
Olive menatap Anita dengan ekspresi datar dan beranjak pergi ke luar kamar. Anita tertawa langsung menarik tangan Olive.
"Tunggu! Kamu mau ke mana lagi? Mau main petak umpet supaya mereka mencari lalu semuanya mulai menyalahkan aku," kata Anita melepaskan tangan Olive.
Anita agak merasa aneh, dia memegang lengan Olive tapi terasa rapuh dan... kenyal. Anita mundur agak takut.
Olive berbalik dengan wajahnya yang pucat dan mengiba. Masih ada sisa ketakutan dan menatap Anita dengan penuh harap.
Ikutlah denganku
Anita hanya berdiri menatap Olive, dia ingin bicara sesuatu tapi tidak kuasa mengeluarkannya.
Dia menangis saat Olive mendekatinya dan tangan putih dan pucat nya menjulur ke wajah Anita.
"O-Olive... aku...min-minta..." kata Anita gemetaran.
Jemari-jemarinya tidak menyentuh wajah Anita dan mengusapnya. Kedua mata Anita berubah menjadi kosong.
"... maaf," kata Anita yang terakhir. Dan mengikuti Olive pergi.
Dalam ruangan makan, Eris merasakan bulu kuduknya berdiri tiba-tiba. Dia melihat Anita dibawa pergi entah oleh siapa, sosok itu manusia namun tidak begitu jelas.
"Iran, kamu sudah periksa Anita di kamarnya?" Tanya Eris.
Iran yang asyik makan menatap Eris. "Sudah, dia sedang mandi dan aku serta Key melihat dia mengeringkan rambut dengan hairdryer,"
Teman-temannya menatap Iran dengan aneh. Bukankah baru kemarin malam Anita keramas?
"Hairdryer? Memangnya Anita keramas lagi? Dia kan kemarin sudah lakukan itu," kata Rika heran.
"Masa sih? Kok aku tidak tahu," kata Iran bengong.
"Mana bisa kamu tahu fokus pendekatan dengan Yuri kan," kata Ara cekikikan.
Iran dan Yuri berwajah merah mendengarnya karena itulah Iran tidak tahu kalau Anita sudah keramas sebelumnya.
"Lalu, Anita kan tidak bawa pengering rambut. Untungnya di vila ini ada kipas angin," kata Panca.
Mereka terdiam sejenak lalu semuanya berlarian menuju ruangan tim Anita, membuka kamarnya. Kosong.
Mendapati ruangan itu kosong melompong tanpa ada Anita, para wanita lemas terduduk.
Mereka mencari jejak apapun! Darah, atau bahkan jejak tanah. Chris melafalkan doa dan menciprat kan semacam air suci, tidak ada reaksi apapun.
"Bagaimana caranya membawa Anita?" Tanya Chris.
"Tidak ada reaksi apapun?" Tanya Rio pada Chris.
Dengan wajah serius dan menyesal, Chris menggelengkan kepalanya.
"Aku lengah," gumam Eris kesal.
"Eris, apa menurutmu Anita dibawa iblis?" Tanya Yuri.
Eris menatapnya semua orang yang ada di ruangan itu menatap Eris dengan takut.
Benarkah iblis yang membawa Anita pergi?
"Bukan iblis dalam penglihatan ku, seseorang tapi entah siapa," kata Eria yang sebenarnya menggunakan kekuatannya.
"Syukurlah," kata Sani dan Ara lega sambil menangis.
"Tapi kemana?" Tanya Dio.
"Entahlah. Dia perempuan rambutnya sedang. Ada kemungkinan dia menghipnotis Anita," kata Eris.
"Bisa jadi karena tidak ada unsur kekerasan atau pemukulan. Darah atau tanah pun tidak ada," kata Sisna.
"Hei hei, jangan cemas dia itu wanita yang senang diperhatikan. Paling juga dia sengaja sembunyi karena kita semua mencemaskan Olive," kata Panca.
__ADS_1
"Benarkah?" Tanya Sani.
"Benar juga sih. Dulu kan pernah ada peristiwa seperti ini dan Anita memang sengaja membuat skenario, bahwa dirinya diculik," jelas Rika.
Setelah itu mereka kembali berpikiran kebiasaan Anita kumat lagi hanya untuk diperhatikan.
Berbeda dengan Eris dia menatap lorong gelap yang di sebelah bahu kirinya. Dengan jelas dia melihat garis putih berasal dari kuku Anita.
Meski terhipnotis dalam pikirannya, teman-teman pasti menemukannya. Mungkin, kalau dia sempat hidup.
Dalam ruangan Dani dan Tora menceritakan hal itu pada Yoshi, dia pun menghela nafas dan memberikan peringatan.
"Bila dia sudah kembali tolong katakan padanya bahwa keusilan seperti itu sama sekali sangat berbahaya. Saya permisi." Kata Yoshi keluar tanpa ekspresi.
Rio menatapnya sangat curiga, dia memiliki pemikiran betapa cepatnya ekspresi wajah Yoshi berganti.
Rio yakin ada sesuatu di dalam vila ini yang membuat beberapa orang berubah.
Semua kembali tenang, makan dan bercanda tapi tidak dengan Eris. Tentu Chris sangat tertarik pada Eris meski dia hanya menyangka Eris seorang Onmyouji.
"Kamu tidak yakin dia akan kembali?" Tanya Mila yang duduk di depan Eris.
"Rumah ini benar-benar terkutuk. Hati-hati," kata Eris pergi ke ruangan lain.
"Misterius sekali anak itu," kata Mila.
"Bukankah disini ada exorsist, miko, biksu bahkan sampai pendeta? Apa gunanya kalian tidak bisa memusnahkan iblis di vila ini," kata Kei sambil menyalakan rokok.
"Kei! Kamu tidak sopan!" Kata Dio.
"Hentikan," kata Chris melerai.
"Coba buktikan kegunaan kalian kalau bisanya hanya membuat teori," kata Kei lagi sambil tertawa.
"Kamu memasang kertas aneh di semua kamar, apa ada gunanya? Akhirnya Anita menjadi korban kedua," kata Fuji dengan sombong.
Mila geram, memang kertas jimat itu sama sekali tidak bereaksi kalau terhadap manusia.
"Tenang, jangan sampai terpancing. Kenapa jimat itu tidak bereaksi karena yang membawa Anita jelas manusia," kata Chris yang membuka kertas jimat.
"B-buktikan! Supaya kamu percaya," tantang Sani dan Kei.
"Chris!" Kata mereka bertiga.
"Tenang. Baik, akan aku buktikan. Sentuh," kata Chris memberikan jimat itu pada Sani dan Kei.
Mereka agak enggan tapi dipegang juga dan tertawa.
"Lalu? Apa gunanya?" Tanya Kei meremas kertas itu.
"Tidak ada gunanya kan kalau kalian sentuh dan pegang, karena kalian manusia. Berbeda kalau ada roh jahat," kata Sisna.
"Hahaha makanya buktikan," kata Sani.
"Akan aku panggil roh jahat," kata Eris menatap Chris. "Asal pendeta bersiap memusnahkannya,"
Chris mengangguk, dia membuka air suci dan kitab kecilnya. Sani dan Kei masih tertawa.
Eris melafalkan sesuatu dengan menutup jari telunjuk dan jari manis. Sebenarnya tidak perlu tapi karena situasinya adalah para ahli pemusnah iblis, yah apa boleh buat.
Lampu dalam ruangan berkedip-kedip, jendela tiba-tiba berbenturan. Para peserta bingung ada apa. Buku berjatuhan dan piring bergeser.
Eris menyiulkan sesuatu dan tampaklah roh jahat berwarna hitam dan menyeringai pada mereka.
Mila, Rio, Chris dan Sisna bersiap. Kei dan Sani ketakutan karena makhluk itu sangat menyeramkan.
"Nah, apa yang akan kalian lakukan?" Tanya Eris dengan senyuman dinginnya.
Makhluk itu mendekati Kei dan Sani, sebelum menyambar kertas jimat menyambar makhluk itu dan terbakar.
__ADS_1
Yuri mendekati Eris. "Eris, apa itu..."
Eris memperlihatkan sebuah kelereng hitam. "Aku sengaja membuka salah satu peliharaan ku. Dia hanya akan menyerang sesuai instruksi ku,"
"Ah," kata Yuri mengerti namun memang menyeramkan.
Chris dan lainnya melafalkan doa dan makhluk itu musnah sekejap karena kesakitan.
"Bagaimana?" Tanya Sisna tertawa pada Sani.
"Baik. A-aku percaya," kata Sani menatap kertas yang tadi dia sentuh kini lenyap menjadi abu.
"Apa makhluk itu serius mati?" Tanya Yuri.
Eris hanya tertawa.
Di luar, sang makhluk muncul dan nongkrong bersama Arae.
Dia membersihkan badannya dan menghela nafas. "Baru kali ini majikan menyuruhku pura-pura kesakitan. Mana harus mau ditempel kertas jimat juga,"
"HAHAHAHA lucu sekali aku melihatnya," kata Arae yang terus tertawa.
"Anda berdua kejam," kata makhluk itu berjongkok.
"Mana mungkin panglima tertinggi bisa dikalahkan hanya dengan air suci, salib dan gofu kan," kata Arae masih tertawa.
"Hahhh aku kira ada persoalan mendesak tahunya harus berakting. Kalau begitu aku kembali dulu, aku masih bertugas," katanya kemudian menghilang.
Arae masih tertawa di luar. Sendirian.
Masalah itu pun terselesaikan dan Sani serta Kei meminta maaf pada mereka semua. Kei melihat secara asli! Kertas yang dia remas terbang dan menyerang si jin.
Lalu lenyap tak bersisa, dia hanya terdiam dan malu. Mereka memutuskan untuk mencari lagi bisa jadi Anita sembunyi.
"Apa benar Anita bersembunyi?" Tanya Fuji membuka lemari.
"Aku tidak yakin," kata Dio melihat di bawah tempat tidur.
"Ini kan masih siang kalau dia keluar, bisa kemana?" Tanya Kei.
Semuanya mencari ruangan yang jarang dipakai atau ruangan lain.
"Masa iya iblis nya di siang hari juga bekerja? Menculik peserta di tahun sebelumnya," kata Ares.
Semuanya terdiam, memang sih cukup aneh kalau siang hari bisa melakukan secara terang-terangan.
"Kalian dengar, Chris mengatakan bahwa Olive menghampirinya. Selagi dia kembali dari tempat Yoshi. Apa saat itu Olive sudah mati?" Tanya Mila.
"Dia memang sudah mati saat pendeta itu kembali ke dalam kamarnya," kata Eris membuat semua orang kaget.
"Pemilik toko jangan bercanda deh! Kan tadi dijelaskan kalau Anita itu..." kata Fuji dipotong kata-katanya.
"Memang dia sudah tidak ada. Tidak ada jejak apapun kan, darah tidak ada. Terhipnotis untuk langsung dibunuh," kata Eris membuat beberapa peserta menutup telinganya.
"Hei, jangan mengatakan hal begitu," kata Sani.
"Coba kalian bayangkan, kalian diculik dalam rumah ini, dibawa entah kemana dan entah apakah ada jalan keluar. Oksigen pun terbatas," kata Eris pergi.
Mereka terdiam, saling berpandangan dan wajah memucat. Yuri berjalan dengannya.
"Jangan-jangan kamu menerima..." kata Yuri menebak.
Tangan Eris membuka bola arwah Olive dan Anita ada padanya.
"Tidak," kata Yuri.
"Olive baru kemarin, lalu Anita baru tadi. Jadi menurutku kenapa Anita sudah tidak ada karena saat dihipnotis, nyawanya sudah tidak bisa selamat," kata Eris menatap Yuri dengan sedih.
Yuri menangis, mereka menuju ruangan aula dan memberitahukan Ares.
__ADS_1
Bersambung ...