
"Nana tidak sopan," kata Emi agak marah.
"Kamu bicara dengan... siapa," kata Nana yang melihat Eris tengah duduk di sofa.
"Tentu saja dengan kak Eris. Mau apa!?" Tanya Emi menghampiri dengan galak.
Nana agak salah tingkah lalu pergi sambil memandangi Eris yang berpakaian aneh.
"Bagaimana? Ada orang selain adikmu?" Tanya Kakek Taro.
"Ada. Entah siapa, namanya Eris. Sejak kapan Emi memiliki kenalan?" Tanya Nana berpikir.
"Di Rumah Sakit ini kan banyak pasien," jawab saudara Taro yang lainnya. Mereka kemudian bubar.
Sepeninggalnya Nana, Emi jatuh dan tergeletak di lantai, penyakitnya kambuh. Eris menolongnya berlari secepatnya dan membuat Emi terbang ke atas kasurnya.
Emi tampak kaget tapi tidak bisa berbuat apa-apa. "Kakak... penyihir?" Tanyanya.
"Kamu boleh berpikir seperti itu," jawab Eris lalu menarik selimut dan memberikan obatnya.
Mana mungkin Eris mengatakan bahwa dia sebenarnya iblis? Saat hendak memberikan obat, Eris melihat ada satu atau dua obat yang bentuknya berbeda, meski mirip.
"Kenapa?" Tanya Emi menaham nafasnya.
"Ada yang sengaja memasukkan obat selain untuk penyakitmu," kata Eris memberikan obatnya.
"Seharusnya Kakak tidak perlu membuangnya. Biar aku bisa pergi dengan tenang," kata Emi dengan suara lemah setelah meminum obat.
Eris terdiam, dia menjadi iba kepada anak kecil itu. Tapi kenapa? Emi kemudian tertidur lelap dan Eris menghampiri jendela. Jendela terbuka dengan sendirinya dan Eris terbang lalu menghilang.
Emi sempat melihatnya saat berpindah posisi tidur dan dalam hatinya dia juga ingin bisa terbang seperti Eris.
Eris kemudian turun ke halaman yang tidak ada pengunjung. Lalu berjalan-jalan menuju gerbang Rumah Sakit. Tanpa dia sadari ada seseorang yang menepuk pundaknya. Eris kaget dan berbalik.
"Kamu kenapa ada di sini?" Tanya Poi yang habis membeli obat.
Eris menatap sosok pemuda di hadapannya. "Poseidon," bisik Eris.
Setelah itu mereka berdua duduk dan menatap bangunan megah itu.
"Lalu kenapa kamu ada di sini? Mencari mangsa ya?" Tanya Poi menyengir.
"Apa kamu tahu anak pemilik gedung ini?" Tanya Eris tanpa menatapnya.
"Ah, anak yang memiliki penyakit berat itu ya. Kabarnya kedua orang tuanya telah meninggal secara tiba-tiba, tanpa penyebab yang jelas. Dan sekarang..." kata Poi menghela nafas.
"Banyak yang mengincarnya ya," kata Eris masih menatap gedung Rumah Sakit.
Poi mengangguk. "Aku tadi membeli roti. Kamu mau?" Tanyanya menawarkan.
"Berikan saja pada anak itu. Kamu bisa menjenguknya dengan mengatakan kenal aku," kata Eris kemudian berjalan pergi.
"Dingin sekali dia. Hei, aku tidak tahu kamar nomor berapa," kata Poi mengejarnya.
"Apa gunanya resepsionis?" Tanya Eris lalu menghilang.
__ADS_1
Poi menggaruk-garuk kepalanya yang gatal. Lalu masuk ke sana lagi dan menanyakan soal anak kecil yang selalu bersama Eris.
"Dia di kamar anak nomor 214," kata perawat di sana.
Poi penasaran lalu pergi ke kamar yang dikatakan perawat kemudian mengetuk pintu.
"Siapa?" Tanya Emi di dalam yang ternyata dia tidak bisa tidur.
"Aku.. temannya Eris. Boleh masuk?" Tanya Poi biasanya tidak pernah kehilangan akal.
"Silakan," kata Emi dengan riang.
Poi masuk dan kaget menatap Emi yang dipenuhi dengan selang pipa kecil di tangan dan tubuhnya.
"Masa iya Eris akan membawa anak malang ini?" Pikirnya.
"Kamu sakit apa?" Tanya Poi mendatanginya.
Emi tersenyum lemah. "Tidak apa-apa, aku sudah lemah sejak lahir. Ada kelainan dalam tubuhku terutama darah. Kakak kenal Eris dari mana?" Tanya Emi yang sedang duduk.
Poi merasa sedih sekali itukah sebabnya dia sering melihat Eris memasuki kamarnya? Sejak itu pula Poseidon datang dan mengobrol dengan Eris sehingga membuat Nana dan Taro, sulit mendekatinya.
"Mereka itu siapa sih? Aku baru tahu kalau Emi punya kenalan dengan orang dewasa. Sudah anak perempuan berambut aneh, sekarang ada tambahan," kata Taro agak curiga.
"Aku tidak tahu. Aku tidak suka dengan anak yang berambut putih dia seolah tahu apa yang akan kita lakukan pada Emi," kata Nana gelisah.
"Itu perasaanmu saja," kata Taro menghibur Nana.
Siangnya Poseidon permisi untuk pulang karena banyak tugas sekolah. Tinggallah Emi dan Eris di taman itu. Eris menatap Emi yang senang sekali mendapatkan teman.
"Aku ingin terbang," katanya menatap Eris dengan senyuman.
"Kamu," kata Eris setengah kaget. "Kenapa?"
"Aku secara tidak sengaja melihat saat kakak hendak pulang. Jendela terbuka sendiri dan Kakak terbang," kata Emi menundukkan kepalanya takut Eris marah.
Eris ceroboh. Baru kali ini dia tidak hati-hati. "Manusia tidak bisa terbang," kata Eris.
"Kalau begitu Kakak bukan manusia?" Tanya Emi.
Eris memejamkan kedua matanya lalu mengarahkan telunjuk ke bayangannya. Emi melihat dan kaget.
Keluar tanduk dan sayap yang lebar menutupi bayangan Emi.
"Takut?" Tanya Eris.
"HEBAT! Kak, aku ingin punya sayap!" kata Emi dengan semangat.
Emi mencoba memegangnya dalam bayangan.
"Ini bukan untuk main-main," kata Eris kemudian menghilangkan kedua benda itu.
Emi menjadi semangat dan gembira. "Aku tahu tapi tetap saja Kakak hebat. Pasti asyik ya bisa terbang kemanapun," kata Emi kemudian menguap.
"Ayo, kembali ke kamar. Kamu lelah," kata Eris membuat mereka menghilang lalu mengantar Emi dengan terbang.
__ADS_1
Emi tertidur pulas di kamarnya lalu Raven terbang menghampiri Eris.
"Jadi anak ini," kata Raven menatap Eris.
"Awasi dia bila aku tidak bisa datang," kata Eris.
Raven menunduk lalu menatap Emi.
Beberapa hari kemudian Eris tidak datang. Poi membawa Ares setelah menceritakan semuanya. Ares berkenalan sambil membawakan boneka beruang berwarna pink.
Mereka bermain monopoli dengan riang, Emi tidak menduga bahwa Eris memiliki teman yang menyenangkan.
"Kamu senang di sini?" Tanya Ares.
"Tidak," jawab Emi dengan mata berkaca-kaca.
"Bila kamu punya keinginan, apa yang kamu inginkan?" Tanya Poi.
"Terbang seperti Kak Eris ke sana," tunjuk Emi ke atas langit.
Mereka memandangi langit dan mengerti kalau anak itu sudah melihat Eris yang bisa terbang. Ceroboh sekali.
"Naik pesawat yuk," ajak Poi tiba-tiba. Dia tidak keberatan bila Emi menjadi adiknya.
Emi tertawa lalu menggelengkan kepalanya. "Kakak itu punya sayap. Aku ingin sayap juga," kata Emi.
"Kalau pakai sayap tidak aman, lebih baik naik pesawat. Keluargaku akan bepergian, kalau kamu mau ikut, aku akan senang sekali," kata Poi dengan suara yang sedih.
Emi yang hendak menjawab tiba-tiba dikejutkan dengan Nana yang marah. Ya, dia mendengarkan semuanya.
"Kalian mau bawa adikku kemana!?" Tanyanya dengan marah.
"Siapa itu?" Tanya Ares pada Emi.
Emi diam dan bersembunyi di belakang Ares. Poi menatapnya, sepertinya Emi takut pada perempuan ini.
"Maaf, kami sedang mengobrol dan Emi ingin dapat terbang. Jadi aku menyarankan daripada terbang bukankah lebih enak kalau menaiki pesawat? Dan aku bermaksud mengajaknya," kata Poi dengan suara yang ramah.
"Jangan sembarangan ya! Aku ini Kakaknya, kalian setidaknya harus ijin dahulu ke saya! Kemari lah, Emi," ajak Nana.
"Benarkah dia Kakakmu?" Tanya Ares menatap Emi di belakang kakinya.
Emi menggelengkan kepalanya. "Dia bukan Kakakku! Kami tidak ada hubungan darah sama sekali," kata Emi berkaca-kaca.
Nana gugup sekali. "Itu hanya bercanda, Emi. Ayo sini jangan dengan mereka," kata Nana.
"Kamu tidak pernah bercanda jangan pura-pura. Kamu yang membuat Ayah dan Ibu..." kata Emi berhenti dan terjatuh begitu saja.
"EMI!!" Teriak Ares dan Poi bersamaan. Lalu Ares membawa Emi menuju kamarnya dan Poi memanggil perawat serta dokter.
Nana panik lalu menelepon kekasihnya untuk datang. Dokter dan para suster berdatangan ke kamar Emi sambil membawakan beberapa alat bantu pernafasan.
Ares dan Poi diminta keluar, mereka sangat cemas kemudian diusir oleh Nana karena merekalah Emi menjadi lebih sakit.
Bersambung ...
__ADS_1