Girl Of Darkness

Girl Of Darkness
2


__ADS_3

"Kamu ini kurang belajar atau stres?" Tanya Arae yang sudah melihat semuanya.


Kio merebutnya dengan segera, Arae hanya menertawainya. "Bu-bukan urusanmu! Lagipula kenapa berpakaian begitu sih? Angin sore hari itu kencang lho," kata Kio menatap penampilan Arae.


"Aku kan manis," kata Arae yang berputar di depan Kio.


"Orang aneh," kata Kio lalu berbalik.


Secepat kilat Arae menyambar kertas hasil ujian dan berlari kencang.


"HEI! KERTASKU! TUNGGU!" Teriak Kio yang lari menyusul Arae.


Semakin lama, entah kenapa lari Arae semakin jauh lalu dia berbelok ke suatu tempat.


"KENA!" Teriak Kio tertawa senang tapi dia kaget, dirinya sampai di depan pintu toko Zalaam.


"Toko apa ini? Memangnya ada toko disini?" Tanyanya sambil melangkah masuk.


Tanpa menyentuh gerbang, itu terbuka sendiri. Dia masuk ke dalamnya sambil mencari Arae. Arae sudah tentu menghilang dan meletakkan kertas ujian itu di meja besar di dalam toko Eris.


"Permisi. AH! Kertas ujian ku, kenapa aku senang ini baik-baik saja?" Tanya Kio keheranan.


Tanpa diketahui, Ela sudah ada di sampingnya. "Karena itu hasil jerih payahmu," kata Ela tersenyum .


"Oh hahaha iya anu permisi," kata Kio menundukkan kepalanya.


"Selamat datang," kata Ela mempersilahkan Kio masuk.


"Seperti di dunia lain saja," kata Kio menatap semuanya. Lampu gantung yang unik dan lucu menarik hatinya.


"Memang," kata Eris menyambut kedatangan Kio.


"Oh! Maaf, sebenarnya aku masuk mencari seorang gadis aneh yang membawa kertas ujian ku," jelas Kio agak gugup memandangi kecantikan Eris.


Eris menghela nafas sudah tentu ini pekerjaan Arae. "Arae ya," kata Eris melirik ke sisi lain.


Kio juga melihat ke arah itu tapi tidak bisa melihat apapun, Arae memang ada disana namun dia membuat tubuhnya tidak dapat dilihat.


"Sebagai permintaan maaf atas kelakuan teman aku, kamu boleh membawa barang yang ada di sini yang menarik minat hati kamu," kata Eris dengan nada datar.


"Bagaimana ya? Aku tidak membawa uang lebih karena tampaknya barang disini mahal hehehe," kata Kio tertawa namun kedua kakinya terus melangkah. Yah, sudah disini mau bagaimana lagi kan.


Eris membiarkan Kio memilih sendiri. Kio lalu memasuki rak dengan barang-barang yang kecil seperti bros, peniti unik lalu...


"Wah, apa ini bros? Lucu sekali! Bentuknya kunci dengan kepalanya bergelombang?" Tanya Kio memegang kunci berwarna biru terang.


"Itu adalah Kunci Laut," jawab Arae membuat Kio kaget.


"Kamu!" Kata Kio. Arae tertawa jahil lalu pergi ke suatu tempat.


"Kunci laut? Apa maksudnya?" Tanya Kio lalu menuju bagian kasir dimana Eris sedang membaca buku.


"Kamu tertarik?" Tanya Eris menatap Kio.


"Ini? Aku tidak tahu apa kegunaannya apa ada semacam buku?" Tanya Kio mencari tahu, mencari beberapa barang.


"Kunci itu bila kamu masukkan ke pintu apapun, di balik pintunya akan muncul lautan," jelas Eris.


"LAUT!? Apa airnya akan masuk ke dalam rumah?" Tanya Kio agak ketakutan. Dia membayangkan sesuatu seperti rumahnya tenggelam.

__ADS_1


"Tentu tidak, tenang saja," kata Eris.


"Lalu hanya itu?" Tanya Kio agak tertarik namun takut.


"Di dalamnya penuh kebebasan tanpa harus terikat dengan perjanjian apapun. Sebut saja Kerajaan Laut milikmu seorang," kata Eris kedua matanya bersinar terang.


Kio takjub dan memegang erat kunci itu karena dia juga penasaran. "Hahaha tapi itu kan tidak mungkin mana ada tempat seperti itu,"


"Kalau begitu coba saja untuk membuktikan apakah perkataan ku benar atau hanya imajinasi. Bagaimana?" Tantang Eris pada Kio.


Kio menelan ludah, ditantang oleh anak perempuan yang cantik tentu kalau dia menolak akan malu sekali.


"B-baiklah! Aku akan men-mencobanya! Lalu bayarannya bagaimana?" Tanya Kio memeriksa saku celananya.


"Kamu bisa kembalikan bila sudah bahagia," kata Eris membuat Kio merasa aneh mendengarnya.


Saat kedua mata Kio berkedip secara perlahan, tiba-tiba saja dia sudah berada di depan rumahnya.


"Keren!" Ucapnya lalu menyembunyikan kunci itu ke dalam tasnya. Dan bersiap menghadapi kemarahan Ibunya.


"Sudah pulang. Duduklah, mana hasil ujian mu?" Tanya Ibunya yang sudah lama menanti Kio.


Kio masuk ke ruang tamu lalu melepaskan tasnya dan membuka. Mengambil kertas hasil dari ujian kursusnya dan menyerahkannya lalu duduk.


Kio memandangi Ibunya yang berubah. Alis matanya meruncing tajam lalu, urat di wajahnya mulai keluar.


"APA INI!? Kamu belajar atau tidak selama ini? Salahnya banyak sekali, Ibu sudah banyak keluar uang agar kamu menjadi pintar," kata Ibunya yang memang marah sekali.


"Maaf," jawab Kio menundukkan kepalanya.


"Bukan hanya soal maaf kan ibu sudah berkali-kali bilang fokus pada belajar. Lalu kenapa sekarang seperti ini!?" Teriak Ibunya memandangi Kio.


"KAMU LIHAT KEMANA!? DENGARKAN APA KATA IBU!!!" Teriaknya lalu membanting kertas ujian itu ke lantai.


Kio menundukkan kepalanya, ingin sekali menangis. "Kenapa... ibu sekarang berubah? Huhuhu tidak seperti dulu, mau sejelek apapun Ibu tidak pernah kecewa," kara Kio yang menangis.


Ibunya lalu mereda amarahnya dan berjongkok di depan Kio sambil memegangi tangannya. "Ibu begini semua demi kamu, Kio, demi masa depan kamu. Tahun lalu kamu bisa masuk ranking 3 kenapa sekarang malah turun? Kamu sebentar lagi kelas 3 lalu masuk SMA. Ibu ingin saat kuliah kamu bisa bekerja paruh waktu di perusahaan profesor ibu. Untuk mencapai itu semua Ibu juga bekerja keras membuat kamu semakin pintar," jelas Ibunya panjang lebar.


"Tapi aku sudah maksimal Bu, dan ini hasilnya," Kata Kio yang masih terisak-isak.


"Ibu yakin kamu bisa! Ibu berjuang, kamu juga harus berjuang! Ya sudah berikutnya kamu harus lebih bagus dari ini. Oke? Mau Ibu buatkan makanan apa?" Tanya Ibunya agak terpaksa.


Kio terdiam, banyak sekali makanan yang dia suka tapi satu-satunya yang paling dia inginkan adalah...


"Hmmm Ibu," kata Kio agak takut.


"Apa, Nak? Ayo katakan saja," kata Ibunya me lembut.


"Hari Minggu kita ke akuarium yuk. Sudah lama kan, teman-temanku juga kesana dengan orang tuanya. Aku juga ingin, kita kan..." kata Kio langsung meminta.


Raut wajah sang Ibu berubah menjadi dingin. "Lagi-lagi soal itu? Ibu tidak bisa. Ibu banyak tugas dafi Profesor dan kamu juga hentikan kebiasaan kekanakkan mu," kata Ibunya lalu masuk ke dalam kamarnya.


Kio memungut hasil ujiannya lalu pergi ke kamarnya juga dan tiduran sejenak. Dia kecewa dengan ibunya meski Ibunya tidak terlalu marah, yang ada dalam otaknya adalah dirinya harus belajar dengan keras.


"Aku membuat Ibu kecewa dan marah lagi. Dulu aku berjanji tidak akan membuat Ibu sedih. Aku akan jadi anak baik, akan rajin belajar dan mendapat nilai baik. Aku akan membuat Ibu sangat bahagia tapi..."


Kemudian Kio memejamkan kedua matanya dan teringat apa kata Eris.


"Tempat kebebasan. Kerajaan Laut milikmu seorang,"

__ADS_1


Lalu Kio bangun dan menuju tasnya berada. Dia memegangi kunci itu. "Jika kunci ini dimasukkan ke pintu manapun... apa benar ya?" Tanya Kio lalu mencari pintu yang aman.


"Baiklah, akan kucoba. Semoga saja hanya imajinasi," kata Kio lalu memasukkan kunci itu ke pintu kamar yang tidak terpakai dan memutarnya.


Terdengar bunyi ceklik di dalamnya. Kio menarik nafas, lalu tertawa berpikir itu semua hanya lelucon. Namun dia teringat bagaimana tiba-tiba dirinya sudah ada di depan pintu rumahnya.


Dibukanya... Air laut yang memenuhi pintu itu tumpah memenuhi kamar tersebut namun tidak memenuhi semua ruangan rumah. Hanya dalam kamar itu saja, Kio kaget namun terkesan.


Tempat tidur, meja, bahkan seprainya pun tidak ada! Isinya hanyalah lautan lalu kerang dan ikan! Lalu kemana isi kamarnya?


"Ini air laut! Keren! Aku lupa menanyakan apa akan bisa bernafas di dalamnya? AAA! Bodoh! Sudahlah... Aku coba masuk saja toh toko itu juga ajaib," kata Kio lalu mulai melakukan senam mudah dan berlari di tempat untuk masuk.


Dia lalu berhenti membuat gerakan siap lalu berlari dan melompat. Kio memejamkan kedua matanya lalu perlahan tidak sengaja dia menghisap udara.


"Gawat! Aku kehabisan udara!" Pikir Kio panik. Lalu tiba-tiba merasa dirinya sama seperti menghirup oksigen di darat.


"Lho? Eh? Aku bisa bicara!? Aku juga bisa bernafas!? Tidak terasa sesak! Wah keren! IKAN!! WAAAAAAH!!" Teriak Kio di dalam lautan itu.


Kio sangat senang sekali, dia tidak berjalan melainkan berenang. Air tapi bukan air biasa, entahlah dia merasa sangat nyaman sekali.


Arae dan Eris terus memperhatikan Kio dalam cermin besar


"Kio," panggil seseorang dengan suara yang lembut.


"Hm? Siapa?" Tanya Kio mencari tahu sumber suara itu.


"Sini, Nak," panggil suara itu lagi.


"Ibu!?" Seru Kio lalu berenang mendekati sosok itu. Semakin lama dia semakin dekat, kaget sekali sosok itu memang Ibunya tapi berbeda.


Ibunya dan Ibu yang ini sama-sama memiliki mata yang mirip dan juga rambut panjang.


"Kio, akhirnya kamu datang juga," katanya membuka kedua tangannya untuk menyambut.


"I-Ibuuuuuu," peluk Kio kepada Ibu Lautnya itu.


Setelah itu setiap harinya Kio selalu mendatangi tempat bermainnya dan menemui Ibu keduanya. Disana juga terdapat rumah yang sama persis dengan di dunianya namun bedanya dunia laut itu dikelilingi bermacam ikan.


Nilai pendidikan Kio perlahan naik dan Ibunya tidak heran sama sekali, tampaknya Kio dalam suasana yang ceria. Ibu membuat Ibunya sangat gembira dan memamerkan nilai Kio pada mereka.


"Aku pulang! Hari ini tidak ada jadwal kursus dan aku akan bermain sepuasnya," pikir Kio meletakkan tasnya lalu bersiap ke kamar.


"Kio, kalau sudah menyimpan tas datang ke ruang tamu ya," kata Ibunya dari arah ruang tamu.


"Lho? Ibu tumben sudah pulang," kata Kio dalam kamarnya. Setelah berganti baju dia menuju ruang tamu dan masuk.


Dilihatnya ada orang lain disana.


"Ini Kak Rama, dia mahasiswa tingkat tiga di universitas P dia akan jadi guru privat mu mulai hari ini. Jadwal kamu mulai hari Senin sampai rabu, jadwal kursus kami sudah berakhir kan, sisanya kamu bisa terus menjalani kursus lain. Ibu sudah siapkan segalanya," jelas Ibunya menerangkan.


"Halo," sapa Rama dengan senyum ramah.


Kio yang kaget lalu berdiri menolak. "TIDAK! AKU TIDAK MAU LAGI! Aku sudah tidak punya waktu luang Bu, apa harus seperti ini!? Ini pemaksaan!" Seru Kio sangat marah.


"KIO! Kamu ini bicara apa sih? Ini semua untuk kamu," kata Ibunya yang juga kesal. "Tapi Bu, aku juga butuh istirahat," kata Kio sesak nafasnya datang lagi tapi dia tahan.


"Kamu tahu Yuri? Dia sekarang kuliah di universitas yang sama dengan kak Rama. Dari Jepang dia pindah ke Semarang, Ibu juga ingin kamu seperti dia. Jangan banyak membantah! Kamu tidak mau membuat Ibu sedih kan. Itu janji kamu!" Seru Ibunya.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2