
Ares merenung kalau begitu... setelah bertemu dengan Yuri, dia pamit untuk pulang dan meyakinkan dirinya dengan datang ke titik tempat toko itu berada.
Tepat seperti yang dikatakan oleh Yuri, tempat dimana toko Eris berada adalah pembuangan barang-barang bekas serta sampah dan rerumputan. Tidak ada rumah apapun.
Ares mulai cemas. "Apa kita tidak akan bertemu lagi?" Tanya Ares menatap langit.
Di toko Eris, tubuhnya bersinar menjadi transparan. Arae tentu kaget sekali dia harus menemukan anak yang mirip dengan Eris di dunia manusia!
"Arae," kata Eris membuka kedua matanya dan berusaha bangun.
"Eris! Jangan bangun dulu. Tubuhmu..." kata Arae tidak bisa berkata apapun.
"Kekuatanku... menurun," kata Eris dengan lemah.
"Aku akan memanggil Ratu," kata Arae panik.
Sebelum Arae menelepon Ratu, Eris memegang tangannya. "Ja...ngan!"
"Lalu bagaimana dengan kamu selanjutnya? Kalau aku hubungi Ratu, Beliau pasti bisa menemukan orang jelmaan kamu di sini," jelas Arae.
"Aku masih bisa bertahan beberapa minggu, toko ini harus terus ada. Yuri?" Tanya Eris.
"Aku mengirimnya keluar dari toko. Salah?" Tanya Arae.
Eris menggeleng. "Tindakan kamu bagus. Ada kemungkinan kehadiranku disini bertabrakan dengan identitas yang ada di Bumi," kata Eris memandangi dirinya yang mulai tembus pandang.
"Jadi... ini semua memang... tapi bagaimana mungkin?" Tanya Arae agak panik.
"Kita seharusnya memeriksa dahulu keberadaan soal aku atau kamu disini. Tapi kamu sudah berada lama di Bumi jadi pasti aman. Sedangkan aku? Bila memang ada identitas yang sama denganku, kekuatanku pasti condong ke dirinya. Itulah kenapa..." kata Eris dengan sedih.
"Kamu tidak boleh menghilang, Eris! Yuri dan aku akan membantu mencari identitas itu," kata Arae berusaha memegang Eris.
"Kehadirannya diluar perhitungan Ayah dan Ibuku tapi aku yakin dia memang ada," kata Eris.
__ADS_1
"Aku akan membunuhnya bila menemukannya," kata Arae dengan kedua mata merahnya.
"Jangan! Dia adalah manusia yang hidup, kekuatanku tersedot bukan karena maunya. Aku yang salah, Arae. Carilah gadis itu irang yang mirip denganku, mungkin dari wajah berbeda tetapi kekuatannya hampir sama. Bawa ke hadapanku," pinta Eris dengan serius.
Arae menghela nafasnya, Eris sedikit demi sedikit mulai berubah menjadi iblis yang normal. "Akan alu bagi kekuatanku agar keberadaan mu tidak menghilang,"
Eris mengangguk setidaknya dengan kekuatan Arae, dirinya juga masih bisa mencari anak itu. Dia sudah tahu siapa yang memiliki kekuatan yang sama.
"Eris, apa anak itu memiliki kekuatan yang sama?" Tanya Arae.
"Seharusnya tapi mungkin ada yang berbeda. Bisa juga dia hidup di Bumi dengan takdir yang berbeda. Entah bagaimana kekuatanku keluar dari tubuhku," kata Eris menunjukkan energi kecil yang menguap dari tubuhnya.
Arae tentu sangat cemas tapi sekarang dia bisa lega. Kekuatan yang dia beri membuat Eris memutuskan untuk tidur.
Raven pun tidak mampu kembali ke dalam toko, dia mencari kemanapun selalu tidak ketemu. Anehnya, dia tidak bisa berubah menjadi manusia. Dia ketakutan apa yang terjadi pada Eris?
Raven terbang kebingungan, lalu Raven ingat dimana rumah Yuri dan melesat kesana. Dia bertengger di jendela kamar Yuri dan mencarinya.
"YURI!!" Teriak Raven yang senang suaranya bahasa manusia.
Yuri menatap sekeliling, mencari orang yang memanggilnya. Lalu dirasa tidak ada orang, dia hendak memutar gagang rumah.
"Yuri! Ini aku, Raven!" Teriaknya menghampiri Yuri.
Yuri kaget dan sangat senang melihat siapa yang datang. "Raven! Kenapa kamu... wujud mu?" Tanya Yuri aneh.
"Tampaknya Eris dalam kritis aku tidak bisa menemukan toko. Bagaimana denganmu?" Tanya Raven.
"Aku tiba-tiba dikirim keluar dari toko oleh Arae. Ayo masuk," kata Yuri menggendong Raven.
Raven terbang ke tangannya dan memasuki rumah. Saat itu rumah agak sepi, Yuri masuk ke ruang tamu.
"Kekuatan sihir yang dia bagi ke aku sepertinya berkurang tapi aku masih bisa bicara dengan bahasa manusia. Mungkin Eris menjaganya agar kekuatannya di aku tidak semua dia ambil. Itulah kenapa aku masih bisa bicara," kata Raven dengan sedih namun senang.
__ADS_1
Yuri membelai kepala Raven dan tersenyum. "Tinggal saja dulu di rumahku," kata Yuri.
"Tidak akan apa-apa. Apa orang tuamu akan berteriak kalau mendengar aku bisa bicara bahasa manusia?" Tanya Raven agak takut.
"Tenang saja," kata Yuri tertawa.
Lalu dia kenalkan Raven pada kedua orang tuanya. Ayahnya sangat senang burung dan tidak keberatan bila ada gagak yang menginap di rumah.
Ayah dan Ibunya membuatkan kandang dari panci yang diberi kain hangat.
"Tinggallah sampai tokonya selesai," kata Ibunya membelai Raven.
Raven tentu senang sekali ternyata kehadirannya tidak mengganggu mereka. Rumah kecil itu menjadi rumah keduanya.
"Bagaimana kabar Eris ya?" Tanya Yuri agak cemas.
"Yang aku lihat, keadaannya semakin sulit kekuatannya seperti menghilang," kata Raven yang duduk.
"Masa sih?" Tanya Yuri.
"Buktinya aku tidak bisa berubah menjadi manusia kan," kata Raven.
Yuri mengambil cemilan dan membagikannya pada Raven. "Tapi kok bisa kekuatannya sampai menghilang?"
"Entahlah. Aku sendiri bingung, aku sempat melihat penampakan toko di atas langit. Seakan-akan menghilang dan terbang dengan mengambang. Apa Arae memberitahukan sesuatu?" Tanya Raven yang sibuk mengunyah.
"Dia hanya bilang ada kemungkinan di Bumi terlahir Eris yang lain," kata Yuri.
"Eh!? Kalau begitu kasusnya jangan-jangan anak itu memiliki kekuatan yang sama juga? Jadinya kekuatan mereka disini saling ber pantulan," kata Raven.
"Mungkin. Tapi bisa jadi berbeda hanya saja keberadaan mereka harus salah satu yang bisa hidup kan? Bagaimana kalau kita coba mencari? Kamu dari udara, aku darat," kata Yuri memberikan ide.
Bersambung ...
__ADS_1