Girl Of Darkness

Girl Of Darkness
2


__ADS_3

"Bagaimana anak ini tahu masalah aku?" Tapi masa bisa sampai hilang?" Tanya Sawa agak kurang percaya.


"Kamu pasti memiliki saingan bukan? 'Kalau saja waktu itu dia tidak ada.' Orang yang bernama Arae itulah saingan mu. Ingin kamu singkirkan? Bukankah kamu berharap kalau saja dia tidak ada maka kamulah yang akan terpilih?" Tanya Eris menatap tajam.


Sawa kaget mendengarnya hal itu dia katakan saat dirinya hendak tidur malam kemarin. Mengingat Arae yang sudah melakukan debut jauh dari dirinya sudah tentu, hatinya mulai menghitam.


"Apa dengan buku ini anak itu benar-benar bisa mundur?" Tanya Sawa memastikan lagi.


"Silakan bawa buku ini dan tuliskan nama orang yang menghalangi impianmu," kata Eris mendorong buku itu ke arah Sawa.


"Harganya?" Tanya Sawa yang mantap untuk membawanya.


"Setelah tercapai keinginanmu menjadi Bintang, kamu bisa kembalikan kemari," kata Eris.


Sawa tersenyum lalu mengambilnya. Saat dia akan menuju pintu keluar, Eris menambahkan.


"Peringatan untukmu," kata Eris.


Sawa membalikkan badan. "Aku kira ini aman," katanya.


"Setiap perbuatan akan ada akibat. Saat kamu telah mencapai menjadi Bintang terkenal, jangan pernah kamu menggunakannya buku ini lagi. Demi kebaikan persahabatan mu. Terima kasih telah berbelanja di toko aku," kata Eris berkata dingin pada Sawa.


Meskipun dia tidak mengerti, dia kemudian pulang saat itu sudah tidak hujan lagi. Eris terbang menuju Sawa dan menawarkan payung.


"Tidak usah, hujan telah reda. Mari," kata Sawa kemudian berlari menuju sepedanya.


Setelah Sawa pergi, pintu toko tertutup. Dia merasa keberadaan Rui yang lama menetap di sana. "Hmmm ada enaknya juga bila Rui ada disini," kata Eris lalu duduk kembali.


Eris lalu menyapukan cermin besar dan tampaklah Rui yang sedang membuat sesuatu di dalam kamarnya. Tidak ada yang berubah hanya saja Rui semakin dewasa sosoknya.


Rui telah bersekolah di SMU dan masih bersama Suga, mereka berdua kelihatan serasi sekali. Eris melihat beberapa karangan bunga yang mereka berikan untuknya, diubah menjadi resin.


"Selesai!" Teriak Rui lalu dia pajang di lantai bawah.


Ibunya kini mendukung apa yang dilakukan oleh Rui. Ibunya tidak lagi memaksakan kehendak untuk terus mengejar ranking. Kadang Rui merasa diperhatikan dia menatap langit dan tersenyum.


"Ada apa, Rui? Kadang kamu sering tersenyum ke arah langit," kata Ibunya memeluk putrinya itu.


"Seperti ada yang memperhatikan. Tidak apa, aku akan mengantarkan pesanan ini ke pembeli ya," kata Rui dengan girang.


"Hati-hati," kata ibunya menemani dia keluar rumah.


Kebetulan di sekolah Sawa sedang diadakan persiapan kegiatan, Sawa juga menuju ke sekolah setelah mengantarkan pesanan. Dengan nada gembira dia memasuki kelasnya dan duduk.


"Kelihatannya kamu sedang gembira," kata Ney menghampiri mejanya.


"Hehehe aku dapat tip banyak dari mengantarkan pesanan," kata Sawa memperlihatkan uang di kantongnya.


"Waaaah! Nah kan, jangan mengeluh lagi tidak selamanya mengantarkan pesanan tidak enak," kata anak yang lainnya tertawa.


"Hehehehe," jawab Sawa tertawa.


Tiba-tiba pintu kelas terbuka dengan suara yang keras. Yuri datang dengan nafas yang memburu.


"Kamu kenapa? Tiba-tiba begitu," kata Sawa keheranan.

__ADS_1


"Hei hei Sawa, lihat! Ada pemilihan bintang iklan. Ayo, kamu coba lagi aku antar kamu ke sana ya!" Kata Yuri menyerahkan brosur itu.


"Wah! Benar benar jangan pantang menyerah, Aku dukung!" Kata yang lainnya.


Sawa lalu menerima brosur dari tangan Yuri dan kedua matanya berbinar-binar.


"Jangan mau kalah dari Arae. Kamu lebih cantik daripada dia, Sawa," kata anak yang lainnya.


Sawa teringat pada buku diary yang dia bawa tadi dan kini lebih percaya diri. "Baiklah, aku akan ikut audisi ini. Kali ini aku pasti menang," katanya dengan penuh percaya diri.


"Nah begitu dooong itu baru Sawa kuuuu," kata Yuri memeluk sahabat dari kecilnya itu.


Setelah itu mereka mengerjakan kegiatan di sekolah sampai sore.


"Kita daftar sekarang saja. Tutupnya sampai pukul 8 malam," kata Yuri yang tidak sabar.


"Ayo," jawab Sawa.


Mereka lalu menuju kota A untuk mendaftar dan baru ada 30 orang, itu adalah pertanda baik. Semoga saja, Yuri dan Sawa melihat daftar dan ada nama Arae di situ di urutan ke 15.


"Jangan sampai turun semangatnya ini hanya nomor urutan pendaftaran," kata Yuri menepuk bahu Sawa.


"Iya!" Jawab Sawa sambil menatap nama Arae dengan kesal.


Hari saat audisi tiba, Yuri dan Sawa datang ke aula dan sudah ada banyak sekali peserta disana.


"Kalau dilihat-lihat, pesertanya tidak ada yang hebat. Sawa, mungkin kali ini kamu bisa jadi pemenangnya!" Kata Yuri memberikan kobaran api semangat.


Sawa yang melihatnya langsung tertawa. Baguslah kalau memang begitu," katanya.


Yuri dan Sawa berpisah. Sawa lalu berganti baju dan Sawa menunggu di ruang duduk. Sawa lalu datang dan menitipkan tasnya pada Yuri.


"Yuri, titip ya aku mau ke kamar mandi dulu," kata Sawa.


"Cieee kamu gugup ya. Ya sudah sana," kata Yuri mengambil tasnya.


Sawa masuk lalu keluar lagi dan secara kebetulan dia melihat seorang produser tengah mengobrol dengan pegawainya.


"Oh! Itu kan produser yang terkenal sering membuat film," kata Sawa sangat gembira bisa melihatnya secara langsung.


"Oh ya apa Arae akan ikut audisi bintang iklan juga?" Tanya produser itu.


"Tentu saja Pak, aku sudah memberitahukannya. Dia sudah siap," kata pegawai itu mengacungkan jempol.


"Bagus bagus, sudah pasti Arae pasti yang akan menjadi pemenangnya," kata Produser itu sambil tertawa.


"Apa Bapak lagi-lagi memberikan uang pada para juri?" Tanya pegawainya agak kecewa.


Sawa kaget, masa produser terkenal itu melakukan hal hina hanya agar Arae menang?


"Bodoh kamu! Tentu saja tidak. Dia memiliki bakat yang memang bagus, aktingnya juga semakin hari semakin sempurna. Anaknya cantik dan manis juga dengan memakai dirinya di mana saja saluran kita pasti akan semakin naik," kata Produser itu senang.


"Aku kira. Yah benar juga semua juri sudah melihatnya dan mengatakan akan memilih Arae sebagai pemenang. Kalau begitu kenapa Bapak mengadakan pemilihan?" Tanya pegawai itu heran.


"Tidak bisa begitu. Pemilihan ini sebagai formalitas saja pemenangnya sudah tentu Arae. Kasihan sih, tapi agar Direktur percaya kalau hanya dia yang pantas," kara Produser itu berlalu.

__ADS_1


Sawa lemas terduduk ternyata Produser yang dia idolakan begitu hina nya. Dia kembali ke ruangan dengan wajah yang pucat, menghampiri Yuri.


"Kamu kenapa? Sakit?" Tanya Yuri yang cemas.


Di ceritakan lah semuanya pada Yuri dan dia juga terkejut. "Lalu ini hanya formalitas? Sawa, kamu mau bagaimana sekarang?" Tanya Yuri agak menangis.


"Jangan menangis, Yuri. Aku tidak apa-apa meskipun formalitas siapa tahu kejadian yang akan terjadi," kata Sawa.


"Apa?" Tanya Yuri.


Sawa menggelengkan kepala lalu tersenyum. "Aku mau bawa tasnya, aku akan memoles make up meskipun ini hanya formalitas aku akan tampil semaksimal mungkin," kata Sawa membohongi Yuri.


"Baiklah," kata Yuri memberikan tas Sawa.


Sawa masuk ke dalam kamar mandi lagi dan mengeluarkan buku Diary yang dia pinjam. "Curang! Curang! Curang sekali! Ternyata sejak semula pemenangnya sudah ditentukan. Arae, kamu adalah penghalang ku!" Kata Sawa.


Setelah memastikan tidak ada siapapun di dalam sana, dia menuliskan nama Arae dalam lembaran buku itu. Dan menunggu, dia penasaran ada berapa lembar kah isinya dan menghitung.


"Ada 10 lembar? Sedikit sekali. Yah, tidak apa-apalah toh musuhku juga sedikit," kata Sawa tertawa sendiri lalu memasukkan bukunya ke dalam tas.


Ruangan lain Arae tengah berlatih berakting dan bernyanyi lalu merias wajahnya. Bajunya kini berganti bercorak bunga dengan warna yang cerah.


Dia sudah benar-benar lupa siapa dirinya sampai Eris tiba-tiba muncul.


"Sepertinya kamu menikmati peran ini," kata Eris berjalan ke arahnya.


Arae menjatuhkan sisirnya saat ada suara lain. "Ya ampun, Eris! Kamu mengagetkan aku. Yah hidup aku sudah enak sekarang. Aku hampir lupa kalau kamu bisa datang kapan saja. Tahu tidak? Mungkin sudah takdirku harus berada di dunia manusia menjadi seorang Bintang," kata Arae mengedipkan sebelah matanya lalu memakaikan mahkota mutiara di kepalanya.


"Kamu menghalangi takdir seseorang," kata Eris menyandarkan dirinya ke meja rias.


"Aku? Oh, anak yang tidak punya rasa percaya diri itu? Hahaha! Dia bisa apa? Kerjanya hanya mengeluh sudah beberapa kali gagal. Oh ya Eris, maaf ya aku tidak bisa membantu soal toko lagi karena aku sedang sibuk," kata Arae agak angkuh.


Eris memegang parfum yang unik. "Tidak masalah bagiku tapi aku sarankan lebih baik kamu mundur sekarang atau sesuatu akan terjadi padamu," kata Eris menyimpan parfum.


"Apa maksudmu? Anak itu akan membalas dendam? Dengan cara apa? Tenang saja dia itu lemah," kata Arae.


"Jangan marah padaku saat itu terjadi karena kamu lupa akan dirimu yang asli," kata Eris lalu menghilang meninggalkan Arae yang keheranan.


Di perjalanan menuju aula, Sawa terus bergumam dengan senyuman jahat. "Jangan salahkan aku tapi kau adalah penghalang ku,"


Beberapa menit kemudian saat Sawa memasuki aula dan mencari Yuri, ada beberapa kerumunan yang tampaknya sedang membicarakan sesuatu. Sawa menemukan Yuri yang tengah cemas.


"Ada apa sih? Aku kira kamu pulang," kata Sawa menghampiri Yuri.


"Sawa, anak yang sedang naik daun itu tiba-tiba kepalanya terkena tiang lampu yang jatuh. Saat dia sedang melakukan akting di atas panggung, sekarang dia sedang dibawa oleh ambulans," jelas Yuri memegang tangan Sawa.


"Serius!?" Tanya Sawa tidak percaya ternyata itu ada efeknya seperti yang dikatakan oleh Eris.


Di saat itu pula Eris jelas melihat sendiri nama Arae benar-benar Sawa tulis. Dan segera menuju tempat Arae untuk memperingatkan tapi Arae sendiri tidak mempercayainya.


Saat itu Arae tengah bernyanyi lalu berakting di atas panggung, tiba-tiba saat Arae tengah berakting melihat ke atas lampu, teriakan menyusul.


Tidak sempat Arae menghindar, tiang itu jatuh di atas dahinya membuat Arae pingsan dan berdarah hebat. Semua orang berteriak, darah segar keluar membuat yang lainnya panik.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2