Girl Of Darkness

Girl Of Darkness
Cerita Aiolos ( Park Jimin )


__ADS_3

Kuil Saotome dikenal warga sini sebagai penyimpan mayat yang ditolak oleh keluarga untuk dikuburkan. Biksu dalam kuil bertugas untuk menenangkan jiwa mereka, Eris enggan mengambil bola kehidupan karena mayat disini kebanyakan tidak diketahui asalnya.


Kemudian mereka saling menunjuk siapa selanjutnya yang akan bercerita dan Aiolos membusungkan dadanya, dengan mengangkat jarinya.


Aiolos menarik nafas untuk menenangkan diri, Nyx menepuk bahunya dan Ares menyemangatinya.


"Baiklah, ini adalah pengalaman yang aku alami sendiri saat duduk di kelas 6 SD. Waktu itu kebetulan sekolah akan mengadakan wisata ke suatu tempat, sebuah danau dan kami menginap di penginapan. Kami semua pergi di hari yang cerah, saat itu tidak terpikirkan kami akan mengalami kejadian menegangkan," kata Aiolos.


Semuanya fokus terkadang mereka menggosok kedua mata karena lelah oleh keadaan yang agak gelap dan remang-remang. Beberapa tampaknya tengah tertidur.


"Singkatnya, kami sampai dan menatap penginapan yang sederhana itu. Kabarnya penginapan itu dulunya adalah rumah pribadi milik seorang artis," kata Aiolos.


"Milik siapa? Laki-laki atau perempuan?" Tanya Ares.


"Entahlah, sang pemilik rumah yang saat itu, tidak bisa menyebutkannya karena artis tersebut terlihat skandal," terang Aiolos.


"Oooh," seru mereka semua sekaligus brrtanya-tanya siapakah kira-kira.


"Rumah bergaya barat yang terasa tua dan beraura retro itu sangat terkenal di masa aku kecil. Temanku lalu iseng untuk menghitung tangga dalam penginapan, yang lumayan panjang. Yang anehnya setiap dihitung bersama atau sendiri, selalu berkurang satu atau lebih," kata Aiolos menatap mereka semua dengan mimik muka yang misteri.


"Yang seperti ini juga selaluuuuu saja kejadian ya. Apa yang membuat tangganya selalu berbeda saat dihitung?" Tanya Artemis.


"Tangga sekolah maupun penginapan, apapun yang memiliki panjangnya tangga akan selalu menjadi misteri bila kalian hitung pada malam hari," kata Eris.

__ADS_1


"Eh, mau coba tidak katanya dalam kuil utama ada tangga yang menjulang panjang menuju tempat meditasi," kata Anemoi.


"Nanti sajalah," kata Ares.


"Kamu yakin? Toh kalian semua penakut," kata Arae menahan tawa.


Semuanya terdiam dengan wajah malu.


"Aku lanjutkan. Lalu alu sekamar dengan 3 orang lainnya jadi semuanya ada 4. Kami semua iseng-iseng menghitung jumlah kamar dari setiap lantai tapi yang berbeda hanya di lantai 3. 1, 2, 4, dan 5 berjumlah sama yaitu 8 kamar. Tapi di lantai 3 hanya ada 7 kamar. Aku menghitung luas bangunan dan yang lain seharusnya ada 8 kamar juga," jelas Aiolos sambil menggenggam kedua tangannya.


"Kamu tidak bertanya orang penginapan?" Tanya Anemoi.


"Sudah. Kata mereka memang ada 8 kamar di setiap lantai tapi yang aku lihat hanya ada 7 di satu lantai. Lantai 3 dibangun tidak jauh berbeda dengan yang lainnya. Kami sampai memeriksa ulang dan memang benar hanya di lantai 3 tempat kami menginap, hanya ada 7 kamar," kata Aiolos.


"Benar, wajah mereka terlihat tegang lalu para murid dan guru mulai menduga-duga karena perkataan kami. Mereka mulai merasa bahwa memang ada kamar lain yang kami tempati di sebelahnya. Meskipun saat itu hanya ada dinding yang membuat jalan itu buntu," jelas Aiolos.


Eris memperhatikan mimik wajah Aiolos yang ketakutan, sepertinya memang benar pengalamannya sendiri. Bagaimana mungkin dia masih mengingatnya?


"Kami menempati kamar yang paling ujung lalu aku memastikan dengan membuka jendela dan menatap ke luar. Dinding setiap lantai memang mentok tapi tidak dengan lantai 3. Rupanya masih berlanjut ke sisi kiri. Namun ya aku pikir kamar ke 8 itu dihalangi oleh sebuah dinding," kata Aiolos meneguk minumannya.


Ares dan yang lain terkejut. "Kamu menyelidikinya?"


"Ya tentu saja," kata Aiolos dengan serius.

__ADS_1


"Sendiri?" Tanya Apollo tidak menyangka.


"Kami berempat kan ketiganya teman sekamar. Malam harinya saat guru tengah mengadakan kegiatan, kami berempat keluar diam-diam dan bertemu. Kami menyelidiki lagi setiap lantai, salah satu teman aku berkata bahwa ada jarak di lantai 3 tepar dimana kamar kami terletak. Ada dinding yang semacam pembatas dan terbuat dari semacam triplek," kata Aiolos.


Mereka semua diam, 4 lilin yang sudah terpakai menyisakan asap putih yang masih bergoyang. "Lalu aku mendengar suara aneh seperti 'krek krek,'" kata Aiolos.


Eris dan Arae berpandangan justru bunyi itu sekarang agak terdengar dari belakang mereka namun tampaknya masih belum jelas tertangkap.


Artemis menangkap tangan Apollo, Apollo menenangkan Artemis. Bagaimana sih? Katanya teman dari pangeran kegelapan, kakak Eris tapi nyatanya lucu juga. Anemoi memeluk dirinya sendiri, Poi mencengkeram baju Ares.


Ares hanya bisa pasrah melihat temannya yang langsung mepet. "Hei, aku juga takut tapi masa sedari tadi kalian semua berusaha menarik seragamku?!" Serunya mulai kesal.


Ternyata selain Poi, ada Nyx dan Aiolos sendiri tanpa sadar memepet Ares.


"Maaf," kata mereka bertiga kemudian duduk sesuai urutan lagi.


"Aku juga takut tapi hanya cerita ini saja yang pas di malam ini kan," kata Aiolos mengusap tangannya.


Air dalam wadah mulai bergelombang, taburan garam Eris mulai berubah menjadi air secara tiba-tiba. Teran tertawa mencurigakan di pojok sambil memegang kamera.


"Teruskan," kata Eris dengan tenang.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2