
Final Fantasy X in Concert - Benyamin Nuss
...This is my darkness...
...Nothing anyone says can console me...
...Despair and Hope...
...Light and Dark...
...Happy and Sad...
...Hard and Easy...
...Kind and Evil...
...Fall and Rise...
...Near and Far...
...Group and Individual...
"Udara ceraaaaah," kata Yuri membuka jendela kamarnya pagi hari itu. Mengingat Eris telah kembali sehat dan kali ini wujudnya berubah kembali.
Dia segera mandi dengan siulan lalu memakai baju biasa, dia harus bekerja lagi. "Eris sekarang terlihat seperti usia 20 tahun sedangkan aku 30," gumam Yuri.
"Kerja seperti biasanya lagi?" Tanya Bapaknya menyandar di pintu kamarnya.
"Iya," jawab Yuri dengan ceria. Lalu menggunakan bedak dan lipstik andalannya.
"Kamu hari ini ulang tahun. Mau dibuatkan kue?" Tanya Ibunya yang muncul.
Yuri berhenti. Ulang tahun? Iya ya dia lupa sama sekali soal itu. Lalu Yuri berpikir apakah Eris juga suka merayakan hari lahirnya?
"Nanti aku mau buat sendiri saja sekalian dibawa untuk teman-teman," kata Yuri lalu berangkat.
Hari itu dia harus menuju kampusnya dahulu untuk menitipkan tugas lalu membeli bahan-bahan untuk kue dan kembali lagi ke kampusnya. Enaknya, kampus dan rumah cukup dekat.
Mereka semua antusias memakannya dan beberapa lelaki mendekatinya sekedar mencicipi. Setelah itu Yuri pamit karena akan bekerja. Di perjalan dia terpikirkan apakah keluarga Eris memberikannya ucapan ulang tahun juga?
Portal berada di depannya saat hendak masuk, dia melihat Eria sedang mengobrol seru dengan beberapa temannya.
"Ah! Anak yang mirip Eris! Ternyata kalau kekuatannya diambil, memang berbeda ya," kata Yuri tersenyum lalu memasuki portal.
"Selamat datang," sambut Ella seperti biasanya.
"Siang, Ella!" Sapa Yuri menghormatinya. Yuri menyimpan jaketnya sambil bernyanyi. Ella juga kelihatan senang.
"Tampaknya ada yang sedang berbahagia hari ini," kata Raven dengan wujud manusia.
"Hehehe, Eris sedang dimana?" Tanya Yuri tidak melihat pemilik toko tersebut.
__ADS_1
"Nona sedang meramu bersama Nona Arae," kata Raven.
Yuri kemudian bergegas menuju ruang kerja Eris, sudah lama juga tidak melihatnya bekerja. Memang iya, Eris kini memiliki tubuh perempuan remaja dengan rambut putih yang cantik.
Eris fokus melafalkan sesuatu dan warna-warna keluar. "Yuri, daripada kamu sibuk memperhatikan bantu kami memasukkan cairan," katanya.
"Baik!" Jawab Yuri lalu berdiri di samping Eris. Yuri masih sesekali menatap Eris yang sudah berubah. Wajahnya lebih dewasa dari sebelumnya, inikah Eris yang sesungguhnya?
"Ada apa? Kamu terus menatapku," kata Eria tanpa melihatnya.
"Aku sangat senang kamu kembali seperti biasanya. Apa setiap kamu berubah menjadi sosok yang asli, selalu sakit?" Tanya Yuri.
Eris tersenyum tipis. "Yah, tidak tentu juga. Yang aku hadapi bukanlah sosok yang sulit juga," katanya membuat Yuri bertanya-tanya.
"Hmmm Eris," kata Yuri agak malu-malu.
"Apa?" Tanya Eris membuka buku dan Arae sibuk menumbuk bahan-bahan yang tidak harus dilihat Yuri.
"Aku ingin tahu sosok aslimu seperti apa," kata Yuri.
Eris dan Arae berhenti bekerja tentu hal ini pasti akan terjadi. Arae menatap Eris, Eris menghela nafas.
"Sangat penasaran ya," kata Eris menatap Yuri.
"Habis nyaaa aku pikir Raven dan Arae sudah pernah kan hanya aku yang belum. Selama bekerja disini... belum," kata Yuri agak marah.
"Ada bagusnya kamu tidak terlalu ingin tahu soal sesuatu, Yuri," kata Arae.
Yuri menunduk agak sedih sudah terduga tidak boleh. Eris menyerahkan tugasnya pada Arae, manusia bila penasaran tidak akan berhenti sampai melihat.
Yuri dengan gembira mengikutinya. Arae sangat cemas lalu menghentikan pekerjaannya dan ikut menyusul bersama dengan Raven.
"Dia serius?!" Tanya Raven tidak percaya.
Eris mengeluarkan cermin yang sangat besar dari ukuran tubuhnya, dari balik lemari penuh pakaiannya. Yuri kaget dia sama sekali tidak tahu soal cermin itu. Hampir setengah dari ruangan.
"Be-besar sekali," kata Yuri mundur.
"Wujud ku lebih besar dari cermin ini sebenarnya dan panjang. Apa kamu yakin masih ingin melihat wujud ku?" Tanya Eris kembali.
"Ya!" Jawab Yuri dengan mantap. Ini akan menjadi hadiah terbaiknya!
"Lebih baik urungkan niat mu. Aku saja sampai kabur," kata Raven yang memancang ancang-ancang di belakang Yuri.
"Ah hahaha ayolah kamu kadang sangat lebay sekali Raven. Aku siap!" Kata Yuri dengan tegas.
Eris berdiri sedikit samping cermin besar itu lalu merentangkan tangannya sedikit dan pantulan dalam cermin, tidak memperlihat tangan Eris. Namun tangan dan cakar panjang berwarna biru gelap, bersisik.
Yuri bengong melihatnya. "I-itu... bukan tanganmu... kan?" Tanyanya gugup.
"Ini baru tangan lho. Belum sampai kepala, badan dan ekornya," kata Arae.
Yuri menelan ludah. "A-aku bisa!" Karena penasaran dia memastikan dan memegang tangan Eris sambil melihat cermin.
__ADS_1
Dalam cermin, tangannya memegang tangan wujud Eris yang asli, Yuri berjalan mundur agak oleng.
"Urungkan niatmu," kata Eris yang tidak mau sampai Yuri trauma.
Karena Yuri masih belum menyerah, Eris bergeser lagi. Dia membalikkan badan memperlihatkan punggungnya. Dalam cermin, terlihat punggung seekor naga dengan sayap yang besar dan juga bersisik.
Yuri masih mampu melihatnya, dia bertahan. Dia tidak takut merasa Yuri masih keras kepala akhirnya Eris berjalan ke tengah cermin. Di situ Yuri melihat dengan jelas sosok naga hitam biru besar menatapnya.
Yuri melihat warna bola mata Eris, ya naga itu pun sama. Dia hanya berdiri melihat sosok naga yang duduk di depannya.
"Yuri?" Tanya Arae menjentikkan jarinya.
Yuri masih terdiam tidak berkata apapun, dia membeku di tempatnya. Raven menyentuh bahunya dan... DUAG!! Yuri pingsan.
"Apa aku bilang" kata Raven yang untungnya sudah menahannya.
Eris menghela nafas dan menatap naga itu. Naga tersebut mengedipkan mata dan tertawa, Eris menyapu dan kembali menjadi cermin biasa. Cermin itu secara otomatis memasuki celah lemari.
"Masih pingsan ya?" Tanya Arae cemas.
Yuri bangun memegang kepalanya. Eris berdiri di depannya.
"Aku tidak apa," kata Yuri tertawa.
"Bagaimana?" Tanya Eris.
"Itu... SUGOIII!!" Teriak Yuri akhirnya dengan senang.
Semuanya bernafas lega.
"BARU KALI INI AKU MELIHAT NAGA!!" Teriak Yuri sangat senang.
"Kamu tidak takut?" Tanya Eris.
"Tidak. Kamu keren! Jadi itu aslinya?" Tanya Yuri senang. Sayang cermin nya sudah dikembalikan.
"Hahhh Yuri, kami kan cemas," kata Raven duduk di lantai.
Yuri berjongkok memegang tangan Raven dan Arae. "Maaf awalnya memang buat aku pusing dan aneh tapi lama-lama aku kagum! Benar baru pertama melihat naga. Itu akan menjadi hadiah paling mengagumkan di hari ulang tahunku," kata Yuri senang.
Mereka bertiga kaget. "Kamu ulang tahun?" Tanya mereka bersamaan.
"Kita rayakan!" Teriak Arae antusias.
"Tidak. Tidak perlu. Buka toko seperti biasanya saja," kata Yuri menolak lalu membereskan semuanya.
"Lalu kamu mau apa?" Tanya Eris.
Yuri terdiam. Selama ini dia menunggu saat-saat Eris seusianya atau sekitar itu. Sekarang terkabul, dia menghentikan gerakan. Berpikir dan dapat ide!
"Eris, kita belanja yuk! Karena sosok kamu sudah berubah dewasa, sekarang kalau aku ajak kamu jalan-jalan, lebih bisa dilihat sebagai teman kan," kata Yuri.
"Ah benar juga sudah lama kamu tidak bersenang-senang. Toko biar aku dan Raven yang urus," kata Arae sambil menepuk Raven.
__ADS_1
Bersambung...