
"Bolehkan kalau kami juga memanggilmu Eria?" Tanya Aiolos.
Eria mengangguk senang. "Sampai jumpa lagi, kakak-kakak," kata Eria membawa payung dan kali ini keluar gerbang.
Setelah itu beberapa menit mereka berdua pun pamit karena malam semakin larut. Takut toko juga tutup. Biksu berjanji akan membantu hantu itu untuk pergi dari dunia ini, saat sang pohon menjemput ajalnya.
Mereka berjalan sambil bernyanyi lagu cover Eria. Tidak terasa hujan pun berhenti turun.
"Ah, reda," kata Nyx menatap langit.
"Kita tidak membutuhkan payung. Tutup saja," kata Aiolos.
Nyx menutupnya. "Rasanya sulit dipercaya bisa bertemu Eria lalu saat dia mengatakan bahwa sudah lama tidak dipanggil nama kecilnya. Padahal kan ada ibunya ya," katanya menggenggam payung.
"Mungkin karena suatu alasan dengan kemampuannya yang begitu, ibunya bisa jadi takut juga kan," kata Aiolos.
"Tapi tetap saja kan yang dekat dengannya sejak lahir itu ibunya. Seharusnya..." kata Nyx teringat wajah sedih Eria.
"Ya, aku setuju. Ayo toko masih buka," kata Aiolos bergegas lari dengan disusul Nyx.
Di tempat lain Eria telah tiba di rumahnya yang besar. Dia membuka pintu lalu masuk, saat hendak mengunci terdengar langkah kaki yang cepat.
"DARI MANA SAJA KAMU!? DI HARI HUJAN BEGINI NANTI KAMU SAKIT!" Teriak ibunya dengan sangat marah.
Eria hanya menatap ibunya, sudah terbiasa ibu selalu berteriak kepadanya padahal dengan suara biasa pun akan terdengar.
"Aku hanya berjalan-jalan saja, Ibu. Tidak lama kan," kata Eria melepaskan sepatunya lalu merapihkan payung.
"Tapi setidaknya kamu bilang dong kalau pulang mungkin jam segini. Jadi biar ibu menemani," kata ibunya dengan suara bergetar.
"Tidak perlu," jawab Eria.
"Kenapa? Ah! Ya sudah pokoknya kamu tidak boleh pergi kemana-mana lagi! Kru TV berkali-kali menelepon mencari kamu. Besok ada syuting," kata ibunya yang terus bicara sambil menuliskan jadwal di agendanya.
Eria berjalan masuk dan mengeluarkan air dalam payung tanpa bersuara. Ibunya masih saja mengoceh tanpa membantu anaknya.
"Kalau mereka membatalkannya BAGAIMANA DENGAN PEMASUKAN IBU!?" Teriak ibunya yang lalu menutup mulut di depan anaknya.
Eria tersenyum lemas mendengarnya, sejak ibunya mengetahui kemampuannya dia semakin agresif dan seenaknya, sekarang Eria hanya dianggap olehnya sebagai mesin pencari uang.
"Aku pergi ke taman yang ada pohon besarnya," kata Eria berjalan menuju keset lembut depan kamar mandi.
Ibunya mengikuti ingin lebih tahu. " Ah, pohon yang akan dilakukan kegiatan syuting besok. Kalau begitu besok saat syuting Ibu akan ikut," kata Ibunya dengan gembira.
__ADS_1
Eria menggeleng. "Tidak perlu,"
Ibunya berdiri dengan wajah kesal. "Kenapa? Soal yang tadi, ibu tidak bermaksud..." katanya menjelaskan.
"Bu, di rumah ini ibu dan aku tidak pernah memiliki kebersamaan. Kamu hanya ada karena aku bisa menghasilkan uang kan," kata Eria lalu berjalan menuju kamarnya di lantai dua. Ibunya keheranan dengan yang diucapkan oleh anaknya dan teringat, Eria membawa payung.
"Tunggu! Payungnya basah! Jangan kamu bawa ke dalam kamar!" Kata ibunya yang akan menyusul tapi terhenti mendengar suara dering telepon rumahnya.
Dengan secara kilat dia berlari dan mengangkatnya Eria menghentikan langkahnya dan mendekatkan diri untuk mendengar.
"Halo? Ohhh! Iya Pak! Benar benar! Ah, soal anak itu selalu ada di rumah kok. Bagaimana? Ya ya ya besok syuting untuk pengusiran arwah kan. Tentu saja! Jangan cemas anak saya bisa melakukannya," kata sang ibu dengan serius.
"Itu sungguhan pengusirannya? Bukan tipu-tipu dunia?" Tanya sang ketua produser.
Sang ibu agak tersinggung mendengarnya dan menggertakkan giginya. "Tentu saja sungguhan! Apa sih maksud pertanyaan Anda itu? Aku ya sebagai ibunya selalu menjaga apa yang dia makan. Semuanya bersih dan murni," kata ibunya.
Eria berjalan lagi air matanya menetes bagaimana dia diperlakukan tidak normal selama ini. Apalagi janji ibunya dahulu sama sekali sudah terlupakan. Makanannya kini benar-benar serba sayuran setiap hari tanpa ada tambahan minuman jus buah.
"Makanan dan minuman yang dia makan selalu aku basuh dengan air suci! Jadi jangan seenaknya ya berkata pengusiran anakku itu bohong!" Kata Ibunya kesal.
Tampaknya ibunya lah yang harus dilakukan Exorsist mungkin saja ada setan yang menempel.
"Sampai sebegitu nya? Bukankah seharusnya kamu perlakukan anak sendiri dengan kasih sayang?" Tanya ketua.
Eria melewati kamar ibunya yang sudah menutupi lantai dan kasur dengan barang berharga termasuk perhiasan. Eria ingat ibunya yang dulu sangat ramah dan sayang padanya.
Dia menangis bagaimana perilaku ibunya kini berubah semenjak mulai datang berkoper uang kepadanya.
"Nah kemudian mengenai pembayarannya... APA!? BAGAIMANA BISA DI TURUNKAN LAGI!? BUKAN ITU PERJANJIAN DARI AWAL KAN! Acara ini akan menaikkan rating penonton! Bagaimana bisa ketua mengubah harganya menjadi normal!?" Protes ibunya.
Eria masuk ke dalam kamarnya dan memandangi isinya, lalu menutup pintu. Memandanginya yang ternyata tidak jauh berbeda dengan kamar Eris. Tanpa disadari oleh kekuatannya, sang pemilik kekuatannya Eris yang menjadi bola roh berubah kembali wujudnya.
Eris berjalan dan menyentuh Eria, Eria berjongkok menangis dia ingin ibunya kembali lembut dan normal. Bagaikan pinang dibelah durian mereka sangat jelas mirip. Eris terus berada di samping Eria, kehadirannya tidak bisa terlihat oleh siapapun dengan kekuatan khususnya.
Tengah malam di kuil, saat biksu membacakan kitab sutra, hantu itu datang untuk berpamitan.
"Terima kasih telah menerimaku di sini," kata hantu itu dengan suara lembut dan tersenyum.
Biksu itu tersenyum lalu bangkit membuka pintu geser. Melihat pohon besar itu kini mati dan dedaunannya berguguran.
Besok paginya, udara ringan dan matahari bersinar dengan cahaya yang lembut. Aiolos yang berada dalam kamar kosannya bangun dan menguap. Hari itu dia sangat semangat mengingat pertemuannya dengan Eria.
Sudah siap dengan seragam Cafenya dia berjalan sambil membawa beberapa kantong bekalnya. Di tengah perjalanan, dia melihat Eria yang tengah kebingungan.
__ADS_1
"Eria!" Seru Aiolos gembira.
Eria tersentak mendengar suara ramah itu dan menatap dengan wajah malu pada Aiolos. "Kak Aiolos,"
"Wah! Bagaimana kamu bisa bangun sepagi ini?" Tanya Aiolos memandangi jam tangannya menunjukkan pukul 6 pagi.
"Aku ingin mengembalikan payungnya. Aku tidak mau dapat masalah bila lama mengembalikannya," kata Eria menyerahkannya.
Aiolos tertawa dan senyum menatap Eria. "Tidak apa bila kamu mau mengambilnya juga. Ambillah kamu bisa memakainya lagi kalau hujan,"
"Tidak apa, aku hanya ingin mengembalikannya saja," tolak Eria. Wajahnya memerah saat terus ditatap oleh Aiolos.
"Baiklah terima kasih. Kamu akan pergi ke sekolah?" Tanya Aiolos melihat baju Eria yang mirip seragam.
Eria menggeleng pelan. "Tidak,"
"Eh, kenapa? Mau aku antar? Kamu sudah memakai seragam kan," kata Aiolos keheranan.
"Aku hanya sekolah sampai TK setelah itu tidak lagi sampai sekarang. Seragam ini ibu beli untuk aku saat masuk SD tapi karena keadaan aku begini, kesempatan itu pun tidak ada lagi," jelas Eria memainkan jarinya.
Saat hendak bicara tiba-tiba suara tidak terduga dari perut Eria. Dia malu sekali, rasanya ingin lari saja apalagi Aiolos tertawa mendengarnya.
"Ma-maaf aku belum sarapan," katanya menunduk.
"Bagaimana bisa? Ibumu tidak siapkan makanan pagi?" Tanya Aiolos iba sekali.
"....." Eria tidak menjawab.
Aiolos sangat kesal mendengarnya lalu menghembuskan nafas. Kamu ada waktu pagi ini?" Tanyanya.
"Ya tentu sampai nanti pukul 9 aku ada syuting," jawab Eria.
"Ayo ikut," ajak Aiolos menunjuk ke arah kanan.
Eria kebingungan. "Kemana kak?"
"Ke tempatku bekerja, aku akan membuatkan mu sarapan. Masih kuat berjalan atau mau aku gendong?" Tanya Aiolos berjongkok.
"A-aku bisa kuat berjalan," kata Eria semakin malu.
Saat berjalan Aiolos teringat sewaktu malam dia membeli beberapa keping cokelat lalu dia memberikannya pada Eria. Eria berterima kasih dan memakannya menuju Cafe.
Bersambung ...
__ADS_1