak salah mendengar.


"Iya, tidak akan ada yang membebani. Ini kan kerajaan kamu, aku akan merawat mu sampai kamu tumbuh besar dan kuat. Sekolah juga ada aku tidak akan pernah membuat kamu sakit," kata Ibu Laut memperlihatkan dunia bawah air itu.


Kio yang melihatnya sangat terkesan. Sekolah itu begitu imut dan unik, gurunya pun memiliki ekor seperti duyung.


"Kamu tidak perlu memiliki ekor, mereka akan menerimamu. Bagaimana?" Tanya Ibu Laut.


Kio ingiiiin sekali bisa bebas tapi dia teringat sesuatu perkataan Ibunya yang jangan membuatnya bersedih.


"Aku tidak bisa tinggal di sini," kata Kio.


"Kenapa?" Tanya Ibu Laut agak sedih.


"Tapi aku akan selalu datang bermain. Aku akan berusaha meluangkan waktu jadi jangan sedih," kata Kio mengusap air mata Ibu keduanya.


"Kamu membenci Ibumu ini? Yang tidak punya kaki," kata Ibu Laut memperlihatkan kaki berupa ekor ikan.


"Bukan itu, aku tidak keberatan bila memiliki Ibu seorang Ratu duyung. Aku sayaaaang sekali pada Ibu Laut tapi aku tidak boleh membuat ibuku di sana sedih," kata Kio menundukkan kepalanya.

__ADS_1


Ibu Laut mengerti akan perasaan itu, yah setidaknya Kio bisa bermain kapanpun. "Tidak apa-apa. Kamu selalu disambut hangat di sini. Tenanglah," kata Ibu Laut memegang wajah Kio.


"Maafkan aku, Ibu," kata Kio menangis di pelukan Ibu Lautnya.


Setelah cukup reda menangis nya Kio memutuskan untuk kembali dan bertekad membuat Ibunya yang di dunia nyata bahagia, meskipun begitu pikirannya tetap saja pada Ibu keduanya yang lembut.


Suatu hari saking seringnya memikirkan keadaan Ibu Laut, Kio sampai tidak sadar saat sedang privat bersama Rama.


"Ibu Laut sedang apa ya selagi aku tidak datang?" Dalam pikirannya melamun menatap akuarium yang penuh ikan gemuknya.


Hal itu tentu saja disadari oleh Rama yang menjadi gurunya. Lagi-lagi Kio dimarahi karena tidak memperhatikannya.


Setelah selesai, Kio langsung saja menuju kamarnya untuk istirahat. Lalu Rama mengatakan yang sebenarnya pada Ibunya.


"Tampaknya akan sangat sulit bagi Kio, dia tidak bersungguh-sungguh belajar. Kata-kata saya hanya dianggap angin, dia hanya melihat akuarium terus," kata Rama melapor.


"Akuarium?" Tanya Ibunya lalu menatap yang ada di ruang itu.


"Yang ada di sini. Kalau begitu terus, dia tidak akan mungkin bisa masuk SMA Mentari. Saya sudah berusaha," kata Rama lalu pamit pulang.


Ibunya terdiam dan memandangi akuarium yang ada di ruang tengah. Kio ada disana menatap ikannya dan memberikan makan lagi.


Besok paginya saat Kio pamit untuk pergi sekolah, diam-diam Ibunya masuk ke ruang tengah.


"Gara-gara akuarium ini, prestasi Kio menjadi turun," gumam Ibunya.


Ibunya sudah membungkus ikan tersebut dengan kantong plastik hitam lalu akuariumnya dia pindahkan ke gudang.


Eris muncul di belakang wanita itu yang sedang merasakan angin sejuk. Ikan itu juga sudah dia buang ke dalam tempat sampah.


"Anda yakin akan membuangnya begitu saja?" Tanya Eris.


"Ya ampun! Kamu anak dari komplek mana? Kalau kamu mau, ambil saja nih," kata Ibu Kio memberikan plastik yang sudah dia letakkan tadi.


Ibunya Kio merasa sangat aneh sekali tapi tidak dipikirkan. "Gara-gara ini nilai anak Ibu menjadi turun!" Katanya dengan emosi.


"Itu bukan karena ikannya tapi Anda sendiri," kata Eris dengan wajah datar.


"Apa? Kamu menyalahkan saya? Lagipula, saya tidak pernah melihat ada anak seperti kamu. Rumah kamu yang mana?" Tanya Ibunya Kios mencari tahu.


"Anda seorang Ibu yang tidak bisa memikirkan perasaannya. Ikan itu memiliki kenangan indah itulah pondasi semangatnya," kata Eris membuat Ibu itu tidak berkutik.


"Sudah! Hentikan. Ini hanya jadi pengganggu belajar anak aku. Sebenarnya waktu itu aku tidak berjanji untuk membelikannya hanya ingin tahu sampai mana Kio mampu berusaha. Hasilnya di luar dugaan tapi sekarang," kata Ibunya Kio terus mengomel.


"Dia tidak akan mau kalah," pikir Eris melihat watak Ibunya Kio yang keras kepala.


"Karena aku membelikan ikan, nilainya menjadi turun! Bagaimanapun juga, aku ingin Kio masuk SMA Mentari Ya, ini semua demi dia!" Katanya sambil tersenyum agak psikopat.


"Perasaan malu karena suami Anda alumni mahasiswa yang berkuliah di universitas terkenal. Lalu Anda juga tidak sama dengan Kio, Anda pun termasuk mahasiswi biasa saja. Sadarlah, sikap Anda tanpa sadar telah menyakiti anak sendiri," kata Eris lalu menghilang begitu saja.


"Kamu tidak tahu apa-apa!" Teriak Ibu Kio namun Ibu itu tersadar bahwa Eris sudah tidak ada di hadapannya.


Ibu Kio lalu mulai mencari sampai bertanya pada tetangga. Tapi mereka berkata selama tinggal di kompleks, tidak pernah ada anak perempuan yang berambut putih.


Karena merasa dirinya mungkin berhalusinasi karena kelelahan, dia memutuskan untuk berbelanja.


"Mungkin aku terlalu lelah ya memikirkan masa depan Kio jadinya berhalusinasi mengobrol dengan anak aneh," katanya lalu menertawai diri sendiri. Lalu sepulangnya, Ibu Kio memasakkan makanan kesukaan Kio dan menunggunya pulang.


Dalam perjalanan pulang, Kio tampak senang sekali karena les privatnya dengan Rama itu selesai juga. Dia berencana akan menemui Ibu Lautnya dan juga membeli beberapa vitamin untuk ikannya.


"Aku pulang!" Kata Kio dengan ceria.


"Selamat datang, Ibu membuat makanan kesukaan kamu. Ayo ganti baju dulu," kata Ibunya lembut persis dengan Ibu Lautnya.


"Wah! Tumben Ibu memasak. Aku ganti baju dulu," kata Kio langsung lari ke kamarnya.

__ADS_1


Ibunya melihat ada sebuah kantong kecil yang Kio sandarkan di teras. "Kamu bawa apa?" Tanya Ibunya membuka.


"Itu makanan vitamin untuk ikan-ikanku," kata Kio lalu keluar dan membawakan bahan makanan itu.


Ibunya lalu terdiam dan masuk ke dapur menyiapkan segalanya. Kio selesai ganti baju dan menuju ruang tamu dengan senang membawa bungkusan.


Saat sampai, "Semua aku pul..."


Bungkusan itu jatuh melihat tidak ada akuarium serta ikannya.


"Ibuuuu! Ikannya. Akuariumnya. Kemana?" Tanya Kio yang panik dan hampir menangis.


Ibunya tidak menjawab. Kio terus mengguncangkan baju Ibunya tapi sama sekali tidak ada reaksi apapun.


"Ibu kemana kan itu semua? Ikan-ikanku, Bu," kata Kio mulai menangis dan cemas. Dalam pikirannya Ibu tidak mungkin sampai tega membuang ikan kesayangannya.


"Ibu sudah buang, akuariumnya sudah Ibu simpan di gudang. Ayo makanlah," ucap Ibunya tidak memperdulikan Kio yang menangis sejadi-jadinya.


Kio hanya berdiri terus membeku, dia berdiri tanpa bisa berkata apa-apa. Ibunya duduk dan mulai makan, menatap ke arah Kio dengan tajam.


"Dengar baik-baik, Kio. Kamu sudah besar ujian masuk SMA tinggal beberapa tahun lagi. Harus kamu persiapkan dari sekarang. Soal ikan atau akuarium lupakan, sudah saatnya kamu harus dewasa. Kamu mengerti kan?" Tanya Ibunya.


Kio menggelengkan kepalanya, kali ini sudah habis rasa sabarnya.


"Kio, sekarang sudah saatnya kamu harus konsentrasi pada sekolah dan pelajaran supaya nilai kami tidak turun. Ibu lakukan ini semua demi kamu," kata Ibunya menatap Kio yang terus diam.


"TIDAAAAAAAAK!!!" Teriak Kio dengan sangat keras sambil menutup kedua telinganya lalu berlari ke suatu kamar.


Ibu Kio terkejut dengan teriakan Kio yang terkesan histeris. "KIO!! TUNGGU! DENGARKAN IBU DULU," Teriak Ibunya sambil mengejar Kio yang berlari ke arah pintu lain.


Yaitu pintu kamar yang sudah lama tidak terpakai. Kio memasukkan kunci gelombang dan membuka pintu, tampaklah lautan.


Ibunya terkejut melihat yang ada di depannya. "Kio, mau kemana kamu? Kenapa kamar itu berubah jadi laut?" Tanya Ibunya agak takut.


Kio yang masih menangis dengan suara yang tersendat-sendat, menatap Ibunya untuk terakhir kalinya.


"Ibu sudah bukan Ibu ku yang dulu. Ibuku ada di laut, dia tidak pernah membebani aku dengan sekolah atau apapun. Ibuku di sana memberikan aku kebebasan. Kau bukan Ibu ku," kata Kio dengan berlinang air kata.


"KAMU BICARA APA!? KEMARI, KIO. AKU IBUMU!" Teriak Ibunya namun Kio menangis dan mengatakan perpisahan.


"Selamat tinggal Ibu ku yang ada di dunia manusia," kata Kio lalu melompat ke ruangan itu dan menghilang, pintu tertutup dengan suara keras.


"KIOOOO!! KAMU DIMANA!? Kenapa... jadi begini? KENAPAAAA!? Ibu kan hanya melakukannya demi kamu. Semuanya demi kamu! KIOOOO!!" Teriak Ibunya memasuki kamar tadi tapi tidak ada lautan hanya kondisi kamar yang kosong.


Sang Ibu menangis keras menyadari Kio mendatangi dunia lain. Kemudian sinar buih busa muncul di hadapan sang Ibu.


"Sombong sekali kata-kata itu melukai anakmu sendiri," kata Ibu Laut muncul di hadapan Ibu asli Kio.


"Kamu. Ah, aku?" Tanya Ibunya memandangi dirinya versi Ibu Laut yang memiliki ekor ikan.


Dia melayang di hadapan ibu Kio.


"Tolong kembalikan Kio, kumohon," tangis Ibunya dan berlutut.


"Dia sudah bukan anakmu tapi anakku. Di sini juga ada sekolah apapun yang dia inginkan akan kuberikan. Termasuk ini, kau ingat?" Tanya Ibu Laut menunjukkan 10 ekor ikan hias yang hidup.


"Itu.. tapi kan sudah ku buang. Tidak mungkin ikannya..." kata Sang Ibu terdiam. Dia yakin ikan itu sudah mati.


"Kau tidak mengerti kenapa dia terus menatap ikan saat belajar?" Tanya Ibu Laut.


"Kenapa?" Tanya Ibunya ingin tahu.


"Itu adalah kenangan terindah baginya darimu. Kau selalu mendukung apapun yang dia lakukan, bahkan bila nilainya turun kau akan menerimanya. Sekarang, mengapa kau berubah?" Tanya Ibu Laut lalu menghilang menjadi buih.


Suara tangisan penyesalan Ibu Kio terdengar dan kabarnya, sang Ibu menjadi stres sampai akhirnya dirawat di Rumah Kejiwaan.

__ADS_1


__ADS_2