
Erwin Gutawa - Bukan Cinta Biasa
Feat Synchron Stage Orchestral Vienna
...This is my darkness...
...Nothing anyone says can console me...
...Despair & Hope......
...Light & Dark......
...Happy & Sad......
...Hard & Easy......
...Kind & Evil......
...Fall & Rise......
...Near & Far......
...Group & Individual......
...Knowing what it feels to be in pain, is exactly why we try to be kind to others...
...~ Jiraiya Naruto ~...
Baju hari ini :
"Kakak bisa buat aku terbang kan?" Tanya anak berusia enam tahun yang berada di dalam toko Eris kala itu. Eris, Arae dan Raven menatap anak itu yang memakai baju kemeja berwarna abu-abu dan celana putih.
Anak itu sudah beberapa hari ini berada di tokonya karena sesuatu hal.
"Kamu harus pulang," kata Eris kemudian pergi ke suatu ruangan.
Anak itu cemberut lalu berlari untuk menyusul Eris. Arae dan Raven mengikutinya pergi, anak itu terus membujuk Eris agar membuatnya bisa terbang.
"Aku teringat..." kata Raven tertawa.
"Yuri ya. Hahh dia hari ini tidak bisa masuk karena ada kegiatan kemping ya," kata Arae menghela nafas.
"Dia sudah membuat makanan untuk kita sekarang sebagai ganti Yuri, ada anak itu. Sampai kapan dia disini?" Tanya Raven.
"Anak itu... tengah diburu banyak orang," kata Arae menunduk kepala memandangi sendal Rumah Sakit yang penuh dengan darahnya.
Cerita itu bermula di sebuah Rumah Sakit mewah dengan kapasitas yang sangat lengkap. Anak tersebut bernama Emi seorang anak laki-laki, dia sudah lama dirawat di Rumah Sakit semenjak kehilangan orang tuanya.
Dengan bosan dia memainkan dedaunan dan rumput di halaman Rumah Sakit itu. Di tangannya terdapat beberapa bekas suntikan, lalu dua orang menghampirinya seorang perempuan dan laki-laki.
__ADS_1
"Emi, apa kabar?" Tanya mereka berdua dengan ramah.
Emi memandangi mereka dan tidak menjawab.
"Kok ditanya diam saja sih?" Tanya yang perempuan bernama Nana.
Nana berambut panjang dengan warna rambut dia cat menjadi pirang. Sedangkan lelaki tinggi itu bernama Taro, kekasihnya.
"Emi, ini om. Kita jalan-jalan yuk," kata Taro yang duduk di sebelahnya namun Emi langsung menggeser badannya.
"Mau apa kalian? Mau merebut warisan Ayah dan Ibu ya. Aku tahu kalian datang menjenguk supaya pengacara Ayah bersimpati dan kalian yang dapat kan," kata Emi dengan suara yang lantang.
Mereka berdua tertawa tidak lucu saat beberapa orang berbisik ke arah mereka.
"Kamu! Berani sekali mengatakan itu di depan publik. Aku kakak kamu, masa kamu berkata tidak sopan seperti itu?" Tanya Nana berkacak pinggang.
Emi kemudian berdiri tidak takut pada kakak perempuannya. "Kakak? Aku tidak pernah merasa memiliki seorang kakak! Saat aku tahu kakak bekerjasama dengan Om Taro yang berusaha membunuh Ayah dan Ibu!" Teriak Emi yang langsung berlari memasuki Rumah Sakit.
Kakaknya kaget dan berusaha mengejar tapi ditahan. "EMI!!" Teriak Nana kesal sekali.
"Sudah, sudah biarkan saja. Lebih baik kita sabar menunggu. Anak sekecil itu tidak akan lama hidup," kata Taro menenangkan Nana.
"Ugh!! Anak itu kalau saja waktu itu kita sekalian membekam nya. Kamu sih terlalu memikirkan dia!" Kata Nana dengan marah.
"Pelan kan suaramu! Sadar kan kita berada di mana?" Tanya Taro memandangi sekelilingnya.
Nana lalu menutup mulutnya kemudian berbisik. "Haruskah kita menaruh bubuk yang sama seperti kedua orang tuaku?" Tanya Nana dengan manja memeluk pacarnya.
Taro membelai Nana dengan gemas. "Tenang bersabar saja ya. Kalau tidak salah adik mu itu menderita penyakit serius kan ada kemungkinan hidupnya pun tidak akan bisa bertahan lama," kata Taro tertawa.
Kedua orang tuanya telah pergi meninggalkannya dalam keadaan mulut berbusa. Pelakunya sudah tentu Emi ketahui saat itu kebetulan penyakitnya kambuh.
Para pelayan langsung mengantarnya ke Rumah Sakit dan sampai sekarang dia dirawat di sana. Setelah tahu keduanya tidak selamat, kini Emi merasa semua orang menatapnya dengan iba.
Lalu saat diumumkan bahwa Emi menjadi pewaris hampir semua kekayaan Ayahnya, Nana sebagai kakak perempuannya semakin meradang.
Kakak perempuannya memang tidak pernah baik kepadanya semasa orang tua mereka masih hidup pun. Diketahui bahwa Nana bukanlah anak kandung mereka hal itulah yang membuat Emi dalam situasi bahaya.
Ibunya sudah tentu membagikan harta nya untuk Nana tapi tidak cukup apalagi setelah Nana memiliki kekasih, yang sama jahatnya.
Sekarang tidak tua tidak muda, beberapa orang berusaha membuatnya luluh agar Emi menyerahkan semua warisan.
"Nak, kamu tidak apa-apa?" Tanya seorang nenek dengan kursi rodanya.
Emi menatapnya, ya dia tahu nenek itu. "Nenek sejak kapan pakai kursi roda?" Tanya Emi yang kemudian berdiri.
Nenek itu terkejut dan menjadi gugup. "Eh, ini... ah, sudah lama sebenarnya,"
"Setahu aku nenek kan bisa jalan," kata Emi berlari meninggalkannya.
"NAK!!" Teriak nenek itu.
__ADS_1
"Aih, gagal juga ya," Kata Taro menghela nafas keluar dari persembunyiannya.
"Emi sepertinya pernah melihat aku berjalan tanpa tongkat atau kursi roda. Sial!" Kata nenek itu kemudian berdiri dan berjalan bersama Taro.
"Kapan pengacara akan datang lagi?" Tanya Nana.
"Sebulan lagi, sebelum itu kita harus secepatnya mengurus adik mu agar dia mau menyerahkan segalanya," kata Taro menggigiti jari jempolnya.
Emi menangis sejadinya di atas atap gedung Rumah sakit, tidak ada seorang pun yang berbaik hati mendampinginya. Bahkan orang yang paling dipercayainya pun berbalik untuk merebut kekayaan kedua orang tua kandungnya. Paman dan bibinya berbalik mengincarnya juga.
Eris turun dan berjalan menghampiri Emi lalu berdiri di depannya. "Kamu kenapa?" Tanyanya.
Emi kaget ada suara perempuan bertanya kepadanya, dia pikir di atap ini tidak ada orang lain. Dia menatap Eris lalu berdiri dan menyeka air matanya.
"Kamu kapan datangnya? Aku duluan yang berada di sini," kata Emi.
Eris menunjuk ke arah pintu yang sudah terbuka dengan lebar. Emi menatapnya bengong tidak percaya.
"Bohong! Aku yakin pintu itu sudah aku tutup dan kunci," kata Emi merogoh ke dalam saku dan mengeluarkan kuncinya.
Eris tersenyum. "Pintar juga kamu," kata Eris dengan nada yang dingin.
Emi ketakutan mendengar suara Eris dia membeku di tempatnya. Nona cantik dengan rambut putih menatapnya tajam lalu Eris pergi ke tangga menuju bawah.
Emi terduduk lemas dan menunduk lalu matanya menangkap sesuatu yang berbentuk kotak di lantai semen itu. Dia berdiri dan mengambilnya, susu strawberry.
"Aku tidak suka," kata Emi meletakkannya kembali.
Eris sudah tentu berada di balik tembok tersenyum sambil memejamkan kedua matanya.
Perut Emi tiba-tiba berbunyi sedangkan dia malas untuk kembali ke kamarnya katena sudah pasti penuh dengan orang-orang jahat. Dia lalu menatap susu itu lagi dan dia buka lalu meminumnya.
"Enak!" Serunya menghabiskan susu itu.
Eris naik lagi dan berhenti melihat Emi meminum susu miliknya. "Itu susuku kenapa kamu meminumnya?" Tanya Eris.
Emi terdiam, menelan ludah dan memandangi susu itu. "Apa? Aku kira..." katanya terdiam.
"Kamu pikir aku meninggalkannya sengaja disini? Bayar," kata Eris mengulurkan tangannya.
Emi menaruh susu kotak itu dan menunduk lalu berdiri menghampiri Eris. Kedua tangannya berkeringat.
"Aku tidak punya uang," kata Emi dengan pelan dan malu, dirinya sudah salah paham.
"Lalu bagaimana ini? Aku sedang bersiap-siap untuk makan siang di sini," kata Eris tidak selaras dengan nada ucapan dan kalimat.
"Aku... Aku belum dapat uangnya tapi nanti pasti ada. Jadi tunggu saja," kata Emi meyakinkan Eris yang menatapnya dingin.
"Aku butuhnya sekarang," kata Eris.
"Er...." kata Emi kebingungan.
__ADS_1
Eris menghela nafas. "Kalau begitu sebagai bayarannya, kamu harus temani aku makan siang ya," kata Eris yang menunjukkan tas keranjang piknik di hadapan Emi.
Bersambung ...