
Laki-laki yang dimaksud ternyata sudah menikah dan berbahagia, melihat Lira dia sudah mengikhlaskan apa yang pernah terjadi dengan dirinya.
"Baik baik, tenang. Aku sudah lama memaafkan meskipun sangat sakit rasanya. Kamu tahu kan aku kenal kamu sudah lama tapi rasanya sulit dipercaya bahwa kamu Penipu Pernikahan," kata laki-laki itu.
Lira menangis dengan sungguh-sungguh. Lalu...
"Ada apa, Mas? Lho, kamu! Mau apa lagi kamu kemari? Belum cukup kamu menipu keluarga suami?" Tanya istrinya yang ingin sekali memukul Lira dengan galon air.
"Sudah, sayang. Dia sudah tobat, mungkin. Lalu apa yang membuatmu sampai mau mengembalikan uang ini?" Tanyanya menatap tumpukan uang dalam tas.
"Aku... sebenarnya setelah itu jari kelingkingku tidak pernah bisa bergerak lagi. Ada seseorang yang memberi saran bahwa aku harus mengembalikan uang ini dan meminta maaf," kata Lira menunjukkan jarinya yang masih kaku.
Istrinya menertawai Lira tentu saja Lira harus menahan rasa malu. Kejadian ini sesuai yang mereka inginkan.
Kejadiannya mereka berdua terlebih dahulu menemukan toko Eris dan memasukinya bersama-sama.
Eris menyambutnya seperti biasa. Mereka berdua menceritakan permasalahannya.
"Kami mendengar ada toko ajaib yang bisa terlihat oleh orang yang membutuhkan. Ternyata memang ada," kata sang Istri.
"Silakan," kata Eris menawarkan mereka untuk duduk.
Sang suami memperhatikan toko Eris yang megah namun nyaman. "Indah sekali benar saja ya sayang, isinya bagaikan di negeri dongeng," katanya tersenyum.
"Terima kasih lalu apa keinginan kalian?" Tanya Eris menuangkan teh.
Mereka bertatapan. "Kami dengar bahwa kamu... memiliki sihir?" Tanya sang istri.
Eris lalu mengeluarkan api kecil dan mereka terkejut. "Hanya orang yang bisa melihat toko ini yang bisa melihat apa yang ku punya. Orang lain melihatnya hanyalah sebuah rumah tua, berbagai macam tampilan yang mereka lihat," jelasnya.
Mereka mengangguk. "Bisakah kamu membuat seorang wanita berlutut pada kami?" Tanya Istri.
"Kenapa?" Tanya Eris memperhatikan mereka.
"Wanita itu sudah lama aku kenal dan memutuskan untuk menikah, dia meminta semua uang supaya dia saja yang mengurusnya tapi saat pernikahan tiba..." kata Suaminya menundukkan kepala.
"Wanita itu membawa semua uang pernikahan yang suami kumpulkan dari beberapa keluarga. Saya kebetulan berada disana dan menawarkan diri menikah dengannya. Dia malu karena uang tidak bersisa, kami menikah dengan ala kadarnya," kata istri membelai tangan suaminya.
"Wanita itu akan datang ke tempat ini dengan sendirinya. Meskipun dirinya tidak butuh tapi keadaannya akan menjadi parah. Pulanglah," kata Eris lalu turun dari kursinya dan membungkuk.
Mereka berdua membalasnya lalu keluar pintu dengan saling berpegangan. Eris menatap mereka akan menjadi keluarga yang harmonis dan selalu bahagia.
"Ternyata benar. Anak itu bisa membantu kami membuatnya terjepit lalu menemui kami," pikir sang suami tersenyum begitu juga istrinya.
"Sudah sudah, kamu sudah dimaafkan. Ambil saja uang ini. Saya ingin lihat seberapa tingginya harga diri kamu sampai jari kamu kesakitan," kata sang istri tertawa.
Lira terdiam. Dia tahu sudah salah tapi dipermalukan seperti ini.. Dia tidak mau mengatakan apapun lagi, hanya butuh jarinya sembuh saja.
"Lira, hati-hati dengan kebiasaan kamu yang jelek. Apa salahnya bersikap jujur?" Tanya sang suami lalu menutup pintu.
Lira kemudian berjalan keluar gerbang sambil membawa tas berisi uang itu. Ada rasa bersalah dan menyesal menatap mantannya itu hidup bahagia.
"Bagaimana?" Tanya teman 1 sambil membawakan tas. Melihat isinya masih ada, dia keheranan.
__ADS_1
Lira lalu mencoba menggerakkan jarinya dan... ya! Bisa bergerak! Mereka semua kaget ternyata apa yang disarankan oleh Eris benar adanya.
"Sudah sembuh!" Teriak Lira menunjukkan jarinya yang bisa digerakkan.
"Lalu apa kegiatanmu hari ini?" Tanya teman 3.
"Karena aku sudah sembuh, aku harus bekerja," kata Lira muncullah asap hitam.
Yuri dan Arae yang sudah berada di dalam toko memperhatikan mereka melalui cermin besar yang biasa dipakai Eris. Tampak seperti menonton bioskop dengan layar yang lumayan besar.
"Bagaimana?" Tanya Yuri pada Arae.
"Masih sama kelihatannya dia akan melakukan sesuatu," kata Arae menajamkan kedua matanya.
"Orang itu memiliki masalah dengan kebiasaan berbohong nya," kata Eris yang datang dengan membawa nampan besar berisi kue buatannya.
Yuri yang baru tahu Eris membuat kue, merasa takjub. "Kamu bisa membuat kue?" Tanya Yuri.
"Apa sih yang tidak bisa dilakukan Eris? Kecuali Hati Datarnya," kata Arae tertawa jahil.
Eris menghela nafas dan memberikan satu pada Yuri. "Makanlah," kata Eris.
Yuri tentu saja dengan senang hati menerimanya tapi dia teringat, Eris kan... "Apa bahannya..." kata Yuri agak takut.
"Bahannya berbeda dengan dunia kamu tapi tenang saja, tidak ada bahan berupa daging manusia atau daging apapun," kata Eris kemudian menaruhkan ke dalam kotak yang sudah disediakan.
Yuri berdoa lalu memakannya dengan memejamkan kedua matanya. Tiba-tiba... "Huwaaa enaaaaakkkk," katanya menari-nari.
"Dari mana sih kamu bisa buat kue?" Tanya Arae penasaran yang juga mencoba satu.
Arae juga melayang memakan kue buatannya. Mirip kue good time tapi cokelatnya besar-besar. Dan ukuran kuenya juga lumayan sebesar tangan.
Setelah habis, Yuri membantu Eris memasukkannya dalam kotak lalu dimasukkan ke kantong putih yang besar.
"Mau dikirim kemana?" Tanya Yuri.
"Nanti ada yang kesini untuk membawanya," kata Eris masuk ke ruangan lain.
Yuri memandangi pintu dia agak waspada kali ini bila wanita itu datang. "Menurutmu wanita itu akan datang lagi hari ini?" Tanyanya.
"Pasti. Karena urusannya belum selesai," kata Eris lalu pergi lagi.
Selesai mengepak, Yuri kembali bekerja. Kue dari Eris membuatnya semangat bekerja lalu pintu terbuka. Yuri terpana melihat sesosok imut yang membawa busur panah berbentuk cinta dengan sayap putih besar dibelakang punggungnya.
Cupid pun heran menatap Yuri. Tidak biasanya ada manusia dalam toko Eris di waktu segini. Yuri terpukau melihat sayapnya dan ingin sekali menyentuhnya tapi itu kan tidak sopan.
"Kamu siapa?" Tanya Cupid keheranan.
"Aku Yuri pekerja di toko ini," katanya menatap Cupid.
"Pekerja? Tumben Eris menerima manusia. Kamu tidak takut bekerja di toko ini?" Tanya Cupid yang berputar-putar memperhatikan Yuri.
"Tidak. Ah, mereka sudah menunjukkan wujud aslinya dan aku sudah terbiasa melihat yang terbang-terbang," kata Yuri tersenyum.
__ADS_1
"Lalu bagaimana syarat bermainnya? Waktumu bagaimana?" Tanya Cupid lalu berdiri di depannya dan sayapnya tiba-tiba hilang.
"Eris membuat waktu di sekitarku terhenti," kata Yuri dengan sopan.
"Hmmm bisa bisa. Tapi saat kamu keluar dari toko, waktunya hanya sebentar. Baiklah, kuenya sudah selesai ya?" Tanya Cupid memandang kantong putih yang besar itu.
Yuri mengangguk dan menawarkan untuk membantu membawa.
"Tidak perlu "mereka" bisa membawanya," kata Cupid menunjuk ke belakangnya.
Yuri keheranan karena tidak bisa melihat apapun di sana hanya mengangguk dan mundur beberapa langkah.
Kantong-kantong itu melayang yang ternyata sedang digendong oleh beberapa sosok misterius, jelas mereka tidak menampakkan takut Yuri pingsan.
Tanpa disadari, beberapa kantong putih jatuh dan asap hitam masuk dengan ukuran lebih besar. Arae langsung menarik Yuri masuk ke dapur, Arae mengeluarkan kekuatannya.
Cupid yang ada disana pun menarik busurnya untuk menghilangkan asap berbahaya itu. "Manusia macam apa yang memiliki asap keburukan seperti ini?" Tanya Cupid menatap Arae.
"Itu pelanggan kami. Bukankah kamu lebih baik cepat pergi sebelum dilempar petir?" Tanya Arae.
"Oh iya, kamu benar. Sampai jumpa, Yuri hati-hati dengan Arae kalau kamu menghalanginya kamu bisa kena makan di," katanya melambaikan tangannya beserta prajuritnya ke atas langit.
"Huh! Aku tidak sejahat itu. Tenang saja Yuri, aku tidak akan memakan mu. Jangan dengarkan Cupid," kata Arae mengepalkan tinju ke langit.
Yuri tertawa. Yuri yang takut pada efek itu kemudian mengintip sedikit dafi dapur. Eris keluar menatap Yuri dan Lira akhirnya masuk.
"Maaf ya tiba-tiba aku sudah masuk lagi tapi tadi sepertinya pintu tidak bisa dibuka," kata Lira merasa aneh.
"Ah, ada yang rusak. Bagaimana?" Tanya Eris kemudian duduk di hadapan Lira.
Asap hitam itu semakin banyak entah apa yang dilakukan wanita ini pada setiap orang yang ditemuinya.
Lagi-lagi Raven dan Ella melihatnya dan terpaksa Raven membawa Ella keluar dari toko. Mereka menunggu di taman.
"Ada masalah apa lagi?" Tanya Eris menatap ke bagian badannya yang lain.
"Anu begini, setelah aku melakukan yang kamu suruh lalu jari kelingkingku bisa kembali digerakkan. Tapi kemudian sekitar 15 menit, pergelangan tanganku yang agak kaku," kata Lira. Tidak ada kebohongan, dia benar-benar merasa sangat aneh dengan tubuhnya sendiri.
"Kamu sudah sadarkah kalau memiliki kebiasaan jelek?" Tanya Eris langsung.
"Tidak ada," kara Lira membuat dirinya keheranan. Dari mulutnya keluar asap hitam seperti asap rokok tetapi pekat.
"Benarkah?" Tanya Eris tidak percaya.
"Iya," katanya.
Eris lalu mengeluarkan sesuatu dari tangannya, api kebiruan merah mengeluarkan gelang emas berbentuk bunga pada Lira.
Lira yang melihatnya kaget tetapi dia terpukau dengan yang ada di tangan Eris.
Eris memberikannya pada Lira. Lira tentu menerimanya dengan senang sekali. "Untukku?! Ini... emas asli?" Tanya Lira.
__ADS_1
*Gambar tersebut hanya ilustrasi
Bersambung ...