Girl Of Darkness

Girl Of Darkness
4


__ADS_3

"Soal 'Cita-cita' hal dimana orang itu sangat ingin dicapainya dan 'Cinta' adalah sesuatu yang dia miliki kepada orang lain," jelas Eris dengan mempersingkat nya. Hal yang Mia tidak ketahui adalah Kudo memiliki hati kepadanya namun karena Mia menganggap Kudo sebagai orang sial, semua itu tertutup.


"Dengan cermin ini aku akan bisa merebut 'Harta' Kudo dan juga 'Cita-citanya'!! Aku senang!!" Kata Mia tertawa jahat.


Dalam cermin tersebut terlihat foto lukisan yang berharga bagi Kudo lalu tiba-tiba menghilang dari cermin. Mia puas sekali kemudian dia bermaksud hendak pulang.


"Aku akan menantikan efeknya besok," kata Mia menatap Eris.


"Tenang saja sesuai yang kamu mau, hartanya akan rusak," kata Eris.


"Nona, apa dia akan baik-baik saja?" Tanya Raven yang melihat ke dalam cermin.


"Dia tidak tahu bahwa apa yang dilihatnya bukanlah begitu. Tapi kita lihat saja bagaimana episode ini berlanjut," kata Eris lalu menutup cermin itu.


Hari berikutnya di sekolah semua murid dan guru ramai sekali di tengah ruangan. Mia datang masih dengan kaki yang pincang, dia tersenyum dalam hati efek cermin itu tampaknya mulai bereaksi.


"Ada apa sih?" Tanya anak dari kelas lain.


Mia hanya mendengarkan.


"Gawat sekali katanya lukisan anak kelas 3-4 menghilang secara misterius," kata yang di depannya.


"Lho, itu kan kelasnya kak Kudo," kata Mokona kaget.


Mia tentu saja tersenyum puas lalu pergi dari sekolah menuju museum untuk melihat kebenarannya.


"Kasihan sekali, Mokona. Lalu Kak Kudo keadaannya bagaimana ya?" Tanya teman Mokona yang sedih.


Setelah mendengar kabar itu Kudo langsung melaju ke arah museum Ando dan melihat sendiri. Dia memandangi lukisannya yang kini telah lenyap. Ada wajah kesedihan namun akhirnya menghela nafas.


Sesampainya ternyata semua murid dan guru juga menuju ke sana. Mereka berlarian untuk melihat gosip itu. Beberapa polisi memeriksa rekaman tapi anehnya tidak ada orang yang masuk.


"Kasihan ya kamu, Kudo," kata Mia dengan nada sinis.


"Mia," kata Kudo agak kaget. Tumben Mia bicara kepadanya.


"Lukisan yang kamu banggakan kini telah lenyap itu karena tidak ada harganya. Kamu pasti menangis kan hahaha itu 'Harta' kamu paling berharga," kata Mia mencemoohnya.


Kudo terdiam sejenak memandangi Mia lalu tersenyum. "Ah, soal itu. Bukan masalah besar aku kan bisa melukiskannya lagi. Kali ini membuat karya yang lebih bagus dari sebelumnya. Aku tidak akan menyerah," kata Kudo dengan penuh percaya diri.

__ADS_1


Kemudian Mia terlihat bete sekali karena responnya diluar prediksi dia. Kudo melihat kaki Mia yang masih pincang. Mia memang masih kesulitan berjalan.


"Apa kakimu sudah diterapi?" Tanya Kudo yang berkesempatan bertanya.


"Terapi?" Tanya Mia.


"Kudengar dari Dokter jika kaki mu diterapi akan memakan waktu lama tapi ada kemungkinan bisa sembuh lagi. Bagaimana..." Kata Kudo menyarankan sesuatu tapi tidak bisa dikatakan sepenuhnya.


"Percuma. Padahal sekarang jiwa atlet ku sedang mencapai puncaknya. Di terapi juga percuma kapan sembuhnya saja tidak ada yang pasti," kata Mia yang hendak pergi ke sekolahnya.


"Kamu itu banyak alasan ya," kata Kudo membuat Mia kaget.


"Apa kamu bilang? Kemungkinan sembuhnya ini kan karena salah..." kata Mia yang mulai berkobar.


"Bisa-bisanya saja memarahi semua orang, aku yakin pasti kamu sebenarnya sedih kan. Kamu hanya tidak mau berusaha saja dan ingin lari dari masalah kan. Dengar, sekarang masih belum terlambat. Kalau kamu mau, aku bisa..." kata Kudo berusaha mengejarnya.


"BERISIK!!" Teriak Mia.


Lagi-lagi beberapa murid membicarakan Mia karena sikap angkuhnya masin saja belum sembuh.


"Hei, Mia," kata Kudo memanggil.


"Terima kasih kamu menyapa aku tadi. Itu bukti kamu memaafkan aku ya," kata Kudo tertawa padanya.


Mia terdiam lalu memalingkan wajahnya dan pergi begitu saja. Kudo tersenyum sambil melambaikan tangannya.


Mia kembali ke sekolah dengan memesan ojek online lalu tiba di kelasnya paling duluan. Suasana masih sepi jadi dia bisa punya banyak waktu.


"Hah, menyapa dia? Aku kesana hanya ingin tahu fungsi cermin itu kok. Sombong sekali dia bisa buat lagi katanya? Kamu tidak tahu bagaimana menderitanya aku! Oh iya, aku akan membuatnya mengerti," kata Mia dengan seringaian nya yang jahat.


Pembelajaran berlangsung dengan aman, sampai istirahat lalu pulangnya. Saat itu hari masih siang jadi Mia masih berada dalam kelasnya. Dia berlatih berjalan tanpa penopang.


"Mia, mau aku bantu?" Tanya Rita yang melihat usaha Mia.


"Tidak perlu," jawab Mia dengan ketus.


Rita lalu pulang sambil sesekali melirik Mia dan pergi. Kudo tentu saja berada di klub kesenian dan mereka bersiap akan melukis patung yang sudah diberikan pakaian.


Saat Kudo tengah membuat sketsa, tiba-tiba tangan kanannya sulit digerakkan dan terasa sakit.

__ADS_1


"AAAAA! Tangan kuuu," rintih Kudo kesakitan.


"KAKAK!!" teriak para anggota junior melihat Kudo yang langsung tergeletak di lantai.


Mia yang sedang berjalan dengan pelan, mendengar suara ribut dari arah ruang klub Kudo. Lalu menuju kesana mengintip, betapa terkejutnya dia melihat tangan Kudo yang kaku seperti patung.


"Ada apa, Kudo? Kamu kenapa?" Tanya guru pembimbing.


"Tangan kananku tidak bisa digerakkan!" Kata Kudo kesakitan.


Mereka semua berpandangan, guru memeriksa dan memang aneh. Tangan Kudo seperti tangan patung. Keras.


"Ayo kita ke Rumah Sakit. Ini agak aneh," kata pak guru.


Mia lalu bersembunyi di balik pintu dan menahan tawanya.


Di Rumah Sakit sang dokter pun keheranan. "Aneh. Kamu tidak kecelakaan tapi tangan kanan mu kehilangan daya mencengkeram," kata Dokter kebingungan.


"Apa ada yang salah dengan saraf atau urat?" Tanya guru.


"Hmmm tidak ada semuanya normal," kata Dokter memperlihatkan hasil medisnya.


"Dia tidak kecelakaan juga," kata guru.


"Saya juga tidak mengerti. Ini sangat aneh, sementara waktu lebih baik kamu istirahatkan tangannya ya," kata dokter akhirnya.


Setelah itu Kudo disuruh pulang, seharian Kudo tidak kembali ke sekolah.


"Pasti dia syok sama sepertiku," pikir Mia sudah puas.


Besoknya kebetulan hari Sabtu, hari dimana hanya ada 1 pelajaran yaitu klub. Karena kaki Mia masih belum sembuh tidak disarankan dirinya menuju gedung senam.


Mia lalu memeriksa Kudo yang memang ada di klub kesenian. Dia melihat Kudo disana menatap kanvas putih kosong. Sesekali Kudo berusaha menggerakkannya namun yang ada malah kesakitan yang luar biasa.


"Bagaimana? Sekarang kamu mengerti kan bagaimana menderitanya aku. Menderita jiak cita-cita telah dirampas. Aku disebabkan patung gips sedangkan kamu, aku yang membuatnya hihihi," pikir Mia.


Mia melihat Kudo meringis dan menangis, sekilas Mia seperti melihat dirinya dahulu. Saat hendak menuju kelasnya, dia melewati anak kelas 1 yang dulu pernah mendatangi Kudo ke kelasnya.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2